Anak Gadis Tuan Gifari

Anak Gadis Tuan Gifari
Keluarga Baru


__ADS_3

Gifari menarik tangan putrinya, ia ingin cepat pergi dari tempatnya berpijak. Bayangan dan kejadian mengerikan itu mulai bermain diingatan dan otaknya.


"Harun! Cepat! " teriak Gifari, sontak saja pak Harun yang tengah bersantai didekat mobil terkena serangan jantung mendengar gelegar suara tuannya itu. Cepat2 pak Harun masuk kedalam mobil, sudah tau jika sepertinya sesuatu yang buruk sedang terjadi. Kedua alis Gifari bertaut tajam, sorot matanya tak terbaca. Suci hanya diam memandang penuh tanya pada papanya yang terlihat mulai menakutkan.


"Harun, percepat! " ujar Gifari. Nafasnya mulai tak teratur, Harun menatap dari kaca Spion memastikan kondisi Gifari baik2 saja. Beberapa saat kemudian terlihat Gifari menutup mata sambil bersandar dikursi. ia memijat dahinya meresapi semua hal yang telah terjadi dalam hidupnya. Ia cepat menoleh pada gadis kecil disampungnya, lalu menghembus nafas pelan berusaha mengontrol pergolakan batinnya. Ia sadar jika Suci terlihat ketakutan memandangnya. Gifari membawa Suci dalam pangkuannya, membelai pucuk kepala gadis kecil tersebut.


"Tenang yah, sedikit lagi kita akan sampai.. " ucap Gifari, lalu memberikan anaknya roti coklat yang kebetulan ia simpan didalam mobil. Suci mengangguk, dan mengambil roti itu dengan senang, ia segera melihat keluar jendela, kembali takjub dengan susana kota yang didominasi banyak gedung pencakar langit.


Matahari telah berada persis ditengah tengah saat mobil mewah hitam yang dikendarai Gifari memasuki pekarangan rumah bak istana miliknya.


...****************...


POV SUCI


Senyum indah terbit menghiasi bibir tua renta itu. Aku diam terpaku mendapati seorang nenek tua berdiri didepan pintu sepertinya ia menyambut aku dn papa, wajahnya begitu sumringah sambil menatapku dan papa bergantian.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Bu" Papa menciumi punggung tangan nenek itu, seraya kepalanya dibelai lembut oleh jemari tua milik nenek.


"Waalaikumussalam, nak. Dia....?" Nenek menatapku lama lalu memandang lagi wajah papa.


"Sayang, ini nenek. Salim dulu... " tegas papa padaku, aku pun segera mendekati raga didepanku itu sembari kuraih tangan keriputnya lalu menciuminya. Aku mendongak menatapnya dan wanita tua itu membelai lembut kepalaku dengan mata yang entah mengapa sudah berkaca kaca?


"Kau benar! Memang mirip sekali.... " Lirih nenek dengan suara bergetar, menatap papa kemudian menatap diriku lebih lama. Aku tak paham apa maksudnya?


"Mari kita masuk bu, ibu tidak boleh berdiri lama2 diluar sini..." ucap Papa menggiring nenek kedalam dan juga mengenggam tanganku erat. Kulihat beberapa wanita paruh baya, cepat2 menghampiri nenek dan membantu papa membawanya duduk disebuah kursi empuk. Pintu rumah sudah ditutup rapat oleh pak supir yang tadi mengantar kami. kudengar papa mulai bersuara seperinya ia memerintahkan sesuatu sehingga ada sekitar lima orang wanita berbeda usia yang keluar entah dari mana? dan ikut bergabung bersama kami duduk dikursi empuk. Aku duduk didekat nenek tua ini, sejak tadi ia terus membelaiku dan memelukku sedikit2. Aku sangat senang, dia tampak menyayangiku padahal aku ini anak asing.


"Kuharap kalian akan menjaga dan memperlakukannya dengan baik, melayani semua kebutuhan dan permintaannya...... " Papa mulai bercerita panjang lebar dan aku tak memahami apa itu? Yang jelas saat ini aku teramat bahagia, menoleh kekanan menjumpai wajah tua nenek yang terus tersenyum hangat padaku, menoleh kekiri mendapati papa yang juga tampak amat bahagia. Ya Allah aku merasa menjadi putri yang hilang dan kembali lagi setelah perpisahan sekian lama.....


"Nah, ini kamarmu sayang ku... " ucap nenek menggiringku memasuki sebuah kamar yang sngat cantik, semuanya serba pink. Mataku melebar sempurna tertegun dan kegirangan menatap kamar penuh fantasi pink ini. Namun entah mengapa sudut hatiku berbicara dan membuatku kembali memgingat sebuah kamar kecil dengan ranjang yang usang disana, dirumahku.... Aku membisu merasakan betapa hidupku benar2 sudah berbeda sekarang? Aku merasa sedih atas semua yang kini kudapatkan dan semua yang telah aku tinggalkan? Akankah hidup setelah ini lebih baik tanpa ada ayah dan ibu? Meski sudah ada papa dan nenek, tapi ini baru permulaan aku tak tau bagaimana hidupku kelak bersama mereka? Apakah akan sama seperti saat bersama ibu dan ayah? Aku tak menyangka akan begini nasibku...


"Mmmhh? Hei? Kenapa menangis cucu nenek?? Syang?? " Nenek meraih daguku, memeriksa wajahku yang sudah basah dengan. air mata. Aku terisak kecil, dan wanita tua itu menatapku dengan bingung.

__ADS_1


"Ayo sini duduk sayang, ..." nenek menyeretku pelan menduduki sebuah sofa pink disana. Mungkin karena sudah tua sehingga ia berjalan lamban dan duduk dengan sangat hati2 diatas sofa. Aku duduk didekatnya sembari tertunduk lesu, masih dengan isakan kecilku.


"Ceritakan sayang ada ap? Kenapa bersedih? Hmm?" Nenek merapatkan tubuhnya dengan tubuhku, lalu membelai kepalaku dengan lembut.


"T-tidak Nek, tidak apa-apa... Hanya ingat ayah dan ibu saja disana.... " ucapku bergetar. Nenek langsung memelukku, mendekapku dengan sayang. Ia menepuk2 punggungku pelan seraya berusaha membuatku berhenti menangis.


CEKLEK


"Ada apa bu? Kenapa Suci menangis? " Ayah sudah muncul dikamar, ia mendekati aku dan nenek. kini aku duduk ditengah2 mereka.


"Tidak apa2, dia hanya ingat ayah dan ibunya sajaa, makanya bersedih begini.... Sayang, cucu nenek...cup cup sayang... " ucap nenek.


"Hei? Tidak boleh menangis lagi? Oke? Sudah ada papa dan nenek disini.. bukan? Suci tidak sendirian sayang... Kalau bersedih begini bisa2 nanti ayah dan ibu ikutan sedih... " Papa membawaku dalam pelukannya.


"Walau papa dan nenek bukan keluarga kandungmu anakku sayang... Tetapi percayalah nak, Papa dan nenek memiliki cinta dan kasih sayang yang begitu banyak untukmu disini.... " Nenek menempelkan tanganku kedadanya, ia tersenyum tulus. Aku mulai merasakan damai dan nyaman.

__ADS_1


__ADS_2