
Gifari tak sanggup menahan rasa yang membuncah dalam dadanya, ia merasa sesak. Dadanya seakan dihimpit beban yang berat. Sedih, rindu dan keterkejutan bercampur menjadi satu menggempur sanubarinya. Ia harus teringatkan lagi dengan wajah Anjani. Mengapa gadis kecil ini mewarisi kecantikam istrinya? Apakah ini suatu kebetulan? Apakah memang Allah menciptakan orang yang sama wajah dan rupanya diwaktu yang berbeda?
Gifari tersenyum senang, ia akhirnya bisa membawa gadis kecil didekat kubur itu hidup bersamanya. Ia selalu terbayang wajah Suci usai pertemuan pertama mereka dikubur. Bayangan wajah penuh air mata itu menari2 diingatannya. Ia bahkan tidak bisa tidur dan hanya memikirkan Suci, berharap jika gadis kecil tersebut anaknya yang hilang bertahun2 lalu.
"Kita akan singgah untuk sholat dimasjid Al-Barkah..." ungkap Gifari melirik supirnya dari kaca spion.
"Baik.. Sudah masuk waktu Dhuha rupanya tuan, saya hampir lupa. " Harun tersenyum, ia sangat tau kebiasaan sang tuan yang begitu memelihara sholat dhuhanya meski hanya dua rakaat sahaja. Mobil berjalan pelan sembari mendekati sebuah masjid megah yang berdiri kokoh dipinggir jalan raya. Background dominasi putih mewarnai masjid indah tersebut.
"eHhhh... " Suci menggeliat merasakan pergerakan pada bantal tidurnya. Pelan2 gadis kecil itu membuka mata, ia begitu terbuai tidur dipangkuan papanya.
"Maaf, papa sudah membangunkan Suci.. " Gifari membelai rambut putrinya.
"Apa kita sudah sampai?" tanya gadis itu menyipitkan mata.
"Belum sayang, kita singgah sebntar ya?Papa Sholat dulu... " jelas Gifari, Suci hanya mengangguk merasa senang. Ia sangat menyukai yang namanya sholat, apalagi jika dilakukan dimasjid. Hati gadis itu bertambah riang tak terkira usai keluar mobil, dan menyaksikan keindahan masjid yang menjadi tempt persinggahan papanya untuk sholat. Masjid yan benar benar indah, menawan hati dan juga mata.
"Pa, Suci mau turun... " ungkap Suci menatap Gifari yang kini menggendongnya.
"Kenapa sayang? " tanya Gifari heran.
"Suci mau liat air mancur sama bunga2nya p-pa... " tutur gadis itu masih kaku menyebut papanya. Gifari tersenyum dan membiarkan kaki kecil putrinya tersebut menapaki rerumputan yang melumuri halaman masjid. Suci berjalan dengan riangnya menyusuri taman indah yang berhiaskan air mancur. Gifari mendekati anaknya yang telah berjalan agak jauh disana,
"Suci!" Panggil Gifari, Suci menoleh mrnatap papanya.
"Ayo masuk kedalam nak, kita sholat sama2. Suci duduk didalam masjid yah? " ucap Gifari, duduk berjongkok sambil memegang dua lengan kecil Suci.
"Tapi, Suci sukanya ditaman ini Pa... " ucap Suci bermuram durja.
__ADS_1
"Iya, habis sholat kita kesini duduk2... papa janji. "tegas Gifari, dan hanya diangguki oleh Suci. Gifari bukannya tak mengizinkan gadis kecilnya itu bermain disana, hanya saja terlalu berbahaya membiarkan Suci sendirian ditaman seluas itu. Ia takut Suci akan tersesat dan hilang nantinya. Gifari merenggut tangan anaknya, membawanya berjalan bersama dengan saling bersisian. Suci kecil terus mengumbar senyum memasuki masjid indah itu, ia benar2 takjub dengan keindahan didalam sana.. kubah yang besar dan kaligrafi indah yang bertintakan emas membuat hati siapa saja akan berdecak kagum.
Gifari memulai sholat dhuhanya dengan pak Harun yang juga berdiri tak jauh darinya sama2 mengerjakan sholat dhuha. Semenjak perubahan yang baik itu terjadi pada tuannya Harun ikut-ikutan tertular oleh perangai dan kebiasaan baik tuan Gifari.
Suci kecil akhirmya lelah juga, ia menimpakan badan keatas lantai dekat tiang besar didalam masjid. Sementara Gifari sholat, gadis kecil itu asyik berlari kesana kemari menuntaskan rasa penasarannya melihat2 berbagai tulisan kaligrafi yang indah dan penuh misteri menurutnya. Gigi gigi kecil itu terus terlihat tak henti2nya ia tampakkan saking senangnya. Suci bergerak maju kedepan hendak duduk disamping papanya. Tadi sudah dipesan oleh papa untuk duduk didekatnya, hanya saja imajinasinya terlalu liar dan mengajak untuk mendobrak rasa penasaran itu.
"Pfft.. " Suci kecil menahan tawanya, ia bangkit pelan2 dan berdiri. Tuan Gifari sedang duduk tasyahud akhir dan sebentar lagi salam. Dua tangan mungil itu menjamah peci hitam yang terpasang dikepala Gifari, memperbaiki letaknya yang agak condong kekanan agar terlihat sempurna seperti sedia kala. Ada sesidikit debu dipeci itu, Suci kecil pun meniup dan membersihkannya pelan-pelan. Ia sangat menyukai wajah teduh itu disampingnya. Gifari akhirnya menyelesaikan sholatnya, sementara sosok kecil itu setia memandang dari samping.
Gifari menoleh memandang Suci lamat2, ia lalu membelai pucuk kepala anak itu dengan sayang seraya tersenyum.
...************...
"Pa! Bunganya cantik sekali..." ujar Suci kegirangan. Ia baru saja mencabut salah satu bunga kecil berwarna merah dari taman. Gadis kecil itu menghampiri Gifari memperlihatkan hasil petikannya.
"Hmm, duduk sini... " Gifari menepuk2 tempat duduk disebelahnya. Suci menurut dan menjatuhkan badannya diatas kursi kayu, sambil tersenyum memandang bunga kecil cantik yang dipegangnya.
"Kasihan? Kasihan kenapa Pa? " tanyanya polos.
"Sebentar lagi bunga ini akan jadi seperti ini sayang... " Gifari mengambil sebuah tangkai bunga yang telah layu mengering yang kebetulan berserakan didekat kursi. Ia memperlihatkannya pada Suci. Tangkai bunga yang sama yang dipetik oleh anak gadisnya. Suci menatap semakin hairan dan bingung, ia lekas merenggut tangkai bunga layu itu dari genggaman papanya, memperhatikannya secara seksama. Ada rasa tidak terima dalam dadanya jika bunga cantik yang ia petik akan berubah jelek seperti itu.
"Kenapa bisa begitu pa? Kok bisa jadi begini? Suci kasihan bunganya, pa... Kenapa bisa jadi jelek? "
"Karena Suci memetiknya dari taman, makanya bunganya nanti layu dan akhirnya jadi jelek speerti bunga itu nak. Kalau Suci ingin bunganya tetap cantik, seharusnya jangan dicabut. Biarkan dia tetap ditaman, supaya orang lain pun bisa menikmati keindahannyaa sayang.... " jelas Gifari mengulas senyum, seraya membelai kepala Suci kecil.
"Benarkah? " Suci menatap kasihan pada bunga kecil digenggaman tangannya merasa bersalah, bunga itu akan jadi layu karena ulahnya. Suci kecil pun turun dari kursi, menatap kasihan pada bunga kecilnya. Ia berniat mengembalikan bunga itu ditaman, tak mau sampai ia layu. Gifari tersenyum melihat tingkah anak gadisnya itu,
"Ini, " (Gifari)
__ADS_1
"Apa ini mas? "(Anjani) menatap hairan
"Tentu saja ini bunga sayang, apalagi?! Aku memetiknya untukmu... "(Gifari tersenyum senang)
"Dimana kau memetiknya? "(Anjani)
"Ditaman depan, kenapa? " (Gifari)
"Mas, kau telah membunuh bungaku... " (Anjani) meraih bunga kecil dari tangan suaminya.
"Sayang, kenapa sedih? Bunga memang fungsinya seperti ini sayang, dipetik dan diberikan untuk orang yang kita cintai" (Gifari) mulai khawatir terhadap sikap anjani yang begitu sensitif terhadap apapun, mungkin bawaan ibu hamil?
"Tapi kau membunuhnya... hiks hikss. Nanti jadi layu ini bunganya mas.. Aku tidak mau melihatmu memetik bunga lagi. Berjanjilah... "(Anjani)
Gifari cepat2 menyeka air mata yang entah sejak kapan sudah menggenang dipelupuk matanya. Dilihatnya Suci tengah berlari kearahnya usai meletakkan kembali bunga kecil tadi. ucapan Anjani membuatnya tak lagi pernah memetik bunga semenjak hari itu.
"Pa, Suci janji tidak akan berbuat jahat sama bunganya lagi.. Suci janji pa" ujar Suci merasa bersalah, ucapan Gifari begitu membekas dalam hatinya sehingga gadis itu betul2 tersentuh. Gifari hanya membelai dengan sayang pucuk kepala anaknya, lalu menggiring Suci meninggalkan taman masjid. Sudah siang, mereka harus lekas sampai dirumah.
Saat akan melewati tangga masjid, tak sengaja Gifari melihat seseorang yang amat dikenalinya. Gifari menatap lamat2 orang itu merasa tak percaya dengan penglihatannya. Apakah ini mimpi? Seorang pria berkemeja dengan lengan baju yang digulung hingga siku tengah berjalan keluar dari masjid. Wajahnya begitu tenang dan terpancar kebahagiaan dari wajah itu. Suci mendongak merasa aneh kenapa papa berhenti jalan? Suci pun melihat pada arah pandang papanya, melihat seorang Pria menggendong sosok kecil yang tengah tertidur dibahunya. Gifari tak sedikit pun melepaskan tatapannya, terlalu terkejut melihat pemandangan didepan sana hingga akhirnya mata mereka bertemu.
DEG
Orang itu memperlihatkan ekspresi keterkejutan yang sama dengan Gifari, dua bola matanya mengisyarakat kesedihan yang amat dalam. Gifari membuang wajahnya, berusaha mengatur perasaan dalam dadanya.
"Sekarang semuanya Impas Bukan? Kita sama2 kehilangan sekarang! Hahahahah.. "
Dendam yang dulu berusaha dikuburnya dalam2 kini menguap kembali, mengajaknya untuk kembali membalas semua sakit hati yang selama ini ia rasakan. Tak jauh berbeda dengan Gifari perasaan pria itu pun sama, ingin memaafkan dan berdamai dengan masa lalau, namun hatinya belum ikhlas dan sangat susah untuk melupakan semuanya. Andai mereka tak terlibat dalam dunia gelap dulu mungkin mereka tak akan sama2 kehilangan seperti ini.
__ADS_1