
Hari ini hujan, dan hawanya sedingin es semua benda terasa dingin jika kusentuh terlebih lagi jika itu terbuat dari besi. Aku tak beranjak dari sisi jendela meski sudah banyak air langit yang menciprati lenganku. Ini sangat mengesankan, melihat betapa indahnya air hujan menerpa dedaunan taman... Aku setia duduk disisi jendela kamar, membuang pandangan kearah taman yang membingkai dijendela. Aku merasa terhipnotis untuk berlama2 disini, entah mungkin karena hujannya yang begitu melenakan mata atau karena teringat akan sesuatu?
"Dingin pak, sebaiknya ganti baju dulu... " (Ibu)
"Iya tunggu sebentar, payungnya mau ditaruh dibelakang dulu... "(Ayah) Bergerak kearah dapur. Ibu melenggang masuk kekamar, hendak mengganti pakaiannya sesegera mungkin.
"Loh, nak? " (Ayah) muncul didapur, terkejut mendapati sosok kecilnya sedang mengaduk2 air dalam gelas, ada kepulan asap yang keluar dari sana. Sepertinya menghangatkan.
"Suci! " (Ibu) muncul didapur, cemas tak menemukan putri semata wayangnya didalam kamar. Dua orang dewasa itu bersitatap menyaksikan perbuatan anaknya yang sedang menata dua cangkir teh hangat keatas nampan.
"Ayah, ibu! Ayo minum tehnya, pasti ayah dan ibu kedinginan? Hehe... " Suci Nyengir kuda, merasa takut jika nanti dirasakan tehnya kelebihan gula atau mungkin kekurangan?
Waktu itu hujannya deras, aku sudah pulang sekolah sementara ayah dan ibu belum juga pulang. Aku sudah biasa melihat ibu membuatkan teh hangat jika cuaca dingin seperti saat ini. Wanita itu pasti akan buru2 masuk kedapur hendak menyiapkan teh buat ayah dan aku. Saat kedua orang tuaku pulang waktu itu, aku lekas berlari kedapur hendak melakukan hal yang biasa dilakukan ibu. Aku tersenyum jika kuingat kenangan itu, sepiring pisang goreng dan sambal terasi yang dipasangkan dengan teh hangat menjelma diruang tengah dan kami akan duduk disana menikmatinya...👪👪👪😢
CEKLEK
"Suci?!" aku menoleh, itu papa ia dengan langkah lebar mendekatiku.
"Hei? Kenapa main dekat situ nak? Menyingkirlah.. Nanti kamu masuk angin.. " Papa menarikku, lalu membentangkan tirai warna pink menutupi jendela kamar.. Yaaahhhh padahal aku masih betah.
__ADS_1
"Suci lapar? Ayo makan dulu, makananmu sudah siap sayang. " ucap papa menyapu kepalaku lembut, ia duduk berjongkok dihadapanku. Kulihat wajah teduhnya itu, aku benar2 sayang pada pria ini, sungguh aneh. Perasaan apa ini? Hatiku selalu memghangat bila berada didekatnya...
"Iya, Pa.. " Kami lantas bergegas keluar kamar, dengan papa yang menggendongku. Dia bersemangat sekali melakukannya. Aku sangat senang.... Kami menuruni tangga bersama2 lalu berjalan kearah ruang besar disana, membuat ku terkagum2 melihat luar biasanya meja makan itu. Ini terlalu luas!
"Duduk disini oke? " Aku diturunkannya keatas kursi. Hmm kursinya saja empuk,, benar2 sangat luar biasa. Beberapa wanita paruh baya mendekati meja makan, entah keluar darimana? Mereka membawa banyak sekali makanan dalam mangkuk dan piring. Wah? Meja besar ini hampir penuh... Mataku membulat menyaksikan rentetan makanan yang tersaji diatas meja, sungguh banyak sekali.
"Mmh?! " aku terkaget, tiba2 saja papa menyentuh rambutku dan mengikatnya perlahan. Ia melakukannya dengan baik, hingga rambutku yang tadi menjuntai juntai sudah diikat kuda. Setelah itu ia tersenyum dan mengusap kepalaku dua kali..
"Ayo, kalian semua kita mulai makan...Tidak enak jika sudah dingin.. Bi Inah? Tolong panggil pak Harun, pak Ikhsan dan Pak security juga untuk bergabung.. " Kulihat wanita yang papa ajak bicara disana manggut manggut lalu pergi entah kemana? Orang2 mulai duduk didepanku, ada banyak sekali kursi dimeja makan yang cukup untuk mereka semua. Wah menyenangkan sekali,,, jadi ramai... Tapi? Aku memindai setiap wajah didepan dan sampingku, Hmmm nenek tidak ikut makan? Kemana dia? dimana wanita tua itu?
"Pa? Nenek tidak ikut makan? " tanya ku juga akhirnya.
"Nenek sedang kurang sehat, sayang. nanti pelayan akan membawa makanannya keatas, "jelas papa
"Ayo makanlah nak, Suci mau yang mana? Hmm? " Papa sudah menyendokkan nasi keatas piring putih...
...****************...
"Bu? " Papa membelai lembut kening nenek yang kini berbaring diatas kasur, tubuhnya sedang berselimut. Kami sudah selesai makan, dan aku ingin menengok nenek, papa mengiyakan hal itu.
__ADS_1
"Emmhh... " Nenek membuka matanya pelan2, ia tidak tidur, hanya memejamkan mata saja mungkin lelah? Aku duduk didekatnya tepatnya didekat kepalanya dan papa disampingnya.
"Bagaimana? sudah enakan? Panas ibu sudah turun ini... " ucap Papa. Aku menjatuhkan pandang pada wajah nenek yang terlihat sedikit memerah.
"Hmmmm, iya... Sudah agak enakan nak. Alhamdulillah...." Nenek Mencoba tersenyum,suaranya bergetar dan serak. Sangat kentara wanita tua ini lemas dan kepayahan, lihatlah wajahnya yang seperti menahan sakit. Aku tau rasanya sakit demam itu bagaimana? Sangat tidak enak! Susah makan, susah tidur, lidah jadi pahit! Hmmm pokoknya mengerikan.
Huuuffff!
Usap usap!
"Hh? " Papa menyorotku. Hihi apa ini salah? Ayah selalu melakukan ini jika aku sakit, makanya ingin kupraktekkan juga pada nenek, siapa tau mujarab?
"Kenapa wajah nenek disapu sayang? Suci sedang melakukan apa? " Tanya papa. Kutatap wajah nenek yang sedikit kaget namun seketika tersenyum memandangiku.
"Kalau Suci sakit biasanya ayah melakukan ini, dan biasanya Suci langsung sembuh! " Ungkapku penuh percaya diri. Iya! Biasanya ayah akan memdekatkan dua tangannya seperti orang hendak berdoa lalu, mulutnya komat kamit entah membaca apa? Habis itu, Hufffff!! dia meniup kedalam tangan itu dan mengusap seluruh badanku, dari ujung kepala hingga kaki. "Insyaa Allah sembuh besok! " Begitu kata ayah biasanya....
"Memangnya tadi Suci baca apa? Sebelum ditiup? "tanya nenek.
"Emmm..... B-b-Bismillah?" Papa sedikit tergelak, ups? Salah ya? Bukan baca bismillah? Tapi yang kudengar ayah selalu membaca itu saat akan menyapu seluruh badanku.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, oh... Cucu nenek.. Sini peluk nenek... " Aku lantas datang mendekat kearah perempuan itu, dan memeluknya dari samping. Hmmm hangat sekali badannya.
"Gadis baik...." Imbuh nenek lagi, menepuk2 punggung kecilku.