
Aku berlari masuk kedalam hutan. Aku ingin pergi jauh sejauh jauhnya sebelum bu Maya dan yang lain menemukanku! Aku takut, sangat takut. Bayangan berada jauh dari makam kedua orang tuaku membuat tubuh ini menggigil ketakutan.
Air mata telah mengering, aku terlalu lelah untuk menangis. Hatiku tak lagi kutahu seperri apa bentuknya? Porak poranda sudah kehidupan kecilku kini. Sakit sekali jika harus mengingat dan menyadari kenyataan bahwa aku seorang diri sekarang tanpa ada ayah atau ibu. Diam terpaku memandang semak didepanku itulah yang kulakukan sekarang. Aku duduk memeluk lutut bersembunyi didalam alang alang yang tingginya menyamaiku. Ucapan paman berkumis terus menggema dalam ingatanku, aku sangat takut jika harus dibawa kepanti asuhan. Tidak bisakah bu Maya saja yang mengurus dan merawatku? Aku hany dekat dengannya. Hanya dia yang paling peduli padaku....
................************..............
"*Kamu jahat mas! Kamu Tega! Apa salahnya sih kalau Suci kita adopsi? Dia itu yatim piatu mas, kamu tidak kasihan hah?! "
"Maya, please! Siapa yang tidak kasihan pada anak seperti Suci? Semua orang mengasihaninya, aku masih punya hati! Hanya saja aku memikirkan masa depan kita dan anak itu sayang, kita ini orang susah. Dan aku takut tidak bisa memberikan kehidupan layak bagi kamu dan anak2 kita nnti terlebih lagi ditambah dengan Suci! Sayang aku ini orang tak berada... "
" Mas soal rejeki itu susah ada yang atur! Kenapa kita musti khawatir? Aku gak rela mas! Aku gak rela Suci diadopsi sama orang lain! "
"Maya coba fikirkan ini! Tuan gifari itu orang kaya! Perhatikan saja penampilannya dan juga kendaraannya yang terparkir diluar sana! Dia lebih pantas mengasuh Suci, dia jauh lebih baik dibamding kita yang tak punya apa2 ini. Masa depN Suci akan cerah jika hidup bersama pria itu*! "
Pertengkaran itu lagi, pertengkaran yang sukses mengembalikan kesadaran gadis kecil ini. Badanku rasanya remuk dan sakit tak bisa banyak bergerak. Aku berusaha membuka mata, dan sakit itu datang lagi. Sakit yang kurasakan saat aku akan tumbang.. Tunggu dimana aku? Ini jelas bukan dipemakaman?
"Maya! Maya! Tunggu! " Itu suara suami bu Maya. Sepertinya mereka bertengkar lagi. Kutatap lekat langit2 kamar yang menghampar diatasku. Dimana aku sekarang? Dan kemana suara ribut tadi? Bu Maya dan suaminya? Seingatku aku sedang makan buah jmbu biji pagi itu, lalu tak berapa lama rasa sakit mnyerang perutku. Kepala ku pun sakit dan dunia seolah berputar, penglihatanku juga perlahan kabur dan gelap hingga akhirnya aku jatuh. Setelah itu aku tak lagi ingat apa2. Kenapa bisa aku ad disini? Tempat apa ini? Rapi sekali? sangat bersih, lantainya putih tak bernoda. Kasurnya juga empuk sekali dan aku dibungkus selimut tebal. Ini sangat nyaman dan melenakan. Kutatap pintu yang sedikit terbuka disana, ruangan ini kosong. Hanya ada aku. Tempat apa ini?
"Arkh!! " Aku merintih menahan sakit yang tiba2 saja menucuk diperutku. Aku menutup mata, merasai sakit yang melanda ini, sakit sekali ya Allah.
Tap
tap
__ADS_1
tap
Sepertinya ad yang datang, pintu kamar terdengar bergeser. Aku membuka mata kala kurasakan sentuhan dan belaian lembut dikepalaku. Aku rindu usapan seperri itu. Dan betapa aku terkejut dan juga bahagia saat kutatap sosok itu lagi, setelah sekian lama aku tak bersua dengannya. Wajah yang meneduhkan itu tersenyum kearahku seraya membelai pucuk kepalaku.
"P-paman? " ucapku lirih berusaha membendung air mata yang sudah mengantri untuk jatuh. Dan aku benar2 tak dapat menahan rasa haru ini, akhirnya aku pun menangis.
"Sayang, Sshhh... Hei? Kenapa menangis hmmm? Ssh..." Dia mengusap air mata dipipiku dengan lembut, aku lantas menengadahkan tanganku kearahnya berharap paman mau menggendongku membawaku dalam pelukan hangatnya. Entah perasaan aneh apa ini? Aku benar2 merindukannya dan ingjn menumpakan segala rasa dan keluh kesahku padanya. Ia menyambut uluran tanganku dan langsung mendekapku dengan sayang. Aku memeluknya erat2 sambil menangis tersedu, dia terus menenangkanku, menyebut memamggilku dengan panggilan "sayang" dan "nak" dua kata yang sanggup membuatku bertambah menyayangi dan ingin dekat dengannya.
"Sssh,, tenanglah anakku sayang. Jangan menangis lagi.. " Ia mengusap2 kepalaku tak jemu.
"Suci! " Aku mengusap air mataku, itu suara bu Maya. Aku menoleh mengeluarkan kepalaku dari dalam pelukan paman. Kutatap sosok bu Maya yang tengah diam dan berdiri sidepan pintu kamar. Ada bulir air mata disudut matanya, ia nampak kusut dan sedih. Aku hanya diam, ia tak sendiri ada suaminya bersamanya.
"S-suci? Sayang? Bagaimana keadaanmu nak? " Bu Maya melangkah mendekatiku, kemudian aku teringat tentang paman berkumis, apa aku akan dibawa ke panti asuhan? Tidak! Aku tidak mau!
"S-suci? hiks hiks.... " Bu Maya mulai menangis tersedu, aku tak mengerti?
"Assalamualaikum," aku menoleh cepat hendak menyaksikan siapa yang masuk kekamar? Dan
DEG!
itu paman berkumis, ia tersenyum seraya mendekat kearah kami. Aku takut, aku ingin lari! Tidak! Dia akan membawaku bersamanya! Aku tidak mau!
"Tenanglah, nak.... Ssshhh... tenanglah sayang.." Aku memeluk paman menyembunyikan wajahku dalam dekapannya.
__ADS_1
"Sepertinya kita sudah tau, siapa yang paling cocok dan pantas menjadi oramg tua asuh nak Suci sekarang? " Aku mengintip dari balik pelukan hangat itu, kulihat wajah paman berkumis nampak sumringah, menatap bu Maya dan paman baik hati secara bergantian. Bu Maya menunduk dalam, air matanya ada yang jatuh kelantai tertangkap oleh inderaku.
"Tidak, pak. Seharusnya kita tanya Suci dulu. Apa dia bersedia dan mau? Tidak baik memaksakan sesuatu pada anak kecil. " tegas bu Maya usai mengangkat wajah.
"Ya sudah, kita tanyakan saja langsung bu Maya!" Ungkap paman berkumis tersenyum remeh.
"Suci, nak? " Bu Maya memaksa mengambilku dari gendongan paman. Ia lantas mendudukkanku diatas pahanya.
"Nak, Syang, ibu mau tanya sesuatu sama Suci." Aku menatap dua bola mata itu lekat. ad kesedihan yg terpancar dari sana.
"Suci mau tinggal dipanti asuhan?" Aku terkejut, sambil menatap takut pada bu Maya. Aku menggeleng kuat2 dan hendak menangis.
"Ssshh, sayang....tenanglah.. " bu Maya membelai kepalaku lembut.
"Kalau begitu Suci harus tinggal bersama paman yang itu. Suci mau kan? Paman sangat menyayangi Suci seperti ayah dan ibu menyayangi Suci.. " Pamam berkumis tersenyum kearahku. Aku menoleh menatap pamam baik hati disana,,, Aku akan tinggal dengannya? Lama aku terdiam, memikirkan banyak hal yang tak sanggup kepalaku cerna.
"S-suci, hanya akan tinggal dikubur ayah dan ibu.. " ucapku polos.
"Kalau begitu Suci harus tinggal dipanti asuhan!" tegas paman berkumis membuat aku takut dan ingin menangis.
"Tidak! Suci tidak mau kemana2! Suci mau tinggal sama ayah sama ibu, " teriakku disertai tangis.
"Suci, tenanglah nak....tenang sayang... " Bu Maya mendekapku tubuhku, memelukmya erat.
__ADS_1
........*******************.........