
Sudah seminggu lamanya aku tak lagi bertemu dengan paman baik hati. Entah mengapa hatiku bertambah hampa, ia bak malaikat yang datang menghibur menenangkanku saat aku rapuh lalu pergi dan menghilang entah kemana? Aku berhasil dibujuknya agar mau pulang saat itu, membuat bu Maya senang tak terkira menjumpai paman baik hati itu membawaku pulang kerumah. Aku merindukan belaian dan usapan tangnnya dikepalaku, entah kapan lagi kami akan bertemu. Aku rindu wajah teduhnya.
Aku tak pernah absen untuk mengunjungi kuburan ayah dan ibu. Dari terbit matahari hingga terbenam aku setia duduk disana berceritera dan mengeluhkan banyak hal pada ibu dan ayah. Kadang aku jenuh dan memilih diam dan akhirnya tertidur berbantalkan tanah kubur.
"Tapi mas, Suci itu tidak punya keluarga lagi. Ayahnya orang makassar, dan ibunya orang padang. Mereka sama2 perantau dikota ini. Mas biarkan aku mengasuh anak itu? "
"Tidak, Maya. Kita titipkan saja dia dipanti asuhan. Disana juga pasti dia akan dirawat dengan baik. Aku ingin kita fokus pada rumah tangga kita Aku hanya ingin hidup denganmu dan anak anak yang lahir dari rahimmu. Kumohon mengertilah sayang, "
Bayangan pertengkaran antara bu Maya dan suaminya berputar diotakku. Aku tak memahami apa yang mereka permasalahkan? Yang kutau adalah suami bu Maya tak senang dengan kehadiranku. Aku mendongak keatas menatap langit, langit yang cerah tanpa ada awan sedikit pun yang bertengger disana.
Aku tak ingin menyusahkan siapapun, aku yang kecil ini hanya ingin hidup dengan orang tuaku. Aku benar2 tak punya keluarga selain keduanya, bagaimana nasibku kini? Sekolah pun rasanya aku sudah enggan, tak ada lagi semangat dalam melakukan segala hal bahkan bermain sekalipun aku tak lagi berselera. Bu Maya adalah orang yang paling perduli padaku hingga kini ia selalu membawakanku makanan kerumah saat pagi, siang dan malam. Ia memaksa agar aku serumah dan tinggal dengannya namun aku menolak! Aku tak mau meninggalkan rumahku. Terlalu banyak kenangan dirumah itu. Dan lagi, aku sangat takut menatap wajah dan dua bola mata suami Bu Maya yang seolah ingin menelanku bulat2.
..."************"...
Tok tok tok
__ADS_1
Aku menoleh kearah pintu kayu usang disana, seperrinya ada tamu? Apa bu Maya? Ah ya bisa saja? ini kan sudah pagi pasti dia akan mengantarkan makanan lagi. Senyum indah menghias bibirku, aku lekas berlari kearah pintu.
Ceklek
Ah rupanya bukan bu Maya, aku salah tebak, senyum indahku pun memudar. Kutatap lekat sosok tinggi didepan wajahku, siapa paman ini?
"Assalamaualaikum Suci, " sapanya lembut disertai senyum. Aku terdiam, ada apa oramg ini datang kesini? siapa orang ini? Tiba2 laki2 paruh baya tersebut menjongkok dihadapanku.
"Paman boleh masuk nak?" ia mengusap usap rambutku yang terurai, tampaknya dia orang baik. Aku hanya diam dan mengikuti paman itu masuk kedalam rumah kecilku. dia kemudian duduk pada salah satu kursi kayu yang jika diduduki akan mengeluarkan suara suara aneh.
"Waalaikumussalam, eh bu Maya?" ungkap paman itu. Bu Maya segera merenggutku dari pangkuan paman, wajahnya benar2 tertekuk seolah memendam sesuatu. aku akhirnya berada dalam pangkuannya.
"Maaf, ada perlu apa bapak datang kerumah Suci? " selidik bu Maya menatap paman berkumis didekatnya.
"Siapa pun berhak mengunjungi anak yatim. Terlebih lagi saya kepala desa disini, Suci benar2 menjadi tanggung jawab saya sekarang bu Maya. "
__ADS_1
"Saya sudah membicarakan hal ini dengan bapak sebelumnya kan? Saya akan merawat anak ini... " tegas bu Maya mendekap diriku kian erat. Kusaksikan sendiri bagaimana paman berkumis menghela nafas dan memijat keningnya. Apa dia pusing?
"Bu Maya tau dan sadar sendiri kan? Bagaimana suami ibu? Dia tidak sependapat dengan ibu masalah hak asuh ini. Saya tidak mau Suci nantinya hidup menderita karena suami bu Maya tidak menginginkannya untuk tinggal bersama. " Aku mencoba menelaah percakapan dua orang dewasa didekatku ini. Apa mereka membicarakanku?
"Saya akan membicarakannya lagi, saya yakin suami saya mau pak. Tolong pak, hanya saya yang paling mengerti dan memahami anak ini.." ucap bu Maya, suaranya mulai bergetar. Aku masih tak memahami maksud dn arah pembicaraan mereka, hanya saja aku mulai kalut mendengar suara bu Maya bergetar membuat air mataku hendak jatuh.
"Sudah berapa kali kita membicarakan hal ini bu Maya, dan sama sekali tak membuahkan hasil apapun. Ibu dan suami sama2 keras, tolong jangan buat hidup anak tak berdosa ini semakin buruk. Suci akan tinggal dipanti asuhan, disana jauh lebih baik."
Deg
Panti asuhan? Mataku membulat sempurna, apa itu panti asuhan? Aku menatap paman yang duduk didepanku, aku merasa terusik mendengar kalimat terakhir yang ia lontarkan tadi. Mereka mau membawaku kemana? Aku mendongak memandang wajah bu Maya, berharap wanita itu akan menjawab semua tanya dalam benakku. Bu Maya balas menatapku juga, matanya nampak berkaca kaca, seolah ia paham dengan apa yang gadis kecil ini pikirkan.
"Besok Suci harus sudah dibawa kesana, saya sendiri yang akan mengantarnya. Mulai malam ini nak Suci akan tinggal dirumah saya, sebelum berangkat kepanti asuhan besok." mataku sudah berair, dan buliran kristal itu telah siap untuk jatuh menggelinding dipipiku. Tidak aku tida'k mau kemana2! Aku hanya akan tinggal dirumahku! Aku tak akan ikut siapapun! Aku lantas memberontak dari pangkuan bu Maya, aku ingin sembunyi dari orang2 ini!
"Suci! " bu Maya meraih tanganku mencekalnya kuat.
__ADS_1
"Suci tidak mau tinggal di panti asuhan! Tidak Mau!! Tidak Mau!! Lepaskan!!! " aku menggigit tangan bu Maya, wanita itu menjerit kesakitan. Kugunakan kesemptan itu untuk lari, ya! Aku berlari dengan sangat kencang! Paman itu mencoba mengejarku, namun sia2. perutnya terlalu besar untuk bisa berlari secepat diriku. Tujuanku kini adalah kuburan, makam kedua orang tuaku. Aku tak sudi pergi dan ikut siapapun! Aku akan tinggal bersama orang tuaku!