
Pagi ini langit sedang tak cerah, Hujan deras membasahi tanah sejak subuh tadi, Gendis menatap phon dan Bunga yang basah dari jendela lantai 10
Jam menunjukan pukul 06.00 pagi, Raka dan Cahaya masih tertidur, sedangkan Gendis tak bisa memejamkan matanya sejak semalam
Dokter Rahma dan Arjuna menginap di apartemen yang baru dibeli oleh Arjuna untuk ibunya, sedangkan Reyhan semalam pamit pulang ke rumah Ningsih
Pertengkaran semalam membuat Gendis tak bisa gelisah dan bingung , dia harus mengambil tindakan untuk masa depan anak-anaknya
Arjuna memang berhak atas anak-anaknya tetapi dia harus melindungi Raka dan Cahaya dari ancaman nyonya Carla
Gendis tidak ingin memisahkan Raka dan Cahaya dari Arjuna, mereka baru saja bertemu dan merasa bahagia, tidak mungkin dia merusak kebahagiaan itu dari anak-anaknya
"Mah…" suara panggilan Cahaya mengejutkan Gendis, dia beranjak dari sofa untuk menghampiri Cahaya
" Iya sayang," Gendis mengecup kening Cahaya
" Cahaya kangen papah," ucap Cahaya
" Raka juga mah…" Gendis terkejut dengan suara Raka
" Nanti papah ke sini yah," jawab Gendis
" Sekarang mah…telepon papah " rengek Raka
"Iya mah telepon papah sekarang, Kaka Raka dan Cahaya kangen papah," mendengar rengekan kedua anaknya Gendis tak tega. Mereka masih kecil untuk memahami situasi yang sedang terjadi
" Iya nak mamah telepon sekarang yah…" Gendis beranjak menuju sofa untuk mengambil handphone yang dia letakkan di meja nakas
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, Gendis, Raka dan Cahaya menoleh ke arah pintu
" Ada yang kangen papah?" Arjuna masuk dengan dengan ibu Rahma yang berada di belakangnya
" Papah… Eyang…" Raka dan Cahaya kompak memanggil dengan raut wajah yang sumringah, Gendis tenang melihat ekspresi bahagia kedua anaknya
" Aduh cucu eyang sudah bangun… sini eyang mau cium," seru dokter Rahma, sudah beberapa minggu dia hanya melihat Raka dan Cahaya melalui video call
" Eyang kangen Raka dan Cahaya," ucap dokter Rahma seraya memeluk Raka
" Eyang Cahaya juga mau dipeluk," protes Cahaya
" Papah saja yang pelik Cahaya, " Arjuna segera menghampiri Cahaya dan memeluk ya dengan hangat
" Nak, kita ke Cafe bawah yuk, beli beberapa makanan," ajak dokter Rahma
" Iya bu… Raka dan Cahaya sama papah dulu ya, mamah mau ke bawah sebentar sama Eyang, " ujar Gendis, Raka dan Cahaya me jawab dengan anggukan kepala
__ADS_1
Gendis dan dokter Rahma berjalan menuju Cafe 24jam yang terletak di lantai dasar, mereka memilih duduk di kursi yang terletak di pojok
Seorang pelayan Cafe datang untuk mencatat pesanan,
" Ibu mau makan apa? " tanya Gendis
" Ibu pesan teh hangat dan sandwich ,"
"Kak… pesan teh hangat 1, capuccino hangat 1, dan sandwich 2," ujar Gendis
" Baik kak, " kata pelayan lalu pergi
" Menurut dokter bagaimana keadaan anak anak?" dokter Rahma tak pernah bertanya langsung pada dokter yang merawat Raka dan Cahaya
" Mereka Perlu terapi berjalan setelah kakinya benar-benar pulih, mungkin tahun ini mereka belum bisa melanjutkan sekolah bu, aku ingin fokus untuk penyembuhan mereka, " ujar Gendis
" Itu tidak masalah nak, ibu mendukung mu, mengenai semalam Ada apa nak?" tanya dokter Rahma
" Tidak apa bu," Gendis tak berminat membagi ceritanya pada dokter Rahma
" Jangan berubah nak, hanya karena aku adalah ibu dari Arjuna, ibu bahkan lebih mengenal sifat dan perasaan mu dari pada anak kandung ibu sendiri,"ungkap dokter Rahma
Gendis tahu, Apa yang dikatakan dokter Rahma memang benar, mereka telah bersama selama tujuh tahun, tapi walau bagaimanapun Arjuna adalah anaknya, apakah dia akan bisa objektif, itu yang membuat Gendis ragu
"Nyonya Clara dan calon isteri mas Arjuna kemarin datang ke sini," ujar Gendis
"Aku tak tahu bu, mas Arjuna berbohong atau menang itu calon istri menurut nyonya Carla, tapi wanita itu sangat percaya diri akan menjadi isteri mas Arjuna, sejujurnya aku tidak peduli lagi mas Arjuna mau menikah dengan siapapun, aku hanya ingin hidup ku tenang seperti saat sebelum bertemu dengan mas Arjuna, "ucap Gendis, sebenarnya dia merasa tak enak hati terlalu jujur pada dokter Rahma
" Apa kamu curiga kalau dibalik kecelakaan Cahaya dan Raka adalah Carla? " tanya dokter Rahma dengan hati-hati
" Aku tak punya bukti bu, tapi aku akan mencari tahu, jika memang semua itu ada hubungannya dengan nyonya Carla, aku tidak akan tinggal diam," jawab Gendis
" Kenapa kamu tidak membicarakan hal itu dengan Arjuna?" dokter Rahma sudah menduga bahwa Gendis mulai curiga dengan nyonya Carla
" Aku tidak punya bukti yang kuat, jika aku memberitahu mas Arjuna sekarang, perkataan ku hanya akan menjadi sebuah omong kosong, apalagi jika aku berbicara mengenai calon isterinya, biarkan mas Arjuna tahu dengan sendirinya bu," ujar Gendis, dia tak mau menjelekan nyonya Carla dan Susan di depan Arjuna tanpa bukti yang kuat
Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka, dokter Rahma dan Gendis menikmati sarapan pagi dengan hati yang kacau
***
Arjuna sangat bahagia dapat meluangkan waktu hanya bertiga dengan anak anaknya, pertengkaran semalam membuatnya tak nyaman, karena tatapan Gendis masih saja sinis saat terakhir kali bertemu
" Pah, kapan kita pulang ya?" Raka sudah mulai bosan dengan rumah sakit
" Iya pah, Cahaya bosan di sini, kita pulang aja yuk pah," rengek cahaya
__ADS_1
" Belum waktunya sayang, nanti kalau dokter bilang Raka dan Cahaya boleh pulang, nanti kita pulang ke rumah yah, " jawab Arjuna
" Hore… Rumah Kita sudah jadi pah?" tanya Cahaya
" Sudah dong… nanti kalo kalian sudah sehat kita langsung ke rumah yah," jawab Arjuna
" Nanti Cahaya minta uang tabungan yang ada di mamah buat beli boneka, Cahaya mau kamar Cahaya ada boneka beruang yang besar sekali, kata mamah boleh beli boneka yang besar kalau kamar Cahaya besar pah, "mendengar perkataan Cahaya membuat hati Arjuna tercabik, alasan Gendis memang sangat bijaksana, tapi Arjuna tau Gendis menabung uang anak-anak untuk bertahan hidup
" Kalau Raka mau apa? "tanya Arjuna
" Raka mau melukis di atas rumah kita pah, Raka senang melihat langit saat melukis," jawab Raka
Arjuna selalu merasa bersalah setiap mendengar anak-anaknya bercerita tentang keinginan mereka
" Sebentar ya, papah mau telepon teman papah dulu," Arjuna mengeluarkan handphone dari saku dan menghubungi Rico
" Rico hubungi desain interior dan arsitek yang menangani rumah baru saya, sore buatkan jadwal meeting dengan mereka, terimakasih," Arjuna menutup sambungan telepon
" Papah akan wujudkan impian kalian nak," ucap Arjuna dalam hatinya
***
" Nak… ini pakailah, " dokter Rahma mengeluarkan balck card dari tas nya
" Apa ini bu? " tanya Gendis
" Arjuna meminta menyerahkan ini pada mu nak, untuk keperluan mu, Arjuna tahu kamu tidak akan berani meminta apapun padanya, tapi kalian di kota ini pasti membutuhkan waktu yang lama, lagi pula selama tujuh tahun Arjuna tidak memberimu nafkah, ini adalah hak mu nak, maka dari itu ibu setuju membantu Arjuna menyerahkan pada mu, " ungkap dokter Rahma
" Aku tidak mau bu, " Gendis menolak pemberian Arjuna
" Dengarkan ibu nak, ibu tau kamu terluka saat ini, tapi ambillah nak, pakai jika kamu benar benar membutuhkannya untuk anak anak, ini juga bagian dari hak mereka, singkirkan dulu ego mu, Arjuna tidak bisa 24 jam bersama kalian, kalo ada apa-apa kamu bisa memakainya " dokter Rahma meyakinkan
" Baik bu… " Apa yang diucapkan dokter Rahma memang benar, Gendis menerima Black card dari Arjuna
***
" Pah… kenapa papah enggak mau kembali sama mamah? " tanya Raka
" Kenapa Raka ngomong begitu? " tanya Arjuna tak mengerti dengan yang diucapkan anaknya
" Semalam Raka mendengar om Reyhan mau nikahin mamah, jadi papah kami, om Reyhan baik sih pah, tapi… apa bisa papah aja? " perkataan Raka membuat Arjuna terkejut, bagaimana mungkin Gendis menerima lamaran Reyhan dengan cepat, setelah mereka bertengkar.
Bersambung
Temen-temen like, komen and vote yaaa, insya Allah minggu depan aku akan update terus tiap hari😍
__ADS_1
Arjuna apa Reyha yah 😍😍😍😍