Anak Genius: Papah We Love You

Anak Genius: Papah We Love You
Serangan Pertama


__ADS_3

Setelah seharian beristirahat Gendis sudah merasa lebih segar, dia sangat merindukan anak-anaknya. “ Mas aku kangen anak-anak,” Ucap Gendis seraya membalikan  badannya, kini mereka saling berhadapan, karena malu dia merapatkan kepalanya di dada Arjuna.


“ Kenapa kamu masih malu seperti pengantin baru, “ Arjuna meraih dagu Gendis dan langsung mencium bibir istrinya itu. Mereka saling merasakan getaran yang dahsyat, menikmati aroma tubuh yang menyeruak di hidung membangkitkan rasa yang terpendam di dalam sanubari mereka.


Ciuman hangat dimulai oleh Arjuna, Gendis memejamkan matanya menikmati setiap irama seperti angin pantai yang semilir. Ada kerinduan yang ingin mereka lepaskan, seperti sebuah belenggu yang akhirnya bisa terlepas.


“ Aku sudah menyiapkan rumah untuk kita, “ bisik Arjuna. Gendis menatapnya  seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya.


“ Minggu depan kita sudah bisa menempatinya, sekarang juga sudah bisa tapi aku masih membuat studio untuk Raka melukis, “ ungkap Arjuna untuk  meyakinkan Gendis.


“Anak-anak pasti bahagia keinginan mereka terwujud, mempunyai papah, rumah besar dan yang paling utama mereka mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari papanya hal yang tidak pernah aku bisa berikan pada mereka tapi mas bisa berikan, “ jawab Gendis.


“ Kamu sudah melakukan banyak hal untuk mereka sayang, bahkan semua itu tak akan pernah bisa aku ganti,” Arjuna membelai rambut panjang Gendis. 


“ Terimakasih mas telah mewujudkan mimpi mereka, “ Gendis menyandarkan kembali kepalanya di dada Arjuna.


“ Aku memiliki banyak hutang pada kalian, bahkan apa yang aku berikan tidak akan cukup untuk menebusnya, aku akan berusaha membayar setiap luka hati dan tangisan yang telah keluar dr matamu, “ ucapan Arjuna membuat Gendis melayang, ini pertama kalinya dia mendengar kalimat yang begitu manis di telinganya.


“ Aku rindu anak-anak mas, “ sudah kedua kalinya Gendis mengatakan hal yang sama.


“ Sebentar lagi dokter datang untuk memeriksa mu sayang, setelah  mendengar penjelasan dokter, kita akan langsung ke kamar anak-anak, “ ujar Arjuna. Gendis tak bisa lagi memaksa, dia harus menunggu untuk bertemu dengan Raka dan Cahaya.


****


“ Eyang mamah kok belum ke sini yah, Cahaya kangen mamah, “ tanya Cahaya dengan menunjukan muka masam.


“ Sebentar lagi mamah dan papah pasti datang sabar ya sayang, “ ucap Dokter Rahma. Dia melihat Raka yang tampak murung seharian ini.


“ Raka kenapa?” tanya Dokter Rahma


“ Eyang, apa Raka nggak bisa melukis lagi?” tanya Raka.  Sudut matanya menahan air mata, melukis adalah bagian dari hidup Raka, dengan melukis dia dapat merasakan kebahagiaan. Rasa takut menghampiri pikiran Raka, dia takut tidak bisa melakukan kegiatan yang menenangkan hati dan jiwanya yaitu melukis, karena sudah hampir satu bulan dia tidak memegang kuas dan canvas.


Dokter Rahma menghampiri Raka dan memeluknya,  “ Cucu-cucu eyang akan sembuh, kan Eyang dokter yang akan merawat Raka dan Cahaya, jadi sekarang kalian harus nurut sama eyang yah, kalo waktunya makan, istirahat dan tidur harus nurut ya, “ ujar Dokter Rahma. Tangis Raka pecah, dia tak bisa lagi membendung air matanya, Dokter Rahma memahami apa yang dirasakan oleh Raka. 


****

__ADS_1


Suara ketukan pintu mengejutkan Arjuna dan Gendis yang masih berpelukan di atas bed pasien. Arjuna segera melepaskan pelukan dan bangun dari posisinya. Gendis merasa canggung dan malu, tapi Arjuna malah cuek.


“ Hei...apa asyiknya berduaan di rumah sakit, apa Tuan Arjuna ini nggak mampu sewa hotel?” mendengar gurauan itu membuat Gendis terkejut, sepertinya dokter itu mengenal Arjuna.


“ Sial…!” umpat Arjuna pada dokter laki-laki tersebut yang ternyata sahabatnya Guntur.


“ Oh ini Nyonya Arjuna, salam kenal saya kebetulan saya sangat mengenal baik suami anda sampai ke akar-akarnya, “ Dokter Guntur mengulurkan tangannya pada Gendis. Dia menerimanya meski masih dalam keadaan bingung.


“ Sudah...sudah jangan kelamaan, ayo periksa istri ku!” kata Arjuna.


“Haha… Sabar… sabar, " Dokter Guntur meledek Arjuna. Perawat memeriksa tekanan darah Gendis dan Dokter Guntur membaca hasil tes lab.


“ Tidak ada yang serius hanya kurang istirahat saja, jangan terlalu memaksakan diri ya, biar Arjuna saja yang urus semua hal, dia punya energi yang banyak dan mental yang kuat, “ kelakar Dokter Guntur.


“ Terimakasih Dokter Guntur, “ ucap Gendis.


“ Panggil saja nama, kita akan sering bertemu, saya akan perkenalkan istri dan anak-anak  kalau Raka dan Cahaya sudah sehat, “ jawab Dokter Guntur.


“ Saya permisi dulu mau visit pasien lainnya, “ ucapnya.


“ Sayang aku mau bicara dengan Guntur sebentar, “ Arjuna mengecup kening Gendis dan menyusul Dokter Guntur.


“ Iya mas, “ jawabnya. 


“ Guntur, apa istri ku benar baik-baik saja?” Arjuna meyakinkan kembali bahwa Gendis memang baik-baik saja.


“ Aku akan menyusul, “ ucap Guntur pada perawat yang menemaninya.


“ Baik dokter, “ ucapnya.


“ Sepertinya istri kamu sudah beberapa hari ini kurang istirahat, ada baiknya malam ini dia tidur untuk memulihkan keadaan, menjaga orang sakit memang memerlukan tenaga yang  ekstra, jangan lupa minta Gendis banyak minum air putih.  Oh iya jangan lupa kasih makan, jangan-jangan dia kurus seperti itu karena kamu nggak pernah kasih dia makan, “ ungkap Guntur.


“ Sial!. “ Arjuna menepuk pundak Guntur.


“ Hubungan kami baru saja membaik, aku akan lebih memperhatikannya mulai sekarang, “ ucap Arjuna.

__ADS_1


“ Ya, dia butuh perhatian dan dukungan, jangan sampai kamu mengecewakannya lagi, wanita selalu berpikir dengan hatinya, “ Dokter Guntur memberikan saran sebagai sahabat.


“ Semalam aku sepertinya melakukan kesalahan, aku bermalam di rumah Susan, “ ujar Arjuna.


“ Kita akan bicarakan itu di ruangan ku, setelah selesai visit beberapa pasien aku akan menghubungimu, “ ucap Dokter Guntur.


“ Oke, terimakasih ya,” Arjuna kembali ke dalam kamar Gendis.


“ Ayo kita menemui anak-anak, mereka juga pasti sangat merindukan kamu, “ ajak Arjuna. Gendis langsung bersemangat beranjak dari tempat tidurnya. 


“ Ayo!” Seru Gendis.


“ Aku bilang ke Raka dan Cahaya  kalau kamu tidur di kamar sebelah, aku nggak mau mereka khawatir karena anak-anak kita sangat perasa, “ terang Arjuna. Gendis bahagia karena sekarang Arjuna memahami bagaimana sifat anak-anaknya.


Arjuna membuka pintu kamar dengan perlahan dan melihat anak-anaknya sedang fokus melihat TV ditemani oleh Dokter Rahma.


“ Mamah….!”  teriak Raka, disusul teriakan Cahaya. Mereka begitu antusias dengan kehadiran Gendis.


“ Mamah kangen….” seru Gendis seraya membelai rambut kedua anaknya. 


“ Raka juga kangen mah, “ ucap Raka. 


“ Aku juga, “ Cahaya menimpali. 


" Wah… nggak ada yang kangen nih sama papah," Arjuna merajuk. 


" Eyang aja yang kangen papah deh," jawab Dokter Rahma merayu. Membuat gelak tawa pecah di kamar itu.


Saat mereka menikmati kebersamaan dengan suka cita, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Arjuna beranjak menuju pintu karena posisi ya paling dekat.


Arjuna terkejut ketika membuka pintu melihat Susan datang dengan Nyonya Carla.


Bersambung...


 

__ADS_1


__ADS_2