
Saat mereka masuk Cahaya dan Raka sudah tertidur, Arjuna melihat ke sekeliling mencari keberadaan Dokter Rahma tapi dia tidak menemukannya. Dia tidak menyadari bahwa Ibunya telah keluar dari kamar itu.
“Anak-anak sudah tidur nyonya, karena mereka perlu banyak istirahat, “ ucap Gendis.
“ Apa yang terjadi dengan mereka?” tanya Nyonya Carla, berlagak tak tahu apa-apa.
“ Mereka korban tabrak lari, “ jawab Arjuna.
“ Apa kalian sudah mengetahui pelakunya?” tanya Susan.
“ Belum, tapi aku pasti akan menemukan pelakunya dan membuat dia bertanggung jawab karena telah menabrak dan meninggalkan mereka begitu saja di jalan, seperti menabrak seekor tikus yang dibiarkan mati, “ ungkap Arjuna Geram.
Gendis menggenggam tangan Arjuna untuk menenangkannya, tidak hanya itu dia juga ingin pamer kemesraan di depan Susan dan Nyonya Carla. Tentu saja Susan menyadari hal itu, dia cepat membaca situasi.
“ Semoga anak kamu segera pulih ya Arjuna, “ ucap Susan, dia ingin mencuri simpatik Arjuna dengan bersikap baik pada Gendis dan anak-anaknya, Susan ingin memberikan citra yang baik tentang dirinya pada Arjuna.
" Kita pulang yuk tante, anak-anak sedang tidur nanti kita mengganggu," ajak Susan.
“ Nyonya bisa kapan saja ke sini untuk menjenguk mereka, “ ucap Gendis.
Arjuna masih tidak mengerti dengan sikap Gendis, bagaimana mungkin dia bisa ramah pada mamahnya padahal selama ini dia tidak pernah dianggap sekalipun. Nyonya Carla melihat Gendis dengan seksama, berpikir rencana apa yang akan dilakukan oleh wanita yang sekarang masih menjadi menantunya.
“ Oke sayang kita pulang sekarang, “ ajak Nyonya Carla meraih tangan Susan.
“ Aku akan mengantarkan mamah sampai lobi, “ ucap Arjuna
“ Terimakasih sayang, “ jawab Nyonya Carla pada Arjuna.
“ Saya permisi dulu, “ Nyonya Carla berpamitan pada Gendis.
“ Hati-hati di jalan nyonya, “ jawab Gendis.
Arjuna mengantar Susan dan Nyonya Carla menuju lobi rumah sakit, dia juga tidak ingin mereka berlama-lama di kamar anak-anaknya yangs edang istirhat.
Setelah menutup pintu, Gendis duduk di sofa dengan perasaan yang lega, dia bisa menghadapi mereka dengan tenang. Semua ini berkat Dokter Rahma yang memberikannya ide untuk berhadapan dengan mereka secara elegan.
__ADS_1
FLASH BACK ON
“ Mas Arjuna kok lama ya bu, coba aku lihat siapa yang datang, “ ucap Gendis.
Gendis meletakan tangan Raka yang sudah tertidur, begitu juga Cahaya yang sudah pulas di samping Dokter Rahma.Dia berjalan pelan menuju arah pintu, dokter Rahma hanya mengangguk dan merapikan posisi Cahaya.
Tak berselang lama, Gendis kembali dan melihat Dokter Rahma dengan muka pucat, “ Ada apa nak?” tanya Dokter Rahma penasaran.
“ Ada Nyonya Carla dan wanita itu bu, “ ucap Gendis pelan dan bibirnya bergetar.
“ Wanita itu siapa?” Dokter Rahma masih tidak paham.
“ Wanita yang mengaku sebagai calon istri Mas Arjuna, mereka datang bersama, “ Gendis tak kuasa melelehkan air mata.
“ Sudah nak hapus air mata kamu, jangan lemah dan jangan lengah, kita ikuti permainan mereka, hadapi mereka dengan cara elegan, “ saran Dokter Rahma.
“ Bagaimana caranya bu?” tanya Gendis.
“ Terima mereka dengan tangan terbuka, jangan dengan umpatan, dan caci maki, jangan membuat kamu seperti mereka, “ Dokter Rahma mengusap air mata Gendis.
“ Ibu lebih baik tidak menemui mereka dahulu, belum saatnya, “ Gendis mengusap air matanya.
“ Iya Ibu juga berpikir seperti itu nak, lebih baik ibu tidak bertemu dengan Carla sekarang, Ibu yakin Arjuna juga setuju, “ sahut Dokter Rahma.
“ Aku akan memantau situasi nanti diam-diam ibu bisa keluar, “ Gendis dengan cepat meraih handle pintu dan membuka pintu dengan perlahan dan mengintip. Jarak mereka bertiga lumayan jauh dari kamar Raka dan Cahaya
“ Bu, ayo sekarang sudah aman kalo keluar, mereka sedang fokus ngobrol , “ ucap Gendis.
Dokter Rahma meraih tas dan keluar dengan cepat ke arah berlawan dengan keberadaan mereka. Untung saja rumah sakit itu dulu tempat kerjanya, jadi dia cukup familiar arah setiap lantai. Setelah Dokter Rahma keluar, Gendis merapikan selimut anak-anaknya dan bersiap untuk menghampiri mereka.
FLASHBACK OFF
Gendis tidak akan lagi lari seperti dulu, kali ini dia akan berusaha demi dirinya dan anak-anak, sudah cukup waktu selama tujuh tahun mereka berpisah. Dia ingin anak-anaknya hidup mempunyai papah, terlebih lagi Arjuna juga memintanya untuk kembali.
Gendis merah handphone yang berada di meja nakas untuk menghubungi Dokter Rahma,
__ADS_1
Gendis: “ Assalamualaikum, bu ada di mana?mereka sudah pulang. “
Dokter Rahma: “ Waalaikumsalam, Ibu sudah perjalanan pulang naik taksi ke apartemen, sudah malam juga, bagaimana nak ?lancar kan tadi?”
Gendis: “ Alhamdulilah bu, terimakasih selalu mendukung Farah hingga saat ini.”
Dokter Rahma: “ Ibu sangat mengenal kamu nak, ibu hanya ingin Raka dan Cahaya kembali bersama papanya, ya sudah kamu istirahat nak, sampaikan salam buat Arjuna, besok pagi-pagi ibu akan ke rumah sakit lagi, Arjuna tidak perlu menjemput biar ibu naik Taksi saja.”
Gendis:” Oh ya sudah bu, hati-hati di jalan.“
Suara pintu mengejutkan Gendis, ternyata Arjuna yang telah kembali,
“ Dimana ibu?” tanya Arjuna yang sudah memendam rasa penasaran dari tadi.
“ Ibu sudah kembali ke apartemen mas, ibu belum siap bertemu dengan Nyonya Carla, makannya keluar secara diam-diam, “ jawab Gendis.
“ Aku juga setuju, untuk saat ini ibu dan mamah belum waktunya bertemu, “ kata Arjuna.
“ Mas kita istirahat saja, besok kan harus ke kantor karena hari ini mas tidak berangkat ke kantor, bagaimana kalau Tuan Dewa marah, “ tanya Gendis yang khawatir.
“ Tidak perlu khawatir sayang, papah sedang berada di luar negeri untuk urusan proyek kerjasama, kamu tidur dulu saja, Rico akan ke sini membawa beberapa berkas untuk bahan meeting besok dengan klien, aku akan memeriksanya di sini, “ ucap Arjuna.
“ Baik mas, “ Gendis menyiapkan tempat tidur yang khusus disediakan untuk non pasien beristirahat.
Saat sedang membereskan tempat tidurnya, Arjuna memeluk Gendis dari belakang,” Terimakasih sayang, aku suka dengan sikap kamu yang sangat dewasa, aku sudah meminta orang yang ahli dibidangnya untuk mencari tahu siapa yang telah menabrak anak-anak kita dan meninggalkannya.
Gendis membalikan tubuhnya menghadap pria berbadan kekar dan senyum yang menawan itu dan memeluknya, “ Aku akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik, anak-anak berhak memiliki orang tua yang utuh dan hidup bahagia, “ ucapnya.
Kata-kata yang sangat menyentuh Arjuna, kini hatinya tak keras seperti dulu, berkat kepolosan dan cinta yang tulus dari Raka dan Cahaya Arjuna merasakan kembali dicintai dan mencintai.
****
“ Wanita itu pintar juga bersandiwara, “ geram Nyonya Carla di dalam mobilnya.
“ Tenang saja tante, saat ini dia bisa saja menyombongkan diri, tapi jika aku bertindak, entah apakah dia bisa tersenyum seperti tadi, “ Susan menenangkan Nyonya Carla. Dia memiliki banyak kartu AS untuk menyakiti Gendis.
__ADS_1
Bersambung...