
Selesai berbincang dan menikmati sarapan pagi, dokter Rahma dan Gendis kembali ke kamar perawatan
Dokter Rahma menggandeng tangan Gendis dan melemparkan senyuman ke arahnya, dia ingin menunjukan bahwa dokter Rahma selalu Mendukung keputusanmu apapun yang dia jalani, meskipun pilihannya berpisah dengan Arjuna, dia akan selalu mendukung Gendis
Gendis bersyukur ada sosok dokter Rahma yang menemaninya selama tujuh tahun ini, dia merasakan kasih sayang seorang ibu yang telah lama tak dia rasakan
Lebih baik bicarakan dengan Arjuna apa yang kamu inginkan nak, kita tidak pernah tau dengan jelas jika tidak dibicarakan
" Baik bu," ucap Gendis, saat pintu lift akan menutup, tiba-tiba tertahan oleh tangan seorang pria yang nafasnya tersengal-sengal karena berlari
" Reyhan," sapa Gendis dan dokter Rahma, Reyhan segera masuk ke dalam lift
"Ibu dan Gendis aku panggil nggak denger yah," Reyhan masih mengatur nafasnya
" Ibu nggak dengar, berarti Gendis juga enggak dengar, makannya kamu nggak nengok," ucap dokter Rahma
" Iya gak apa-apa bu, oh iya ini ada makanan dari Ningsih, dia lagi sibuk dengan pekerjaan kantornya, mungkin besok dia ke rumah sakit," Reyhan menyerahkan tas berisi makanan pada Gendis
" Terimakasih ya, semalam Ningsih sudah cerita," kata Gendis
Mereka telah sampai di lantai 10, Gendis bingung karena di dalam ada Arjuna, pasti suasana akan menjadi canggung
" Bu duluan saja, " pinta Gendis
" Baik nak, duluan ya nak Reyhan, " dokter Rahma tak banyak bertanya
" Di dalam ada mas Arjuna, kamu gak apa-apa?" tanya Gendis
" Kenapa? Apakah Arjuna keberatan aku menjenguk Cahaya dan Raka?" Reyhan nampak bingung
" Reyhan...hm...apa aku boleh meminta tolong pada mu? Tapi kamu berhak menolaknya, aku mengerti," Gendis tampak ragu
" Aku akan berusaha membantu jika memang bisa," Reyhan menawarkan diri
" Apa kamu bisa menggenggam tangan ku saat nanti masuk ke dalam?" tanya Gendis, tekadnya begitu yakin berpisah dengan Arjuna, dia tidak ingin lagi berurusan dengan nyonya Clara, lagipula Arjuna masih berhak atas anak-anaknya
Reyhan mengernyitkan dahi ya dan memandang Gendis dengan tatapan yang mengisyaratkan pertanyaan kenapa, tapi sejurus kemudian dia tersenyum dan mengangguk, dia tak perlu tau alasan Gendis saat ini, lagi pula menggenggam tangannya adalah kebahagiaan bagi Reyhan
Mereka masuk ke dalam kamar, sesuai dengan permintaan Gendis, Reyhan menggenggam tangannya, dia sangat bahagia melakukannya dan merasa unggul di depan Arjuna
__ADS_1
Melihat pemandangan itu Arjuna geram dalam hatinya, tapi dia menahan diri di depan Cahaya dan Raka, tatapan matanya begitu tajam pada Gendis
Melihat tatapan itu Gendis melepaskan genggaman tangan Reyhan, suasana mencair ketika seorang petugas mengantarkan makanan untuk Raka dan Cahaya
" Aku mau disuapin eyang," Seru Cahaya
" Aku mau sama papah," Raka tak mau kalah
"Ayo sini eyang siapin," dokter Rahma mendekati Cahaya
" Papah mau kerja ya? Sama mamah aja deh," ucap Raka dengan perasaan sedih
" Kata siapa? Papah bisa kok suapin Raka," Arjuna memilih mengundur waktu rapat dengan staf di kantor daripada membuat anaknya kecewa
" Diapers mereka sudah mau habis, aku akan belikan dulu di kini maret bawah, " ucap Gendis
" Aku temani," kata Reyhan
" Tidak perlu, aku sudah bilang ke perawat untuk memenuhi kebutuhan anak-anak termasuk Diapers," ucap Arjuna seraya melirik ke arah Reyhan
Gendis merasa bersalah pada Reyhan telah menempatkan dirinya pada posisi yang tidak nyaman, tapi Reyhan sendiri malah menikmati persaingan antara dirinya dan Arjuna
" Ada apa mas?" tanya Gendis ketakutan melihat ekspresi Arjuna
" Apa kamu lupa kalau masih berstatus menjadi istriku!" seru Arjuna di depan muka Gendis
" Terabaikan selama tujuh tahun telah membuat mas tak berhak lagi menjadi suami ku,"
" Kamu selalu membahas masa lalu!! Jika kamu mau mengulangi pernikahan kita ayo kapan kita lakukan!!" Arjuna membentak dan mencengkram tangan Gendis, sebenarnya dia tidak berniat membentak, lagi-lagi dia tidak bisa mengekspresikan rasa takut kehilangan Gendis dan anak-anaknya
" Mas kamu kasar!! " Gendis berusaha melepaskan tangan Arjuna dan menangis di depannya
" Orang lain tidak berhak menyentuh, selama kamu masih menjadi istriku!" seru Arjuna, perkataan itu membuat Gendia melayang, sangat bahagia, tapi dia teringat akan perseteruannya dengan nyonya Carla, dan ingat anak-anaknya dalam bahaya jika mereka terus bersama
" Kalau begitu kita selesaikan saja, kita urus perceraian kita, mas bisa melakukan apapun, termasuk mengurus perceraian kita dengan mudah" ucap Gendis menahan rasa sakit hatinya, apa yang dia ucapkan tidak sejalan dengan hatinya
" Kenapa kamu terus membicarakan perceraian?!!" Arjuna sangat kesal
" Karena mas telah memiliki calon istri tapi kenapa mas menutupi kenyataan itu!" Gendis tak kalah kesal
__ADS_1
"Aku akan membuktikan pada mu, tidak pernah ada wanita lain di Kehidupan ku!! , kita akan bicara lagi nanti malam," Arjuna berusaha meredam emosinya
" Tidak perlu! Jika mas tidak mau mengurus perceraian kita, maka aku yang akan mengurus, dan lebih baik urus saja calon istri mas!" Gendis pergi meninggalkan Arjuna
Arjuna tidak tahu apa yang dimaksud calon istri oleh Gendis, satu satunya wanita yang sering makan bersama dengannya adalah susan, meskipun dekat dengan Susan, mereka bahkan belum pernah membahas hal yang serius
" Tidak mungkin Susan sudah menemui Gendis?" Arjuna bertanya dalam hatinya, dia berpikir untuk menemui Susan dan memperjelas hubungan mereka
***
Setelah puas bercanda dengan Reyhan dan dokter Rahma, Cahaya dan Raka kembali tidur, tidak banyak aktivitas yang bisa mereka lakukan, semuanya masih dibatasi oleh dokter dan harus banyak istirahat, hari ini dokter Rahma yang mengelap tubuh mereka
Setelah membersihkan tubuhnya, Gendis berbaring di sofa dan tertidur, karena semalaman dia belum tidak bisa tidur, Gendis terbangun dan hanya melihat Reyhan yang sedang memainkan handphone miliknya
" Ibu kemana?" tanya Gendis seraya bangun dr posisinya
" Ibu sedang menemui temannya di rumah sakit ini," jawab Reyhan
" Apa kamu marah, karena aku telah memanfaatkan kamu untuk menjauhi mas Arjuna?" Gendis masih merasa tak enak hati
"Aku tidak pernah marah pada mu, tapi kalo boleh aku sarankan, lebih baik ikuti kata hatimu," ucap Reyhan
Apa yang dikatakan Reyhan membuat Gendis berpikir ulang, apakah dia harus mengikuti kata hati seperti yang disarankan oleh Reyhan
*****
" Aku harus cari cara untuk mengikat Arjuna, kalau tidak nanti dia akan kembali pada wanita Kampungan itu," ucap susan sambil menikmati pijatan terapis bersama nyonya Carla di sampingnya
" Tante akan selalu mendukungmu sayang, lakukan secepatnya, jangan beri celah bagi wanita itu, " jawab nyonya Carla sambil mata terpejam
Susan merencanakan sesuatu lada Arjuna, dia akan merusak hubungan Arjuna dan Gendis, dan membuat Gendis hancur berkeping dan tak mau lagi melihat Arjuna
" Aku akan menghubungi Arjuna, menurut tante apakah wanita itu memberitahu Arjuna mengenai kedatangan kita tempo hari," tanya Susan
" Tante rasa dia tidak akan berani mengadukan kita pada Arjuna, dia terlihat tegar, tapi kenyataannya dia hanya gadis kampung yang penakut, " jawab nyonya Carla
Susan berhasil mengajak Arjuna bertemu untuk makan malam, Arjuna ingin menegaskan pada Susan bahwa hubungan mereka hanya sebatas pertemanan, namun ada rencana licik Susan dibalik pertemuan itu, dia akan melakukan sesuatu yang akan mengikat Arjuna
Bersambung…
__ADS_1
Yuk tinggalkan jejak komen,like dan vote…