
Hari ini Ayra kembali bangun pagi-pagi untuk menyiapkan keperluan Arka dan memandikan bocah kecil itu.
Hari ini adalah hari pertama Arka bersekolah dan pertama kalinya dia berada di luar berkenalan dengan teman-teman sebayanya nanti sehingga ini sedikit menghawatirkan bagi Arland.
"Boy bangun ini sudah pagi loh. Hari ini kamu masuk sekolah" Ujar Ayra menepuk pelan pipi gembul milik Arka.
Arka menggeliat dan meraba-raba di samping menemukan tabletnya dan mengklik sesuatu.
"Waktunya bersiap Tuan rumah" Suara operator terdengar dari tablet itu.
Ayra tentu terkejut bagaimana bisa bocah cilik ini mengoperasikan hal teknologi seperti itu.
"Tante favorit Tuan rumah masih dalam kamar"
Astaga Ayra lebih terkejut lagi bocah cilik ini benar-benar bahkan seluruh identitas Ayra terdeteksi hanya melalui scan wajah sama tes sidik jari.
Ckckck benar-benar jenius langka.
"Biarkan aku mandi sendiri Tante aku sudah besar" ujar Arka berlari ke arah kamar mandi.
Ayra hanya terkikik melihat bocah cilik itu berlari karena malu.
"Baiklah" Ujar Ayra menyiapkan seragam dan peralatan sekolah bocah cilik itu.
"Boy kalau kau sudah selesai langsung turun ke meja makan ya? Ujar Ayra
"Baiklah Tante tinggalkan aku bersiap sendiri" Teriak Arka dari kamar mandi mengalahkan suara air yang mengalir.
Ayra turun terlebih dahulu untuk menyiapkan hidangan di meja.
Tidak memakan waktu lama Arka sudah rapi dengan seragamnya tetapi dengan dasi terbalik 😄.
"Arka kemari dasi kamu terpasang terbalik" Ujar Ayra menahan senyum.
Lalu Ayra merapikan serta mengajari Arka bagaimana cara memasang dasi yang benar.
"Makasih Tante" Ujar Arka merapikan poni Ayra yang menutupi alisnya.
Kelakuan nya itu seperti orang dewasa saja.
"Ini baru cantik" Ujarnya setelah berhasil membuat hasil kreasi akan poni Ayra.
"Ayo sarapan dulu" Ujar Ayra menaikkan Arka ke kursinya dan menyendok kan nasi goreng dan segelas susu hangat untuknya.
"Dad kau kemari cepat. Aku sudah sangat lapar menunggu mu turun" Dumel Arka melihat ayahnya baru saja turun padahal dia adalah orang dewasa kenapa lambat sekali itulah yang ada dalam pikiran Arka.
__ADS_1
"Sabar Son" Ujar Arland masih memperbaiki dasinya sambil menenteng tas kerjanya.
"Apakah kau butuh bantuan Tuan? ujar Ayra melihat Arland tampak kesusahan memasang dasinya.
"Tidak perlu" Ujar Arland karena memang dia tidak membutuhkan bantuan.
Ayra hanya mengangkat bahu. Ayra sedikit terkikik dengan kelakuan dua Ayah dan anak itu sama-sama tidak bisa memasang dasi dengan benar.
"Ayolah Dad kenapa kau lambat sekali" Ujar lagi bocah cilik itu gregetan melihat ayahnya masih bergumul dengan dasinya tetapi tidak mau di bantu.
"Biar saya membantu mu Tuan" Ujar Ayra merampas dasi dari tangan Arland.
Dia juga gregetan sendiri dengan tingkah bos nya itu tidak mau meminta bantuan.
Ayra memasang dasi itu di tangannya sebelum memindahkan ke leher Arland.
Setelah terbuat baru dia meminta Arland untuk menunduk.
"Tuan tolong anda sedikit menunduk" Ujar Ayra karena memang Arland tinggi.
Arland sedikit memiringkan kepalanya dan menunduk membiarkan Ayra memasang dasi untuknya.
"Sudah selesai" Ujar Ayra tersenyum sumringah berhasil memasang dasi hasil karyanya itu.
"Hm" Arland hanya sedikit mengangguk dasinya terpasang rapi.
Ayra mengambil tas Arka dan mengernyit heran.
"Ada apa dalam tas ini? Ujar Ayra dalam hati.
Kenapa berat sekali?
Ayra memilih untuk membuka tas itu dan
taddaaaa
Isi dalam tas yang sangat mengejutkan bagi dua orang dewasa itu.
Itu adalah tas yang berisi berbagai remot dan robot serta alat canggih lainnya seperti mini kamera smartwatch serta alat pena yang memiliki banyak kegunaan.
Tentu dengan benda seperti itu membuat kedua orang itu syok berat.
Bagaimana bocah cilik ini bisa memiliki banyak benda ajaib dan aneh serta penuh dengan teknologi.
Dari mana dia mendapatkan itu semua. Kejeniusan Arka memang sudah tidak di ragukan oleh Arland sendiri bahkan Arland sendiri ragu apakah ini putranya atau tidak?
__ADS_1
Arland memang jenius langka juga tetapi putranya ini lebih mengerikan.
Ayolah siapa yang membawa banyak benda teknologi ke sekolah seperti itu. Yang isi tasnya hanya benda-benda itu.
Untuk beberapa saat kedua orang dewasa itu tidak membuka mulut hanya menatap Arka dengan wajah syok seperti orang bodoh dan bengong.
"Ayolah apa yang salah? Suara Arka yang renyah tanpa adanya nada bersalah itu.
Astaga bocah cilik ini benar-benar
"Boy apa kau yakin membawa ini ke sekolah? Ujar Ayra tidak percaya.
"Hm" Arka mengangguk dengan pasti.
Ayra benar-benar meringis.
"Boy di sekolah nanti yang baru tidak ada yang membawa alat seperti ini mereka hanya membawa pena dan buku untuk mencatat apa yang guru sampaikan" Ujar Ayra mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk membujuk Arka meninggalkan barang bermain nya itu.
"Bukankah itu membosankan Tante" Ujar Arka memiringkan kepalanya.
"Tidak sayang nanti di sekolah kamu akan menemukan banyak teman dan bermain bersama tapi tidak menggunakan benda-benda ini" Ujar Ayra
"Kenapa? Bukan kah itu benar-benar membosankan Tante? Lagi lagi pertanyaan yang sama.
Ayra sudah memutar otaknya dengan cepat untuk mencari alasan yang tepat.
"Sayang mainan yang kamu miliki ini tidak semuanya bisa memilikinya ini bisa di katakan hanya kamu yang memiliki nya. Bagaimana kalau hanya kamu yang memiliki benda ini sedangkan mereka tidak memilikinya menurut mu apa yang terjadi? Ujar Ayra.
Dengan cepat otak kecil Arka yang jenius langsung menangkap maksud dari perkataan Ayra.
"Tapi Tante ini semua alat keamanan Arka. Kalau ada yang menyakiti Arka dan tidak ada yang menolong bagaimana? Ujar Arka membayangkan dirinya nanti di ganggu dan alat penjaga nya itu ketinggalan.
"Boy hal seperti itu tidak akan terjadi justru sebaliknya kamu akan memiliki banyak teman" Ujar Ayra.
Ayolah Ayra sudah berkeringat dingin menghadapi bocah jenius ini.
"Baiklah" Ujar Arka menyimpan kembali mainannya tapi pena sama tablet tetap berada dalam tasnya kecuali robot beserta antek-antek nya yang lain yang di tinggalkan.
Setelah Arka setuju barulah Ayra menghela nafas lega.
Sedangkan Arland jangan tanya lagi manusia es batu itu hanya tertawa iblis dalam hati.
Bahkan dia sendiri kewalahan menghadapi keanehan putranya itu.
Tapi dia tidak menyangka kalau Ayra akan berhasil membujuk bocah nakal itu. Salah satu alasan tidak ada pengasuh di samping Arka adalah yang itu karena tidak ada seorang pun yang mampu memahami keinginan nya selain Arland sendiri sebagai ayah.
__ADS_1
Ketahui Arka adalah sosok keras kepala dan apa yang menjadi kehendaknya tidak boleh di ganggu gugat kalau tidak mau kena amukan monster kecil itu.
Ketiga orang itu keluar dari dalam rumah menuju mobil banthley warna hitam.