
Ayra dan Arka sibuk berinteraksi dengan dunia mereka sendiri melupakan satu orang yang melihat mereka dari spion mobil.
Bahkan seolah dia tidak ada di dalam satu mobil bersama mereka.
Tidak memakan waktu lama mereka sudah tiba di daerah tempat kontrakan Ayra.
Mereka tiba di sebuah kontrakan kecil yang berbeda dan berada jauh dari rumah yang lainnya.
"Dimana? ucap Arland masih dengan nada datar.
"Ya di sini Tuan." Ucap Ayra melihat kontrakan nya sudah di depan.
"Oke Arka Kakak harus turun" ucap Ayra lalu turun.
"Terimakasih Tuan" ucap Ayra membungkuk sebentar sebagai kesopanan.
"Tante boleh Arka datang bermain nanti? Ucap Arka dari dalam mobil membuat kedua orang dewasa melihatnya.
"Arka" panggil Arland tidak mengerti dengan putranya.
"Boleh saja Arka kakak akan senang kalau Arka berkunjung tapi harus dapat Ijin dari Papa kamu oke" ucap Ayra dengan senyum lembut di wajahnya.
"Dad bolehkan nanti Arka berkunjung lagi ke rumah Tante? ucap Arka melihat ayahnya yang juga menatapnya.
"Tidak boleh" ucap Arland final.
Arka tidak berdebat karena dia memiliki rencana tersendiri.
Arland langsung menancap gas pulang melihat Arka hanya diam dan duduk tenang di belakang bahkan sekarang dia sibuk dengan iPad mini di tangannya tidak peduli dengan Ayahnya yang sekali-kali melihat nya dari kaca tengah.
Arland hanya menggelengkan kepalanya tidak berdaya melihat putranya yang kembali ke mode batu es nya.
Tidak lama mobil mereka memasuki rumah mewah bak istana beberapa pelayan sudah berjajar menanti kedatangan mereka.
Turun dari mobil Arka langsung jalan begitu saja bersama ransel kecilnya tanpa menoleh ke arah Ayahnya sedikitpun.
"Selamat datang kembali Tuan kecil, Tuan Muda" ucap Para pelayan yang berdiri di sepanjang jalan sebelum kembali ke tempat kerja mereka masing-masing.
Di kontrakan Ayra setelah melihat mobil Arland menghilang Ayra kembali masuk dan berjalan memasuki kontrakan kecilnya dengan menghela nafas.
Duduk di ruang tamu sebentar melihat lukanya yang lumayan sedikit parah apalagi bagian siku yang sedikit dalam dan memiliki jahitan.
Menyandarkan kepalanya di kepala sofa dan kakinya di atas meja kayu yang ada di depannya.
Menutup matanya dan tertidur begitu saja. Mungkin kelelahan akibat olahraga apalagi terbanting dengan keras di aspal membuatnya merasa kan sakit di bagian punggungnya walaupun tidak separah sikunya yang di jahit.
Tapi bisa di pastikan kalau punggung mulus Ayra akan membiru.
Setelah istirahat full seminggu Ayra baru kembali bekerja. Karena lukanya benar-benar harus istirahat full sehingga selama seminggu ini dia sudah sangat bosan berada di kontrakan miliknya yang kecil.
__ADS_1
"Hah udara pagi sudah seminggu tidak menikmati waktu seperti ini" Ucap Ayra menghirup dan mengeluarkan udara dingin pagi hari sambil terus mengayuh sepedanya.
Dia kembali beraktivitas mengantar susu dan sebagai pramusaji.
Siang hari Ayra kembali bekerja di restoran tempat anak muda berkumpul.
Restoran ini terkenal karena makanan dan juga view dari tempat ini sangat cocok untuk anak-anak muda yang kencan ataupun sekedar bersantai bersama keluarga.
Siang hari Ayra akan bekerja di restoran dan pagi hari di toko susu.
"Dad bukankah itu Tante Ayra? ucap Arka dari dalam mobil membuka kaca mobil dan berteriak.
"Tante Ayra! Teriak Arka bahkan Arland terkejut di depannya.
Mendengar ada yang memanggilnya Ayra mencari sumber suara dan menemukan bocah cilik turun dari dalam mobil begitu saja tanpa menghiraukan orang besar yang memanggilnya dari belakang.
"Arka! Panggil Arland menatap putranya yang turun begitu saja dari mobil dan berlari ke arah wanita yang baru saja mereka temui satu minggu yang lalu.
Suara putranya itu menggelegar membuat orang di sekitar menoleh ke arah mereka.
"Tante Ayra" ucap Arka dengan tawa kecilnya setelah berhasil menggapai Ayra.
"Boy kenapa kamu bisa berada di sini? Tanya konyol Ayra mendapati bocah cilik di depannya ini begitu menggemaskan.
"Aku sama Daddy baru berjalan ke arah restoran itu" ucap Arka menunjuk restoran tempat Ayra bekerja.
"Tante mau ke restoran itu juga? Tanya Arka.
"Ya kakak bekerja di sana" ucap Ayra mengangguk.
"Bagus dong" ucap Arka tersenyum puas seperti memikirkan sesuatu.
"Kenapa? Ucap Ayra melihat perubahan ekspresi Arka yang tidak biasa.
"Bukan apa apa Tante. Ayo masuk Tante" ucap Arka menarik jari telunjuk Ayra dan berjalan masuk ke dalam restoran tanpa menghiraukan Arland yang mengikuti mereka dalam diam.
Apakah aku di lupakan disini? gumam Arland miris
Cukup menarik perhatian para pekerja melihat Ayra yang datang dengan seorang bocah cilik berusia 4 tahun itu.
Gimana tidak menarik perhatian keakraban kedua sosok itu begitu serasi seperti seorang Ibu dan anak laki-lakinya.
"Boy kamu mau memesan apa? Biar kakak ambilkan" ucap Ayra setelah membawa Arka untuk duduk di meja tidak mungkin kan membawa Arka ke tempat kerjanya.
"Tante Ayra bisakah Tante makan bersama Arka? ucap Arka dengan tatapan memelas.
"Kakak harus kerja Boy" ucap Ayra dengan lembut dan mencari kata-kata yang tepat.
"Arka" panggil Arland dari belakang menatap putranya tanpa ekspresi.
__ADS_1
Ekspresi yang menandakan tidak boleh bertingkah aneh.
"Dad Ayolah"Ucap Arka dengan malas
"Ya sudah deh" ucap Arka lesu dengan menopang kepalanya di atas meja tidak ada selera untuk bergerak atau menoleh sedikitpun.
"Ya sudah begini saja setelah selesai kerja kakak jalan-jalan sama Arka gimana? ucap Ayra menatap ke arah Arka yang sudah kembali memancarkan rona bahagia di wajahnya.
"Serius Tante? ucap Arka menggelengkan kepalanya ke sebelah menatap Ayra dengan cerah.
"En" ucap Ayra mengangguk membenarkan.
"Baiklah kalau begitu Arka akan pesan" ucap Arka langsung menarik list menu di atas meja mengabaikan dua orang dewasa yang saling menatap sambil mengangkat bahu sama-sama seolah mengatakan sesuatu.
Ini benaran?
"Aku mau yang ini, ini ini dan ini" Beberapa hidangan berat seperti makanan laut serta makanan penutup dan juga minuman Arka pesan melebihi porsi orang dewasa.
"Son kamu yakin menghabiskan semua itu? Tanya Arland serius melihat banyaknya menu makanan yang di pesan.
"Humm" ucap Arka mengangguk yakin.
"Baiklah saya secangkir kopi latte" ucap Arland tidak memesan makanan lainnya karena Arka sudah memesan banyak tidak yakin putranya itu bisa menghabiskan banyak makanan.
Bukannya takut rugi atau apalah itu hanya saja Arland tidak ingin banyak buang makanan sedangkan di luar sana masih banyak yang mempertaruhkan hidup mereka hanya sekedar untuk mendapatkan makanan dan selembar uang.
Dia kaya dan memiliki segalanya tetapi dia tidak melupakan kehidupan sederhana orang-orang di sekitarnya.
"Baik Tuan. " ucap Ayra menulis pesanan mereka dan membacanya ulang memastikan tidak ada yang kurang.
"Ada lagi Tuan? ucap Ayra sebelum meninggalkan meja mereka.
"Itu saja" ucap Arland.
Ayra kembali ke arah dapur dan menyerahkan note yang berisi pesanan ke para koki yang bertugas beserta nomor meja pelanggan.
"Mohon bantuannya ada anak kecil" ucap Ayra.
"Baik dalam dua puluh menit ready" ucap orang yang menerima pesanannya.
Para pekerja di sini memprioritaskan pelanggan yang berisikan anak kecil karena anak kecil tidak bisa menahan lapar mereka dari pada orang dewasa.
Ayra kembali ke depan dan melayani pelanggan yang lain
Rekannya cukup sibuk karena banyaknya pengunjung hari ini sehingga mereka benar-benar crowded.
Hahayyyy sobat semua author baru balik.
Kokikkkk 😂
__ADS_1