Anak Jenius (Arka):Rahim Pengganti

Anak Jenius (Arka):Rahim Pengganti
Menggambar


__ADS_3

Hari ini Ayra berada di dapur dengan segala alat perangnya yaitu alat pembuat kue dia lagi di dapur dengan beberapa bahan yang sudah tercampur dia berencana untuk membuat kue kering sebagai camilan.


Sedangkan Arka bocah cilik itu duduk dengan tenang di atas meja makan dengan melipat kedua kakinya menyilang sambil memiringkan kepalanya sedikit menatap Ayra serius.


Gayanya yang seperti itu sungguh menggemaskan seperti seorang pria dewasa saja.


Hanya mereka berdua yang ada di rumah besar itu seluruh penghuni mansion sudah di usir oleh Arka bocah cilik itu.


Dia menginginkan privasi dengan Tante favorit nya itu.


"Tante kapan selesainya? ujar Arka sekarang dia melipat kedua tangannya di dada.


"Sedikit lagi boy ini tinggal tunggu matang saja" Ujar Ayra mengatur suhu oven agar kue nya itu tidak hangus dan keras.


Sekitar beberapa menit akhirnya bunyi klik dari oven berbunyi menandakan kalau kue-kue yang mereka matangkan telah ready.


Ayra mengeluarkan beberapa piring yang di isi kue kering itu dan membawanya di meja dapur.


Melihat itu Arka menatap kue-kue kecil itu dengan tatapan berbinar segera mencicipi.


"Sabar Boy ini tunggu dingin dulu entar lidah kamu melepuh" Ujar Ayra melihat Arka sudah tidak sabar.


"Sepertinya kue-kue ini enak Tante? ujar Arka menatap kue tanpa berkedip membuat Ayra terkekeh kecil.


Kedua orang itu sibuk dengan hasil karya mereka dan menatanya di dalam toples kecil agar nanti kalau Arka ingin camilan tinggal bocah cilik itu mengambilnya sendiri.


Sekarang di ruang belajar milik Arka cilik, Ayra tengah menjelaskan beberapa rumus yang di dapatkan Arka dari guru TK nya.


"Ah jadi begitu Tante" ujar Arka serius menatap hasil jawaban nya.


"Nah sekarang kita beralih ke buku bergambar" Ujar Ayra mengambil buku gambar Arka yang di dalamnya sudah terdapat gambar tapi belum di lengkapi seperti gambar manusia tetapi belum di isi kaki dan tangan ataupun kepala.


Intinya Arka menggambar dengan apa yang ada di benaknya tapi ada yang mendominasi dari gambar Arka yaitu setiap gambar yang Ia gambar seperti makhluk real.


Seperti gambar alam akan sangat menyerupai gambar alam yang seharusnya ini belum bisa di lakukan oleh anak berumur lima tahun ini.


Arka memiliki kemampuan melukis yang melebihi beberapa anak-anak pada umumnya.


Bisa di perkirakan ketika dia akan dewasa nanti akan jadi seperti apa lukisan miliknya.


""Wah gambar yang bagus" ujar Ayra masih meneliti gambar dalam buku gambar Arka yang belum sempurna masih ada yang belum di selesaikan gambarnya.

__ADS_1


"Itu belum selesai Tante" ujar Arka ikut nimbrung melihat hasil karyanya.


"Kau memiliki kemampuan menggambar yang bagus Boy' Ujar Ayra mengelus kepala Arka lembut.


"Aku tidak tahu hanya ingin mencoret di atas kertas itu" ujar Arka.


"Tante! Bisakah Tante menjadi objek gambar Arka? ujar Arka kecil dengan mata memelas sambil memeluk buku gambar serta pensil.


"Boleh di mana aku harus duduk" Ujar Ayra.


"Ayo kemari Tante" Ujar Arka menarik tangan Ayra untuk duduk di kursi yang sudah di tentukan beserta meja besar ada di hadapan Ayra ini seperti ruangan kerja modelnya.


Ayra duduk dan Arka menginstruksi Ayra untuk mengikuti nya.


Arka duduk di seberang meja agak menjauh dari Ayra agar bisa leluasa menggambar objek di hadapannya.


Ayra duduk tenang sambil menopang wajahnya di atas meja menatap Arka yang menggambarnya.


"Aku akan memulai Tante" ujar Arka sambil tangan kecilnya menari dengan lihai di atas buku gambar miliknya.


Dia yang serius menggambar seperti itu membuat Ayra tersenyum tipis dia seperti orang dewasa ini adalah versi kecil dari Arland.


Dia benar-benar copyright dari Arland bulu mata tebal alis tajam serta mata birunya hidung mancung sempurna Arka kecil benar-benar sempurna.


Mata Arka terus menatap tajam buku gambar nya dan menekan pensil dengan begitu lihai.


Dia begitu serius ingin membuktikan kemampuan bergambar nya kepada Tante kesayangan nya itu.


Dia ingin gambar nya sempurna sehingga dia mencurahkan segala fokus kepada gambar di hadapannya.


Suasana begitu sunyi hanya jarum jam dan bunyi pensil yang terus bergerak dengan cepat dalam ruangan itu.


Tiga puluh menit kemudian.


"Selesai" Teriak Arka dengan girang menatap hasil gambar nya.


"Oh tidak ini masih kurang" Ujarnya lagi memperbaiki tatapan mata dari seorang Ayra dalam gambar itu dengan tatapan begitu dalam serta penuh akan ketulusan.


Sehingga orang yang akan melihat gambarnya nanti merasakan perasaan hangat dan tenggelam.


"Mana Boy boleh Tante lihat? Ujar Ayra penasaran akan gambar dirinya.

__ADS_1


"Maaf Tante belum sempurna gambarnya" ujar Arka takut Ayra kecewa.


Ayra speechless melihat gambar dirinya. Gambar ini kenapa bisa begitu nyata? seolah itu adalah gambar yang hidup bahkan dia tidak akan percaya kalau gambar ini dia jumpai di museum akan mengira kalau pelukis dari gambar ini masih lah seorang anak kecil berusia lima sampai enam tahun.


Tapi buktinya sekarang adalah memang masih bocah yang bahkan masih duduk di bangku TK.


Gambar yang terlalu sempurna.


"Boy kau begitu hebat terimakasih" ujar Ayra memeluk bocah cilik itu yang masih syok tidak menyangka kalau gambarnya begitu bagus kepada pandangan Tante favorit nya ini.


"Apakah itu bagus Tante? ujar Arka dengan suara kecil.


"Ini gambar yang luar biasa yang Tante pernah lihat apalagi yang menggambarnya adalah Arka kecil Tante yang luar biasa" ujar Ayra mengelus lembut pipi Arka yang sedikit tembem karena akhir akhir ini mood makan Arka meningkat.


"Baiklah Arka akan menyimpan lukisan Tante di sini ujar Arka


Arka mengeluarkan tablet nya dan mengetik beberapa kata lalu send.


Tidak makan waktu lama bunyi tablet nya terdengar.


Senyum cerah muncul di wajah tampan dan menggemaskan itu.


Mengetik cepat di tablet nya lagi.


"Oke Tante ini akan menjadi sempurna" ujarnya menyimpan kembali tablet nya.


Tok tok tok.


Suara pintu di ketok dengan langkah cepat Arka berlari dan menerima barang yang di pesannya tadi.


"Terimakasih Paman" ujar Arka dengan masih senyum jenaka di bibirnya.


"Apa yang membuat ponakan kecil ku ini begitu semangat" ujar suara maskulin dari depan pintu kamar Arka.


"Tidak ada" Dengan cepat Arka dalam mode dinginnya.


"Aish Ayah sama anak sama saja es batu" ujar orang yang di minta Arka untuk membawakan pesanan nya


Brukk


Dengan tidak perasaan Arka menutup pintu kamarnya tanpa mempedulikan orang yang baru saja dia perintah bawa barang keinginan nya.

__ADS_1


"Bocah ini benar-benar" Orang yang di usir oleh Arka stagnan seperti orang bodoh di depan kamar Arka.


"Huh sabar punya keponakan es batu memang resiko nya seperti itu. Tapi kenapa dia lebih menyeramkan dari pada Arland" ujarnya dengan wajah yang masih terlihat bingung dan bodoh.


__ADS_2