
Di sekolah Arka hanya terus mengekor di belakang Ayra tidak menyapa orang lain.
"Boy tidak apa-apa ayo coba berkenalan dengan mereka" Ujar Ayra berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan Arka.
Ayra terpaksa ikutan masuk kedalam sekolah di karenakan Arka sama sekali tidak melepaskan tangannya dari baju Ayra.
Dengan malu-malu Arka keluar dari balik punggung Ayra dan melambaikan tangannya ke arah teman-teman barunya yang menyapa dia dengan senyuman lebar.
Ayolah Arka begitu menggemaskan ketika kaku dan ragu terpampang jelas di wajah dingin nya itu.
Ayra terus memantau Arka dan membiarkan dia bermain dengan teman-teman sebayanya. Sungguh teman teman sebayanya juga pintar sehingga tidak perlu orang dewasa turun tangan mereka sudah bisa membuat Arka tenang dan bermain bersama mereka
Mereka dengan kerjasama yang baik membuat Arka bisa berbaur dengan mereka secara bebas.
Ketika mereka melihat Arka berdiam diri maka mereka akan berinisiatif mendekati Arka dan mengajak dia untuk berbaur.
Karena keaktifan anak-anak ini sedikit memberikan rasa lega terhadap Ayra dia awalnya sedikit ragu Arka akan mudah bergaul bersama mereka akan tetapi anak-anak ini di luar dari pikiran mereka bisa menaklukkan seorang Arka.
Sekarang Arka benar-benar bebas bermain dengan mereka walau sewaktu waktu dia akan menoleh terhadap Ayra.
Tiap kali Arka akan menoleh Ayra akan selalu mengangkat tangannya dan memberikan dia dukungan bahwa apapun yang dia lakukan itu semuanya bagus tidak perlu takut.
Di kantor pusat William group seorang pria muda tengah berkutat dengan laptop dan setumpuk dokumen di meja kerja.
"Bagaimana dengan Arka? Ujar Arland kepada orang yang baru saja masuk.
"Tuan Muda tampak bisa berbaur dengan teman-teman nya Tuan" Ujar orang yang di tanya sekaligus ajudan dari Tuan Muda William itu.
"Baiklah kau boleh kembali terus pantau mereka aku belum mempercayai wanita itu bisa menjaga Arka dengan baik" Ujar Arland.
"Baik Tuan" Ujarnya ajudan itu kembali
"Tunggu ini sudah jam makan siang ayo jemput Arka" Ujar Arland tiba-tiba setelah melihat jam tangannya menunjuk jam pulang.
"Baik Tuan Muda saya akan menyiapkan kendaraan anda" Ujar Ajudan itu segera pergi untuk menyiapkan mobil untuk Tuannya.
Arland merapikan dokumen dan mematikan komputernya sebelum meninggalkan ruangan.
Memastikan semuanya beres tidak ada yang tercecer barulah Arland meninggalkan ruangan yang di penuhi CCTV dari berbagai arah itu.
__ADS_1
Semua CCTV itu tersembunyi di berbagai sudut dan hanya bisa di akses oleh Arland itu sendiri.
Jadi untuk privasi sendiri sehingga tidak akan ada yang tahu.
Arland berjalan menuruni lift di sepanjang jalan beberapa karyawan akan menyapanya dengan sebutan direktur.
Arland hanya fokus pada jalannya dengan satu tangan di saku.
Hal seperti itu sudah menjadi hal lumrah bagi karyawan sehingga tidak heran lagi melihat Arland begitu dingin.
Direktur muda pewaris tunggal tahta group William sudah menjadi legenda dalam dunia bisnis dengan sepak terjangnya bahkan sangat jarang media mendapatkan rupanya sehingga tidak banyak orang mengetahui bagaimana rupa dari direktur muda itu hanya orang yang berkecimpung di dunia bisnis yang berjumpa dengannya yang melihat dirinya.
Hanya artikel yang terus termuat di surat kabar mengenai dirinya tanpa satupun foto menyertai surat kabar itu dan tidak satupun media berhasil mewawancarai dirinya.
Identitas seorang Arland William begitu misterius apalagi mengenai kehidupan pribadinya.
Arland memasuki mobil yang memiliki lencana tersendiri sebagai simbol identitas. Itu adalah simbol Naga yang tampak misterius.
Arland masuk dan memeriksa hp nya.
"Halo"
"Dimana Arka? dua kata yang sangat dingin keluar dari bibir tipis yang mengatup rapat itu.
Sepertinya bos besar itu mematikan telepon sepihak dengan balasan dendam.
Tidak lama kemudian mobil Arland memasuki kawasan sekolah taman kanak-kanak yang elit dapat di lihat Arka dan Ayra sudah menunggu.
"Ayo Boy" Ujar Ayra menarik tangan kecil Arka untuk segera naik.
"Dad" Ujar Arka setelah naik tapi tangannya terus menarik Ayra untuk duduk di belakang bersama mereka.
"Boy kakak akan duduk di kursi depan" Ujar Ayra.
"Tidak Tante duduk di sini Arka mau di pangku sama Tante" Ujar Arka.
"Masuk" Suara bariton itu membuat orang merinding saja.
Ayra terpaksa naik dan duduk di samping Arka yang masih sibuk bercerita bersama sang Daddy dengan Arka yang bertemu dengan teman barunya dan Tante Ayra yang terus memberikan dia dukungan untuk bermain dan berkenalan sama teman baru.
__ADS_1
Arland merasa perasaan hangat mengalir kedalam relung hati nya akhirnya Putranya ini bisa berbaur dengan dunia luar bisa di lihat dari raut wajah Arka yang begitu antusias menceritakan pengalaman belajarnya hari ini.
"Baiklah itu adalah cerita yang luar biasa Son" Ujar Arland mengelus kepala putranya dengan lembut.
"Tentu itu karena bantuan Tante Ayra kalau tidak mana mungkin Arka bisa memiliki teman" Ujar Arka melihat Tante favorit nya memberikan dia senyum lembut.
Tidak lama kemudian group tiga orang itu tiba di sebuah restoran yang terkenal.
Di lihat dari penampilan ketiga orang ini seperti keluarga kecil apalagi Ayra tidak menggunakan pakaian sebagai seorang pengasuh melainkan baju bebas yang di belikan nyonya William itu sendiri.
Dia yang masih di Amerika memilih pakaian yang kebetulan dia berbelanja di butik tempat dia biasanya berbelanja dan kepikiran dengan wanita muda yang merawat cucunya sehingga memilih pakaian termahal di situ.
Entahlah nyonya William hanya merasa gadis sederhana itu pantas mendapatkan semua ini.
Sehingga setelah berbelanja dia meminta salah satu assisten untuk mengantarkan langsung ke mansion milik Arland.
Terbang jauh dari Amerika ke Asia hanya karena pakaian ini sungguh berita yang luar biasa.
Semua pilihan baju dari nyonya William semuanya cocok di kenakan oleh Ayra sekarang tidak ada lagi wanita sederhana tampilan dari seorang Ayra sekarang aura kecantikan yang alami dengan sendirinya terpancar walaupun Ayra masih menyembunyikan kecantikan aslinya.
Arland memesan ruangan pribadi sehingga ketiga orang itu menikmati waktu makan siang dengan tenang.
"Kau ingin apa Boy? ujar Ayra kepada Arka yang duduk di sebelahnya.
"Yang ini ini dan ini Tante" Ujar Arka menunjuk semua makanan berat.
Perasaan yang sama di alami oleh Ayra ketika Arka memesan makanan begitu banyak.
"Tidak apa-apa" Ujar Arland melihat Ayra sama stagnan seperti dirinya waktu itu Arka memesan makanan di tempat Ayra bekerja.
Ayra mengangguk dan memilih makanan yang menurutnya sedikit murah.
"Pilih saja saya yang akan membayar semuanya" Ujar Arland melihat Ayra terdiam saja melihat harga menu.
"Tapi gaji saya tidak di potong kan Tuan? ujar Ayra.
"Kau lihat saya begitu perhitungan? Ujar Arland mengangkat sebelah alisnya dengan wanita dengan wanita di depannya ini begitu perhitungan dengan uangnya.
"Siapa yang tahu Tuan" Ujar Ayra.
__ADS_1
"Saya tidak akan langsung bangkrut memberi makan satu orang" Ujar Arland.
"Benaran nih Tuan awas saja kalau berubah pikiran" Ujar Ayra tidak lagi pesimis langsung memilih beberapa makanan yang menurutnya cocok di perutnya.