
Setelah puas memainkan semua alat yang ada di taman bermain itu ke-tiga orang itu segera meninggalkan tempat itu.
Ayra kembali ke rumah sudah jam menunjukkan pukul 8 malam karena sudah memiliki makan malam sebelum pulang sehingga Ayra langsung tidur setelah membersihkan diri terlebih dahulu.
Tidak jauh berbeda Arka juga mengalami hal yang sama begitu naik di mobil setelah mengantar Ayra kembali bocah cilik itu langsung masuk ke alam mimpi.
Arland yang melihat putranya tertidur langsung memperbaiki posisi kursi mobil menjadi sebuah kasur beserta selimut yang di jadikan bantal mobil dan menyelemutinya beserta beberapa boneka yang mengganjal samping kiri kanan Arka agar tidak terjadi dari kursi mobil.
Bahkan Arland yang mengangkat putranya dan membawanya ke kamar bocah cilik itu masih sono dan tidak terganggu sama sekali dengan pergerakan Ayahnya.
Rupanya Bocah cilik itu benar-benar lelah seharian bermain.
Waktu berlalu sudah hampir dua minggu Ayra tidak berjumpa lagi dengan si Arka kecil.
Ayra kembali sibuk dengan kegiatannya dan sedikit merindukan bocah cilik itu walaupun tidak ada hubungannya sama sekali.
Memikirkan itu Ayra menggelengkan kepalanya itu tidak benar kenapa harus memikirkan orang yang baru dua kali Ia temui.
Baru saja Ayra ingin melupakan dua orang itu. Tiba-tiba Ayra yang akan membuka pintu rumah terkejut dengan kehadiran seseorang yang akan segera mengetuk pintu rumahnya.
"Ada apa Tuan? ucap Ayra heran orang yang dia jumpa dua kali ini berdiri di depan rumahnya pada pagi yang masih bilang gelap.
"Ayo Ikut saya" ucap Arland langsung menarik tangan Ayra.
Ya Arland lah yang berdiri di depan rumah nya di pagi buta begini.
"Tunggu. Anda ingin membawa saya kemana Tuan? Saya tidak memiliki masalah dengan Anda" ucap Ayra melihat orang di depannya tanpa basa-basi langsung menarik tangan nya begitu saja.
"Saya membutuhkan bantuan mu" ucap Arland belum menyampaikan maksudnya.
"Apa maksud anda Tuan? Saya tidak memiliki skill apapun untuk membantu Anda" ucap Ayra melepaskan tangannya dari genggaman Arland.
"Coba Anda jelaskan ada masalah apa Tuan? kalau anda tidak memberikan saya penjelasan saya tidak akan mengikuti orang asing yang hanya dua kali saya jumpa" ucap tegas Ayra.
"Kalau tidak ada jawaban Tuan saya harus segera pergi karena ini sudah jam perginya saya untuk bekerja sedikit lagi Saya akan terlambat" ucap Ayra melihat pergelangan tangannya yang berisi jam tangan kecil yang bertengger manis.
"Arka demam dan dia terus memanggil namaMu" ucap Arland jujur.
"Saya membutuhkan bantuan mu sedari tadi malam Arka tidak mau di temani dan selalu menyebut nama mu" ucap Arland lagi untuk meyakinkan Ayra.
"Cepat tunggu apa lagi" ucap Ayra masuk dalam mobil begitu saja membuat Arland sedikit linglung dia pikir Ayra akan menolak karena waktunya bekerja.
__ADS_1
Ayra juga tidak memikirkan pekerjaan nya lagi sekarang dia fokus memikirkan bocah kecil yang sakit itu.
Dia juga bingung kenapa dia bisa sangat kuatir mendengar kabar Arka yang sakit.
"Bisa cepat lagi? ucap Ayra dengan gelisah.
Tampak sekali wanita itu memilin jari-jari tangan nya sambil duduk gelisah.
Baginya perjalanan ini sangat jauh.
Bahkan Arland sedikit tertegun melihat wanita tak di kenal ini begitu kuatir terhadap Arka.
Tidak lama kemudian mobil Arland memasuki halaman rumah yang mewah bak istana itu.
Mendengar suara mobilnya seorang pelayan langsung menyambut kedatangan mereka di depan pintu.
"Bagaimana dengan keadaan Arka? Tanya Arland.
"Tuan Muda masih belum mau di dekati Tuan" jawab pelayan itu.
Semua penghuni Mension sudah bangun dan kalang kabut bahkan Nyonya besar William sudah ada sedari tadi pagi sebelum Arland menjemput Ayra.
Sekarang nyonya besar itu tengah kebingungan dan sedih melihat cucunya yang jarang sakit sampai segitunya.
Melihat putranya sudah kembali Nyonya William bangkit dan menghampiri putranya.
"Bolehkah saya mencoba menggendong Arka nyonya? ucap Ayra melihat Arka yang tampak sangat gelisah dan terus menyebut namanya itu.
Nyonya William memperhatikan Ayra sebentar sebelum menyerahkan Arka.
"Dia Ayra Mom" ucap Arland melihat kebingungan Nyonya William.
Nyonya William mengangguk mengerti bukan waktunya sekarang menilai Ayra.
Segera Ayra mengambil alih Arka dan memangkunya sambil menepuk pelan pundak Arka dan sedikit memanggilnya.
"Boy ini Kakak. Apakah kamu mendengar? ucap Ayra sedikit berbisik di telinga Arka.
Mendengar suara yang sangat familiar di telinganya samar-samar Arka merespon.
"Tante. Tante Ayra" ucapnya masih menutup mata suara panggilannya itu semakin tinggi.
__ADS_1
"Iya kakak di sini" ucap Ayra masih menepuk pelan pundak Arka.
Segera Arka membuka matanya perlahan dan memastikan bahwa dia tidak berhalusinasi setelah pandangan nya terlihat jelas segera dia berteriak.
"Tante Ayra" ucapnya dan memeluk Ayra dengan erat seolah tidak ingin melepaskan pelukannya dari wanita baik itu.
Setelah beberapa saat Ayra menenangkan Arka barulah sekarang Arka terlihat tenang dan nafasnya juga sudah teratur.
Semua interaksi itu di saksikan langsung oleh kedua orang yang masih berada di dalam kamar Arka.
Bahkan Nyonya William menganga tak percaya melihat cucunya hanya mendengar suara Ayra dua kali dia sudah terlihat tenang.
Nyonya William memperhatikan Ayra dengan baik tidak ada penampilan yang menarik dari wanita muda itu tetapi cucunya yang jarang berinteraksi dengan orang lain bahkan dengan mereka saja dia tampak sangat dekat dengan wanita ini bahkan mampu menarik perhatian seorang Arka bocah cilik yang dingin itu.
Nyonya William mendekati wanita muda itu dan meraihi tangan Ayra yang baru saja menyelimuti Arka.
"Saya sangat berterimakasih kepada mu. Kalau tidak ada dirimu mungkin Arka tidak ada yang tau apa yang akan terjadi padanya" ucap Nyonya William dengan tulus menatap mata Ayra.
"Tidak apa-apa Nyonya. Saya juga sedih melihat Arka yang aktif terlihat lemah seperti itu" ucap Ayra menatap Arka yang sudah terlelap.
"Saya sedikit memiliki permintaan untuk mu mungkin ini terkesan memaksa dan juga sedikit melukai harga diri mu" ucap Nyonya William serius.
Mendengar kalimat nyonya William entah kenapa Ayra terlihat gugup.
"Apa yang bisa saya bantu Nyonya? ucap Ayra sedikit memelankan perkataannya agar Arka tidak terbangun.
"Begini bagaimana kalau kamu yang merawat Arka sebagai pengasuhnya? Arka tidak pernah meminta pengasuh ini adalah permintaan langsung darinya dari beberapa hari yang lalu sehingga dia jatuh sakit seperti ini karena permintaan nya tidak di kabulkan" ucap Nyonya William menanti jawaban Ayra.
"Boleh saya memikirkan permintaan ini nyonya? ucap Ayra masih menimbang permintaan itu.
""Baiklah saya tidak memaksamu kamu boleh memberikan jawabannya kapanpun Nak" ucap Nyonya William mengelus tangan Ayra sebelum beranjak.
Nyonya William mengelus surai hitam cucunya sebentar sebelum keluar.
"Baiklah Mommy harus pergi karena Daddy mau terbang ke Amerika" ucap Nyonya kepada Putranya yang masih berada dalam kamar Arka.
"Hati-hati Mom" ucap Arland.
"Jaga cucuku Ar" ucap Nyonya William dan tidak lupa memberikan pelukan hangat sama Ayra.
Padahal belum beberapa menit berjumpa dengan Ayra.
__ADS_1
Melihat itu Ayra sedikit linglung sudah lama dia tidak merasakan pelukan dari seseorang apalagi seorang wanita.
Baiklah baiklah selamat membaca 🤗