Anak Jenius (Arka):Rahim Pengganti

Anak Jenius (Arka):Rahim Pengganti
Tanding


__ADS_3

Di sini lah mereka di sebuah taman bermain sesuai dengan perjanjian Ayra sama Arka.


Banyak anak-anak yang sudah bermain melihat anak anak yang di dampingi oleh orang tuanya tanpa sengaja Arka melihat ke arah kedua orang dewasa yang datang bersama nya.


Sepertinya anak itu menginginkan hal yang sama tetapi... Apakah dia boleh meminta hal lebih? apakah dia boleh memaksakan kehendaknya? Dia bocah kecil yang menginginkan kasih sayang utuh?


Bukan kekurangan kasih sayang dari orang sekelilingnya tapi sebagai anak kecil yang masih haus akan kasih sayang lain yaitu kasih Ibu bolehkah dia meminta?


"Hei Boy ada apa? ucap Ayra heran melihat Arka diam saja menatap anak-anak yang bermain dengan orang tuanya.


Arka menggelengkan kepalanya pelan.


"Ayo Tante" ucap Arka dengan senyum cerah menarik tangan Ayra untuk menuju arena bermain anak-anak yaitu berseluncur.


Karena di sana sepi belum ada anak-anak yang naik.


Ayra menoleh sebentar ke Arland meminta ijin. Walaupun dia senang bermain dengan Arka tapi dia memiliki seorang Ayah yang harus minta izin langsung ke orang tuanya.


Arland menatap sebentar ke arah putranya yang tampak senang dan kembali ke Ayra setelah beberapa saat dia mengangguk kan kepalanya.


"Baiklah Tuan. Anda bisa menanti atau ikut bermain? tanya Ayra.


"Saya akan menunggu" ucap Arland datar.


"Baik Tuan" ucap Ayra berlalu menyusul Arka yang masih memanggilnya terus menerus.


"Ya aku datang" ucap Ayra sambil melangkah dengan cepat serta berlari kecil.


Kedua orang berbeda usia itu bermain Arka tertawa lepas ketika dia berhasil terjun dari ketinggian tidak ada rasa takut sama sekali bocah cilik ini.


Kemudian Ayra memangku arka dan kembali terjun membuat si Arka seperti terbang.


"Aaaaaaaa ini menyenangkan Tante" teriak Arka benar-benar dia melepaskan seluruh emosi nya.


Ayra juga tersenyum bahagia bisa bermain dengan bocah cilik ini yang mengembalikan mood bagusnya.


Kapan dia tertawa bahagia terakhir kali sebelum dia kehilangan Ibu yang sudah menemaninya melewati hari yang sulit baginya waktu itu.


Ayra menggelengkan kepalanya mengusir kenangan pahit itu.


Kedua orang itu kembali pindah ke area bermain lainnya yang ada arena mobil balap.( apa namanya saya kurang tahu mohon bantuannya).


Kedua orang itu naik dan bingung.


"Arka kamu bisa Boy? tanya Ayra.


"Yoo Tante jangan kuatir kan aku" ucap Arka dengan percaya diri apa yang tidak bisa dia lakukan.

__ADS_1


Dia menatap sebentar mobil mainan itu sebelum menaikinya dia memastikan bisa memahaminya terlebih dahulu.


Melihat itu Ayra tersenyum tipis dan gadis itu menjelaskan kepadanya perlahan bagaimana mengendarainya dan sebagainya.


Dia pernah bermain permainan seperti ini walaupun dia gadis sederhana tetapi waktu kedua orangtuanya masih lengkap dia selalu di ajak ke arena taman bermain seperti ini.


"Siap Boy" ucap Ayra kencang.


"I'm Ready" teriak Arka.


Kedua orang itu kembali balapan kecil terkadang Arka menabrak mobil yang di bawah oleh Ayra karena bocah cilik itu belum terlalu menguasai mengendarai.


"Hahah ini menyenangkan sekali Tante" girang Arka kembali melajukan mobilnya untuk mendahului Ayra.


"Ayo Boy kejar aku" ucap Ayra menancap mobilnya mendahului Arka dan menoleh ke belakang melihat Arka menyusulnya.


"Hahaha Tante aku yang menang" teriak Arka dengan senyum mengembang dan puas di bibirnya berhasil mengalahkan Ayra.


Arland yang menonton mereka dari jauh tanpa sengaja mengabadikan gambar mereka melalui hp nya.


"Apa yang aku lakukan? ucapnya melihat banyaknya gambar Ayra dan Arka di memori teleponnya yang tidak sengaja dia abadikan tanpa paksaan.


"Ah biarkan saja" ucapnya tidak jadi menghapus foto yang dia berhasil take.


Dia kembali mengarahkan pandangannya ke arah dua orang yang menjadi pusat perhatian nya.


Arland dapat melihat wajah bahagia putranya yang tertawa lepas dari pada Arka bersamanya dan orang-orang rumah.


"Dad kemarilah" Teriak Arka melihat ayahnya menatap mereka dengan wajah sendu.


Melihat Ayahnya tidak bergerak sama sekali Arka turun dan berlari menghampiri ayahnya dan menarik tangannya.


"Ayo Dad kita balapan" ucap Arka menempatkan ayahnya di mobil miliknya tadi.


Arka naik di mobil lainnya yang tidak lain adalah milik Ayra.


Membuat kedua orang dewasa itu bingung.


"Ada apa? ucap Arka melihat kedua orang dewasa yang bingung menatapnya.


"Kakak naik di mana Boy? ucap Ayra menunjuk dirinya sendiri.


"Ah ayo Tante kita taruhan dengan Daddy" ucap Arka tersenyum nakal.


Ayra naik dan memangku Arka di pangkuan nya dan melajukan mobil kecil itu.


"Siap Daddy" teriak Arka.

__ADS_1


Arland hanya mengangguk mengerti. Segera setelah menghitung mundur kedua mobil itu saling mengejar membuat pemain lainnya memberikan tempat membiarkan kedua mobil itu yang saling mengejar.


"Ayo Tante" girang Arka sambil terus mengejek ke arah Ayahnya.


Arland juga tidak menyangka Ayra begitu mahir mengendalikan mobil balap mainan ini merasa tertantang apalagi putranya yang mengejeknya.


Dia yang jiwa Presdir tidak mau kalah tersenyum miring untuk membuktikan kepada putranya bahwa dia memiliki kemampuan balapan yang bagus.


"Ayo Tante" teriak Arka begitu heboh ketika kedua mobil mainan itu melaju tidak mau kalah dari yang lainnya.


Harus Ayra akui kalau Arland benar-benar hebat bisa mengimbanginya.


Karena Ayra terbiasa waktu kecil bermain dengan mobil mainan itu sehingga tidak di ragukan dia memiliki kemampuan balapan yang bagus.


"Yahh" Arka menatap lesu ke depannya mereka tidak ada yang menang sama-sama seri.


Melihat itu Arland menggaruk tengkuknya yang tidak gatal segitu kecewanya Putranya itu.


"Ayo satu putaran lagi" ucap Arland untuk mengembalikan mood Putranya itu.


"Baik" ucap Ayra menangkap sinyal untuk melakukan sekali lagi.


Kedua mobil ini kembali melaju dan masih sama-sama seri setelah sebelum garis finis Arland sengaja sedikit menurunkan laju yang tidak terlalu besar sehingga mobil mainan Arka melaju menang.


"Yeayyyy kita menang Tante" ucap Arka bertos ria bahkan memeluk Ayra dengan erat sambil mengulurkan lidahnya kepada Ayahnya seperti mengejek.


Kami menang.


Arland hanya mengangguk tidak mau berdebat entar yang ada perang ke tiga dunia terjadi.


Ketiga orang itu duduk berseloroh di kursi dalam taman bermain itu permainan seperti tadi lumayan menguras tenaga.


"Oke Daddy mau membeli minuman dulu Son kamu di sini dulu ada yang mau di titip? Tanya Arland kepada putranya yang sudah menatapnya binar.


"No Chiki-chiki" ucap Arland tegas karena makanan ringan yang akan di minta oleh Arka.


"Yodah seperti biasa" ucap Arka mengendurkan otot bahunya ke bawah.


Arland berlalu meninggalkan dua orang yang tampak asyik dengan dunia mereka masing-masing.


Melihat Arka yang tampak tidak semangat sama sekali membuat Ayra menghela nafas.


"Boy apa yang di bilang sama papa kamu baik. Kamu belum bisa makan pabrik seperti itu. Itu kurang bagus untuk kesehatan" ucap Ayra mencoba memberikan pengertian.


"Berarti Arka boleh makan setelah dewasa? ucap Arka.


"Hm ya" ucap Ayra melihat Arka mulai mengerti.

__ADS_1


"Baiklah Arka mengerti" ucap Arka.


Bersambung>>>>>>>


__ADS_2