
Benar saja, goreng pisang ibuku laku keras bahkan sebelum bel istirahat, goreng pisang itu sudah ludes. Siapa sangka, ibuku semakin bersemangat menggoreng pisang setiap subuh, sepuluh persen untuk pak Tibet dan sepuluh persen untuk pemilik kantin, tidak merugi sedikit pun. Malah hitung-hitungan itu ibarat simbiosis mutualisme seperti yang dijelaskan bu guru saat ini.
"Simbiosis mutualisme adalah hubungan antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup yang lainnya yang saling menguntungkan. Apa contohnya?" Tanya bu guru sembari berdiri. Kelas kami hening sejenak.
"Seperti aku dan Aki, bu guru." Teriak Toni di dekatku. Riuh tawa menggelegar dalam kelas. Toni tersipu malu.
"Bisa dijelaskan bagaimana hubunganmu dengan Aki, Toni?" Tanya bu guru mengheningkan kelas.
Toni menggaruk-garuk kepalanya. Aku menatapnya yang sedikit pun tidak dia pedulikan.
"Begini bu guru. Saya, kan, biasanya ada tugas dari bu guru atau pak guru." Aku membelalakkan mataku ke arah Toni. Bermaksud menghentikan penjelasannya. Tapi Toni malah dengan santai menjawab pertanyaan bu guru. Aku berdeham pelan berkali-kali, Toni tetap bersikeras menjelaskan.
"Nah, misalnya saya memborong pisang goreng Aki. Nantinya, Aki membantu saya mengerjakan tugas saya, bu guru. Bukan cuman itu." Aduh, dalam hati aku mengaduh. Toni polos sekali. Bu guru di depan seakan menunggu celah untuk memvonis Toni.
"Biasanya aku mentraktir Aki. Sebagai balasannya, Aki membantu aku mengerjakan tugasku. Eitss, bukan menyelesaikan tugas, ya. Itu berbeda sekali dengan kata membantu." Toni mengelak dengan pintarnya. Bu guru di depan kelas menggangguk-angguk mendengarnya.
"Hebat. Berarti sejauh ini Toni memahami apa yang dimaksud dengan simbiosis mutualisme. Meskipun yang dijelaskan Toni sebenarnya sebagian kecil dari yang ada di sekeliling kita. Masih banyak yang lainnya lagi. Intinya, simbiosis mutualisme itu tidak merugikan salah satu pihak atau keduanya." Bu guru duduk di kursinya. "Baiklah. Kalau begitu, kalian pilih tiga orang dalam satu kelompok tugas untuk mencari contoh lain mengenai simbiosis mutualisme sebanyak tiga contoh."
Toni melirik ke arahku. Memainkan satu matanya. Aku memahami makna gelagat Toni. Aku mengalihkan pandangan ke sebelah kiri, ternyata yang lain juga melakukan hal yang sama dengan Toni, hanya saja tidak main mata.
"Sudah dapat anggota kelompok, belum?" Tanya bu guru setelah beberapa menit kemudian.
Ada yang menjawab sudah, ada pula yang belum. Toni menjawab lain pula.
"Aku denganmu, ya." Penuh antusias.
Aku menoleh ke arah Toni. Rupanya Toni menebarkan jala di sungai tenang, aku tidak bisa menentukan siapa yang pantas menjadi anggota kelompokku selain Toni salah satu di antaranya. Artinya aku masih perlu satu lagi.
"Mil, kamu mau ikut satu kelompok denganku, tidak?" Toni menanyai Mila di depannya.
Mila memutar badan ke belakang. "Kamu dengan siapa?"
"Dengan Aki, Mil. Kamu tahu Aki akan membantu kita menyelesaikan tugas ini dan memperoleh nilai terbaik." Toni menyakinkan Mila. Aku terdiam, seolah tidak mendengarnya.
"Boleh. Ki, tarik kursimu di sini. Kita diskusi sekarang." Ujar Mila.
Aku kaget tidak kepalang. Wanita tomboi itu, yang dulu nyaris menghajarku, kini malah memperbolehkan aku mendekat.
Tadi di perjalanan menuju ke sekolah, aku berjalan sendirian lebih awal dari rombongan Mila. Kabut yang tebal seolah memisahkan pandangan kami, jadi aku aman tanpa ada gangguan mereka lagi. Tapi selama ini Mila dan rombongannya tampak acuh padaku. Mereka tidak mencemooh lagi sekalipun aku melewati rombongan mereka di tengah jalan. Artinya memang salahku menertawakan Mila kala itu. Aku yakin Mila tidak akan marah kalau tanpa sebab.
Aku mengangkat kursiku mendekati Toni dan Mila. Meletakkan kursi itu di sebelah kiri Toni, dan kanan Mila yang duduk menghadap ke Toni. Meja Toni jadi pusat perkumpulan kami bertiga.
"Jadi apa rencana berikutnya?" Mila bertanya. Dia membuka buku di lembar tengah, menggoyang-goyangkan pensil, mencoreti bukunya.
"Kita tentukan tempat pertemuan sepulang sekolah." Toni memberi pendapat.
"Bertemu di mana?" Tanya Mila, ketus.
Toni menatapku. "Masih ada stok pisang goreng di rumahmu, Ki?" Toni tampak bersemangat melihat anggukanku.
Langit biru yang dihalangi sedikit awan putih sangat memesona, gunung menjulang tinggi di depan kami, sungguh pemandangan nan indah seperti lukisan Mila di buku tulisnya pagi tadi. Aku dan Toni sesekali berteduh di bawah dedaunan. Rombongan Mila di belakang kami melangkahkan kaki dengan lamban.
__ADS_1
"Begini kamu setiap hari, Ki?" Toni mengibas-ngibaskan dedaunan ke arahnya, kepanasan. Intonasi suara Toni terdengar tidak percaya. Ditambah lagi sengatan matahari yang memburu kulitnya; putih dan bersih itu--membuat Toni bertanya-tanya berapa meter lagi jauhnya. Aku menjawab tidak jauh lagi. Tapi sudah tiga kali kami berteduh--tidak jauh bagiku sangat jauh bagi Toni.
"Iya, Ton. Kenapa? Ada yang salah dengan jalan kaki? Kamu hobi main bola, kan? Nah, jalan kaki lebih sehat daripada main bola. Nih lihat otot kakiku." Toni terkekeh pelan sembari mengatur napas. Rombongan Mila mendekat.
"Hay, cewek. Berteduhlah." Toni membujuk.
"Siapa dia, kak?" Tanya teman Mila.
Toni menjulurkan tangannya lantas berkenalan dengan mereka. Baru pertama kali ikut aku pulang sekolah, Toni sudah berhasil mengenali tiga teman Mila yang sebelumnya tidak kukenal--kalau bukan Toni, aku tidak akan mengenal mereka. Aku tidak seberani Toni.
"Satu arah, kan?" Toni bertanya lagi. Ketiga teman Mila mengangguk lentur. "Baiklah. Kita satu arah. Ayo, hari sudah teduh." Kami berenam melangkahkan kaki berdamping-dampingan. Aku dan Mila di depan, Toni dengan temannya, dan dua yang lain mengekor di belakang.
"Bukannya rumahmu dekat bu Dendi?" Tanya Mila. Bu Dendi? Tanyaku dalam hati. Mila menjelaskan secara rinci karakter bu Dendi dan posisi rumahnya. Tepat. Tebakan Mila tidak meleset. Pertanyaan Mila barusan menurutku hanya basa-basi kendati Mila sudah mengetahuinya. Jelas, karena setiap hari aku lewat di depan rumah Mila yang sesekali dilirik ibunya dengan tatapan sinis. Meskipun aku tidak melihatnya, tapi seragam sekolah Mila yang digantung di teras rumahnya menjelaskan bahwa itu memang rumahnya.
Tetanggaku yang mencemooh kemarin sore ternyata namanya bu Dendi. Artinya dia punya anak yang namanya Dendi. Kata Mila anak ibu itu sudah meninggal. Ibu itu memang tidak terlalu menyukai anak laki-laki yang setiap kali mengingatkan dia pada anaknya. Pantas saja bu Dendi mencemoohku, mungkin dia ingat di kala anaknya berpakaian kumuh. Batinku.
"Ki, masih jauh tidak?" Tanya Toni yang berjalan tertatih-tatih.
"Dasar anak mama, baru sekali jalan kaki sudah merengek begitu." Teman Mila di belakang memprotes Toni sembari tertawa. Aku masih dengan jawaban yang sama, sebentar lagi, Ton.
"Kita berteduh lagi, yuk. Panas." Belum sempat merespon, Toni sudah menepi duluan. Kami pun ikut menepi.
"Kalian sudah terbiasa, wajar. Rumahku tidak jauh dari sekolah, makanya jalan jauh begini aku tidak sanggup." Tangkis Toni setelah diolok anak mama.
"Kenapa tidak mengerjakan tugas kelompok di rumahmu saja, Ton?" Tanya Mila.
"Hehe...aku kasian kalau nanti di jalan pulang hanya sisa kalian berdua. Anggap saja aku menemani kalian pulang hari ini. Sore nanti pun aku dijemput ayahku." Jawab Toni.
Kami berbincang dan bersenda gurau di bawah pepohonan. Mengalasi tempat duduk kami dengan dedaunan yang berguguran di atas tanah, menunggu matahari redup.
"Gara-gara dia menertawakan Mila di hari pertamanya masuk sekolah, makanya mereka jarang teguran." Salah satu teman Mila menimpali. Aku terkekeh, merasa bersalah.
"Maaf. Bukan maksudku begitu." Aku mengelak.
"Sudah-lah, lupakan saja. Kalian lihat itu!" Mila menunjuk ke batang pohon tengkawang. Kami serentak memelototi batang pohon itu. Matahari sudah redup. Tampaknya sekarang sudah jam tiga sore.
"Ada apa?" Tanya Toni.
"Itu bagian dari simbiosis mutualisme, bukan?" Tanya Mila menunjuk pakis lidah rusa yang menempel di dahan tengkawang.
Toni berpikir keras sembari menggaruk-garuk kepalanya. Toni melirik ke arahku seakan melontarkan pertanyaan Mila padaku.
"Bukan, Mil. Itu simbiosis parasitisme. Nah, coba lihat yang itu." Aku menunjuk ke arah bunga putri malu. Ada dua ekor kupu-kupu dan lebah madu hingga di bunga putri malu itu.
"Kupu-kupu?" Tanya Mila.
"Putri malu, Mil." Toni menjawab. Sudut pandang mereka berdua sangat beda jauh denganku.
Sudut pandang tergantung dari apa yang orang pikirkan, lihat dan rasakan kata ayah kemarin saat berupaya meredakan emosi ibuku yang mengomel hingga jam tidur. Ayah panjang lebar berceramah malam itu. Kata ayah, kita tidak bisa membatasi orang untuk memberi penilaian terhadap kita. Tapi kita bisa berpikir positif tentang itu, siapa tahu kita bisa memperbaikinya. Sejak saat itu ibuku mengacuhkan apa pun yang orang bilang terhadap kami.
Tidak ada yang salah dengan sudut pandang yang berbeda. Mila benar kalau yang dia lihat kupu-kupu, Toni juga tidak salah kalau yang dia lihat putri malu. Keduanya benar. Hanya saja berbeda jauh dari yang aku maksud.
__ADS_1
"Itu salah satu simbiosis mutualisme, kawan. Lihatlah lebih dekat." Kami beranjak sembari menyapu debu di pantat masing-masing. Toni, Mila dan kawan-kawannya mendekati putri malu. Toni menyentuh putri malu itu, lantas putri malu kuncup. Seperti namanya, ujar Toni sembari terkekeh pelan.
"Kupu-kupu dan lebah madu ini mengambil serbuk sari bunga putri malu untuk makanan mereka. Sedangkan putri malu membutuhkan kupu-kupu dan lebah madu untuk proses penyerbukannya." Toni dan Mila mengangguk-angguk, paham. Oh, kata mereka berdua serentak.
"Bagaimana kalau tidak ada kupu-kupu atau lebah madu?" Tanya Toni sembari mencabut salah satu bunga putri malu.
"Tentunya tidak ada bunga." Mila menimpali. Yang lain terkekeh. Ada yang bilang, masuk akal juga.
"Maka bunga gagal dalam proses penyerbukan." Jawabku.
"Oh, seperti aku tanpa kamu ya, Ki." Toni menyambar. Yang lain tertawa terbahak-bahak.
Memang benar. Selama ini nilai Toni melencit naik. Dia selalu penasaran mewawancaraiku setiap kali ada tugas sekolah. Meskipun sesekali langsung mencontek jawabanku. Usaha Toni tidak menghianati hasilnya. Di sekolah, ke mana aku pergi, ke situ pula Toni berada. Aku sering ke perpustakaan, belajar banyak hal. Toni yang awalnya malas membaca, selama bergaul denganku akhirnya daftar pengunjung di perpustakaan hampir penuh oleh nama kami berdua.
"Kalau begitu hubungan antara bunga putri malu, kupu-kupu dan lebah madu ini kita masukkan dalam salah satu contoh simbiosis mutualisme kita." Ujar Mila. Aku dan Toni mengangguk setuju.
Kami melanjutkan perjalanan setelah mengobservasi putri malu dan sekitar kami. Ada banyak hal yang kami temui di sepanjang jalan. Satu per satu teman Mila memisahkan diri menuju rumah masing-masing. Akhirnya hanya sisa kami bertiga, yang sebentar lagi tiba di rumah.
"Berarti sisa dua contoh lagi, apa ya?" Toni menegadah ke langit seolah membaca isi kepalanya.
"Kalau burung bagaimana, Ki?" Tanya Toni, burung yang terbang di atas kepalanya jadi ide cemerlang yang belum terpecahkan.
"Bisa. Aku pernah melihat burung di atas tubuh sapi. Mematuk-matuk kutu sapi nampaknya. Nah, itu bisa juga jadi contoh kedua kita." Toni dan Mila langsung setuju dengan jawabanku.
Kami bertiga masuk ke dalam rumah kontrakan, ibuku menyambut keheranan. Bagaimana tidak heran, aku tiba-tiba membawa dua teman sekelasku di rumah tanpa sepengetahuan ibu. Awalnya ibu memprotes, bukan melarang aku membawa teman di rumah, tapi kasihan melihat kedua temanku itu duduk di ruang tengah basah keringat, lapar. Toni sedari tadi memijat-mijat kakinya yang katanya naik otot.
Toni bertugas sebagai notulen, dia mencatat apa saja yang aku dan Mila ucapkan. Sisa satu contoh lagi yang belum kami temukan. Pikiran kami sudah mentok. Untungnya ibu menghidangkan goreng pisang dan tiga cangkir teh panas. Toni buru-buru mengambil dua goreng pisang sekaligus setelah ibuku masuk kembali ke dapur. Aku dan Mila tertawa melihat Toni kepanasan, melempar-lempar goreng pisangnya, memegangnya dengan kertas yang tidak terpakai.
"Aku ada ide. Bagaimana kalau kita berkeliling di rumah ini siapa tahu ada simbiosis mutualisme yang kita temui." Ujar Toni sembari mengunyah goreng pisang, uap panas goreng pisang itu dia hembuskan sembari mengutarakan idenya.
"Tidak perlu. Tunggu sebentar." Aku masuk ke dalam kamar. "Aku ingat kalau di buku ini ada contoh simbiosis mutualisme." Aku membuka halaman demi halaman di buku, membolak-balikkannya hingga di akhir halaman aku menemukan contoh simbiosis mutualisme itu.
"Bakteri ada yang baik? Aku baru dengar." Toni tidak percaya. Kami bertiga membaca penjelasan di buku.
"Inilah manfaatnya membaca." Aku mengangkat buku di hadapan Toni dan Mila, tersenyum lega.
"Oh, iya. Bakteri yang mencerna makanan di perut kita. Itu rupanya simbiosis mutualisme juga." Toni terkekeh pelan, lantas menulisnya di buku tugas.
Ibuku keluar dari dapur sembari membawa goreng pisang yang baru karena goreng pisang pertama tadi sudah habis, Toni sangat lahap. Ibuku bertanya rumah Toni di mana, Toni menjelaskan kepada ibuku meskipun posisi rumah Toni tidak kami ketahui dengan jelas--setidaknya kami tahu kalau Toni orang berada. Selanjutnya, ibu bertanya rumah Mila. Raut wajah ibuku berubah dari yang tadinya berseri-seri menjadi muram setelah tahu Mila tetanggan dengan kami. Rumahnya urutan keempat dari rumah kami. Oh, hanya itu yang dikatakan ibuku menutup perkenalannya dengan Mila.
Toni dijemput ayahnya ketika hari sudah mulai gelap. Dia berpamitan denganku, tidak lupa ibuku memberi oleh-oleh satu kantong goreng pisang untuk Toni. Mila menolak pemberian ibuku, dia pulang tanpa membawa apa-apa.
"Nanti kalau kepengen makan goreng pisang saya bisa singgah di sini kapan pun." Kata Mila sembari menyalami ibuku. "Besok jangan lupa bawa tugasnya, ya." Aku mengangguk lentur. Mila pulang ke rumahnya setelah Toni menjauh bersama ayahnya.
Ayahku berdengkur keras menghadap dinding. Meskipun di luar sana masih berisik, aku dan ibu juga masih berbincang serius, ayah yang kelelahan tidak terusik. Malam yang dingin membuat setengah tubuh ayah dibalut selimut.
"Iya, memang begitu. Dia tidak suka kita tinggal di rumah ini. Pak Tibet bilang kalau mereka dulunya karyawannya yang mengurusi dagangan di pasar, dan tinggal gratis di rumah ini." Ibuku bercerita sedikit berbisik. "Pak Tibet mengusir mereka dari rumah ini dan tidak dipercayakan lagi mengurusi dagangan di pasar. Ibunya itu korupsi uang hasil dagangan." Lanjut ibuku.
"Oh, berarti kita pindah di sini setelah mereka diusir, bu?"
"Iya, udah dikasi rumah gratis malah korupsi uang dagangan." Intonasi suara ibuku terdengar geram."
__ADS_1
Pantas saja ada yang tidak suka kami pindah di rumah ini dan menjadi tangan kanan pak Tibet mengurusi dagangan di pasar. Gumamku dalam hati.
"Sudahlah, tidur lagi." Ibuku menarik selimutnya hingga mentok di leher. Lantas tidur dengan nyaman.