
Tiga tahun sepuluh bulan dua belas hari, tepat di mana aku berhasil menyelesaikan kuliahku. Hari ini, pemindahan tali toga dari kiri ke kanan akan menjadi momen penting dan berharga seumur hidupku. Pesan Nina di ponselku sudah lebih dari tiga, menyemangatiku, mengingatkan aku untuk jangan bergadang, dan bilang dia akan hadir lebih awal sebelum kedua orang tuaku dan rombongan dari kampung datang di auditorium.
Tiga tahun dua bulan lima belas hari lamanya hubunganku dengan Nina terjalin, kami saling mengenal satu sama lain. Aku sudah mengenalkan Nina pada ayah dan ibu, dan setiap kali pulang kampung, Nina selalu singgah di kontrakan kami. Walaupun setelah itu Nina ketinggalan bus, tapi esok harinya Nina ke rumahnya, menginap semalam, tidur dengan ibuku. Tapi Nina belum pernah memperkenalkan aku pada keluarganya. Nina bilang setelah wisuda ini dia akan mengajak aku berkunjung di rumahnya. Aku sangat bersemangat mendengarnya, hadiah yang beruntun yang akan aku terima pada hari ini.
Pertama, aku diberi kesempatan untuk menyampaikan pesan dan kesan di atas podium. Kedua, aku akan Nina ajak bertamu di rumahnya. Artinya, hubungan kami yang tiga tahun ini akan diajak lebih serius.
Hampir seminggu lebih aku menyiapkan pesan dan kesanku, menyusun kata menjadi sebuah kalimat yang mudah dipahami, yang menginspirasi, dan tentunya dari dalam hati.
Ayah bilang mereka berencana akan berangkat subuh dari kampung kalau tidak ada kendala. "Iya, nanti kami usahakan." Jawabnya ketika kutelepon melalui ponsel tetangga di samping kontrakan kami kala itu.
Jam enam pagi aku sudah bangun kendati acara wisudanya dimulai jam sembilan.
"Selamat pagi. Terima kasih parfumnya." Jemariku dengan lincahnya menyentuh tombol-tombol di ponsel. Nama Nina dengan tiga emotikon bunga cinta berwarna merah tua muncul pada urutan teratas, pesan singkat itu langsung terkirim. Aku berkedip pelan, masih menahan kantuk, tapi belum ada balasan dari Nina.
"Eh, tumben udah mau mandi." Olok penjaga indekos yang duduk di pos samping kamarku.
Aku tersipu malu, paham arti kata tumben yang dimaksud penjaga indekos. Memang jam sebegini aku masih di kamar, bahkan saat jadwal antar kawan satu kos bentrok--mereka rebutan kamar mandi, aku jadi korbannya, terpaksa ke kampus cuci muka dengan air galon.
"Iya, pak. Kebetulan cepat bangun." Penjaga indekos mengacungkan jempol kananya.
"Mantap," serunya. Lantas membaca koran sembari mendengarkan radio yang suaranya sengaja diperkecil.
Parfum dari Nina kucipratkan ke seluruh togaku. Aku memutar-mutar badan di depan cermin sembari menghirup aroma parfum yang wangi semerbak. Cermin di depanku seolah bosan memantulkan gambar diriku, tapi aku tidak henti-hentinya menatap wajahku yang biasa-biasa saja, hidung kempis, kumis tipis, dan mata bulat. Aku mempraktekkan gaya bicara motivator, tatapan sang ilmuwan, dan senyuman penemu yang sering gagal. Senyuman seorang ibu yang bangga melihat anaknya berhasil perlahan terlukis di wajahku, mata berbinar-binar sembari bilang dalam hati, terima kasih, yah. Terima kasih, bu.
"Perlu tumpangan?" Tanya penjaga kos kepada aku yang baru saja menutup pintu kamar.
"Bapak mau ke mana?"
__ADS_1
"Hari ini spesial untukmu."
Penjaga kos menghidupkan mesin sepeda motornya. Asap hitam mengepul ke atas, suara pekikan pun tidak terbenamkan. Penjaga kos mengantar aku ke auditorium, tempat terakhir aku menyandang status anak kuliah. Penjaga kos memang baik padaku, katanya dia akan kesepian jika aku tidak lagi indekos di tempatnya.
Dari kejauhan, dalam kerumunan ribuan orang, kesibukan yang berlalu lalang kian kemari, aku tetap bisa mengenali Nina. Dia berdiri khusyuk di pinggir jalan, menantiku. Penjaga kos memberhentikan sepeda motornya, dia tidak mau menerima bayaranku.
"Sudah, kamu tidak memaksaku mengantarmu di sini, toh." Tolaknya.
"Terima kasih, pak. Hati-hati di jalan." Lalu aku menghampiri Nina yang sedari tadi pelengak pelengok mencariku.
"Hay, aku pikir kamu tidak akan hadir. Pesanku belum dibalas sampai sekarang."
"Pulsaku habis." Jawabnya sembari tersenyum lebar. Kedua tangannya memegang erat bunga sintetis yang dibungkus rapi dalam kertas plastik, secarik kertas kecil bertulisan, selamat dan sukses. Seumpama kata yang selalu dia sematkan di setiap doanya.
"Untukku?" Nina menyodorkan bunga tersebut. Anggukannya sangat lentur.
"Rombongan dari kampung belum juga tiba. Aku takut mereka nyasar."
"Sudah, jangan pikirkan. Masuk, sana! Ada banyak kursi, loh. Nanti malah kamu pula yang nyasar salah duduk." Ujar Nina.
"Tapi kamu?" Nina menatapku, santai.
"Cepat!" Mendorongku pelan ke arah pintu masuk.
Ruangan yang megah mulai dipenuhi wisudawan, aku hampir setengah jam masih mencari namaku di sandaran kursi, tidak lekas ketemu.
"Maaf, pak. Bisa minta tolong carikan nama saya, Aki." Ujarku pada petugas keamanan di dalam ruangan.
__ADS_1
"Oh, Aki." Serunya seakan sudah mengenalku. "Kamu duduk paling depan." Menunjuk kursi depan yang jaraknya sekitar sepuluh meter dariku.
Sebelumnya aku berpikir duduk di barisan tengah atau akhir, tapi ternyata aku akan berhadapan langsung dengan rektor dan jajarannya.
"Kamu sudah menyiapkan kata sambutannya?" Tanya pembawa acara, berbisik.
"Sudah, pak." Jawabku cepat.
Di lantai dua, ribuan pasang mata menjatuhkan padangan mereka ke arah kami. Mataku mengitari ruangan, aku sulit membedakan orang yang sedang aku cari. Hingga berkali-kali mengiyari ruangan, mereka tidak tampak sama sekali. Ponselku senyap, padahal sinyal dan baterainya penuh.
Aku diberi selendang bertulisan, cumlaude. Di antara ribuan wisudawan, hanya aku dan kedua wisudawati lain yang dianugerahi selendang tersebut. Kami bertiga tersenyum lebar setelah mengenakannya.
Pembawa acara berdiri di atas podium, "Hadirin sekalian yang kami hormati, acara wisuda akan segera dimulai." Ruangan lenggang seketika. Hanya ada suara bisik-bisik dan gerak kaki yang berdesak-desakkan.
"Hadirin yang berbahagia, pada kesempatan ini kami sudah menghadirkan satu wisudawan terbaik yang akan membawakan pesan dan kesan bagi kita semua." Seluruh tubuhku mulai bergejolak, gemetar. "Inilah dia. Aki..." Teriak pembawa acara dengan lantang. Aku menghela napas panjang seraya berjalan menuju podium.
Aku berjalan cepat di depan semua wisudawan dan ribuan pasang mata di lantai dua dan sela-sela pintu kaca transparan lantai satu menyorot ke arahku. Aku menginjakkan kaki di tingkat pertama podium, lalu menginjakkan kaki di tingkat kedua hingga aku bisa melihat tatapan bangga, haru, dan harap di depanku.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat pagi, Salam sejahtera bagi kita semua, Shalom, Oom Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan." Ruangan dipenuhi salam, bergema. Aku melanjutkan kata sambutan setelah ruangan hening. Kilat kamera bertubi-tubi menyorot, sambar-menyambar. Aku berusaha tetap fokus meskipun demam panggung tidak bisa kuelakkan. Di pojok sebelah kanan, mata mungil dan penuh haru memperhatikanku dari kejauhan. Mereka berdiri berdesak-desakkan. Nina di samping ibuku, ayah, paman, Aga, dan pak Tibet berderet rapat. Ibu menunjuk ke arahku, diikuti anggukan Nina sembari berbisik padanya. Aku mulai tenang, ini saatnya, gumamku dalam hati.
"Hidup ini ibarat kita di depan anak tangga yang jumlahnya tiga, enam, bahkan lebih dari sepuluh, dan kita memiliki tujuan yang sama untuk di lantai berikutnya." Setiap kata yang kulontarkan direkam oleh wartawan, mereka dengan khusyuk mendengarkan pesan dan kesanku.
Aku mendekatkan bibirku ke mikropon, "Keputusan ada pada kita. Apakah kita tetap ingin berada di depan anak tangga, atau kita berusaha untuk memijaki anak tangga satu per satu? Saya pernah di posisi ini. Ibu dan ayah yang berdiri dan menyaksikan saya di sebelah sana," Aku melirik ke kanan, ribuan wisudawan dan rektor serta jajarannya pun ikut melirik. Ayah dan ibuku tersenyum bangga.
"Merekalah yang menggandeng saya untuk memijaki anak tangga. Ketika saya memilih turun tangga, merekalah yang mendorong saya dari bawah untuk tetap naik. Ketika saya mulai menoleh ke bawah, mereka yang selalu bilang jangan mau seperti kami. Memijaki anak tangga memang tidaklah mudah. Memerlukan tenaga dan kesabaran. Mungkin kaki kita akan terantuk, atau tergelincir. Mungkin pula ibu saya akan melatah tidak keruan ketika saya salah menginjak anak tangga. Teman-teman seperjuangan saya yang berbahagia pada hari ini, dan yang sedang berjuang untuk sampai di titik ini, saya hanya ingin berpesan bahwa kita harus tetap memijaki anak tangga hingga garis akhir. Jangan mudah menyerah, dan jangan menoleh ke belakang. Saya sangat bersyukur bisa kuliah dan belajar di sini, kesan terindah yang tidak akan pernah saya lupakan. Terima kasih buat ayah dan ibu yang telah berkorban, berjuang, dan mendorong saya untuk naik ke tangga berikutnya." Mataku mulai berbinar-binar.
"Terima kasih buat teman-teman semua dan dosen-dosen yang selalu sabar membimbing saya." Riuh tepuk tangan menggelegar di seluruh ruangan. Ayahku mengelap matanya, Nina merangkul ibuku. Paman di ujung sana, kepalanya yang sudah memutih, bertepuk tangan dengan hebatnya.
__ADS_1
Esok harinya, Nina menepati janjinya padaku. Seyogianya pulang ke kampung halaman, desa belasan tahun lalu sudah berubah. Setiba di rumah Nina, aku dikejutkan sosok kakek-kakek kepala sula berdiri di depan pintu rumahnya dengan senyum penuh tanya.