
Memang benar kata ayah dan ibu; dunia usaha, bisnis, jualan, dan apa pun itu yang bergantung dari pembeli atau pelanggan--tidak selamanya berjaya. Ayah akhir-akhir ini kewalahan bukan karena makin banyak pembeli, tapi tidak ada yang membantunya promosi, menarik pengunjung pasar. Lebih banyak pengunjung beralih ke lapak di sebelah ayah, dibantu anaknya, berteriak mempromosikan dagangannya, pandai menarik hati pembeli. Sementara ayah kalian tahu sendiri, sebentar lagi usianya enam puluh tahun.
Bukannya aku tidak membantu ayah, tapi sekolah di kelas dua belas sebentar lagi ujian akhir, aku hanya punya waktu libur di pasar, selain itu aku lebih banyak belajar. Di kelas dua belas, duniaku berubah total. Mulai dari tinggi badan, berat badan, dan wawasan. Kecanggihan alat bantu komunikasi seperti ponsel sangat memudahkan kami mengenal dunia luar, dan tentunya bisa menjalin kasih. Teman-temanku di kelas setiap jam istirahat tidak ada yang lain yang mereka lakukan, kalau tidak ngemil, ya, menatap layar ponsel. Sesekali aku dipinjamkan teman semejaku. Alasan mencari jawaban di internet, aku memiliki sedikit waktu untuk membuka aplikasi facebook, meminta pertemanan dengan wanita yang belum kukenal, menghubungi salah satu dari mereka, dan balasan yang secepat kilat cukup membuat aku dagdigdug.
Kawan semejaku tahu kalau aku diam-diam membuka aplikasi lain di ponselnya, dia sempat marah, tapi kutangkis dengan kata, sebentar saja.
"Beginilah kalau baru mengenal internet." Ujar kawan semejaku, namanya Didi. Kadang emosian, kadang baik, merajuk, pemalu, kadang pula sok percaya diri. Sifatnya berubah-ubah.
Didi yang membuatkan akun facebook-ku. Dia bilang biar aku tidak kudet--kurang update. Sering dia mengolok aku jomblo akut karena tahu riwayatku selama sekolah tidak pernah sekalipun pacaran. Beda dengan dia yang punya belasan bahkan dia lupa ada berapa mantannya saking banyaknya. Aku memaklumi. Karena dari kesehariannya Didi memang aktif di media sosial. Main game, dan berinteraksi serta menambah wawasan dengan internet. Didi pula yang mengajari aku cara membuka internet, mencari yang ingin kita ketahui. Seperti siang ini.
"Did, kenapa ponselmu jadi begini. Aku hanya menekan tombol, ok, barusan."
Didi memeriksa ponselnya, "Paketnya habis, Ki. Ini pasti gegara kamu buka lebih dari satu aplikasi." Ujarnya.
Aku tersipu malu. Benar, barusan aku menghubungi wanita berlesung pipit yang sedang ulang tahun bulan ini. Sayangnya, aku cuman minjam ponsel jadi tidak tahu jawaban wanita tersebut.
Didi menyimpan ponselnya ke dalam tas, "Kita ke perpustakaan saja, yuk."
Dia mengangguk setuju, "Boleh. Tapi kamu yang baca dan mencari bukunya." Ujar Didi. Jelas menegaskan bahwa dia hanya menemaniku tapi tidak turut mencari jawaban. Aku mengangguk sepakat. Daripada tugas tidak dikerjakan. Gumamku dalam hati.
__ADS_1
Memang lebih mudah mencari jawaban di internet daripada di buku. Aku harus membolak-balik setiap lembar pada beberapa buku yang kuambil dari rak perpustakaan. Didi yang duduk di depanku hanya diam, sesekali melirik ke luar.
"Ini jawaban nomor satu, Did." Aku menunjuk tulisan-tulisan di buku yang setebal bantal di rumah. Didi menggeleng hebat, menyerah.
"Kamu saja yang menyalinnya, Ki." Ujarnya. Percuma aku memperlihatkan temuanku di buku itu, Didi sama sekali tidak ada niat membantuku walau sekadar menyalinnya. Memang cukup banyak jawabannya. Tugas kelompok ini sungguh membebaniku.
Tugas pertama telah selesai, masih ada empat tugas berikutnya. Aku mencarinya, dan menyalinnya di buku tugas setelah menemukan jawabannya. Meja membaca penuh buku. Hingga bel masuk mata pelajaran terakhir berbunyi. Aku hendak mengemaskan buku-buku yang berserakkan di meja. Didi sudah di ambang pintu keluar.
"Biarkan saja di situ. Nanti saya yang membereskannya." Ujar petugas perpustakaan. Aku berterima kasih, menyusul Didi.
Di parkiran sekolah berjejer beragam jenis sepeda motor. Mereka yang sudah cukup umur dan memiliki Surat Izin Mengemudi, diperbolehkan membawa motor ke sekolah. Terutama bagi mereka yang rumahnya jauh.
Aku diantar Didi sampai ke rumah karena kami satu arah jalan pulang. Biasanya pagi-pagi Didi menjemputku. Ayah bilang sisihkan uang jajan untuk mengganti bahan bakar sepeda motor Didi. Tapi Didi menolaknya, bantu aku mengerjakan tugasku. Kalimat penolakannya.
Setiba di rumah aku sudah disambut dengan omelan ibuku. Untungnya Didi sudah menjauh, kalau tidak mungkin Didi akan tahu apa yang ibuku omeli sekarang ini.
"Sekolah betul-betul. Jangan buat onar apalagi buat malu ibu. Lihat ayahmu di pasar susah payah cari rupiah. Setiap bulan kita harus membayar kontrakan kita ini. Belum lagi listrik. Belum lagi kebutuhan lainnya. Benar kata tetangga kita," ayah tertunduk dalam, menatap lantai rumah. Aku masuk, pelan.
"Memenuhi kebutuhan hidup saja kita susah payah. Belum lagi untuk biaya sekolahnya. Aku tidak yakin anak kita akan pakai toga, yah." Ayah menegakkan kepalanya, menatap ibuku.
__ADS_1
"Jangan ngomel melulu. Anak baru pulang sekolah udah ngomel begitu. Ganti pakainmu sana." Ujar ayah, tidak setuju dengan cara ibuku yang tiada hari tanpa mengomel. Meskipun omelan ibu tidak akan pecah tanpa alasan, musebab.
Hasutan tetangga memang mujarab membuat ibu mengomel di depan aku dan ayah.
"Bukan begitu. Tapi ada benarnya juga kata tetangga kita." Bantah ibuku. Setiap kali mendengar omongan tetangga, langsung ditelan bulat-bulat oleh ibuku. Tanpa pertimbangan terlebih dahulu. Dari ibu aku belajar banyak hal tentang wanita. Menurutku mereka lebih memprioritaskan perasaan dalam tindakan mereka. Tidak heran jika wanita lebih mudah mengomel, belum puas mereka belum berhenti, hingga perasaan mereka mulai tenang, damai, dan aman--barulah berhenti.
"Sebentar lagi anak kita ini tamat sekolah. Aku mau dia lanjut kuliah." Lanjut ibuku.
"Sebaiknya kita tanya dia, mau lanjut atau kerja." Ayah bijaksana. Melirik ke arahku yang baru saja keluar dari kamar.
"Aku tidak mau lanjut kuliah, bu. Aku mau bekerja. Bantu ayah dan ibu. Kita tidak cukup uang, jangan dipaksakan. Kuliah bukan tentang toga saja, tapi prosesnya sampai ke toga itu yang cukup rumit. Aku harus daftar kuliah. Mau daftar saja aku tidak punya ponsel dan laptop. Belum lagi berangkat ke kota. Biaya hidup di sana. Indekos. Aduh, sebaiknya ibu setuju keputusanku saat ini."
"Nak, kerja itu pasti. Kapan pun, di mana pun, selama masih sehat, kerja itu pasti. Kamu tidak punya pilihan lain selain bekerja. Pak Tibet sekalipun yang sudah kaya dan banyak harta, jangan hitung istrinya," ibu terkekeh pelan. Baru-baru ini pak Tibet nikah lagi. Kami semakin ditekannya untuk jual sayur lebih banyak.
"Mereka tetap bekerja. Siapa bilang kaya diam di rumah, beleha-leha santai. Tapi pendidikan itu, sekali seumur hidup. Coba ingat berapa banyak teman sekelasmu yang tidak lanjut sekolah. Apakah mereka mau sekolah lagi?" Aku mengangguk.
"Sekolah-lah selagi muda. Jangan seperti ibu. Jangan. Sekali lagi jangan." Mata ibuku berkaca-kaca. Lantas mengelapnya dengan ujung jari.
"Terserah kamu, nak. Kalau mau lanjut sekolah, cobalah daftar jalur beasiswa. Ayah yakin kamu bisa. Jadikan pesan kami ini sebagai motivasimu." Ujar ayahku.
__ADS_1
Aku mengangguk, menunduk ke bawah. Semua kata, tidak mudah, muncul di kepalaku. Yakin benar bahwa lanjut kuliah itu tantangan terbesar dan terberat dalam hidup, khususnya aku yang cuman punya niat.