
Empat bulan yang lalu aku dipanggil ke atas panggung, berfoto dengan guru dan keempat murid yang mendapatkan peringkat tiga besar dari dua jurusan, aku jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial. Senyum lebar menyiratkan kebahagiaan saat itu di bulan February, bulan di mana aku merasakan dua momen yang berbeda suasana sekaligus. Momen bahagia, dan momen putus asa.
Aku bahagia bisa tamat sekolah dengan nilai dan pencapaian yang memuaskan. Riuh tepuk tangan yang menggelegar saat itu membuat aku puas setelah dua belas tahun sekolah. Tapi, di waktu yang bersamaan pula aku merasa sudah tidak punya harapan. Notifikasi laman pendaftaran kuliah melalui jalur beasiswa memberitahukan bahwa aku dinyatakan tidak lulus seleksi. Aku tidak punya tenaga, bahkan piagam penghargaan peringkat satu tidak ada efeknya sama sekali, aku masih melemah. Ibu dan ayah tidak tahu akan hal ini. Aku malu menceritakannya pada mereka. Aku hanya berani bilang kalau aku peringkat satu. Mereka bahagia. Tapi senyumanku seolah topeng yang kutata rapi di wajahku agar mereka tidak curiga dengan apa yang kupikirkan saat itu.
Sekolah yang mendaftarkan aku beasiswa. Aku sungguh berutang budi pada bu guru yang sebentar lagi akan pensiun, bu Desi. Beliau tahu aku tidak lulus seleksi lalu menelepon, bilang kalau beliau berniat untuk mendaftarkanku di seleksi kedua, masih dengan beasiswa. Sayang prestasiku, kata bu Desi empat bulan lalu.
Selama empat bulan pula ibuku berkali-kali memaparkan nama-nama Perguruan Tinggi hebat, satu pun di antaranya aku tidak berminat. Aku hanya mengangguk seakan setuju, agar ibu tidak mengomel.
Ayah tidak pernah memaksa aku lanjut kuliah, malah ayah senang jika aku membantunya di pasar. Ayah dan ibu sempat bertengkar karena ibu tidak setuju kalau aku terlalu sering di pasar, itu akan mengubah pola pikirku yang sudah mulai mengenal mata uang. Sementara ayah, tidak ingin membebani aku dengan keinginan ibu. Ayah memberi kesempatan padaku untuk memilih; bekerja, bisnis, atau usaha. Ibu marah besar. Hampir saja menghempaskan celengannya. Ibu sempat bersusah payah mengangkat celengan tersebut. Berat. Setahuku isinya uang logam semua. Setiap hari, mereka menyisihkan sisa uang belanja dan uang jualan. Suara bergesekan antar logam terdengar jelas.
Melihat ibu mulai bertindak dengan perasaannya, aku langsung bernazar. Aku bilang akan lanjut kuliah kalau di rumah tidak ada omelan lagi. Seketika ibuku terdiam. Aku berani bernazar demikian karena aku yakin; ibu tidak bisa sehari pun tanpa omelannya. Ayah terkikik pelan, mengangguk setuju dengan nazarku.
Berbulan-bulan lamanya, ibu menjadi kalem, pendiam, dan sabar. Sekalipun ayah mencoba memancing emosinya, ibu tetap sabar. Aku mulai gundah, ternyata diam-diam pula bu Desi mendaftarkanku pada program beasiswa yang kedua. Beliau mengirimkan bukti pendaftaran di ponselku. Aku bilang, tidak perlu repot-repot mendaftarkanku. Tapi bu Desi yakin aku bisa lulus seleksi. Hanya menunggu jadwal ujian tertulis. Untuk biayanya berangkat ke kota ditanggung sekolah. Sebagai penghargaan peringkat satu. Aku tidak bisa mengelak.
Hingga hari ujian tertulis tiba, aku berpamitan pada ibu dan ayah. Ibu sangat antusias menyiapkan bekal, pakaian, dan perlengkapan ujian selama dua hari. Nasihat panjang lebar dari ayah dan ibu mulai dilisankan, mungkin kalau tertulis akan setebal buku cerita bergambar anak-anak panjangnya. Aku meng-iyakan nasihat mereka.
Pertama kali ke kota, aku sempat terkagum-kagum. Ponselku berdering, bu Desi meneleponku, "Kalau sudah sampai jangan lupa kabarin ibu, ya."
Aku tiba di terminal bus, lantas transit menggunakan opelet menuju ke rumah bu Desi setelah beliau kirimkan alamat lengkapnya.
Aku duduk di belakang sopir, menghadap ke pintu keluar. Cepat-cepat menarik tanganku dari sandaran opelet yang berkarat, mengelupas itu. Aku ingat mimpiku lima belas tahun lalu di dalam opelet tua. Aku sibuk mengawasi sekeliling, siapa tahu ada kakek kepala sula itu pikirku dalam hati.
__ADS_1
Dua hari kemudian aku kembali ke kampung. Aku sempat bilang pada bu Desi kalau aku tidak yakin bisa lolos seleksi. Beberapa soal tidak bisa kujawab, kehabisan waktu, dan terlalu sulit. Sementara sainganku lebih dari seratus orang.
Begitupun kalimat pesimis kuulangi ketika ibu menanyaiku bagaimana ujiannya. Mereka tidak terlalu menuntut aku harus lolos. Sampai di kota dan pulang dengan selamat saja ibu sudah bahagia.
Pengumumannya awal bulan Juni. Meski sempat pesimis tapi aku penasaran hasilnya. Sejak pulang dari kota, malamnya aku tidak bisa tidur. Belum lagi pasar yang amat berisik, untungnya ibu tidak pernah mengomel sedikit pun. Entahlah, dua hari di kota mungkin ibu mengomel pada ayah. Tapi yang jelas beberapa hari ini ibu diam, lebih sering menawari aku makan, kue, dan peduli.
"Hari ini, kan, pengumumannya?" Tanya ibuku. Pagi-pagi buta sudah melontarkan pertanyaan ini.
"Hari ini tanggal berapa, bu?" Tanyaku sembari mengucek-kucek mata.
"Tanggal 20 Juni, coba periksa ponselmu." Ibu tidak sabaran, duduk di kasurku. Aku belum terlalu bertenaga, masih ingin uring-uringan, tapi belum sempat menguap--ibu sudah memberikan ponsel kepadaku.
"Iya, bu. Aku cuci muka dulu."
Aku tidak terlalu bersemangat karena sudah yakin tidak akan lolos seleksi. Tapi demi mengurangi rasa penasaran ibuku, pelan-pelan kubuka laman pengumuman.
"Belum bisa dicek, bu. Jam tiga sore nanti pengumumannya mulai bisa diakses."
"Hmmm...iyalah." Ibu keluar kamarku dengan kecewa. Aku lanjut tidur sampai jam delapan siang. Ibu tidak mengomel sedikit pun. Padahal aku dengar sudah tiga kali ibu bolak-balik di depan kamarku.
Aku ingat, hari ini, ayah dan ibu berulang tahun. Hari ini, ayah genap enam puluh tahun, ibu lima puluh sembilan tahun. Ayah sudah cukup tua, tapi semangatnya mengalahkan aku yang masih muda. Aku belum bangun tidur, ayah sudah di pasar.
__ADS_1
Aku membantu ayah di pasar, agak kesal padanya yang tidak pernah istirahat sekadar sehari pun, "Kamu tidak usah khawatir. Pak Tibet bentar lagi bawa karyawan baru bantu ayah di sini." Jawab ayah.
Pak Tibet, karyawan baru? Tanyaku dalam hati. Sejak kapan pak Tibet memercayai orang lain menjual sayurnya semenjak kejadian ayah Mila, selain ayah? Aku yakin, karyawan baru yang ayah maksud tidak lain orang yang sudah lama mengabdi pada pak Tibet, seperti ayahku. Apalagi berjualan seperti ini hanya perlu kejujuran, itu modal pertama dan yang paling penting kata pak Tibet dua tahun lalu.
"Siapa karyawan barunya, yah?"
"Ayah juga belum tahu. Pak Tibet hanya bilang akan ada yang bantu ayah di sini setelah nanti kamu kuliah."
Aku yakin merantau ke kota akan membuat ayah merasa kesepian tanpa ada aku yang membantunya di pasar. Ini jelas terukir di wajahnya yang tampak berat kutinggalkan. Sejak pertama kalinya ke kota, raut wajah ini sudah terpampang jelas di wajah ayahku.
Jam tiga sore, sepulang dari pasar, ibu langsung menyambutku dengan ponsel yang sedari tadi berdering kata ibu. Bu Desi. Ada apa beliau meneleponku hingga lima kali jam tiga ini.
Aku menelepon balik, "Halo, bu." Menyapa bu Desi.
Belum sempat bertanya maksud beliau menghubungi saya sampai berkali-kali, bu Desi langsung menyambar, "Ibu sudah cek pengumuman." Ujarnya cepat. "Ibu sudah bilang, kamu pasti lolos seleksi." Intonasi suara haru bergema di pengeras suara ponselku.
"Maksudnya, bu?" Aku masih belum paham.
"Maksud ibu kamu lolos seleksi. Kamu diterima masuk Perguruan Tinggi. Selamat, ya. Ibu senang dengarnya." Detail bu Desi.
Ibuku sedari tadi menguping, mendengar kata lolos seleksi ibu langsung berjingkrak-jingkrak bahagia.
__ADS_1
Aku tersenyum lebar. Ayah pun ikut bahagia. "Selamat ulang tahun, yah. Selamat ulang tahun, bu." Ujarku sembari memeluk mereka.