Anak Tangga

Anak Tangga
Ketangkap Basah


__ADS_3

Pagi yang cerah, langit biru yang membentang luas, dan pasar yang selalu berisik membahana--aku terjaga dari tidurku.


Lukisan Mila di kamarku seakan turut membangunkanku. Tatapan tomboi Mila di gambar itu sangat jelas mengingatkan aku bagaimana cara dia marah jika aku, Toni, dan ketiga kawannya di Sekolah Dasar tidak sesuai keinginannya. Aku terkikik dalam hati.


"Goreng pisangnya sudah siap, bu? Aki sebentar lagi mau ke pasar menyusul ayah." Di dapur yang tampak berantakan itu tidak kurang dari pasar sibuknya. Ibuku mondar-mandir.


Sesekali minyak goreng yang panas melompat ke luar, "Aduh, aduh. Panas, eh, panas. Kepala mana kepala." Latahnya. Yang dia cari penutup wajan, tapi yang disebut kepala.


"Ini, bu." Aku memberikan penutup wajan itu. Biarpun yang ibuku cari kepala, tapi aku sudah tahu dan paham apa yang dia butuhkan.


"Ini bawa ini. Biar sisanya nanti ibu yang bawa ke pasar." Jawab ibuku sembari menyodorkan piring besar yang penuh goreng pisang.


Menjadi latah cukup menguras kesabaran. Sering diolok teman sebaya, yang dibutuhkan dengan yang diucapkan sering kali berbeda, orang lain pun menjadi gagal paham. Tidak heran pula ayahku lebih sering di pasar ketimbang di rumah, ini pasti malas dengar ocehan latah ibuku. Ujarku dalam hati.


Ayah sudah sangat memahami sifat ibuku. Bahkan sebelum berjualan sayur di pasar, ayah bilang tempat pertama menguji kesabaran adalah pada ibuku. Benar saja, omelan panjang lebar ibuku setiap hari ternyata lebih pedas omelan di pasar. Begitupun beberapa ibu-ibu latah yang spontan memaki-maki ayahku padahal ayah tidak melakukan kesalahan.


"Iya, bang. Mau yang mana? Yang ini atau yang itu?" Aku baru sampai di lapak. Ayah menunjuk-nunjuk deretan sayur segar di depannya.


"Panggil saya kakak." Jawab waria, tidak terima dipanggil abang. Ayah menahan tawanya. Jelas, gelagat abang atau yang mau dipanggil kakak itu dengan dandanan menor, tapi ada jakun dan beberapa jenggot bergelantungan--menjadi pusat perhatian pengunjung pasar.


"Eke, pilih yang ini, deh, bang." Jawab waria tersebut sembari mengangkat sayur segar.


"Oh, iya kak. Saya kantongin sekarang, ya."


Di pasarlah tempat kita bertemu banyak orang, bahkan banyak karakter yang bisa saja memancing emosi kita. Ayah pernah bilang, jika tidak bisa mengontrol emosi, alangkah lebih baik berdiam di rumah. Tapi gelengan kepalaku membuat ayah yakin kalau aku bisa sepertinya.


"Yah, ini goreng pisangnya simpan di mana?"


"Simpan di sini. Kamu tunggu bentar, ya. Ayah mau ke toilet."


"Oke, siap, yah."

__ADS_1


Aku paling suka momen ini. Momen di mana aku-lah bosnya.


"Dik, goreng pisangnya masih panas, tidak?" Tanya calon pembeli.


Aku mendekatkan tanganku ke arah goreng pisang, "Masih panas, bu." Jawabku.


"Saya beli sepuluh, ya."


Tanpa ba-bi-bu, aku membungkus sepuluh goreng pisang penuh semangat, lantas memberikannya pada ibu itu. Kami bertransaksi tunai. Dari belakangku ayah ke luar menghampiri.


"Ada yang laku?" Tanya ayah setelah memastikan jumlah sayurnya masih cukup banyak.


"Gorengan ini, yah." Jawabku. Selama tamat Sekolah Dasar aku tidak ada kesempatan lagi berjualan atau menitip gorengan di kantin sekolah, di sekolahku sekarang ada aturan yang ketat melarang muridnya berjualan. Terpaksa untuk menambah pemasukan dan tabungan di celengan, ibuku menitipkan gorengannya di lapak ayah.


Tidak perlu menunggu lama, gorengan pisang ludes. Aku menyusun uang hasil jual gorengan di toples kecil. Ayah menghitung uangnya di laci, jemarinya sangat lamban menghitung uang, kedipan matanya sangat jelas menandakan bahwa dia sambil berpikir. Setelah selesai menghitung uang, ayah menatap deretan sayur yang mulai layu.


"Kita tunggu sebentar lagi." Kata ayah. Di rumah tidak ada pekerjaan lain yang dapat dilakukan, hanya di pasar inilah kami beraktivitas penuh. Berkeringat, suara serak, kaki pegal, dan mata mulai sayu. Lagi-lagi aku ingat pesan ayah yang bilang, sabar.


"Sudah, tapi masih banyak sisa sayur yang tidak mungkin kita bawa pulang."


"Kalau begitu serahkan saja padaku, yah." Mata ayah seolah meragukanku. Tapi kutepis dengan sisa suara yang kulantunkan bagai penyair puisi sedang emosi.


"Ayo ibu-ibu, bapak-bapak, dan kakak-kakak semua. Kali ini diskon besar-besaran. Balikin modal pun tidak apa daripada sayur ini kami bawa pulang. Silakan dilirik. Masalah harga bisa kita sepakati bersama."


Ibu-ibu yang lewat di depan lapak kami, sudah menjauh sekitar tiga meter, tiba-tiba memutar badannya.


"Benarkah, dik?" Tanya ibu-ibu itu.


"Iya, bu. Mau beli semuanya? Kalau beli semuanya saya kasi potongan spesial."


"Boleh, berapa total lima ikat ini."

__ADS_1


Aku menyadari tatapan ayah sedari tadi mengingatkanku untuk tidak memberi harga jauh dari kesepakatan kami dengan pak Tibet. Keuntungan kami sebagai penjual sebanyak dua puluh persen, dalam hati kuhitung secara detail.


"Balikin modal saja, bu. Lima ribu semuanya."


Ibu-ibu itu langsung tersenyum bahagia. Buru-buru membongkar isi dompetnya seakan sedang mengantre sayur murah ayahku, takut tidak kebagian.


"Ini, ambil saja sisanya." Tanda sepakat dengan cara transaksi tunai; aku menyerahkan kantong plastik berisi sayur segar, ibu itu menyodorkan uang ke ayahku, masih ada sisanya dua ribu rupiah, ibu itu menolak kembaliannya. Penuh semangat, ayah menyambar uang itu, ternyata ayah sepemikiran denganku. Gumamku dalam hati, tidak ada bantahan atau penolakan.


"Bagaimana?" Tanya ibuku setiba kami di rumah.


"Laris manis, bu."


Ibuku masih tidak percaya padahal baskom yang kubawa kuputar-putar, jelas bahwa tidak ada goreng pisang yang tersisa.


"Pasti kalian yang menghabiskannya." Tuduh ibuku.


Aku menggeleng hebat, lantas menyerahkan uang yang sudah kususun rapi, barulah ibuku percaya.


"Cukuplah untuk jajanmu besok." Aku membelalakkan mataku ke arah ibu, menggeleng tidak setuju.


"Ambil ini. Kalau tidak mau membelanjakannya, kamu tabung saja di celengan atau di tabungan sekolah." Saran ibuku berusaha membujuk aku untuk mengambil tiga lembar uang seribuan itu.


"Asal jangan beli barang tidak berguna." Lanjutnya. Aku tidak menolak kali ini. Kalau sempat menolak, maka siap-siap mendengar ceramah panjang lebar atau omelan setinggi tower sinyal yang siap dikumandangkan.


Barang tidak berguna? Aku ingat beberapa hari lalu Budi ketangkap basah oleh ibu pemilik indekosnya. Kata ibu kos, ternyata yang mencuri bunganya selama ini adalah Budi. Diam-diam Budi membawa bunga-bunga ibu kos ke luar. Lalu dijualnya. Yang membuat ibu kos marah besar, hasil menjual bunga tersebut digunakan Budi dan kawan-kawannya untuk membeli rokok.


Pantas saja dari kemarin Budi tidak masuk sekolah. Ibu kos mengusirnya.


"Dia berhenti sekolah, Ki." Ujar salah satu teman sekelasku pagi ini. Katanya Budi menghubungi dia lewat ponselnya bilang kalau Budi sudah di kampung sebentar lagi akan merantau di kota. Budi tidak ada pilihan lain, maka tujuan utamanya kalau tidak lanjut sekolah hanyalah bekerja.


"Sayang sekali, padahal dia pintar kan, Ki." Tanya salah satu di antara mereka. Aku mengangguk. Memang Budi cukup pintar, dia dapat peringkat unggulan semenjak aku dan Randi tidak lagi di sekolah lama. Budi menyia-nyiakan kesempatan semasa mudanya. Dia lebih memilih berhenti sekolah setelah banyak kasus yang berhasil membuat dia pesimis dapat naik kelas.

__ADS_1


Selama ini Budi seolah memusuhiku, kadang di kelas kami tidak teguran. Aku dengar dari teman sekelasku, Budi begitu karena masih marah padaku gara-gara tidak ikut bergaul dengan kedua temannya.


__ADS_2