
Lukisan Mila kupajang di kamarku. Benar. Kalian tidak salah dengar kalau aku sekarang sudah berani tidur sendiri. Bayangan yang sempat menghantuiku yang orang dewasa bilang hanya halusinasi, kini telah sirna. Keramaian di sekitar kontrakan dan pak Tibet yang sering berkunjung sekalian membawa sayur, justru membuat aku tidak kesepian, rasa takut itu hilang dengan sendirinya.
Ayah sempat menertawakan aku yang tampak culun di lukisan tersebut. Toni tahu dari teman Mila kalau aku membawa lukisan Mila diam-diam. Kemarin siang sebelum ke kota, Toni menyempatkan waktunya singgah di kontrakan kami. Toni mengingatkan aku untuk menjaga lukisan tersebut, kenang-kenangan kita, Ki. Katanya sembari tersenyum manis.
Di kelas tujuh pagi ini, aku bertemu banyak murid baru. Beraneka macam raut wajah mereka, ada yang sedang bahagia, bingung, dan sedih karena harus berpisah dengan sahabat Sekolah Dasar-nya dulu. Seperti aku yang saat ini duduk sendiri di meja depan. Termangu-mangu seakan menunggu seseorang memanggil namaku.
Ruang kelas kami bersebelahan dengan kantor sekolah, jadi tidak ada yang berani ribut apalagi berteriak. Aku tetap konsisten memilih tempat duduk paling depan.
Sekolah kami tidak jauh dari pasar tempat ayahku berjualan. Sebelum ke sekolah, tentunya aku melewati lapak ayah terlebih dahulu. Tadi ayah memberi aku uang jajan dua ribu rupiah. Dulunya tiga atau lima ratus rupiah sudah cukup untuk uang jajan di kantin sekolah. Tapi sekarang, lima ratus rupiah hanya dapat goreng pisang dan bakwan, sedangkan bubur harganya seribu tapi setengah mangkuk, dua ribu kalau mau penuh.
Pendapatan ayah pun tidak stabil, naik-turun. Banyak pembeli yang mengeluh harga sayur semakin mahal. Pak Tibet pun mengeluh serangan hama yang sulit diberantas. Bahkan petani-petani sayur yang lain sempat gagal panen. Untungnya pak Tibet tidak kehabisan akal. Pak Tibet merawat kebunnya secara intensif. Saat petani banyak yang gagal panen, di saat itulah keuntungan pak Tibet bertambah berkali lipat. Dulu, uang seratus ribu sama halnya dengan uang satu juta. Tapi sekarang, menghabiskan uang satu juta lebih cepat daripada mengumpulkannya.
Daftar sekolah bulan lalu hampir saja memaksa ayah dan ibu menguras celengan mereka. Tapi berkat tabunganku di Sekolah Dasar, yang disambut dengan senyum manis oleh mereka, akhirnya berhasil membuat aku duduk dengan bangga di kursiku saat ini.
Matahari semakin memanas, cahayanya yang terik berusaha menerobos masuk ke dalam kelas. Aku menggeser kursiku, menghindari cahaya tersebut yang nyaris menyentuh kulitku.
Aku melihat di ambang pintu masuk ke kelas tujuh, ada seorang remaja laki-laki yang perangainya seperti Budi kecil. Aku tidak bisa lupa nama Budi, nama yang bisa kita temukan hampir di setiap halaman buku Bahasa Indonesia itu seketika terlintas di benakku.
Ruang kelas berisik, seketika mereka berebut kursi dan meja. Tapi di antara mereka ada yang menempelkan jari telunjuk di bibir, ingat kalau kelas kami bersebelahan dengan kantor sekolah. Di antara mereka ada yang sedang mencari teman sebayanya, membentuk geng, dan ada pula yang bertanya dari mana, indekos di mana, dan pakai apa di sekolah. Aku yakin yang ditanyai indekos di mana itu adalah mereka yang tempat tinggalnya jauh dari Sekolah Menengah Pertama. Aku ingat, kalau tidak Budi, tentu itu Randi. Sontak aku menoleh ke belakang. Benar saja. Dia bilang dirinya berasal dari Trans Prompong, indekos tidak jauh dari pasar.
"Kamu Budi, kan?" Aku menghampirinya di pojok kelas--posisi tempat duduk favorit Budi dan Randi di kelas satu dulu.
"Iya, saya Budi. Kamu siapa?" Dalam hati aku berpikir kalau aku salah orang, buktinya dia bertanya balik padaku.
Sejauh ini aku merasa diriku sudah banyak mengalami perubahan fisik. Kumis yang mulai tumbuh, jakun yang mencuat, suara keras, dan tubuh yang sedikit lebih berisi. Tapi rambut ikalku tentu akan mengingatkannya. Aku yakin dia Budi.
"Aku Aki. Dari Sekolah Dasar Trans Prompong. Tapi naik ke kelas tiga aku pindah sekolah." Dia langsung membuka matanya lebar-lebar, kaget.
__ADS_1
"Aki." Budi memutar-mutar tubuhku. "Apa kabar kamu, Ki. Sudah banyak yang berubah darimu, ya." Dia menyalamiku. Kami berdua tersenyum bahagia.
Aku menarik ke atas rambut ikalku, Budi tertawa ringan. "Iya, aku baru ingat sekarang." Ujarnya.
"Setahuku kamu memang pelupa, Bud." Aku terkekeh pelan.
"Iya, Ki. Tapi sejujurnya aku tidak begitu. Perubahanmu ini, loh. Beda jauh sekali dari kelas satu dulu."
"Sudah empat tahun lebih, Bud." Jawabku setelah menghitung tahun terakhir bertemu dengan Budi.
"Oh, iya. Aduh, tidak menyangka, ya, kita bisa satu kelas lagi."
"Aku sudah menduga kamu akan di sekolah ini." Terkekeh pelan.
"Tapi bagaimana kamu tahu." Budi menunjuk dadanya.
Budi juga mengalami perubahan fisik yang cukup signifikan. Dari cara dia menatapku, cara dia berucap, hingga menjawab pertanyaanku pun berubah. Dia menjadi remaja yang bersifat dewasa. Menurutku, dewasa seiring berjalannya waktu akan menjadi keniscayaan. Aku yakin tidak sedikit orang dewasa ingin kembali ke masa remaja bahkan kanak-kanak. Aku pun merasakannya walaupun baru di fase remaja saat ini. Aku ingin rasanya kembali ke masa kecilku, meskipun masa kecilku dulu tidak lebih baik dari sekarang.
"Oh, iya. Di mana Randi? Bukannya kalian berdua bagai kakak-beradik?" Imbuhku sembari terkekeh pelan.
Wajah Budi berubah seketika. Dia menundukkan kepala. Aku masih menunggu jawabannya.
"Ra--Randi." Ucapnya terbata-bata. "Meninggal, Ki. Usianya sepuluh tahun. Terbentur di lantai sewaktu dia masih kecil dulu menjadi tumor ganas. Dia tidak bisa diselamatkan, Ki." Budi samakin mendudukkan kepalanya, masygul.
Aku terperanjat kaget. Kalau orang yang serangan jantung mungkin langsung tersungkur di lantai. Aku ingat dulu waktu kami kelas satu, Randi pernah cerita kalau dirinya sempat terbentur di lantai. Aku mengira itu terbentur biasa. Bahkan dua tahun satu kelas dengan Randi aku tidak melihat perubahan sedikit pun dari dia. Hanya sifatnya yang agak temperamen, mudah terpancing emosi, gegabah, dan sering kali tidak nyambung dengan topik pembicaraan kami. Hanya itu yang aku tahu. Dan itu biasa.
Aku tidak bergeming beberapa detik lamanya. Sungguh, aku terpukul, kaget tidak kepalang.
__ADS_1
Belum sempat aku mengucapkan kata berbelasungkawa, tiba-tiba bel sekolah berbunyi nyaring. Budi buru-buru mencari topi dan dasinya, dia memasangnya sembarangan, serong ke kiri.
"Begini, Bud." Aku mengajarinya. Sementara murid yang lain berhamburan ke luar kelas. "Aku sangat menyesal tidak tahu kalau hal itu terjadi." Ujarku sembari membantu Budi memasang dasinya. Aku melilitkan dasi ke leher Budi, mengikatnya, lantas menyintaknya pelan. Budi diam seribu bahasa. Dia pasrah, kalaupun dasi tersebut mencekiknya, mungkin Budi tidak melawan.
Kami berbaris di halaman sekolah. Upacara bendera setiap hari Senin selalu menjadi hari pembuka bagi murid di sekolah barunya.
Setelah satu jam berselang, upacara bendera berakhir, "Kalau Aga bagaimana kabarnya, Bud? Kamu pernah bertemu dengannya, kan?" Tanyaku sembari menyusuri selasar sekolah menuju ke kelas tujuh. Budi di sampingku. Sedari tadi tidak ada yang di dekatnya selain aku. Upacara bendera hari ini berhasil menumbangkan dua siswi sekaligus. Mereka pingsan efek teriknya matahari, dan kata sambutan Kepala Sekolah yang panjang lebar.
"Kalau Aga baik-baik saja kabarnya. Aku sering melihat Aga di toko pak Tibet." Jawab Budi. "Kami tidak pernah komunikasi, Ki. Aku dan Aga dibatasi oleh waktu, sibuk." Imbuh Budi, nelangsa.
Memang yang kudengar dari pak Tibet, bahwa Aga menjadi tulang punggung keluarganya saat ini. Memang menjadi tulang punggung tidaklah mudah. Banyak beban-beban rumah tangga yang ditanggung sendiri. Bahkan seseorang rela mengorbankan hidup dan masa depannya demi keluarga. Tidak heran kalau Budi merasa kesulitan berkomunikasi dengan Aga. Aku memahaminya.
"Bud," panggilku sembari senyum malu. "Kamu tahu Nina lanjut sekolah di mana?" Tatapan Budi sangat jelas mengolokku.
"Sayang sekali, Ki. Nina tidak di sekolah ini." Budi terkekeh pelan.
"Urusan ngolok teman nomor satu." Protesku.
Enam tahun di Sekolah Dasar, hanya Budi yang satu kelas denganku di Sekolah Menengah Pertama. Bahkan Budi yang awalnya duduk di pojok, seketika pindah ke depan. Kami duduk berdampingan meski tidak satu meja. Jarak kami sekitar setengah meter, tidak membuat kami tuli untuk merespon jika salah satu di antara kami berdua mengajak berbincang.
"Kamu tahu aku peringkat berapa kelas enam kemarin?" Tanya Budi sembari mendekatkan wajahnya, berkata pelan. Guru di depan kami sedang menulis materi.
"Sepuluh besar?" Aku menjawab, lantas lanjut menulis.
"Satu." Intonasi suara Budi dia tekan sedikit.
Aku memutar kepala ke samping, Budi tersenyum bangga.
__ADS_1
"Wow. Selamat, ya." Aku menyalaminya. Kami berdua buru-buru menarik tangan ketika guru di depan memutar badan, menghadap ke kami.