Anak Tangga

Anak Tangga
Bongkar Celengan


__ADS_3

Ibuku bahagia tidak kepalang, "Apa kubilang, anak kita pasti lolos seleksi." Ujarnya penuh semangat.


"Syukurlah kalau begitu." Ayah merespon ala kadarnya.


"Bagaimana kamu ini, anak kita lolos seleksi malah tidak semangat begitu." Ibu komplain.


Ayah memang dari awal aku ujian tertulis ke kota, hingga saat ini tampaknya tidak terlalu bersemangat. Berbeda dengan ibuku yang berkali-kali bertanya, kamu tidak salah baca, kan? Aku mengangguk lentur. Kalau punya tenaga mungkin ibu akan melompat setinggi-tingginya, kegirangan.


"Bukan begitu." Jawab ayah pelan, meneguk kopinya. Seakan berpikir keras, ayah melulur kopinya ke tenggorokkan sangat lembut.


"Lalu kenapa? Banyak yang gugur seleksi, anak kita salah satu di antara yang lolos itu. Beruntung loh. Apalagi tempat kuliahnya terkenal. Univertitas. Eh, apa namanya?"


"Universitas, bu." Jawabku membenarkan ejaan ibuku.


"Oh, iya. Universitas. Kamu tahu, kan, bagaimana rasanya cuman Sekolah Dasar. Ini, anak kita akan lanjut ke uni-ver, aduh, susah benar nyebutnya."


"Bu, ingat." Celetukku mengingatkan ibu.


"Oh, iya. Aku lupa. Aku diam." Ujarnya setelah ingat perjanjian tanpa ada omelan.


"Ayah bangga padamu, nak. Dari kelas satu, sampai sekarang kamu tetap membuat ayah bangga, sekalipun kamu tidak dapat peringkat di sekolah--ayah tetap bangga. Kamu rajin bantu kami, bahkan ayah sampai detik ini tidak pernah mendengar kamu mengeluh. Padahal ayah tahu persis berapa uang jajan teman-temanmu di sekolah. Ayah tahu persis berapa sering orang tua mereka mengambil rapor anaknya. Tapi sepatah kata keluhan pun tidak pernah ayah dengar. Kecuali dulu, waktu kamu kelas satu." Ayah terkekeh pelan.


Aku tersipu malu, "Angsa pak Tibet." Kataku melanjutkan kalimat ayah.


"Iya, cuman dikejar angsa pak Tibet kamu ada mengeluh." Ayah meneguk kopinya lagi, masih dengan tegukkan yang sama, penuh pertimbangan.


"Lalu apa yang kamu pikirkan, tampaknya sedikit keberatan." Ibu nimbrung. Telunjuk kananku membuat ibu terdiam, ingat perjanjian.


"Kamu tahu, nak. Ayah hanya kuli pak Tibet. Setiap hari kerjaan ayah berjualan sayur di pasar. Tidak banyak keuntungan yang bisa ayah bawa pulang ke rumah. Paling lima puluh, seratus, kadang seratus lebih. Itu pun tidak cukup untuk keperluan kita sehari-hari, belum lagi biaya kontrakan kita."


Aku menunduk sangat dalam, khusyuk mendengarkan kata per kata dari mulut ayah. Aku ikut memikirkan apa yang mengganjal di kepala ayah saat ini. Sebelumnya aku sudah bilang pada mereka kalau aku mau bekerja, tidak ingin lanjut kuliah. Sampai bernazar pada ibuku, ini gara-gara ibu yang seolah menambah beban di pundak ayah.

__ADS_1


"Tapi kamu sudah lolos seleksi. Bagaimana pun juga ayah akan mencukupkan semua kebutuhanmu di sana."


"Dia dapat bantuan, yah. Biaya kuliahnya, dan biaya hidup ditanggung pemerintah. Bukan begitu, nak?" Ibu berusaha menyakinkan ayah.


"Iya, bu." Jawabku pelan. Ayah mengangguk.


Ayah meneguk sampai habis kopinya, "Apa kamu siap?"


Mata ibu bersinar, pantulan lampu listrik membuat aku paham betul maksud dari tatapan itu. Belum lagi pesan dari bu Desi yang berkali-kali mengucapkan selamat dan semangat.


Aku menarik napas, "Siap, yah." Menghembuskan napas, pelan. Ibu tersenyum lega.


"Oh, iya. Aku baru ingat. Kita masih punya celengan." Kata ibuku. Secepat kilat melangkah ke kamar, dengan susah payah mengangkat celengannya ke ruang tengah. Aku turut membantu ibu, memang berat luar biasa.


"Siapa tahu ini cukup untuk berangkat ke kota dan biaya makan selama beasiswa belum cair." Ujar ibuku sembari memburu napas.


Ayah beranjak dari tempat duduknya menghampiri celengan, "Perlu waktu lama untuk menghitungnya." Terkikik pelan. Aku setuju dengan yang ayah bilang barusan. Isi celengan tersebut tidak lain dari bongkahan besar uang logam yang jika ditimbang ada hampir sepuluh atau mungkin belasan kilo.


Ayah bersusah payah membuka celengan, melepaskan setiap paku yang menempel di sudut-sudutnya, sudah berkarat sedikit. Beberapa hentakkan tangan kuat ayahku berhasil membuka celengan tersebut.


"Aku lupa tahun berapa. Seingatku ini sudah ada sejak Aki pindah sekolah di sini." Jawab ayah.


Aku menunduk di depan celengan, menggenggam erat beberapa uang logam. "Ibu yakin uang sebanyak ini untuk kuliahku?" Menengadah ke ibu.


Ibu ikut menunduk di depan celengan, "Iya, ibu yakin."


"Bukannya ibu pengen beli pakaian baru? Ayah juga pengen, kan, beli radio baru?" Aku terkikik pelan.


Ibu terdiam sejenak, "Ini memang untukmu, nak." Memutar celengan itu, memperlihatkan tulisan, untuk sekolah Aki. Tulisan itu telah usang. Bahkan lubang celengan yang dulunya kecil, kini sudah membesar.


"Pasti ada yang korek-korek uang di dalam celengan ini, kan?" Tanyaku mengolok.

__ADS_1


Ayah terkekeh, "Dua kali." Jawabnya.


"Aku lupa berapa kali." Ibu pun mengaku.


Aku tersenyum, memaklumi, "Kita hitung uang ini, bu. Kalau ada lebihnya nanti untuk beli yang lain." Ujarku menyemangati ibuku.


"Bagaimana kota itu, nak? Apa di sana lebih berisik dari kita di sini?" Tanya ibu sembari menyusun uang logam. Ayah pun ikut andil, sesekali mengucek matanya yang tampak sayu.


"Seru, bu. Di sana berisik tapi tidak seperti di sini yang berteriak-teriak. Di sana berisiknya karena kendaraan yang lalu-lalang. Lampu jalan pun terang benderang. Rumah bu Desi bagus, bu. Aku makan enak selama di rumahnya."


"Tapi kamu tidak selamanya tinggal di rumah bu Desi, kan?" Tanya ayah.


"Sebentar saja, yah. Kalau sudah masuk kuliah nanti aku cari indekos yang dekat dengan kampus."


Ayah mengangguk, "Aduh, berapa ini tadi. Jangan campur di sini, dong. Ini udah aku hitung." Tolak ibuku, hitungannya buyar, ayah menyusun uang logam di sembarang tempat.


"Iya, maaf." Ayah terkekeh. "Kopi enak, nih." Kode rumah tangga. Baru saja menghabiskan segelas kopi barusan, ayah sudah menagih lagi. Ibu tampak pusing menghitung uang sebegini banyaknya. Lantas menyerah, lebih memilih ke dapur membuat kopi untuk ayah.


"Kalau kuliah nanti jangan keluyuran, cari teman yang benar. Jadikan contoh beberapa temanmu yang pernah gagal sekolah. Hemat-hemat, beli kebutuhan terlebih dahulu. Di sana kamu akan bertemu banyak hal baru, apalagi belum tahu bagaimana rasanya indekos. Ayah ini sudah merasakannya, dan lebih menantang ketika uang habis, beras habis, dan tidak ada tempat meminjam. Kalau kuliah di sana jangan terlalu khawatirkan kami di sini. Kami baik-baik saja. Kalau ada apa-apa kami masih punya tetangga, pak Tibet dan yang lainnya. Beda halnya kamu di sana. Tetangga bahkan teman satu indekos sekalipun tidak mau menolong kalau sudah keseringan." Tumpukan uang logam ayah meninggi, ibu menghampiri kami di ruang tengah dengan segelas kopinya.


Aku menatap lamat-lamat di antara tumpukan logam di dalam celengan. Uang logam berwarna kuning dan putih, membaur dengan secarik benda aneh seolah bersinar di mataku.


"Apa ini." Kataku sembari mengangkat benda tersebut. Bentuknya seperti kertas yang digulung-gulung. Aku membukanya, cahaya matahari yang masih terik bersinar di luar sana berhasil menyinarinya.


"Oh, iya. Aku baru ingat sekarang." Ibu menyambar kertas itu dari tanganku. "Ini amplop pak Tibet. Coba cari lagi, hampir setiap dua bulan sekali pak Tibet izin padaku memasukkan amplop ini."


"Apa isinya, bu?"


"Uang." Ibu buru-buru menyobek sedikit amplop itu. "Tiga ratus ribu." Serunya penuh antusias.


Aku menemukan hal serupa, ayah pun demikian. Ada banyak. "Sembilan, sepuluh." Hitungku.

__ADS_1


Ada sepuluh amplop. Ibu membukanya satu persatu. Uang dalam amplop tersebut bervariasi. Satu di antaranya berisi satu juta rupiah.


"Ini cukup, yah. Sisanya bisa beli pakaian dan radio." Ujarku.


__ADS_2