
"Where is he?" Tanya pak guru di awal mata pelajaran bahasa asing, bahasa yang wajib diketahui semua penduduk di atas bumi ini.
"Saya tidak tahu, pak." Jawabku dengan bahasa yang mudah dimengerti. Sedari tadi teman sekelasku mengangguk-angguk setiap kali pak guru berbicara, melanturkan kata-kata yang bagi kami luar biasa. Tidak terlalu mahir, tapi untuk tahu sedikit aku bisa walaupun lidahku belibet setiap kali mengucapkan bahasa itu. Maka aku lebih memilih berbicara dengan bahasa sehari-hari. Yes, dan No, kata paling cepat dan penuh semarak yang kami ucapkan ketika pak guru menekan nada bicaranya sembari menatap kami, meminta pendapat.
"Bukannya kamu sahabat dekatnya?" Tanya pak guru, kalimat tanya yang cukup panjang tentunya sulit untuk kami mengerti jika menggunakan bahasa lain.
"Iya, pak. Tapi selama ini saya tidak pernah melihatnya lagi." Jawabku.
"Baiklah." Pak guru lanjut memanggil satu per satu nama murid di kelas tujuh. Nama yang terpanggil lantas mengangkat telunjuk kanan mereka sembari bilang, yes, sir--pak guru buru-buru mencoret buku daftar hadir.
Sudah tiga kali berturut-turut Budi tidak hadir di pelajaran bahasa Inggris. Seminggu ini budi tidak masuk kelas. Ini artinya, Budi sudah banyak ketinggalan mata pelajaran. Hanya saja guru yang lain tidak terlalu peduli tidak seperti guru bahasa Inggris kami.
Beberapa hari belakangan, aku menyempatkan waktu mampir di indekos Budi walaupun tidak mendapatinya. Sebelum aku mengedor pintu kamarnya, Budi sudah keluar. Dua buah sepeda motor yang biasanya terparkir di depan indekosnya, kini lenyap entah ke mana. Bahkan ibu pemilik indekos pun tidak tahu ketika kutanyai, dan malah mengomel karena semenjak mereka indekos di sini banyak bunga yang hilang kata ibu pemilik indekos tersebut.
"Kalian jangan sampai alpa, kecuali izin karena sakit. Ingat, sekolah ini sekali seumur hidup. Kalau pun kalian sekolah sampai di usia tua, kalian tidak akan bisa merasakan momen yang sama ketika masih muda." Pak guru mengingatkan kami.
Tiga bulan di kelas tujuh, pada bulan pertama dan kedua tidak ada satu murid pun yang alpa dan bolos sekolah. Tapi di bulan ketiga, belum tahu bulan berikutnya--sudah lebih dari lima murid yang alpa, dan dua murid yang izin. Pak guru menggeleng hebat melihat buku daftar hadirnya.
"Setahuku Budi berteman dekat dengan salah satu abang senior kita. Aku pernah melihat mereka di hutan." Ujar salah satu teman sekelasku ketika mata pelajaran bahasa Inggris berakhir. Mereka mengerumuni meja tengah, sibuk membahas Budi.
__ADS_1
"Iya, aku juga pernah melihatnya melaju mengendarai sepeda motor." Suara kedua mengimbuhi.
"Agaknya anak itu tidak ada niat lagi sekolah." Ujar yang lainnya.
Aku menyimak dari depan. "Ki, bagaimana menurutmu?" Tanya mereka.
"Aku belum bisa memberi pendapat. Kita belum tahu alasannya alpa kenapa." Jawabku sembari menoleh ke belakang.
Begitupula mata pelajaran berikutnya, nama Budi yang dipanggil setelah namaku di urutan kedua, selalu merubah intonasi suara setiap guru, diulang berkali-kali hingga tidak ada jawaban, barulah kemudian guru melanjutkan.
Budi menjadi perbincangan hangat di antara teman sekelasku yang pria. Mereka sempat melihat Budi merokok di luar sekolah. Dalam hati aku bersyukur mereka tidak melihat aku kala itu.
Ada juga yang bilang Budi sempat ugal-ugalan. Aku yakin Budi akan begitu karena dia baru saja bisa mengendarai sepeda motor tidak lama dari kasusnya belakangan ini, kasus alpa berkepanjangan.
"Aku lihat kamu sempat gabung bersama mereka." Ujar teman satu kelas di sebelah kiriku.
"Iya, bukannya dulu kalian sangat akrab. Kamu sering boncengan dengan mereka. Awalnya aku iri kamu bisa berteman dengan abang senior. Kita, kan, tahu sendiri di sekolah ini senioritas itu masih ada." Ujar suara kedua. Nada bicaranya terdengar agak kesal.
Memang benar katanya, senioritas. Di antara mereka ada yang dijahilin senior sampai ketakutan. Diejek, disuruh beli barang yang mahal seperti rokok, dipaksa kalau tidak mau, dimarahin dan dibentak kalau melawan. Setiap kali melihat senior pria berkumpul di selasar sekolah, mereka selalu menghindar lewat ke selasar yang lain, atau jika tidak mereka menunggu hingga selasar lenggang. Wajar saja mereka sempat kagum padaku, apalagi Budi karena kami berdua sudah akrab dan mengenal senior lebih dulu.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk pelan mendengar ocehan mereka. "Selama ini mereka baik padamu, kan, Ki?" Tanya salah satu di antara mereka.
Aku mengangguk. Aku tahu ini pertanyaan semi jebakan. Kalau aku jawab, iya, interogasi akan diperpanjang. Jika aku jawab, tidak, maka aku harus pikirkan alasannya lebih detail.
"Mereka sama seperti kita. Hanya saja perbedaan usia yang membuat mereka lebih dulu di sekolah ini." Jawabku. "Baik jahatnya orang tergantung dari kita. Menurutku mereka sama dengan kita. Kadang bisa baik, kadang bisa jahat." Aku memutar-mutar jawabanku, menghindari bantahan mereka, mengambil jalan tengah agar tidak ambigu dan memicu mereka bertanya kembali.
"Ada benarnya juga." Ujarnya setuju.
Aku keluar kelas, menuju perpustakaan. Tempat paling nyaman, tenang, dan tepat untuk mencari jawaban soal. Mereka sering bertanya kenapa aku hobi di perpustakaan? Jawabanku tetap sama, karena aku tidak tahu harus bertanya ke siapa.
Mudahnya mereka yang memiliki ponsel, yang bisa terhubung ke internet. Walau kadang-kadang ada razia di sekolah, mereka dengan penuh tipu daya mengkamuflasekan ponsel mereka di dekat sekolah dan tempat lain yang mereka yakini aman. Meski ada juga yang ketangkap basah, terpaksa hari berikutnya menyibukkan orang tua mereka ke sekolah.
Aku boro-boro ada ponsel, kalkulator saja sampai detik ini masih kalkulator manual yang dulu dari lidi kelapa, sekarang dari kesepuluh jari tanganku. Trik perkalian yang sempat aku baca dari buku Rian tiga minggu yang lalu kini sangat membantu. Buku itu belum kukembalikan, aku belum bertemu Rian.
"Mau pinjam buku yang mana, dik?" Tanya petugas perpustakaan.
Aku menyodorkan beberapa buku tebal ke petugas tersebut, "Maaf, kamu hanya boleh meminjam buku. Tiga buku lainnya silakan kembalikan ke tempat semula." Ujarnya.
Aku kembali ke rak buku setelah menyeleksi beberapa buku yang akan kupinjam. Di dekat perpustakaan ada kantin sekolah, sungguh kantin yang sangat ramai dibandingkan perpustakaan ini. Atau karena aku tidak punya uang jajan? Gumamku dalam hati.
__ADS_1
Selama kelas tujuh, aku tidak tahu bagaimana caranya meminta uang jajan. Apalagi semenjak lapak ayahku sepi pembeli. Saingan semakin banyak. Pak Tibet semakin jarang di kontrakan. Alasannya salah benih sayur, salah pestisida, pupuk, bahkan salah Aga.
Pak Tibet bilang dengan terpaksa mengizinkan Aga mengurus kebunnya. Mulai dari penanaman, perawatan, hingga panen; Aga dan beberapa karyawan pak Tibet lainnya yang berpengalaman tapi teramat tua, cukup telaten membantu pak Tibet. Tapi sayangnya Aga baru usia belasan sudah harus memikul keranjang panen, dan mengais-ngaiskan cangkul. Aga sering melakukan kesalahan, itulah yang membuat sayur pak Tibet hanya bisa panen ala kadarnya.