Anak Tangga

Anak Tangga
Semester Pertama


__ADS_3

Sejak aku tahu akun facebook Nina, seakan hari-hariku menjalani semester pertama kuliah terasa lebih ringan. Meskipun aku harus melewati masa-masa pengenalan kampus, yang menurutku lebih pada pengenalan senior--di sini aku pertama kalinya merasakan didikan militer. Bangun subuh, tidak boleh telat dari jam kampus. Kalian tahu apa yang dimaksud jam kampus? Jujur aku pikir jam kampus sama dengan jam ponselku. Sekalipun aku datang tepat jam lima subuh sesuai jadwal, tapi jam kampus yang cuman mereka di kampus yang tahu--aku tetap dihukum jalan merangkak, push-up, sesekali dibentak. Di sinilah sifat culunku mulai luntur. Tiga hari lamanya pengenalan kampus, rasanya seperti tiga tahun. Bahkan jam-jam makan siang menjadi momen berharga yang kutunggu-tunggu dengan tidak sabaran.


Kalian pasti pernah mendengar aturan senior yang terdiri dari dua pasal seperti ini: pasal pertama, senior tidak pernah salah. Pasal kedua, kalau senior salah kembali pada pasal pertama. Artinya senior tidak akan salah dan tidak bisa disalahkan, alhasil hukuman demi hukuman berturut-turut kuterima.


"Bagaimana ospeknya?" Tanya Nina malam ini, nyaris tidur awal, tapi pesan singkat dari Nina membuat mataku kembali bersemangat.


"Kalau ada ospek lanjutan sepertinya aku akan pulang kampung, Nin." Balasku cepat sedikit memberinya emotikon tertawa.


"Kami pun begitu dulu. Tapi seru, kan?"


"Seru, aku tidak akan pernah melupakannya dan melupakanmu." Mungkin kalau aku indekos dengan beberapa kawan sekamar, mereka akan keheranan dan langsung menghindar setelah melihat aku seperti orang gila yang tersenyum-senyum sendiri. Untungnya saat ini aku masih numpang di rumah bu Desi yang tidak terlalu jauh dari kampus, lima belas menit jika jalan kaki. Memang ada rencana mau indekos, meskipun bu Desi menawariku sampai tamat kuliah tinggal di rumahnya. Tapi lima belas menit jalan kaki rasanya lumayan melelahkan. Kebetulan di dekat kampus ada rumah susun khusus untuk mahasiswa, tapi belum sekarang, aku belum menemukan teman untuk satu kamar.


"Yang benar? Bukannya kamu tahu dari Aga kalau ini akun facebook-ku?" Nina mengolokku dengan emotikon menjulurkan lidah.


"Iya, maaf. Lagian nama akunmu beda dengan yang aku tahu. Eh, ngomong-ngomong ada waktu ketemuan tidak?" Ingin rasanya merdeka setelah tiga hari dikurung dalam kandang serigala.


"Aku banyak tugas, Ki. Nanti aku kabarin, ya." Balas Nina. Aku tidak bertenaga lagi untuk membalas pesannya. Seketika mataku terkatup lemah.


Esok harinya, "Selamat pagi, Ki. Semalam ketiduran, ya?" Pesan Nina dua menit lalu. Ponsel benda paling pertama yang aku cari setiap pagi, dulu tidak begini, semenjak dekat dengan Nina aku rasa ponsel segalanya. Aku lebih bersemangat memengang ponselku ketimbang buku. Meskipun buku di tangan kiriku yang seketika aku baca saat bu Desi mengetuk pintuku menawari makan, tapi kuletakkan lagi ketika bu Desi menjauh.


"Iya, Nin. Aku ketiduran. Tiga hari ospek ternyata cukup menguras tenaga." Tidak perlu waktu lama, pesan singkatku langsung terkirim ke ponsel Nina. Secepat kilat pula Nina membalasnya.


"Okelah, kalau begitu istirahatlah. Kalian belum masuk kuliah, kan?"

__ADS_1


"Belum. Nanti kalau sempat kabarin, ya. Sudah lama kita tidak bertemu." Balasku. Penasaran sekaligus rindu senyum Nina yang separuh dari senyum itu dihiasi lesung pipitnya.


"Iya, Ki. Istirahat-lah."


Aku menutup ponselku, mengisi dayanya, menuju ruang makan. Bu Desi sudah menyiapkan sarapan untukku pagi ini. Bu Desi sangat baik, ramah dan perhatian. Aku banyak berutang budi padanya. Saking banyaknya aku tidak ingin lama-lama menumpang di rumahnya, terlalu merepotkan, gumamku dalam hati.


Hingga tiba waktunya aku akan menemui Nina, "Di Taman, aku berangkat sekarang." Jawab Nina.


Aku buru-buru mandi dan mengenakan pakaian rapi, saat ini aku indekos di dekat kampus. Memang bagian ini banyak cerita yang aku persingkat, cerita lengkapnya ada pada novel yang berjudul "4 Tahun".


Langkah kakiku semakin cepat setelah mendapatkan pesan baru dari Nina, "Aku sudah sampai di taman. Kamu di mana?" Tanyanya.


Aku sengaja tidak menjawab pesannya, hingga lima menit sedari pesan Nina--aku tiba di taman, napas semakin memburu udara, kencang.


"Aku baru sampai, Nin. Kamu masih di tamankah?"


"Kamu di seberang, ya? Aku di taman yang banyak merpatinya." Jawab Nina. Kalau saja aku punya kendaraan, tanpa pikir panjang dan banyak alasan mungkin aku langsung menghampiri Nina di seberang sana.


"Iya, Nin. Aku dekat gazebo. Aku tunggu di sini, ya. Soalnya ponselku sebentar lagi padam, baterainya sisa sedikit." Alasanku, tapi memang benar, baterai ponselku cepat habis. Maklum ponsel bekas, ini pun syukur telah membantu aku menghubungi bu Desi, dan Nina.


Untung saja aku cepat menekan tombol kirim, kalau tidak; mungkin malam ini pertemuanku dengan Nina batal.


"Kamu Aki, kan?" Tanya wanita berlesung pipit itu, dia menghampiriku dengan teman wanitanya.

__ADS_1


Aku beranjak dari tempat duduk, "Iya, benar. Kamu Nina?"


"Iya, kamu tidak ingat aku. Tapi perubahanmu sangat drastis, Ki." Jawabnya.


"Kamu pun sudah banyak berubah, Nin. Semakin cantik." Rayuku dengan intonasi suara mengecil, tapi senyuman teman Nina menunjukkan bahwa dia mendengar rayuanku. Nina pun tersipu malu.


"Gombal. Lantas mau ke mana kita?"


"Aku juga tidak tahu, Nin. Ini pertama kalinya aku di sini. Kamu tahu tempat yang bagus buar nongkrong?"


"Baik-lah, ikuti aku." Aku berjalan di samping Nina, sesekali tangan kananku menyentuh tangan kirinya.


"Oh, iya. Kamu siapa namamu?" Tanyaku pada teman Nina. Detak jantung yang bertabuh cepat ini membuat aku lupa untuk sekadar berkenalan dengan temannya. Bahkan tiga tugas kuliah dalam minggu ini yang belum selesai kukerjakan, seakan tidak ada. Pusing, lelah, dan masalah-masalah pribadi lainnya seperti keuangan yang menipis--hilang seketika. Getaran di jemariku yang bersentuhan dengan Nina terasa hangat dan mengetuk pintu hatiku, sungguh, pintunya sudah kubuka lebar. Tidak ada yang bisa masuk, kecuali Nina yang di sampingku saat ini.


"Aku Cindy, bang." Jawab wanita di sebelah Nina.


Sebaiknya ketika berkencan, jangan sekali-sekali bawa teman; kalau bukan kita yang terganggu, maka teman kita itulah yang kesepian. Sedari tadi teman Nina hanya diam mendengarkan kami berdua berbincang tentang masa-masa Sekolah Dasar.


"Kamu dulu tidak begini, Ki. Ingat, kan, dulu Aga melempar topimu?" Nina terkikik.


"Aku ingat Nin. Eh, kamu sekarang juga berubah, loh. Rambutmu semakin panjang."


Tidak ada jarak di antara kami berdua, kursi taman sesekali merengek kesakitan menahan berat badan kami. Teman Nina duduk di sampingnya.

__ADS_1


Kalau saja tidak ada temannya, mungkin aku langsung menyatakan perasaanku pada Nina malam ini. Tapi apa yang mau dikata, aku dan Nina berbincang ala kadarnya, sampai kalimat perpisahan--ungkapan perasaan yang telah aku persiapkan berhari-hari lamanya terpaksa kuurungkan.


"Aku baru sampai kos." Pesan Nina di ponselku.


__ADS_2