
Sebentar lagi lulus Sekolah Dasar. Ujian nasional sebulan yang lalu menegaskan bahwa itu terakhir kalinya kami duduk di bangku kelas enam--kalau lulus; hari ini terakhir kalinya juga aku bertemu Toni dan Mila.
Ayah Toni bermaksud menyekolahkan Toni di sekolah swasta ke perkotaan besar. Minggu lalu, Toni berkunjung di kontrakan kami, ayahnya datang pada waktu petang, menjemputnya. Ayahnya bilang, sekolah swasta yang jauh dari orang tua akan membuat Toni belajar mandiri. Raut wajah Toni tampak tidak setuju, tapi keinginan ayahnya telah mutlak.
Mila juga bilang kalau mereka akan pindah negara, menemui ayahnya yang bekerja di kota yang dijuluki Negeri Tirai Bambu.
Ibu Mila dan ibuku empat bulan belakangan ini sering menyempatkan waktu berbincang bersama di teras rumah. Ibu Mila meminta maaf atas perangai dia yang sejujurnya memang tidak suka posisi ternyamannya berkuli dengan pak Tibet tersingkirkan--padahal waktu itu ibu Mila sedang mengumpulkan uang untuk menyusul suaminya.
Ibu Mila memaparkan alasannya kenapa dia mengambil uang hasil jualan sayur pak Tibet; itu karena membutuhkan dana untuk suaminya pulang ke negeri asalnya. Sejak saat itu, ibuku berterus terang mengulangi alasan ibu Mila ke pak Tibet. Hingga akhirnya, pak Tibet memaklumi dan menambah uang ibu Mila untuk menyusul suaminya. Berkat ibuku pula, Mila dan ibunya dimaafkan pak Tibet dan diberi uang tambahan untuk ke negeri seberang. Mereka berterima kasih kepada ibuku, dan Mila berterima kasih juga kepadaku.
Begitu pula dengan Toni, ayahnya bilang tidak akan pernah melupakan kebaikanku yang telah merubah hidup anaknya. Sejak berteman denganku, Toni jadi rajin membaca, naik kelas--hingga saat ini; kami berdua tetap khusyuk mendengarkan pidato Kepala Sekolah yang baru saja dimulai di hadapan para orang tua murid.
Aku sangat senang tidak kepalang melihat ayah tiba di halaman sekolah menggunakan sepeda onthel--meskipun ayah datang sedikit terlambat. Pakaian dan sepatu pak Tibet masih muat, ayah mengenakannya di hari spesialku. Sepertinya aku kenal itu sepeda onthel siapa, tidak salah lagi, itu sepeda paman. Aku menghampiri ayah di parkiran. Ayah memarkirkan sepeda onthel tersebut di samping deretan sepeda motor. Yang berwarna putih bergaris hitam itu sepeda motor ayah Toni yang sering ayahnya pakai ketika menjemput Toni di rumah kontrakan kami. Di gantungan sepeda motor ayah Toni ada bingkisan berwarna hitam.
"Syukurlah ayah datang. Lewat di sebelah sini, yah. Ingat, nama Aki hanya ada satu di sekolah ini. Jadi tidak mungkin ketukar." Aku mengingatkan ayah agar tidak lupa. Ayah terkekeh pelan lantas mengikuti petunjuk jalan. Ayah mengetok pintu ruang pertemuan, anggukan dan senyum manis Kepala Sekolah ayah ulangi--seperti ketika kita tersenyum dan mengangguk di depan cermin; anggukan dan senyuman ayahku itu membuat Kepala Sekolah tersenyum ramah pada ayahku, mereka seperti sahabat karib. Ayah masuk ke dalam ruangan, lantas duduk di kursi paling belakang. Aku kembali ke tempat duduk panjang itu, lalu melabuhkan pantatku di samping Toni.
"Ki, aku akan rindu sekolah ini. Rasanya ingin mengulang kelas lagi, tidak ingin berpisah denganmu." Mata Toni berkaca-kaca.
Di halaman sekolah, Mila dan ketiga kawannya berpelukan. Rambut Mila yang hitam, lurus dan panjang diurai bebas itu memesona, membuat aku lebih mudah mengenalinya sekalipun dari jarak jauh. Mila mendekati aku dan Toni.
"Ki, terima kasih, ya, buat pelajaran berharga yang pernah kita lalui bersama." Mila menjulurkan tangannya, aku berdiri lantas kusambut hangat--kami berdua bersalaman. Aku mengangguk lentur.
"Kita, kan, simbiosis mutualisme." Seru Toni, berdiri seraya memeluk aku dan Mila. Air mata menetes di lantai keramik. Bayangan kami bertiga saling berpelukan itu memantul di lantainya yang berkilauan.
"Ayahku ada hadiah spesial untukmu, Ki." Toni menatapku serius.
"Hadiah apa?" Tanyaku seakan menolak. Tapi sebenarnya aku mau, hanya saja aku sedikit jual mahal. Aku dulu pernah begitu. Saat Aga memberiku seragam yang kukenakan sekarang ini, awalnya aku menolak. Tapi Aga memaksa aku untuk menerimanya, dengan senang hati aku berterima kasih padanya. Penolakan kadang kala perlu kita lakukan, tujuannya tidak lain hanya untuk memastikan bahwa orang yang memberi kita dengan tulus hati atau tidak. Ya, aku selalu begitu.
"Namanya juga spesial. Tidak akan jadi kejutan kalau kamu tahu duluan." Mila nimbrung. Kami terkekeh pelan.
Kami bertiga duduk di kursi panjang depan ruang pertemuan guru dan orang tua murid. Ibuku benar, belum berpuluh-puluh tahun aku sudah rindu kenang-kenangan kelas satu dulu bersama Aga, Budi, Randi, dan Nina. Di mana mereka? Batinku.
Dulu, di posisi duduk yang sama, aku dan ketiga teman kelas satuku menunggu penuh perhatian. Setiap kata yang kami dengar seakan menyebut nama kami. Bahkan saat ini, Toni sedari tadi berdoa tiada henti.
Aku menenangkan Toni yang menangis, khawatir. "Ayahku pasti malu kalau aku tidak lulus sekolah, Ki." Memeluk dan berbisik di telinga kiriku.
Aku juga memikirkan kekhawatiran yang sama dengan Toni. Belum lagi rencana ayah Toni yang hendak menyekolahkannya di sekolah swasta, tentu jika hasil hari ini tidak sesuai harapan,besar kemungkinan akan membuat ayahnya kecewa berat. Aku mulai tidak tenang. Sudah enam tahun aku Sekolah Dasar, baru kali ini ayah menyempatkan waktunya mengambil raporku. Awalnya aku pikir akan diwakilkan lagi. Kedatangan ayah di sekolah ini tentunya membuat aku mulai cemas. Bukan cemas karena sudah menyibukkan ayah dengan permintaanku semalam yang memaksa ayah untuk hadir. Tapi aku cemas kalau hasilnya nanti aku tidak lulus. Aku sampai berpikiran begini gara-gara Toni yang duluan cengeng, berpikiran negatif, dan pesimis.
__ADS_1
"Kok, cengeng sih." Mila mengolok Toni. Gaya tomboi Mila tetap sama. Secuil saja ucapan seseorang yang tidak sengaja menyinggung perasaannya, maka gaya tomboinya itu tidak segan-segan menghajar orang tersebut. "Aku membawa ini untuk kita bertiga." Mila membuka tasnya, lalu mengeluarkan segulung besar kertas putih.
Sungguh. Gulungan kertas itu membuat kami penasaran. Kalau Mila tiba-tiba menyembunyikan gulungan kertas itu sebelum dilihatkan pada kami, bisa-bisa aku dan Toni mati penasaran. Bahkan Toni yang sedari tadi berusaha mengelap air matanya biar dikira tidak menangis, seketika membelalakkan matanya seolah dengan begitu bisa tembus pandang. Raut wajah Toni seakan bertanya kepadaku isinya apa. Lantas aku membelokkan tatapanku dari Toni ke Mila.
"Apa ini?" Tanya Toni sembari mengelap air matanya.
Aku membuka gulungan kertas itu, Toni menatapnya dengan serius, tidak sabaran. Ketiga kawan Mila pun ikut nimbrung, Toni semakin mendekat.
"Aku mau lihat, dong." Ujar salah satu kawan Mila sembari menggeser kepala Toni yang menghalangi pandangan mereka. Lagi serius-serius begini masih sempat-sempatnya Toni menjahili kawan Mila. Bersusah payah kawan Mila menggeser kepala Toni. Hingga kemudian Toni mematung.
Wow. Kami terkagum serentak. Mila dengan gaya tomboinya, Toni dengan mata jahilnya, dan aku yang berperawakan culun, saling rangkul di kertas putih itu. Mila menggambarnya sangat indah. Di bawah gambar itu bertulisan, simbiosis mutualisme.
Aku ingat kala itu, Toni mentraktirku saat aku lupa bawa uang jajan; ini alasan klasikku. Uang jajan sebenarnya tidak lupa kubawa, hanya saja mereka tidak tahu uang jajanku semuanya kutabung di sekolah. Barusan sebelum pidato Kepala Sekolah, aku menghampiri bu guru sembari membawa buku tabunganku. Sesuai kesepakatan, tabungan sudah boleh diambil kalau kami sudah semester akhir di kelas enam.
Begitupula sebaliknya, saat tugas menumpuk--aku turut membantu menyelesaikan tugas mereka berdua. Tapi saat pelajaran seni tentang menggambar, Mila yang membantu aku dan Toni membuat pola gambar, memilih warna, dan sampai hasil gambar kami dapat ponten delapan puluh. Tidak lain anggota kelompokku selain mereka berdua. Bahkan Toni rela merungguh koceknya memborong goreng pisang ibuku. Sungguh, kami-lah simbiosis mutualisme itu.
"Ini lukisan yang indah sekali, Mil." Mila tersenyum lebar mendengar pujianku.
"Ah, sepertinya ini bukan aku." Toni memprotes. Pantas saja sedari tadi Toni cengar-cengir.
"Kenapa? Ada yang salah dengan gambarmu?" Tanya Mila, menatap lamat-lamat gambarnya. Toni menunjuk gambar dirinya tepat di mulut. "Ini bukan kumis, Ton. Ini serbuk kopi yang mengering." Mila menghapus warna hitam di lukisannya.
Toni kaget tidak kepalang melihat bu guru yang muncul di pintu secara tiba-tiba, Mila buru-buru mengestafetkan lukisannya padaku. Memang sedari tadi aku berniat ingin memilikinya, kenang-kenangan. Gumamku dalam hati.
Aku, Toni dan Mila bersitatap. Kami tidak bisa mendengar nama siapa yang dipanggil Kepala Sekolah. Dari luar, kami bertiga mengintip melalui jendela kaca, satu per satu orang tua murid maju ke depan.
"Itu ayahmu, Ki." Toni menunjuk, "Ayahmu maju paling pertama, Ki. Ini artinya peringkat satunya kamu." Lanjut Toni penuh semangat mengintip dari jendela kaca itu sembari berjinjit.
Aku tidak terlalu yakin. Meskipun sebelum ujian bulan lalu, aku sering menyisihkan waktu membaca buku di perpustakaan tentang trik menjawab soal ujian. Berkat buku itu aku bisa menjawab pilihan ganda dengan baik, walaupun jam ujian yang singkat mendesakku, membuat aku tergesa-gesa menyilang pilihan yang sudah kuberi titik sebelumnya.
Empat tahun, aku di sekolah ini, empat kali juga dapat peringkat satu. Tapi hari ini, aku tidak terlalu yakin. Ada banyak sainganku yang seketika rajin di perpustakaan selama menjelang ujian.
Bu guru membuka pintu, "Silakan, pak. Hati-hati di jalan." Bu guru menyelami orang tua murid yang berlalu di hadapannya.
Raut wajah ayahku tampak puas, bahagia, dan bangga. Huruf yang ditulis cetak di selembar kertas itu memberi kabar gembira yang disambut riang oleh semua murid dan orang tua mereka. Tulisan, TIDAK LULUS, dicoret dengan satu garis lurus hitam, horizontal.
"Yey, kita lulus, Ki." Toni berteriak riang, ayahnya menuju tempat parkir motor setelah memberikan lembar kertas itu pada Toni.
__ADS_1
Kami bertiga melompat-lompat, riang. Yang lain pun melakukan hal yang sama. Ketiga kawan Mila ikut nimbrung. Mereka menyalamiku.
"Selamat, Ki. Kamu memang hebat. Peringkat satu mungkin sebanding dengan usahamu." Puji salah satu kawan Mila. Kebetulan hanya peringkat satu yang diumumkan Kepala Sekolah, peringkat satu dan dua menyusul di rapor mereka. Tapi dari jendela kami memastikan setelah ayahku, ayah Toni menyusul maju ke depan, dan ibu Mila yang maju urutan ketiga, setelah itu susul-menyusul orang tua murid yang lain. Aku berterima kasih dan mengangguk, merenungkan perkataannya yang bilang, peringkat satu sebanding dengan usahaku. Memang benar. Aku merasa sudah berusaha maksimal. Bahkan hampir semua buku tentang ujian telah kubaca. Siang dan malam. Apalagi sekarang aku tidak perlu belajar di bawah api pelita, tidak seperti lima tahun yang lalu. Aku juga tidak menoreh, tentunya banyak waktu sepulang sekolah dan sepulang membantu ayah di pasar yang dapat kumanfaatkan untuk belajar.
"Benar, Ki. Kalau bukan kamu mungkin aku masih tinggal di kelas tiga, empat, lima, bahkan tidak lulus sekarang ini." Kami tertawa mendengar ucapan Toni. Dia tidak malu mengakuinya. Memang ada benarnya kalau separuh takdir kita ditentukan oleh orang lain terutama sahabat dan keluarga. Jika keluarga tidak berpengaruh positif pada kita, maka carilah sahabat yang memberi pengaruh itu. Pesan ibuku satu tahun yang lalu.
Ayahku di ujung sana sedang mengobrol dengan Kepala Sekolah dan beberapa orang tua murid yang lain. Sesekali ayah melirik ke arah kami bertiga, ayah ikut tersenyum bahagia.
Ayah Toni muncul di hadapan kami beberapa menit kemudian. Tangan kanan ayah Toni menggenggam erat bingkisan berwarna hitam. Bingkisan yang sama yang digantung di sepeda motornya tadi.
"Selamat, ya. Toni banyak cerita tentang kamu." Ayah Toni menyodorkan bingkisan itu sembari menyalamiku. Aku tidak bisa menolak, tatapan ayah Toni tidak diragukan lagi ketulusannya.
Aku menyambut riang sembari bilang, "Terima kasih, pak. Terima kasih." Ayah Toni mengangguk dan ikut nimbrung bersama ayahku. Mereka bersalam-salaman, berbincang-bincang, dan tertawa.
Dua jam kemudian, sekolah lenggang, Toni berpamitan dengan aku dan Mila. Di parkiran, ibu Mila mengeluarkan sepeda motor rental.
"Cepat. Nanti kita ketinggalan pesawat." Teriak ibu Mila, melambaikan tangannya. Mila berpamitan denganku, lantas menuju ibunya. Mereka melaju, dan menjauh.
Ayah menyalami Kepala Sekolah, berterima kasih. Aku mendekati mereka karena tidak ada lagi kawan yang bisa kuajak mengobrol saat ini.
"Tiidak kusangka, ternyata kamu bisa seperti sekarang ini. Sukses, ya." Ujar ayah.
"Terima kasih, terima kasih. Kapan-kapan main ke rumahku, ya. Tidak jauh dari sini. Paling satu menit sudah sampai. Di sebelah sana." Kepala Sekolah menunjuk jalan ke arah rumahnya.
Kami bersalam-salaman tanda perpisahan. Kepala sekolah bilang aku harus semangat dan buktikan kalau aku bisa. Aku pasti bisa. Seruku dalam hati.
Di perjalanan pulang. Ayah bercerita panjang lebar tentang Kepala Sekolah. "Dulu kami satu geng di sekolah. Ada empat personil. Kepala Sekolahmu itu; nakal, tapi rajin ke sekolah. Dua teman ayah lainnya nakal, dan malas, satu lagi, mereka sering bolos. Cita-cita kami dulunya sama. Kami pengen jadi Kepala Sekolah. Tapi hanya dia yang berhasil." Di bawah teriknya matahari, ayah semangat menggayuh sepedanya. Aku dibonceng di belakang.
"Apa yang kamu pegang itu?" Tanya ayah.
"Ini bingkisan dari ayah Toni. Katanya kenang-kenangan siapa tahu bermanfaat."
Ayah menggayuh sepedanya, gayuhan ayahku berhenti ketika sepeda melaju di turunan. Sesampainya kami di rumah, meski napas ayah terdengar memburu udara segar, namun penasaran isi bingkisan dari ayah Toni, membuat ayah tetap antusias.
"Wah, kebetulan sekali. Coba pakai." Ayah terkagum-kagum.
Aku mengenakan seragam sekolah pemberian ayah Toni. Sungguh kejutan yang tepat pada waktunya. Jadi, aku tidak perlu beli seragam lagi. Beberapa menit memudian, ibu sampai di rumah sembari mengomel panjang lebar bilang tetangga lupa janji, lalu terdiam melihat aku mengenakan seragam Sekolah Menengah Pertama.
__ADS_1
"Syukurlah, kebetulan uang kita belum cukup." Ujar ibuku.
Inilah simbiosis mutualisme yang sebenarnya. Seruku dalam hati sembari berlagak seperti komandan upacara yang memberi hormat saat pengibaran bendera merah putih.