
Bulan pertama selalu menjadi awal yang indah dan menyenangkan bagi kami anak sekolah. Banyak hal baru yang dapat memicu semangat sehingga tidak ada kata alpa sekadar sehari pun bahkan demam atau sakit biasa tidak menjadi alasanku untuk izin.
Setiap hari aku bisa bertemu dan berkenalan dengan beberapa orang di sekolah, di antara mereka semakin akrab denganku tanpa melihat status; anak baru atau senior, dan latar belakang. Aku memberi kesempatan kepada siapa pun yang ingin menjadi teman, bahkan sahabat karibku seperti Budi.
Pagi ini, seperti hari-hari sebelumnya. Aku ke sekolah dengan jalan kaki. Kemarin siang aku bersusah payah menahan emosi. Mobil sedan yang melaju dari belakangku melewati kubangan air di jalan berlubang, mencipratkan air ke arahku, seragam putih-biru basah kuyub, untungnya hari ini hari jumat.
"Bud, keluar cepat." Desakku di depan pintu kamar indekos Budi. Aku mengedor-gedor pintu kamarnya.
"Iya, Ki. Bentar. Aku baru selesai mandi." Teriaknya dari balik pintu.
Indekos Budi selalu menjadi tujuan keduaku setelah lapak ayah. Ada delapan pintu kamar indekos Budi, di depan setiap pintu tertata rapi bunga pemilik indekos. Di indekos inilah aku bisa berkenalan dengan murid kelas sembilan, dan kelas delapan. Mereka menyapaku.
"Hay, bro. Nunggu Budi, ya?" Laki-laki bertubuh kurus, memasang sepatunya di ambang pintu kamar, murid kelas tiga.
"Mau bocengan denganku, tidak?" Putih, tinggi, gemuk; murid kelas dua. Menawariku jasa antar gratis, kebetulan dia dan murid kelas tiga yang baru saja selesai mengikatkan tali sepatunya masing-masing memiliki sepeda motor.
Budi keluar pintu indekosnya, "Kamu sama, Rian. Biar aku dengan Yudi." Rian murid kelas tiga, bau asap rokok di mulutnya semakin menyengat. Sedari tadi aku menahan napas setiap kali dia berucap. Tapi tidak henti-hentinya Rian bercerita. Bahkan sepanjang jalan, tidak ada omongan lain yang kudengar selain Rian. Dia menyombongkan dirinya yang sudah berhasil memacari lebih dari lima wanita cantik. Wanita yang putih, hitam-manis, bergingsul, dan berlesung pipit. Seketika aku ingat Nina.
"Yang berlesung pipit itu orang mana?" Tanyaku sedikit berteriak. Mengulangi pertanyaan yang sama ketika Rian memutar sedikit kepalanya, hah?
"Anak pindahan dari kota, Ki." Jawabnya.
Aku mengembuskan napas, lega. Rian masih menyombongkan keberhasilannya meluluhkan banyak hati wanita. Tapi aku tidak menggubris.
Di belakang kami ada Budi dan Yudi, mereka berdua saling adu suara di keramaian angin yang berderu kencang, lalu tertawa.
Sekitar seratus meter dari rumah sekolah, Rian dan Yudi memarkirkan motornya di depan rumah warga. Mereka berdua mendekati ibu-ibu yang sedang menyirami bunga di halaman rumahnya.
"Kami izin parkir motor di sini ya, bu." Ujar Rian. Ibu itu tidak menggubris. Yudi mendekat.
"Selamat pagi, bu." Teriak Yudi.
Ibu itu menoleh, "Iya, ada apa?"
"Kami izin memarkirkan motor di sini, bu. Boleh tidak?" Jawab Budi.
"Oh, boleh." Sembari memperbaiki alat bantu dengar, ibu itu menunjuk lokasi parkir setelah melihat kami berseragam Sekolah Menengah Pertama.
Sekolah melarang keras muridnya mengendarai motor, banyak faktor yang menjadi alasan logisnya, salah satunya karena kami belum cukup umur. Meskipun Rian dan Yudi seumuran anak kelas tiga Sekolah Menengah Atas, tapi status Sekolah Menengah Pertamanya tetap melekat.
__ADS_1
"Kita tunggu di sini, aku capek senam." Ujar Rian.
Hari Jumat memang melelahkan bagi beberapa anak laki-laki yang tidak suka senam seperti Rian dan Yudi. Mereka berdua menolak ajakanku, Budi sesekali juga memaksa mereka untuk melangkahkan kaki ke sekolah. Tapi mereka menolak dengan keras.
"Duluan saja kalian berdua, nanti kami menyusul. Kalau mau dibilang culun." Kata Rian.
Baru saja melangkah ke depan, Budi langsung memutar kepalanya.
"Culun?" Tanya Budi, menekan intonasi suaranya.
"Tentu. Anak gaul mana yang menari-nari di halaman sekolah kalau bukan culun." Jawab Yudi. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak melihat Budi yang tidak terima dibilang culun. Aku diam, dibilang aki-aki, culun, atau dihina sekalipun aku tidak mau memprotes, karena memang aku begitu adanya. Pikirku dalam hati.
"Enak saja bilang aku culun." Budi kembali ke mereka. Dia menolak ajakanku.
"Kita mangkal di situ aja. Tenang, aku ada bawa, kok." Ucap Yudi.
Mereka bertiga menuju pepohonan rindang tidak jauh dari depanku. Di sekitar pepohonan itu bersih dari dedaunan kering seakan di sini memang markas Rian dan Yudi.
"Ki, sini." Panggil Budi. Dia duduk di salah satu akar pohon yang timbul di atas tanah.
"Cepat kemari! Selesai senam nanti kita masuk ke kelas. Jangan khawatir selama ada kami." Rian mengimbuhi. Yudi masuk ke dalam hutan, tidak lama kemudian dia kembali membawa beberapa helai daun simpur.
Mereka bertiga duduk di atas dedaunan yang dihamparkan. Yudi menyusun dedaunan itu dengan sangat rapi.
"Ngapain? Sekolah jam sebegini sudah masuk, Ki." Kata Rian. Dia mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Yudi tersenyum lebar sembari mengelapkan tangan di celana.
"Sudah masuk, Ki. Malah bisa kena marah kalau mereka tahu kita terlambat." Ujar Budi. Dia menatapku, tatapannya aku tahu maksudnya, dia ingin aku membuktikan kalau kami tidak culun seperti yang Rian bilang.
Baiklah. Mereka tersenyum manis, Budi menggeser tubuhnya, menyisakan tempat duduk untukku.
"Ini gratis untuk kalian berdua. Bud, kamu sudah biasa, kan?" Tanya Yudi, gelengan Budi sangat kaku. Lalu tatapan Yudi mengarah kepadaku, gelengan yang sama juga kulakukan. Yudi menepuk jidatnya.
"Parah. Rokok semahal ini kalian tidak berminat mencobanya. Kalau kalian beli mungkin uang jajan kalian tidak cukup. Ini gratis dari kami." Lanjut Yudi. Dia menyodorkan sebatang rokok ke Budi. Tanpa pikir panjang, Budi mengambil rokok tersebut seraya mendekatkan ujung rokok ke korek api yang Rian nyalakan. Aku sudah berupaya mengingatkan Budi untuk tidak merokok dengan tatapan mataku. Tapi percuma, tatapan mata itu tidak dia lihat, Budi sibuk mewawancarai Yudi dan Rian tentang pengalaman merokok.
"Pikiran yang semrawut hilang seketika, Bud. Cobalah." Jawab Yudi.
Asap rokok seperti awan orografik, semakin lama Budi menarik asapnya, semakin banyak yang mengepul ke atas. Semakin sering Budi menarik asap rokok, menahannya sejenak di tenggorokan--semakin berkabut pula di sekitar kami.
Budi mengestafetkan rokoknya kepadaku, "Coba, Ki. Enak, kok." Ujarnya.
__ADS_1
Aku menolak dengan kedua tangan menyetop di dada, "Coba. Sedikit saja." Imbuh Rian. Yudi mengambil sebatang rokok lagi, Rian menyalakan korek api. Dengan santainya, Yudi menghembuskan asap rokok; berbentuk bulat hingga belasan banyaknya. Rian mengangkat jempolnya di depan Yudi.
Aku masih menolak kendati Budi menawariku berkali-kali. Tiga tarikan asap rokoknya, sekali penawaran. Begitulah Budi yang tidak henti-hentinya menawariku.
"Coba aja. Kamu penasaran rasanya, kan? Jangan sampai menyesal tidak tahu betapa leganya setelah merasakan asap rokok ini." Ujar Budi, menarik dalam-dalam asap rokoknya. Yudi dan Rian ganti-gantian, rokok mereka berdua lebih cepat habis ketimbang rokok Budi.
Aku masih menolak dengan posisi tangan yang sama sembari menggeleng hebat.
"Sedikit saja." Kata Yudi. Matanya mengintimidasiku.
Budi memberikan rokok di tangannya setelah aku bergerak sedikit. Sedikit saja. Gumamku dalam hati.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Budi. Rian dan Yudi menatapku penuh rasa ingin tahu.
Ada benarnya yang mereka bilang, rokok ini melenyapkan kekhawatiranku yang belum sampai di sekolah. Aku menarik asap rokok sedikit, lalu menghembuskannya dengan penuh perasaan. Seperti menikmati secangkir kopi, rokok membuat saraf-saraf di kepala yang tegang seketika lega. Aku mengembalikan rokok tersebut, mengangguk setuju kalau rasanya tidak kalah nikmat dari secangkir kopi. Mereka bertiga tersenyum lebar.
Sebungkus rokok habis, mereka bertiga merasa puas, sekeliling kami penuh asap rokok, nyamuk pun tidak berani mendekat.
"Besok aku bawa sedikit lebih banyak dari ini." Ujar Yudi.
"Beli di mana kamu, Yud?" Tanya Budi sembari beranjak.
"Ada deh. Kalau kalian mau ikut aku, tengah malam nanti kita ke pasar." Jawab Yudi.
"Aku tidak berani, Yud. Kamu saja, Rian." Budi menolak, Rian mengangguk sepakat.
Kami berempat jalan kaki menuju ke sekolah. Beberapa warga di depan rumahnya menggeleng. Rian dan Yudi melangkah santai, mereka berdua seakan sudah terbiasa, tidak peduli berapa puluh pasang mata yang tidak setuju.
"Aku kalau tidak orang tuaku paksa." Ujar Yudi memecah keheningan. "Tidak mau sekolah." Lanjutnya.
"Sama, Yud. Aku pun malas mau sekolah lagi. Kemarin tetanggaku nanya aku tamat sekolah mau jadi apa. Tapi kubilang aku tidak tahu." Jeda. Rian menatap Yudi. "Mereka bilang tidak ada yang perlu diganti, semua profesi pekerjaan sudah dipenuhi ahli bidangnya tertentu. Tidak ada yang bisa kita ganti. Lalu aku berpikir ada benarnya juga. Untuk apa kita sekolah kalau nanti ujung-ujungnya pengangguran." Lanjut Rian.
Aku dan Budi menyimak, tidak tahu harus bilang apa, murid baru tidak banyak pengalaman dalam hal ini. Tapi sesekali tatapan Yudi dan Rian seakan meminta pendapat kami berdua.
"Aku paling mentok tamat Sekolah Menengah Atas." Budi nimbrung. Aku masih tidak bergeming seraya melangkahkan kaki.
"Kalau aku lihat, Aki ini yang nantinya bakal lanjut ke Perguruan Tinggi." Yudi optimis memproklamasikan. Anggukan Budi dan Rian lentur.
Aku berpikir sejenak, merenungkan kata Perguruan Tinggi. Untuk sampai sekarang pun aku susah payah menabung, dan mengorbankan tabungan tersebut untuk memenuhi syarat administrasi pendaftaran sekolah. Semua angan-anganku yang terukir dalam tabungan tersebut harus urung. Angan-angan membelikan ayah radio dan ibu pakaian baru di hari ulang tahunnya, harus kukubur dalam-dalam. Aku tidak yakin dengan apa yang barusan Yudi bilang. Seoptimis apa pun kalau tidak ada pendukungnya, tidak bisa terwujud.
__ADS_1
Setiba di depan sekolah, kami bisa masuk dengan bebas, senam baru saja berakhir.