Anak Tangga

Anak Tangga
Karyawan Baru


__ADS_3

"Iya sama-sama. Kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi saya. Kuliah yang benar, ya." Kata pak Tibet sore itu.


"Terima kasih banyak, pak. Jujur sebelumnya kami hampir nyerah, kami tidak punya cukup uang. Kalau bukan bapak yang turut nabung di celengan kami, mungkin keputusanku sudah bulat bantu ayah jualan di pasar."


"Jangan. Kamu masih muda. Toh sebentar lagi saya bawa karyawan baru bantu ayahmu."


"Siapa, pak?" Sambarku penasaran.


"Anak sekitar sini, bukan?" Tanya ayah.


"Silakan diminum kopinya. Goreng pisang sudah habis, maaf tidak menyisakannya untuk bapak." Ibuku meletakkan ceper kopi.


"Iya tidak apa." Pak Tibet menatapku sejenak, "Dia kenal padamu, dan kamu pun kenal dia." Jawab pak Tibet.


"Banyak yang saya kenal, pak. Apa inisialnya?"


"Nanti juga tahu. Saya sengaja merahasiakannya biar ketika kamu bertemu dengannya, kalian bisa sekaligus bernostalgia." Terkekeh pelan.


"Jangan begitu dong, pak. Sebentar lagi saya ke kota. Entah kapan saya tidak bertemu dengannya."


"Tidak usah khawatir, karyawan baru saya ini dalam dua tiga hari ke depan sudah bekerja di sini. Hanya saja dia masih bingung mau menginap di mana."


"Cewek? Kalau cowok dia bisa sekamar denganku." Ideku dengan cepat.


"Cowok." Jawab pak Tibet. Artinya aku tidak tidur sendirian lagi beberapa hari ke depan nanti. Baguslah. Pikirku dalam hati.


Selama aku di kota nanti ayah dan ibu tentu akan kesepian kutinggal lama. Setidaknya ada teman baru yang akan menghibur mereka. Hanya saja aku ragu akankah teman baru tersebut betah atau tidak. Belum lagi dengar omelan ibuku. Tapi ibu memang menepati janjinya. Sampai detik ini ibu tidak mengomel.


Tiga hari kemudian, suasana subuh tetap sama, berisik. Tiga suara berbeda bersahut-sahutan, kedengarannya di ruang tengah. Tapi di antara suara tersebut ada keributan lain di luar sana, sayup-sayup. Tidak salah lagi ketiga suara yang terdengar akrab itu sedang berbincang di ruang tengah. Suara pertama pernah kudengar, tentu itu suara ayah. Gumamku dalam hati, mata masih tetap kukatup kuat-kuat. Suara kedua terdengar lembut dan bijak, agaknya itu suara pak Tibet. Suara ketiga terdengar seperti anak yang baru dewasa, berat, dan penuh penekanan. Belum sempat beranjak dari tempat tidur, ketiga suara itu menjauh, makin lama makin lenyap.


Aku lanjut tidur, belum bertenaga untuk mencari ketiga suara itu walaupun aku sedikit kenal suara pertama, tapi ketika mata masih penasaran, aku belum terlalu yakin dugaanku benar seratus persen.


Paginya aku buru-buru hendak ke pasar, ibu menghampiriku, "Masukkan tas kawanmu itu di kamar, dia mulai menginap di sini malam ini." Suruh ibu. Di sudut pintu depan ada tas yang biasa digunakan untuk kemah, penuh pakaian. Aku mengangkatnya sekuat tenaga, memindahkannya ke kamarku.

__ADS_1


"Tas siapa ini, bu?" Tanyaku terengah-engah.


"Ibu lupa namanya. Katanya dia teman dekatmu."


"Di mana dia sekarang?"


"Bantu ayahmu di pasar."


Aku tergesa-gesa menutup pintu kamar, menyusul ayah ke pasar. Aku sangat terperanjat kaget, tubuhnya berotot, kekar, hitam legam, sungguh perubahan yang drastis.


"Aki," teriaknya pelan. "Masih ingat aku, kan?"


"Aga, apa benar ini kamu?"


"Iya, ini aku. Kamu tidak salah lihat." Jawabnya seraya mendekatiku. Ayah tersenyum lebar melihat kami berdua.


Aku merangkul Aga, kami sudah lama sekali tidak berjumpa. Dia menyalamiku penuh bahagia, tangannya terasa kasar, jemarinya kuat mencengkeram jemariku.


"Izinkan aku jualan dengan ayahmu?" Guraunya.


Baru hari ini di lapak ayah ramai pembeli, Aga yang bersemangat promosi membuat pengunjung melirik, saling lobi hingga akhirnya sepakat. Baru hari ini pula lapak ayah ada dua pemuda yang membantunya, aku dan Aga. Kamu berdua berbagi tugas, Aga bagian promosi, aku bagian melobi pembeli, dan ayah kami biarkan duduk-duduk saja.


"Aku dengar kamu mau lanjut kuliah, Ki." Aga memulai pembicaraan. Kami sedang berberes, belum waktunya pulang tapi sayur kami sudah ludes.


"Iya, Ga. Bulan September kami mulai kuliah."


"Aku turut bahagia mendengarnya, Ki. Semoga suatu saat kamu jadi orang sukses, ya. Siapa tahu nanti aku jadi karyawanmu." Aku terkekeh, berdesis pelan, amin.


Kami pulang ke rumah lebih awal dari sebelumnya, ibuku keheranan melihat kami seakan tidak menyentuh pasar hari ini, "Kok, cepat. Aku belum selesai masak, nih."


Ayah berlagak santai, "Pasar hari ini libur, Rin."


Kami terkekeh pelan mendengar gurauan ayah. Sejak kapan pasar libur, justru gurauan itu membuat ibu nyaris mengomel. Tapi ibu tahan ketika melihat Aga tersenyum manis dihadapannya, dan aku menatap ibu penuh perhatian agar tidak mengomel.

__ADS_1


"Ada-ada saja kalian. Oh, iya. Siapa namamu ibu lupa?"


"Aga, bu." Jawab Aga cepat.


"Nak Aga, jangan sungkan, ya. Kami memang begini adanya, apa yang ada di rumah ini itu yang kita makan, ibu harap kamu betah di sini."


Aga mengangguk lentur, "Selama ibu tidak mengomel," Aku nimbrung. Mereka terkikik.


Malam ini hujan sangat deras, untungnya atap genteng, jadi tidak mudah bocor seperti atap daun. Aku dan Aga menarik selimut sampai ke leher, dingin. Aga tidur di sebelahku, dia menatap lukisan Mila, memberi penilaian kalau itu lukisan terbaik yang pertama kali dia lihat. Dia bilang dia tidak bisa melukis, kalau saja dia bisa--dia akan melukis persahabatan kami berdua. Aku bilang kalau aku juga tidak bisa melukis, tapi jari telunjuk kananku membuat Aga bungkam sejenak.


"Masih kamu simpan, Ki? Masih utuh? Itu sudah belasan tahun, loh." Ujarnya keheranan.


"Iya, Ga. Apa yang telah kamu sumbangkan kepadaku lebih berarti, buktinya aku bisa sekolah, berkat kamu-lah." Kami sama-sama menatap seragam Sekolah Dasar yang digantung di sudut kamar.


Hujan menderas, kami berdua bercerita panjang lebar tentang masa kecil dulu dengan suara yang sedikit dikencangkan ketika salah satu di antara kamu menjawab, hah, tidak mendengar.


"Di mana sekarang dia, Ga?" Tanyaku ketika Aga sedikit menyinggung nama Nina.


"Bisa jadi kalian berdua satu fakultas, Ga." Jawabnya.


"Aku fakultas Ekonomi, Ga. Emang dia fakultas apa?"


"Seingatku dia Hukum, Ki. Tidak berjauhan, kan?"


Aku mengingat deretan kampus yang sempat aku lalui ketika seleksi tertulis di kota beberapa bulan lalu. Fakultas Hukum sekitar lima puluh meter jaraknya dari tembok fakultas Ekonomi.


"Tapi dia semester berapa? Jangan-jangan dia seniorku, Ga."


"Tahun lalu dia mulai kuliah, Ki. Memang seniormu. Tapi usiamu, kan, lebih tua satu tahun darinya." Aga mainkan matanya, tampak jelas karena lampu listrik benderang. Tadinya Aga memaksaku untuk mematikan lampu, tapi aku bilang dia akan terbiasa tidur dengan lampu. Rasanya tidur tanpa lampu seakan ada bayang-bayang hitam di sampingku, membuat aku sedikit takut.


"Tunggu sebentar!" Aga beranjak dari tempat tidur menuju tas ranselnya, menggeledah barang-barang yang ada dalam tas tersebut.


Aga kembali lagi ke tempat tidur, "Ini akun facebook-nya, Ki." Aku menatap lekat-lekat layar ponsel Aga.

__ADS_1


"Ini cewek yang aku hubungi kelas sebelas dulu, Ga. Iya, benar. Aku yakin ini dia. Lesung pipitnya sama. Tapi nama akunnya beda dengan nama aslinya, Ga."


"Namanya juga facebook, Ga. Bukan daftar hadir sekolah. Kita bebas mau buat nama kita siapa pun." Aga terkekeh.


__ADS_2