
"Cuaca disini sedang turun salju none, jadi lebih baik none tetap didalam kastil. Bila anda butuh apa-apa segera hubungi saya saja" ucap sesosok namja yang terus mengiringi jalan Lisa sedari ia dibandara.
Lisa hanya mengangguk, sambil melihat kearah jalan sekitar. Ia menikmati alunan musik di earphone yang telah terpasang ditelinganya sedari tadi. Dengan kedua tangan yang masuk disaku jaket tebal yang tengah Lisa gunakan, ia kembali merasakan suasana tak asing dengan negara yang sedang ia pijak saat ini.
Brukkk...
Menyebalkan, saat Lisa tengah menghirup udara sekitar. Tiba-tiba seorang yeoja melalui beberapa bodyguard dengan mudahnya, lalu menabrak Lisa begitu saja.
Sontak para penjaga Lisa mendadak diam melihat kejadian itu. Yeoja tersebut telah menjatuhkan tas yang awalnya ada dipundak Lisa, bahkan ia sampai tersungkur dihadapan Lisa.
Lisa mendengus kesal, mendengar itu asisten pribadi Lisa langsung memeriksa keadaan Lisa. Ia begitu panik, bahkan meneliti begitu detail. Memastikan bila atasannya itu tidak mengalami lecet sedikitpun. Dirasa tak ada luka, asisten Lisa langsung mengambil tas Lisa yang terjatuh. Tanpa menghiraukan yeoja yang tengah sibuk mengemasi barang-barangnya yang berserakan.
Setelah selesai mengemasi barang-barangnya, yeoja itu berdiri dengan kepala yang tertunduk.
"Mianhae" ucapnya sambil membungkukkan badan di hadapan Lisa.
Para bodyguard yang melihat raut wajah Lisa, ingin sekali menyingkirkan yeoja itu. Tapi Lisa mencegahnya, ia memilih untuk meninggakannya begitu saja. Tanpa memperdulihan permintaan maaf darinya.
"Dia sombong sekali" gumam yeoja yang menyadari kepergian Lisa, sembari melihat punggung Lisa yang menghilang diantara orang-orang berlalu lalang.
Di Kastil~
Lisa langsung memasuki kamarnya, memasukkan beberapa pakaiannya dilemari. Lalu ia bergegas membersikkan diri, tak lupa sebelum itu ia menyiapkan baju untun gantinya nanti.
Selesai mandi, Lisa duduk dimeja riasnya. Melakukan ritual rutinnya, sebelum mengistirahatkan badannya diranjang berukuran bigzise.
__ADS_1
Bukan Lisa namanya, bila ia bisa tertidur secepat itu. Pengidap insomnia sepertinya, sudah tidak asing bila mengalami sulit tidur. Terlalu sering mengonsumsi obat tidur, membuatnya menjadi kebal saja disetiap harinya. Tak ingin makin merusak kesehatan dengan sering mengonsumsi obat tidur. Lisa memutuskan untuk mencari kesibukan sebelum tidur, melakukan hal-hal yang mungkin bisa memancing kantuknya agar segera muncul. Seperti membaca novel, mengerjakan pekerjaan kantor, dan memantau cabang perusahaannya yang berada hampir di berbagai negara.
Walau sudah melakukan itu semua, terkadang ia masih merasa belum juga mengantuk. Tetapi tak jarang juga bila ia sampai ketiduran dalam keadaan masih mengerjakan tugas-tugas kantornya. Hingga membuat Rose, asisten pribadi lisa ini. Meminta rekannya untuk memindahkan Lisa keranjang. Park Chaeyoung atau disebut juga Rose, adalah asisten terlama yang sanggup bertahan dengan sikap Lisa yang pemilih dan mudah berubah mood.
Ya, sudah dapat ditebak. Bila sikap Lisa itu terkadang semena-mena, ia pun tak perduli dengan keadaan anak buahnya bagaimana. Jika dia sudah mengatakan sesuatu, tidak mau tahu, ya itulah yang harus terjadi. Banyak asistennya yang keluar masuk dalam kehidupan Lisa, namun tak sedikitpun Lisa memperdulikan itu.
Hingga akhirnya, Rose dengan keyakinannya masuk menjadi asisten pribadi Lisa. Menemani kemanapun Lisa pergi, belajar membaca mimik wajah Lisa agar ia tetap bertahan, dan menghafal apa saja yang Lisa sukai dan tidak sukai. Awalnya memang sangat sulit bagi Rose, tetapi lama kelamaan. Ia memahami akan sosok Lisa sesungguhnya, banyak hal yang ia pendam. Begitu berat beban yang ia pikul, terkadang ia mendengar ditengah sunyinya malam. Lisa menangis, mengadukan seluruh keluh kesahnya kepada salah satu sisi tembok dikamarnya.
Itu sudah menjadi kebiasaan Lisa, bila memiliki beban dan masalah yang bertumpuk dikepalanya. Ia akan memilih tembok kamarnya untuk dijadikan peraduan. Selain menjadi pendengar yang baik, dia juga tak akan menyalahkan, menyudukkan, ataupun menghakiminya, bila ia salah mengambil keputusannya. Ya walau perihnya, ia tak dapat jawaban dari setiap masalahnya. Setidaknya ia merasa lega, karna telah melepaskan rasa yang mengganjal dihatinya dan dipikirannya.
Rose sendiri sudah pernah mencoba memberi saran kepada Lisa, untuk berbagi masalah dengannya. Dan ya sudah diketahui apa jawaban dari Lisa, pastinya dia menolak. Terkadang Rose berfikir, kurang setiakah dirinya bagi Lisa? Sampai Lisa masih saja menyembunyikan hal yang sudah jelas-jelas terlihat. Namun tetap saja ia tutup dengan sikap dinginnya, Rose juga tak memiliki keberanian memaksakan keinginannya kepada atasannya. Bisa-bisa ia dipecat tanpa pesangon kan bera bee...
...~Paginya~...
Lisa yang asik menikmati sarapan, fokusnya teralih ketika layar ponselnya menyala. Terlihat panggilan masuk yang tertulis jelas dari oppanya. Dengan malas Lisa mengangkatnya.
"Hallo"
"Nee, ada apa oppa?" tanya Lisa tanpa basa basi.
"Bersikap baiklah disana, terutama kepada sekretarismu" pintanya yang tampak aneh, pasalnya ada hubungan apa dia dengan sekretaris Lisa. Sampai segitunya ia memperhatikan sekretaris Lisa.
"Nee" dengan cueknya, Lisa pun mematikan telfonnya secara sepihak.
Entah sekedar basa basi atau memang dia memiliki hubungan dengan sekretarisnya. Tetapi nampaknya ia sama sekali tak memperdulikan itu. Ia malah kembali fokus terhadap sarapannya yang sempat tertunda.
__ADS_1
Melihat Lisa telah menyelesaikan sarapannya, Rose lalu mengirim pesan terhadap namja yang menjadi asisten kedua setelah dirinya. Setelah mengirim pesan, ia tak lupa langsung memanggil pembantu untuk membereskan bekas sarapan Lisa. Terlihat Lisa sendiri telah beranjak dari tempat duduknya sesaat sesudah menyelesaikan sarapannya.
Didepan, seorang namja tampak telah membuka pintu belakang mobil untuk memudahkan Lisa masuk. Senyuman hangatnya, ia sengaja memberikannya kepada Lisa untuk menyambut pagi yang bersalju.
"Pagi none" sapanya dengan senyuman yang sama.
"Hmm" berdehem telah menjadi jawaban Lisa yang paling sering terdengar ditelinga para anak buahnya.
Kini semua sudah memasuki mobil. Telah terdapat Jungkook yang menjadi supir, Rose yang duduk disebelahnya, dan Lisa yang duduk di belakang dengan mata yang fokus memainkan ponselnya.
"None saya sudah mendapat datanya" ucap Rose menarik fokus Lisa.
Lisa mendongakkan kepalanya, sembari meningkatkan pendengarnya untuk mencerna informasi yang akan disampaikan Rose.
"Namanya Kim Jisoo, lulusan terbaik Seoul Nasional University, kelahiran Seoul, 3 Januari 1995 jadi usianya kini 26 tahun, dan disini keterangannya dia merupakan salah satu CEO di perusahaan Manoban Group. Beberapa fotonya sudah saya kirim ke none Lisa" ucap Rose.
"What?! CEO?!" kejut Lisa.
"M-mungkin tuan muda yang menunjuknya menjadi CEO disana. Mengingat none Lisa kan, jarang memantau perusahaan dikorea" sindir Rose.
Lisa hanya terdiam, anak buah tak punya ahklak ini berani-beraninya menyindir atasannya sendiri. Tak ingin ambil pusing, ia pun melihat kembali ponselnya. Melihat foto-foto yang telah dikirim oleh asistennya.
Sesampai dikantor, Lisa langsung meminta Jungkook untuk membelikannya sarapan. Sedangkan Rose tengah pergi untuk menyelesaikan beberapa urusan. Ya akhirnya mau tak mau, Lisa masuk sendirian kedalam kantor.
Satpam membungkukkan badannya, memberi hormat kepada Lisa. Namun masalah muncul ketika ia mulai melalui resepsionis kantornya.
__ADS_1