
Badannya serasa tak kuat menopang, Lisa terjatuh dilantai tanpa ada siapa yang tahu. Hingga ia kehilangan kesadarannya...
.
.
.
2 Minggu berlalu, setelah Lisa ditemukan tak sadarkan diri didalam kamarnya. Lisa tak kunjung terlihat dikantornya lagi, beberapa karyawan sangat menanti kedatangannya. Namun sebagian karyawan juga ada yang merasa senang dengan ketidak hadir Lisa dikantor.
Jisoo merasa cemas, pikirannya tak henti-hentinya terbayang akan Lisa. Seseorang yang baru ia kenal selama 1 bulan ini. Entah ikatan apa yang membuatnya begitu perduli, sampai membuatnya frustasi memikirkan keadaan Lisa. Sehun menentang keras Jisoo untuk menemui Lisa, jangankan Jisoo. Sehun saja tidak diterima untuk menemui Lisa, apa lagi kedatangan Jisoo.
Dalam renungannya yang tak henti memikirkan keadaan Lisa. Seorang namja terlihat terus saja mondar mandir dalam ruangannya dengan kecemasan dan rasa bersalah dalam dirinya.
"Oppa, aku sangat merindukannya. Bisakah kita lihat keadaannya?" rengek yeoja yang tiba-tiba memeluk namja dari belakang.
Namja itu tak lain adalah Sehun dan yeoja yang memeluknya sudah pasti Jisoo. Mereka sedang berada di apartemen Sehun, menikmati secangkir teh. Sembari membicarakan keadaan Lisa yang membuat Jisoo penasaran setiap waktunya.
Sehun memaksakan senyumnya, melepas pelukan kekasihnya dan membalik badan untuk menghadap kearah pujaan hati. Belaian lembut tak lupa ia berikan, membuat Jisoo lebih tenang dari sebelumnya.
"Honey, kau begitu mencemaskannya. Sejujurnya aku juga, begini saja. Aku akan menghubungi Rose untuk tanya lebih lanjutnya, bagaimana?" Jisoo mengernyitkan jidatnya.
Mengapa harus tanya Rose? Kenapa dia tak langsung saja melihat keadaan Lisa? Bukankah dia tunangannya? Harusnya dia punya akses khusus dong untuk bisa menemui Lisa. Mengapa terlihat serumit ini, heran Jisoo melihat sang kekasih terus memasang wajah gelisah. Walau dia selalu berusaha menutupinya, Jisoo tak sepolos itu sampai bisa dibohongi oleh raut wajah yang jelas-jelas terlihat dipaksakan baik-baik saja.
__ADS_1
"Bukankah kau tunangannya? maksud aku. Kau kan sosok kepercayaan daddynya Lisa, harusnya kau punya akses khusus dong agar kau bisa menemuinya dengan mudah. Seperti kala itu" ucap Jisoo.
Sehun tertunduk, langkahnya meninggalkan Jisoo yang masih berdiri didekat jendela. Jujur ia tak mampu memberi alasan banyak kepada kekasihnya, selain berkata jujur mengenai keadaan Lisa. Sambil menyesap teh, Sehun duduk disofa panjang yang terletak tak jauh dari meja. Disusul dengan Jisoo yang telah duduk disampingnya sambil menyandarkan kepalanya dibahu Sehun.
"Lisa tidak mengizinkanku untuk menemuinya" ucap Sehun terjeda membuat Jisoo menatap intens kearahnya. "Sepertinya aku membuat kesalahan waktu kita bertengkar terakhir kali. Sehingga memicu traumanya kambuh kembali, gak seharusnya aku kaya gitu" lanjut Sehun yang menampakkan wajah sendu.
Jisoo menautkan alisnya, sungguh ia bingung dengan ucapan Sehun. Orang sedingin dan secuek Lisa memiliki trauma, sangat-sangat tidak dapat diduga. Terlihat sekali dia baik-baik saja, masalah pun seakan tak ada yang begitu besar sampai membuatnya demikian. Gimana mau masalah besar, masalah kecil saja. Sudah membuat Lisa naik darah, yang ada jika ia mendapat masalah besar. Ia akan menelan karyawannya itu bulat-bulat>_<
"Kekerasan, ancaman, ketertekanan, dan kematian Mr. Joon Ki Manoban. Membuat Lisa mengalami trauma cukup mendalam, sikolognya pun terganggu karenanya. Hampir seluruh psikiater ku hubungi, tapi tak satupun ada yang cocok. Bahkan membuat keadaan Lisa memburuk karna terus menemui orang-orang berbeda setiap harinya" Jisoo tersentuh, perasaannya pun goyah mendengar penjelasan Sehun yang tampak frustasi.
Kenapa aku jadi makin gelisah, perasaan apa ini? Sungguh aneh, bahkan aku tak bisa mengungkapkannya_batin Jisoo yang makin tidak tenang mendengar sepenggal cerita dari Sehun.
Drettt... Drettt... Drettt...
"Nee, ada apa? Apa Lisa baik-baik saja? Aku harap dia tidak melakukan hal konyol untuk mengalihkan rasa ketertekanannya" ucap Sehun dengan khawatir.
"None Lisa demam, Young master. Dia menginginkan Young master ada disampingnya sekarang" ucap Jungkook dengan sendu.
"Aku akan segera datang" ucap Sehun dengan antusiasnya mematikan telfonnya sepihak. Lalu menarik tangan Jisoo dengan terburu-buru.
Jisoo bingung akan tingkah aneh Sehun, tanpa banyak bicara ia mengikuti kekasihnya dengan pasrah.
15 menit perjalanan, Sehun dan Jisoo akhirnya sampai dikediaman Manoban. Kemegahan dan kemewahan rumah itu, membuat Jisoo tak henti-hentinya merasa kagum. Walau ini bukan kali pertama baginya mendatangi rumah Lisa, tetap saja ia tersentuh akan bangunan estetik yang ada dihadapannya sekarang. Keluasan dan semua fasilitas yang ada, seakan membuat Jisoo betah berlama-lama dirumah, jika sendainya itu rumahnya.
__ADS_1
Mereka turun dari mobil, tampak para bodyguard membungkuk kearah Sehun dan Jisoo. Namun karna keadaan cemas, Sehun tak menghiraukannya. Ia malah menarik tangan Jisoo masuk begitu saja, berjalan menuju kamar Lisa yang jaraknya lumayan menguras tenaga.
Dikamar Lisa sendiri berbaring tak berdaya, ingatan akan daddynya membuatnya semakin frustasi. Jika dia bisa menjadi seperti daddy inginkan, pasti hidup masa kecilnya tak seburuk itu. Penyesalan dan rasa bersalah selalu menghantui Lisa, ia terus saja berfikir. Bila ialah penyebab kematian sang daddy, orang satu-satunya yang Lisa miliki.
Tokkk... Tokkk... Tokkk...
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Lisa, dalam keadaan lemas. Lisa tak banyak bergerak, ia hanya menengok kearah pintu. Menunggu seseorang yang ia inginkan hadir menemaninya.
Ceklekkk...
Namja dengan kemeja putih dan celana hitam berjalan mendekati Lisa. Melihatkan senyum simpul yang terukir indah diwajahnya. Saat sudah berada didekat ranjang tempat Lisa berbaring, ia tertunduk sembari menaruh beberapa obat di atas nakas.
"None, Young master sudah datang" ucapnya yang mendapat anggukan dari Lisa.
Namja itu tak lain adalah Jungkook, ia sengaja membawa obat. Mengingat Lisa sangat sulit diminta meminum obatnya dengan teratur.
Tak lama setelah kepergian Jungkook, Sehun datang dengan senyumnya yang mengembang. Ia terlihat begitu senangnya, sembari mengambil langkah panjang untuk segera menghampiri Lisa.
Tapi senyum Lisa sedikit memudar, kala melihat sesosok yeoja berjalan membututi Sehun. Ya dapat ditebak dengan sangat mudah, siapa lagi dia jika bukan Jisoo. Seseorang yang sangat dibela Sehun sampai membuatnya tak fikir panjang dan membentak Lisa begitu kerasnya.
"Apa yang sakit? Apa terasa pusing? Perlu kita kerumah sakit?" tanya Sehun bertubi-tubi, dengan wajah khawatir. Ia duduk disamping Lisa, meletakkan punggung tangannya kedahi dan kedua pipi Lisa.
__ADS_1
"Kenapa hum?" tanya Sehun lagi setelah melihat tatapan Lisa yang tak berpindah menuju kearah kekasihnya. Jisoo sendiri tertunduk, sungguh tak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain menundukkan kepala. Melihat Lisa menatapnya intens.