
"Kenapa hum?" tanya Sehun lagi setelah melihat tatapan Lisa yang tak berpindah menuju kearah kekasihnya. Jisoo sendiri tertunduk, sungguh tak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain menundukkan kepala. Melihat Lisa menatapnya intens.
.
.
.
Sehun duduk didepan Lisa, berusaha menutupi arah mata Lisa yang tak henti menatap Jisoo. "Oppa, kau mengajaknya?" ucap Lisa setelah berusaha beberapa kali menengok, namun terus dihalangi Sehun.
"Ini bukan salahnya, ini salahku. Jadi aku minta maaf untuk itu" ucap Sehun berusaha menenangkan Lisa yang emosinya hampir tersulut.
Lisa terdiam, berbaring ditempat semula dengan tangan yang tak henti memainkan jari Sehun. Api, terbakar sudah hati Jisoo dengan api cemburunya. Marah pun sudah tak ada gunanya, keadaan Lisa kali ini hal yang terpenting.
"Kau sudah makan? " tanya Sehun mencairkan suasana yang terasa panas dikedua wanitanya.
"Hmm" berdehem, sikap Lisa kembali seperti semula.
"Sudah minum obat? " tanya Sehun.
"Diam, aku tak butuh apa-apa saat ini. Hanya butuh kau didekatku saja" ucap Lisa membuat Jisoo makin memanas.
Dadanya terasa sesak, apalagi ditambah dengan foto-foto sehun dan Lisa begitu mesra di sekeliling kamar. Rasanya Jisoo benar-benar ingin membakar ruangan ini beserta pemiliknya. Wajahnya memerah menahan emosi pada dirinya.
Ubun-ubunnya terasa ingin meledak, Jisoo memilih keluar kamar. Mencari udara sejuk, untuk menetralkan suasana hatinya saat ini.
__ADS_1
"None, none butuh sesuatu?" tanya Hana yang melihat Jisoo keluar dari kamar Lisa dengan wajah yang memerah dan nafas yang memburu.
"Tidak" jawab Jisoo ketus sembari memalingkan wajahnya kesisi lain. Mengapa seisi rumah ini adalah orang-orang yang menyebalkan? Disisi lain ia tak bisa menahan diri akan sikap Lisa yang terlalu dekat dengan kekasihnya. Bahkan Sehun sebagai kekasihnya juga tidak peka akan keadaan perasaannya saat ini. Benar-benar menyebalkan.
Hana pergi, meninggalkan Jisoo yang tampak menahan kesalnya. Tak ingin menjadi sasaran kemarahan Jisoo, Hana memilih pergi dengan damai.
Tak berapa lama, dari lantai atas tepatnya didepan kamar Lisa. Jisoo melihat Rose datang dengan wajah cemas, tak terlewat fokus Jisoo bergulir kearah Jungkook yang menghampiri Rose. Sempat curiga melihat gerak-gerik mereka. Tidak dapat menahan rasa penasarannya, Jisoo pun mengikuti Jungkook dan Rose yang masuk ke sebuah ruangan.
Dengan hati-hati, Jisoo menjinjitkan kakinya agar tak menimbulkan suara langkah kaki. Saat ia mendekati pintu ruangan yang baru saja dimasuki kedua insan tadi. Jisoo menengok kesekitar untuk sesaat, memastikan tak ada yang mengamatinya sebelum ia melanjutkan aksinya untuk menguping.
Setelah sampai didepan ruangan, Jisoo segera memasangkan telinganya menempel kearah pintu. Lalu memfokuskan pendengarnya, untuk menyimak pembicaraan seseorang yang berada didalam.
"Aku mendapat 2 foto dari kekasihku... Namun dikedua foto, masing-masing berbeda pasangan. Aku tidak bisa menentukan siapa dari mereka yang merupakan ibu kandung Lady Boss" ucap Rose yang terdengar jelas dari balik pintu.
"ck, kita tidak bisa menunjukkan ini kepada none Lisa sekarang. Selain keadaannya yang tidak mendukung, kejelasannya pula belum kita dapatkan. Kalau bisa sembunyikan bukti ini, sebelum Young master menemukannya" Jisoo menautkan alisnya, rasa takut kini mengalir dalam dirinya. Mengingat dirinya dan kekasihnya telah berbohong mengenai kakak dan ibu kandung Lisa. Ia sudah sangat menduga, diantara foto itu sudah pasti tidak ada foto ibunya sama sekali. Kini rasa cemas benar-benar menyelimuti perasaannya.
"Ya, kau ingat. Bagaimana jika emosinya meluap? Itu sangat-sangat menakutkan" ucap Jungkook.
"Ahh.. ya, aku ingat betul. Benar-benar menakutkan" ucap Rose.
Tentunya, Jisoo merasa tegang. Bagaimana tidak, ia sendiri juga merasa takut. Membayangkan wajah-wajah bagaimana kemarahan Lisa dan kalimat-kalimat menyayat apa yang akan dia lontarkan sudah cukup membuat mental Jisoo menciut
Memicu Jisoo bertindak ceroboh dengan tanpa sengaja, menjatuhkan vas bunga di atas nakas dekat pintu, tentunya menyadarkan sosok didalam ruang akan keberadaannya yang tengah menguping pembicaraan mereka...
Takut jika sampai ketahuan, Jisoo dengan gugup, berlari dari tempat itu dengan tergesa-gesa. "Semoga mereka tak melihatku" bisik Jisoo dalam dirinya
Jungkook yang baru keluar dari ruangnya hanya tersenyum tipis, menatap tangga yang baru saja menampakkan sekilas yeoja yang familiar baginya
__ADS_1
"Siapa tadi? " tanya Rose yang ikut keluar, setelah beberapa saat Jungkook tak kunjung kembali menghampirinya
"Eommaku, lupakan... Rose-ssi, cari latar belakang keluarga Jisoo secara detail, kita tak akan menemukan apa-apa, jika dia tak kita lacak juga" ucap Jungkook mendapat anggukan patuh dari Rose
"Kalau begitu aku pergi dulu, aku harus menemui kekasihku untuk mengetahui lebih lanjut masalah ini" pamit Rose berlalu pergi meninggalkan Jungkook
***
Di kamar, Lisa mengetahui Jisoo keluar dari kamar langsung saja mendorong Sehun menjauh darinya
Hal itu tentu membuat Sehun kebingungan, dia begitu manja tadi, kenapa sekarang berubah seperti ini? Bahkan tatapannya penuh kejijikan. "Ada apa, Lisa? " tanya Sehun keheranan
"Mr. Sehun, mungkin daddy mempercayaimu sebagai penanggung jawab sebagian besar perusahaan, tapi sekali lagi ku ingatkan Mr. Sehun" ucap Lisa terjeda, berdiri dari tempatnya dengan seringai kecil yang terlihat tipis di bibirnya
"Bahwa kau tak memiliki hak sedikitpun atas diriku dan keputusanku. Bahkan kau juga tak berhak untuk MEMBENTAKKU!! " teriak Lisa di akhir katanya
Sehun terkejut, tentunya. Ini bukan Lisa yang ia kenal, walau ia tahu Lisa sering kali berkata mengenai hal-hal yang begitu menyakitkan, ia sama sekali tak menyangka jika, dia juga berani berkata demikian padanya. "L-Lisa... A-apa maksudmu? " tanya Sehun, sebab baginya sangat tak mungkin Lisa akan berbuat seperti ini padanya
"Kau tuli?!" tanya Lisa penuh penekanan. "Aku tidak perduli akan warisan dan sebagainya, aku tidak menyukaimu Mr. Sehun! Bahkan aku sangat membencimu! Aku sangat membencimu semenjak daddy memperkenalkan kita di malam itu, aku membencimu karena daddy selalu menganggapku bodoh tanpa tahu keadaanku, aku membenci semua yang ada dan kelahiranku" ungkap Lisa tanpa jeda, sembari mengatur nafasnya akan udara yang semakin tipis
"Aku membencimu... sangat membencimu" ucap Lisa tertunduk merasa dadanya begitu sesak
Sehun merasa bergetar, semua bagai sambaran petir bertubi-tubi baginya. Seluruh badan seakan mati rasa mendengar kata kebencian dari seseorang yang sudah begitu amat ia sayangi melebihi adik kandungnya sendiri
Lisa semakin terguncang, getaran tubuhnya semakin tak terkendali, kesesakan selama ini ia pendam tersalur secara tak terduga dari mulutnya, penyesalan tak lagi ada di benaknya, kobaran kebencian masih saja menggelapkan matanya
Air mata Sehun luruh tanpa di duga. "Aku tahu kau mampu Lisa, tanpaku pun kau jauh lebih hebat, aku hanyalah penghambat kemajuanmu ya itu salahku... Biarkan ini menjadi salahku dan aku yang menanggungnya Lisa... Jangan Jisoo maupun Jennie, ku mohon" pinta Sehun menahan isaknya, menatap Lisa yang membelakanginya dengan tangan mencengkram ujung meja untuk menopang tubuhnya
__ADS_1
"Semudah itukah? Aku akan menuntut pembalasan dendamku BEDEBAH!!!"