
"Dunia bagai milik berdua, kita hanya ngontrak" sindir Jennie sambil menyenggol lengan Jungkook.
Jungkook hanya terkekeh, mendengar sindiran Jennie yang membuat Sehun menghentikan aksinya.
Jisoo merapikan bajunya, lalu memberi kode kepada Jennie. Agar segera berpamitan pulang, mengingat hari sudah semakin malam.
Sehun melengkungkan bibirnya kebawah, karna merasa belum puas menghabiskan waktu bersama kekasihnya itu. Baru saja ia bertemu Jisoo setelah beberapa bulan tidak bertemu, rasanya ingin sekali Sehun menahan Jisoo lebih lama. Namun apa daya, hubungan mereka yang baru sebagai sepasang kekasih, membuatnya tidak bisa bertindak banyak.
"Jungkook, hantarlah mereka pulang. Pastikan mereka pulang tanpa lecet sedikit pun, atau kau akan membayar semuanya" pinta Sehun yang langsung mendapat anggukan cepat dari Jungkook.
Sehun menyurai rambut Jisoo dengan lembut, sebelum akhirnya dia pergi dan menghilang, dari balik pintu yang diikuti Jennie dan Jungkook.
...~Paginya~...
Lisa tampak sudah duduk dimeja kerjanya, dengan beberapa berkas yang menumpuk. Matanya begitu serius melihat kearah laptop, sesekali ia juga melihat kearah berkas yang ada ditangannya. Hingga sebuah ketukan memecah keseriusan dan fokus Lisa.
Tokkk... Tokkk... Tokkk...
"Masuk" teriak Lisa kepada seseorang dibalik pintu tanpa menolehkan pandangannya.
Seorang namja masuk, ia membawa amplop ditangan kanannya. Dengan hormat ia membungkuk dihadapan Lisa, lalu berjalan mendekatinya. Menyodorkan amplop bawaannya kepada Lisa.
Lisa mendongakkan kepalanya kepada namja didepannya. Memberikan senyuman tipis kearah namja yang berdiri didepan mejanya. Lalu dengan cepat Lisa meraih amplot yang sejak semalam telah ditunggu-tunggu. Dengan perlahan Lisa membuka isi amplop, melihat beberapa foto yang ada didalamnya.
"Hanya ini?" namja itu mengangguk dengan cepat.
Satu foto cukup membuat Lisa terpaku, pasalnya didalam foto tersebut. Terlihat sekali jika foto ini dicrop dengan asal.
__ADS_1
"Shitt!!!" umpat Lisa.
"Jungkook!, apa matamu buta hah?! Kenapa foto ini dipotong?" bentak Lisa yang sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Mian none, dari informasi yang saya gali. Banyak yang sudah ditarik dari edaran berita none, selain itu pelacakannya juga sangat sulit. Mengingat informasi itu sudah terjadi puluhan tahun yang lalu" jelas Jungkook yang menundukkan kepala, menandakan ketidak sanggupannya. Untuk memberikan informasi yang tengah Lisa cari selama ini.
Mendengar penjelasan Jungkook hanya membuat hati Lisa semakin memanas. Tak ingin makin hilang kendali, ia pun menjatuhkan badannya dikursi kebesarannya sambil sesekali memijat pelipisnya.
"Pergilah, bawakan aku minuman" pinta Lisa yang duduk membelakangi Jungkook, sebab ia tak ingin kemarahannya semakin menjadi hanya karna melihat wajah polos Jungkook.
Jungkook sendiri mengangguk ragu, lalu membungkukkan badan kearah Lisa. Kemudian ia pergi dengan wajah yang kecewa, pasalnya sudah kesekian kali ia mencari informasi itu. Tapi tak pernah membuahkan hasil yang memuaskan. Selalu saja ia mengecewakan harapan Lisa, membuatnya bungkam menahan semua amarah yang harusnya Jungkook terima sedari dulu.
Namun entah karna alasan apa, Lisa selalu saja bungkam jika Jungkook gagal dalam menjalankan tugas. Menahan dalam-dalam emosinya, hanya agar Jungkook tidak menyerah dalam mencari informasi yang ia mau. Walaupun ia juga tahu, jika emosinya itu sangat mudah dibaca siapapun tanpa ia harus susah payah mengatakannya.
Kau tahu aku tidak suka akan kegagalan, tapi demimu. Aku tak masalah menerima kekecewaan dan menahan semua emosi. Yang akhirnya membuatku depresi, asalkan. Kau selalu ada disisiku dan menemaniku disegala keadaanku~
Terlihat raut wajah Jungkook sangatlah masam, pikir Jisoo mungkin habis dimarahi oleh Lisa. Tapi apa yang membuatnya sampai demikian? Apakah dia membuat kesalahan sebegitu fatalnya? Namun tak terdengar Lisa membentak atau berteriak. Dan memang nyatanya ruang kerja Lisa bersebelahan dengan ruang kerja Jisoo. Sudah dapat dipastikan jika ia marah ataupun meninggikan volume suaranya. Seharusnya hal itu dapat terdengar sampai tempat Jisoo, sebab tak ada peredap suara di masing-masing ruang kerja mereka.
Sebenarnya, setelah melihat raut wajah Jungkook begitu buruk seusai keluar dari ruang kerja Lisa. Jisoo jadi merasa ragu, bagaimana jika ia ikut kena omel oleh Lisa karna tidak dapat melihat situasi yang ada. Tapi jika ia tidak segera menemui Lisa, mereka akan membuat client menunggu untuk meeting penting.
Keadaan ini sungguh membingungkan, dengan berat hati. Jisoo memberanikan diri masuk keruang kerja Lisa. Sebelum membuka pintu, ia menghirup nafas dalam. Lalu ia hembuskan dengan kasar, harapnya itu dapat meredakan kegugupan didalam hatinya.
Ceklekkk...
Jisoo melihat Lisa sedang memijat pelipis dengan mata terpejam. Ia menelan saliva dengan berat, lalu berjalan mendekati Lisa dengan langkah yang sedikit gemetar.
__ADS_1
"L-lisa-ya" panggil Jisoo gugup dan dengan cepat Lisa menjawab dengan dehemannya yang melegenda.
"A-ada meeting penting 1 jam lagi, a-aku h-harap k-kau tak melupakannya" ucap Jisoo yang semakin terbata-bata.
Lisa menghempuskan nafas kasar, sampai terdengar jelas ditelinga Jisoo. Lalu dengan lemas Lisa menjatuhkan badannya kesandaran kursi. Dengan perlahan ia pun melihat sosok Jisoo yang berdiri didepan mejanya. Bahkan cucuran keringatnya terlihat jelas dimata Lisa, menandakan dia sedang menahan ketakutannya menghadapi Lisa.
"Duduklah" Jisoo mengangguk cepat ketika Lisa mengarahkan tangannya, agar ia duduk dikursi depan meja kerja Lisa.
Setelah melihat Jisoo sudah duduk ditempat yang ia arahkan. Lisa pun mengulum bibirnya, menahan tawa melihat wajah Jisoo yang tampak begitu gugup.
"Clam down, saya tidak akan menggigitmu" canda Lisa yang tampak dianggap serius oleh Jisoo.
"Meeting nanti, kau dan Jennie saja yang tangani" Jisoo sudah pasti mengerutkan dahinya. Pasalnya semalam Lisa tampak menggebu sekali ingin mendatangi meeting. Tetapi tampaknya, moodnya hari ini begitu hancur. Sampai ia memilih untuk tidak jadi hadir.
"Tapi... "
"Kalau Jennie saja, bisakah dia menanganinya?" tanya Lisa memutus protes Jisoo. Jennie memang tidak jadi resign atas perintah Sehun, tentunya Lisa tak bisa menentangnya. Dengan berat hati, Lisa menerima keputusan Sehun tanpa protes sedikit pun. Toh bila dia melakukan protesnya, ia tak yakin jika Sehun akan menurutinya. Mengingat, Jennie merupakan adik kandung dan teman dekat kekasih Sehun. Sudah pasti Sehun akan memilih adik kandungnya dibandingkan Lisa.
"Aku butuh teman saat ini" pinta Lisa yang melihatkan wajah lesu dan sedikit pucat.
Jisoo sedikit lega, pikirnya Lisa akan marah juga kepadanya. Namun setelah melihat mood diwajahnya, kini rasa iba mulai menyelimuti perasaan Jisoo. "Kau tidak terlihat baik-baik saja, lebih baik pulanglah. Lalu istirahatkan badan dan pikiranmu" ucap Jisoo lembut, dimana ia mulai mencemaskan keadaan Lisa.
"Aku baik-baik saja, jika tidak mau menemaniku. Bilang saja, aku tidak suka basa-basi" Jisoo diam.
"B-bukan maksudku menolak" Lisa tersenyum tipis.
Entah mengapa, setelah makan malam bersama. Kini Lisa sangat suka melihat wajah Jisoo yang penuh emosi-emosi imutnya. Apa lagi, dikala ia mendekati tunangannya, wajah Jisoo pasti memerah layaknya kepiting rebus. Lisa tahu jika Jisoo sangat cemburu melihat kedekatan mereka berdua.Tapi sejujurnya Lisa juga tak memiliki rasa lebih kepada Sehun. Ia malah merasa senang bila kelak Jisoolah yang akan menjadi pendamping Sehun sesungguhnya.
__ADS_1
Jisoo terkejut, mendapat senyuman manis dari yeoja didepannya itu. Walau hanya sekedar senyuman tipis, namun ia dapat melihat jika itu merupakan senyuman yang tulus.
"Keluarlah, aku tahu kau sedang tak mau pergi denganku"