Antara Cinta Dan Wasiat

Antara Cinta Dan Wasiat
Psikiater


__ADS_3

Ini membuatnya muak, namun lagi-lagi ia tak memiliki daya. Lisa memilih memendam dalam emosi dan keinginannya. Hingga bertumpuk menjadi kebencian yang mendalam pada eommanya. Ya, Lisa benar-benar membenci eomma kandungnya.


Sebab dengan tega eommanya pergi meninggalkannya, tanpa pernah menemuinya. Sekedar suratpun tak pernah terkirim, apa? bagaimana? kenapa? dan mengapa? Yang selalu berkutat dihidupnya. Seakan sirna ditelan waktu, kini harapnya hanyalah satu. Dan seandainya takdir mengizinkan, Lisa ingin sekali saja merasakan kasih sayang seorang eomma yang belum pernah ia dapatkan sama sekali.


One day jika waktu berputar mendukung jalanku, aku akan menuntutmu eomma. Menuntut semua hal yang belum pernah kudapat, hal-hal yang sedari dulu ku inginkan_ batin Lisa yang masih setia menatap tembok kamarnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Tokkk...Tokkk... Tokkk...


"None, apa none membutuhkan sesuatu?" tanta yeoja tang berdiri didepan pintu kamar Lisa dengan raut wajah cemas. Karna sudah dari tadi siang, tuan putrinya itu tak kunjung keluar dari kamar. Tak biasanya dia begini, makan siang pun sampai tak dihiraukan olehnya.


Lisa menghela nafas panjang, menyadarkan badannya kebadan ranjang. Dengan tatapan yang sama, ia mengumpulkan tenaga untuk menjawab aunty kesayangannya itu.


"Aniya aunty" teriak Lisa kepada seseorang dibalik pintu kamarnya.


"Boleh saya masuk none?" Lisa langsung berdiri, berbaring diatas kasur. Lalu mengambil laptop dan ditaruh dipangkuannya, berpura-pura seakan ia sedang mengerjakan sesuatu.


"Nee aunty" teriak Lisa yang tak lama seorang wanita paruh baya masuk, dengan raut wajah cemas menghampiri keberadaan Lisa yang terlihat sibuk memainkan laptop dipangkuannya.


"Ada apa, aunty?" tanya Lisa tanpa melihat seorang paruh baya berdiri disampingnya.

__ADS_1


"Apa none baik-baik saja? Apa none tidak enak badan? Apakah ada yang sakit none?" tanya yeoja itu sembari mengecek setiap inci badan Lisa.


"Calm down, aunty. I'm fine" menaruh laptopnya kesamping, melipat kedua kakinya. Lalu mengarahkan yeoja tersebut untuk duduk didepannya.


Yeoja itu menuruti arahan Lisa, hingga tiba-tiba dalam hitungan detik. Lisa langsung memeluk yeoja depannya dengan pelukan yang tak terlalu kencang.


"Calm down, aunty. I'm okey, don't worry" ucap Lisa sedikit mendongak kearah seseorang yang ia peluk dan memperlihatkan mata hazelnutnya yang indah.


"Hufft... " ia menghela nafas lega. "Kalau ada apa-apa, jangan ragu cerita ke saya ya, none. Saya tidak mau terjadi apa-apa dengan none, apa perlu none saya antar ke psikiater. Agar none lebih tenang" Lisa hanya membalas dengan senyuman.


Nyatanya memang Lisa pernah mengalaminya, dimana auntynya, Jungkook dan Sehun. Kesulitan mencari psikiater yang cocok untuk menangani kecemasan Lisa. Pada saat itulah Sehun mengetahui bagaimana terguncangnya jiwa Lisa selama ini. Memang dari luar, Lisa tampak begitu tenang. Wajah dingin dengan mata hazelnut yang begitu manis, serta lengkungan bibir. Benar-benar menipu banyak mata akan sisi gelap dibalik wajah berbienya.


"Aniya, aunty. Aunty tidak perlu mencemaskanku, aku baik-baik saja" anggukan pelan merespon ucapan Lisa. Membuat Lisa tersenyum semakin melebar. Memang sudah hampir 6 bulan terakhir Lisa tak lagi mengunjungi ruang hangat dengan seribu solusinya. Tak lagi mendengar detik jam yang berputar dengan curahan air mata. Dan pastinya tak melihat lagi sosok yeoja yang mengenakan jas putih dengan klip namanya didada sebelah kiri. Siapa lagi jika bukan psikiater yang menangani Lisa. Walau sudah membaik dan dapat mengatasi ketakutannya. Namun dokter psikiater Lisa itu tak jarang juga sering berkunjung, untuk sekedar mampir dan melihat keadaannya saja. Memastikan jika pasiennya dulu sudah benar-benar mampu menangani kecemasannya.


"Hmm?" berdehem menjadi jawabannya.


"Menurut aunty, apakah aku mirip dengan eomma? Sungguh, aku sangat penasaran dengan wajahnya" ucap Lisa sendu.


"Tentu saja none, kalau tidak. Darimana kecantikan none ini" godanya dengan mencubit pelan pipi Lisa.

__ADS_1


"Dan apakah eonnieku juga cantik sepertiku? Aku sangat tidak terima jika dia lebih cantik dariku" yeoja itu terkekeh, melihat Lisa menyilangkan tangannya sembari memanyunkan bibirnya.


"None tetaplah yang paling cantik" pujinya sembari menyurai lembut kepala Lisa.


"Tapi mengapa ya, eomma dan eonnie tak pernah ingin menemuiku? Aku cantik, aku pintar sekarang, bahkan aku president termuda di Asia. Tapi mengapa eomma tak pernah menemuiku? Mustahil bila dia tidak mengenalku. Aku tahu wajahku memang jarang bahkan sangat amat jarang terekspost kemedia sosial. Tapi setidaknyakan, harusnya mereka kenal dong denganku" keluh Lisa dengan menautkan kedua alusnya


Sang empu hanya diam, ia menyadari akan kekosongan hidup Lisa. Yang sedari kecil selalu mengemis kasih sayang dari appanya, namun lagi-lagi kekerasanlah yang didapatkan. Menjadi saksi bisu penderitaan Lisa, membuatnya teriris. Tatkala Lisa menyinggung sosok eomma yang slalu dinantikan kedatangannya. Biarpun itu sangat mustahil, tapi ia harus tetap meyakinkan Lisa. Bila eommanya akan datang, ia hanya takut. Jika Lisa akan semakin memburuk, bila mengetahui kenyataan orang tuanya dimasa lalu.


"Mungkin mereka sudah berusaha mencari none Lisa, hanya saja takdir belum mengizinkan kalian bertemu. Jadi none Lisa yang sabar, bila sudah waktunya. Pasti akan segera dipertemukan" jelas Hana yang berusaha membuat Lisa agar tak membenci eommanya.


"Aunty Hana, mengapa kau masih disini? Bukankah putramu sudah sangat sukses sekarang. Dia bahkan sudah memiliki cabang restoran dan hotel di berbagai negara. Aku pun juga masih sering menyusahkannya, dengan menyuruhnya mengurusi perusahaanku. Harusnya aku tak banyak menyusahkan kalian" ucap Lisa yang mengalihkan pembicaraan. Melihat wajah aunty kesayangannya itu, berubah ketika berusaha menjawab semua pertanyaan dalam pikirannya.


Tentu Lisa tahu karna apa, tapi ia hanya memilih diam. Selain agar tidak menambah lukanya, ia juga sadar bila aunty itu hanya menjawab untuk menenangkan hatinya saja.


"Saya akan terus disini, dengan setia menemani none sampai kapanpun itu. Masalah Jungkook none juga tahu. Bila kesuksesannya karna saham yang none percayakan kepadanya" Lisa mengerucutkan bibirnya.


"Aunty! jangan bilang kalau aunty menganggapnya pemberian. Aku tidak akan terima itu" kesal Lisa sembali menyilangkan kedua tangannya dan membuang muka.


Hana terkekeh, Lisa memang memberikan saham itu pada Jungkook. Sebagai hadiah karna Jungkook dapat dengan sabar membantu Lisa menangani kekurangannya selama ini. Dan tak henti-hentinya memberi semangat, agar Lisa tak putus asa dalam usahanya.

__ADS_1


Ting Tong... Ting Tong... Ting Tong...


Tiba-tiba bel rumah berbunyi, tak biasanya bel itu berbunyi. Sebab biasanya jika ada tamu tak dikenal datang, seringnya satpam depan gerbang akan menelfon Lisa terlebih dulu sebelum mengizinkan tamu itu masuk. Bahkan jika tamu dikenal, seringnya juga tak menekan bel masuk dulu. Dia akan langsung masuk dan menanyai kepada Art mengenai keberadaan Lisa. Layaknya yang sering dilakukan Rose dan juga Jungkook setiap harinya.


__ADS_2