Antara Cinta Dan Wasiat

Antara Cinta Dan Wasiat
Emosi


__ADS_3

Sebegitu parahkah jika Lisa sampai tidur awal? Apa dia memiliki sesuatu? Jisoo hanya mengerucutkan bibirnya, memendam dalam rasa cemburu.


"Hy? Kau baik-baik saja?" tanya Sehun dengan polos.


"Hmm, hanya merasa lelah" Sehun mengangguk pelan.


"Kita pergi makan malam dulu, baru aku akan mengantarmu pulang" Jisoo menggeleng, ia pun membenarkan posisi duduknya sambil melihat kearah Sehun yang tengah mengemudi.


"Kita pulang saja, aku sedang tidak selera makan" ucap Jisoo yang langsung saja mendapatkan tatapan aneh dari Sehun.


Sehun menepikan mobilnya, lalu menggenggam tangan Jisoo untuk ia tarik dalam dekapannya.


"Ada yang kau pikirkan honey?" tanya Sehun.


Jisoo diam, ia senang Sehun dapat peka dengan perubahan moodnya. Tapi tak cukup untuknya hanya sekedar peka, Jisoo ingin satu-satunya milik kekasihnya. Bukan salah satunya, ataupun pelariannya. Namun dalam keadaan seperti ini, bisakah ia menuntut? Dimana status Sehun saja masih melekat kuat akan kata tunangan Lisa. Diam yang hanya bisa Jisoo lakukan, sembari menunggu saat waktu akan berpihak dengannya.


"Kok diam? Apa aku berbuat salah? Apa aku melukai hatimu?" tanya Sehun yang merasa Jisoo hanya diam tanpa membalas pelukannya.


"A-aku... aku takut kau akan meninggalkanku" lirih Jisoo yang tak terasa bulir bening mengalir begitu saja, membasahi pipi Jisoo.


Sehun melepas pelukannya, ia langsung menatap dalam mata Jisoo. Terlihat rasa takut telah menguasai pikirannya, dengan perlahan Sehun tersenyum tipis. Menghapus jejak air mata Jisoo dengan kedua ibu jarinya.


"Karna apa aku meninggalkanmu? Coba berikan aku alasan. Mengapa sampai kau berfikir aku akan meninggalkanmu?" ucap Sehun yang terus menatap dalam mata kekasihnya.


"Karna Lisa lebih sempurna dariku... hiks hiks hiks" isak Jisoo yang semakin menjadi.


"Heh, apa yang kau katakan" ucap Sehun sendu sembari terus mengusap pipi Jisoo. "Aku tulus mencintaimu Jisoo-ya, bukan kesempurnaan pula yang kucari sayang. Tapi dirimu, kesederhanaan yang penuh akan kekurangan. Dimana hanya akulah yang akan menjadi penyempurnamu, melengkapi semua kekuranganmu. Untuk menjadi bagian dari hidupku, apa kau masih meragukanku? Sungguh itu sangat melukaiku" jelas Sehun panjang lebar, yang berakhir akan tundukan kesedihan.


Jisoo tidak tega melihat kekasihnya menunduk tak berdaya dihadapannya. Dengan cepat ia pun memeluk tubuh Sehun dengan erat, menjadikan bahu Sehun sebagai tumpuan kepalanya.


"Mian, oppa. Aku hanya takut, untuk sesaat aku merasa kau bukan milikku" Sehun membalas pelukan Jisoo dengan erat.


"Tidak honey, aku milikmu. Akan selamanya tetap seperti itu, jadi jangan pernah berfikir sedikitpun bahwa ku akan meninggalkanmu. Karna itu semua tak akan pernah terjadi" ucap Sehun sembari mengusap punggung Jisoo perlahan.

__ADS_1


"Saat kau menelfon seseorang untuk menanyakan keadaan Lisa, kau tahu? Untuk sesaat aku terasa kau abaikan, kau seperti bukan satu-satunya milikku. Tapi miliknya juga" protes Jisoo yang melepas pelukan Sehun sepihak dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


"Ouh... sepertinya kau sangat cemburu dengan Lisa, kenapa hum? Kau merasa kalah saing dengannya?" goda Sehun.


"Tidak, kalau kau tergoda dengannya. Pergi saja sana, aku tak akan memperdulikanmu" ketus Jisoo sambil membuang muka.


Tentu aksi merajuk Jisoo membuat Sehun terkekeh. Wajahnya yang begitu manis layaknya baby, membuatnya tak bisa menahan gemas kepada kekasihnya sendiri. Sehun menarik Jisoo kedelapannya, tak lupa ia juga menyurai lembut rambut kekasihnya.


"Biarpun kami tak saling mencintai, namun keadaan Lisa adalah tanggung jawabku honey. Aku sudah berjanji pada daddynya, jika aku akan selalu menjaganya. Aku akan menepati janjiku itu honey, apa lagi setelah kepergiannya. Lisa tak memiliki siapa-siapa lagi, aku tak bisa membiarkannya menderita sendiri" jelas Sehun yang mendapat anggukan cepat dari Jisoo.


"Tapi berjanjilah juga padaku, jika kedekatan kalian sekedar adik dan kakak. Tidak lebih, aku tak ingin membagimu dengan siapapun sayang" Sehun tersenyum lebar, mendengar Jisoo yang mulai mengerti dirinya.


"Tentu, apapun yang kau inginkan honey. Sudah pasti akan kulakukan"


...~*****~...


Paginya, Jennie tampak menempelkan telinganya tepat dipintu ruang kerja Lisa.Terdengar Lisa tengah berbicara dengan seseorang yang tak lain adalah Rose. Didalam tampak begitu serius membicarakan sesuatu mengenai surat ditangan Lisa.


"Selingkuh?! hahahahaha... " tawa Lisa yang menggelegar, seakan menggema memenuhi ruangan. Sontak hal itu membuat Rose merasa takut.


"Mian none, f-fotonya akan s-saya kirim ke nomor none L-Lisa" ucap Rose dengan gugup sembari merogoh ponselnya untuk mengirim foto yang Lisa minta.


Layar ponsel Lisa menyala, tampak notif pesan tertera jelas dari Rose. Dengan cepat Lisa segera melihatnya, memeriksa dengan detail foto-foto kirimannya.


Sampai tangannya terlihat mengepal kuat, seakan ia sudah siap untuk menghantam seseorang. Bahkan rahangnya pun kini sudah mengeras, membuat Rose menelan salivanya kasar. Berusaha menguatkan mentalnya untuk mendapat hinaan serta makian yang akan segera terucap dari mulut Lisa.


"Lihat!!!" bentak Lisa yang membuat Rose terkejut sambil melihat ponsel Lisa yang menunjukkan foto yang baru ia kirim.



Brakkk...


Lisa memukul meja cukup kencang, Jennie yang berada diluar sampai terkejut dibuatnya. Rose yang sedari tadi didalam pun ikut terkejut, bagaimana tidak, orang amarah Lisa memang ditujukan untuknya_-

__ADS_1


"Apa kau tidak bisa mencari foto yang memperlihatkan wajah mommyku secara jelas?!" sinis Lisa membuat Rose tertunduk.


"Mian, none" Lisa semakin geram akan kata-kata Rose yang selalu saja meminta maaf, tanpa perduliakan usahanya selama ini. Mencari sosok yang telah puluhan tahun menghilang.


"Keluar! " bentak Lisa, Rose mematuhinya tanpa mengatakan apapun. Tetapi saat langkahnya sudah mendekati pintu, tiba-tiba...


"Stop!" Rose menghentikan gerakan tangannya, saat akan menyentuh gagang pintu. Suara Lisa tentunya membuat Rose mematung untuk sesaat.


"A-ada yang perlu saya bantu, none? " tanya Rose setelah membalikkan badan menghadap kearah Lisa.


"Masuk!" teriak Lisa.


Jujur saja, Jennie yang diluar langsung saja tertegun. Mendengar teriakan Lisa yang cukup kencang dan tegas. Rose yang berada didalam merasa bingung, siapa yang Lisa maksud?


"Masuk! atau ku seret kau secara paksa!!!" teriak Lisa yang makin keras sampai terdengar diruang sebelah.


Jisoo yang tengah mengerjakan setumpuk dokumen, sontak terkejut. Sudah sedari tadi ia mendengar Lisa mengomel, walau tak begitu terdengar jelas. Tetapi kali ini sudah sangat jelas ditelinga Jisoo.


"Apa yang membuat Lisa marah sepagi ini? " gumam Jisoo.


Karna penasaran juga mengenai apa yang terjadu dengan Lisa. Jisoo sembari mengumpulkan keberanian, memaksakan diri untuk mencari tahu apa yang terjadi.


Baru ia keluar ruangan, Jisoo cukup terkejut melihat Lisa dengan kasar memaksa Jennie masuk keruangannya. Tentu saja sebagai sahabat dan sekertaris kesayangannya, Jisoo tak terima melihat Lisa memperlakukan Jennie sebegitu kasarnya.


"Sialan!!!" pekik Lisa mendorong badan Jennie kearah Rose.


"Penguntit!!! Beraninya kau menguntit didepan ruanganku huh?! Mau cari perkara kau" ucap Lisa yang berapi-api.


"Ada apa ini?" tanya Jisoo yang tiba-tiba masuk tanpa seizin Lisa. Sudah pasti apa yang dilakukan Jisoo hanya akan memperkeruh suasana.


Seharusnya Jisoo tak masuk seenaknya, mengingat beberapa hari ini Lisa sangat cuek terhadapnya. Memperlakukan dirinya seperti tidak ada, selalu berlaga tuli akan panggilan Jisoo, dan selalu membuang muka saat tak sengaja saling bertemu. Sudah dapat ditebak, jika emosi Lisa akan meledak sewaktu-waktu dalam keadaan seperti ini.


Lisa melihatkan wajah smirk kearah Jennie dan juga Rose yang ada dihadapannya. Jelas apa yang diperlihatkan Lisa, membuat Jennie ketakutan. Kepalanya tertunduk sempurna, menggengam erat tangan Rose yang ada disebelahnya.

__ADS_1


"Saya tidak suka ada yang menguping!!!"


__ADS_2