
"Bolehkah aku tahu sedikit mengenai hidup Lisa. Ya aku tidak memaksa bila kau menolak, hanya saja aku tidak enak bila bertanya langsung kepada Sehun oppa" keluh Jisoo yang langsung mendapat anggukan Rose.
"Aku tidak terlalu tahu eonnie, hanya aku pernah dengar. Bila none Lisa dan tuan muda dijodohkan, karena saham Manoban Group hampir mengalami kebangkrutan pada masanya. Dan aku tidak tahu pasti, bagaimana hubungan keduanya lebih tepatnya. Sebab jujur saja aku terkejut saat, tuan muda memperkenalkan kalo eonnie adalah kekasihnya. Padahal semua juga tahu, bila tuan muda sudah bertunangan" ucap Rose dengan menyatukan alisnya dan sorot matanya yang tak henti memandang genggaman Jisoo yang melekat dikedua telapak tangannya.
Jisoo diam, sejujurnya dia juga sudah tahu jika Sehun sudah bertunangan. Bahkan sesudah mereka menyatakan perasaan masing-masing, Sehun baru terang-terangan mengatakan jika ia sudah bertunangan. Awalnya Jisoo tidak terima dan merasa dijadikan selingkuhan oleh Sehun. Tetapi setelah melihat ketulusan dari hatinya, serta kejujurannya. Akhirnya Jisoo mulai kembali mempercayai Sehun akan semua janji-janjinya.
"Dan aku rasa, sepertinya none Lisa juga tak pernah menganggap tuan muda tunangannya. Dia malah terlihat lebih mengutamakan Jungkook daripada tuan muda. Ya memang sih, none Lisa akrab dengan tuan muda. tapi tetap saja, kedekatan mereka itu tak seperti sepasang kekasih. Melainkan adik dan kakak" jelas Rose panjang lebar, setelah melihat ekspresi Jisoo yang hanya diam dengan wajah sendu.
Merasa sudah terlalu lama ia berada dikantor, Rose melihat jam ditangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 14.25 MP. Sebenarnya tak masalah juga, bila ia mengantar dokumennya sedikit terlambat. Toh, Lisa juga akan menyelesaikannya waktu malam. Itu sudah bukan rahasia lagi bagi Rose, ia tahu bagaimana susahnya Lisa mengobati insomnianya. Jadi kesibukan sebelum tidur, bagaikan rutinitasnya sehari-hari.
Dan hari ini, sejujurnya Rose memiliki janji pada seorang namja yang bekerja di saluran berita. Karna jarak kantor kerumah Lisa lumayan memakan waktu. Rose tidak bisa memepet waktu semudah itu, ke profesionalan harus tetap melekat pada dirinya. Memepet waktu bukanlah hal yang aman, belum lagi jika terjadi sesuatu di jalan. Itu pasti akan memperlambat kerjanya saja, karna ia juga sadar. Ia tidak bisa menduga-duga apa yang terjadi nantinya. Rose pun memutuskan untuk berangkat mulai sekarang.
"Mian eonnie, aku harus segera mengantar dokumen ini kerumah none Lisa. Sebab setelah ini, aku masih ada janji menemui seseorang" ucap Rose yang mengerucutkan bibirnya, sembari beranjak dari tempat duduknya.
Melihat bibir Rose yang mengerucut dengan imut, membuat Jisoo semakin gemas terhadapnya. Ia ikut beranjak dari tempat duduknya, lalu mencubit pelan pipi Rose dengan ekspresi gemasnya.
"Nee... tapi jika kau benar-benar sibuk. Tinggalkan saja dokumen itu, biar aku yang mengantarnya nanti" tawar Jisoo dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Gwenchana eonnie, aku masih bisa atasi ini" ucap Rose yang tampak meyakinkan.
"Aku juga tak masalah, malah jika kau menolak aku akan marah" Rose mengerutkan dahinya.
"Baik-baiklah, eonnie saja yang mengantarnya. Aku akan langsung menuju tempat janjianku"Jisoo tersenyum lebar, mendengar Rose luluh dengan kata-kata ancamannya. Lagian apa daya Rose untuk menolaknya, ia takut jika ia menolak. Jisoo eonnie akan mengadukannya kepada Sehun, ya walau Jisoo bukan type orang seperti itu. Tetap saja, tak bisa membuat Rose menganggapnya remeh.
"Tapi eonnie... katakan juga padanya, jika eonnie yang memaksa akan mengantar dokumen itu sendiri, atau dia akan marah besar kepadaku" ucap Rose dengan memanyunkan bibirnya.
"Siap" jawab Jisoo dengan mencubit pipi gembul Rose.
Kenyataannya memang Lisalah tunangan Sehun, biar bagaimana pun Sehun menganggap Lisa, dan sebaliknya. Tetap saja tidak membuat hati Jisoo merasa tenang. Selagi yang dicari Sehun belum ditemukan dia tetap saja akan terus merasa cemas.
Jisoo pergi mengambil dokumen yang tadi ia taruh diatas meja. Namun, saat tangannya sudah hampir mengambil semua dokumen yang diperlukan. Tak sengaja matanya melihat sebuah foto yang tertutup kertas-kertas lainnya. Karna penasaran, Jisoo mengambilnya. Mencoba melihat foto siapa yang tengah Lisa lihat sebelumnya.
Ceklekkk...
"Eonnie?" panggil yeoja diambang pintu.
__ADS_1
Jisoo yang berusaha membalik foto tersebut, akhirnya terhenti. Mendengar seseorang yang memanggilnya dengan semangat. Ya siapa lagi jika bukan Jennie, dia memanggil Jisoo karna Sehun sudah menunggu di lobby bawah.
"Hufft... " Jisoo menghela nafas panjang.
Karna nglag Jisoo bukannya menaruh kembali foto yang digenggamnya, ia malah memasukkan foto itu kedalam saku blazernya. Lalu berjalan keluar bersama Jennie dengan setumpuk dokumen ditangannya.
...~*****~...
Dikamar, Lisa tengah menatap tembok kamarnya sendu. Ingatan-ingatan masa lalu sekan kembali menggoyahkan mentalnya. Mengubah senyum Lisa kembali datar, air mata seakan saksi ketidak berdayaannya.
Memori yang telah sekian lama dipendamnya, kini kembali muncul. Menyayat hati Lisa, mengenai perjuangannya melawan depresi yang membelenggu. Dimana dengan kejam appanya mengirim Lisa keasrama jauh dan terpencil, bahkan tiada siapapun yang ia kenal saat itu. Sebab asrama-asrama sebelumnya, tak sanggup menghadapi akan kekurangannya Lisa.
Diasrama bukanlah akhir dari penderitaan Lisa, cacian demi cacian terlontar. Hingga lelah pun, Lisa tetap saja harus menelan pil pahit itu sendirian. Setiap hari makian selalu saja tertuju hanya padanya, tak ada yang membela ataupun yang mengerti dirinya. Guru-guru seakan musuh terbesar dalam hidupnya, tak ada teman berbagi. Bahkan setiap akhir pekan, ketika keluarga dari teman-temannya banyak yang berdatangan untuk melepas rindu. Lain dengan Lisa, ia malah memilih untuk menghabiskan masa liburnya. Duduk dibangku taman sembari menatap langit, berharap eommanya akan datang, dan membelanya dihadapan makian orang-orang. Sebab memang tak pernah sekalipun appanya berkunjung untuk menemui atau memberinya semangat. Hanya secarik ancaman-ancaman yang selalu saja ia dapatkan.
Jika waktu dapat diulang, ingin sekali Lisa memilih untuk tidak dilahirkan. Hidup penuh dengan cacian, makian, dan hinaan. Membuatnya benar-benar menutup diri dari siapapun. Terkadang Lisa berfikir bila ia dilahirkan hanya untuk memenuhi keinginan appanya saja. Berjalan sesuai apa yang dia mau dan melakukan apa yang dia ingin. Seakan ia tak memiliki hak atas dirinya sendiri, semata-mata semua hanya untuk appanya.
Ini membuatnya muak, namun lagi-lagi ia tak memiliki daya. Lisa memilih memendam dalam emosi dan keinginannya. Hingga bertumpuk menjadi kebencian yang mendalam pada eommanya. Ya, Lisa benar-benar membenci eomma kandungnya.
__ADS_1