Antara Cinta Dan Wasiat

Antara Cinta Dan Wasiat
Tamu Tak Di Undang


__ADS_3

Satpam membungkukkan badannya, memberi hormat kepada Lisa. Namun masalah muncul ketika ia mulai melalui resepsionis kantornya.


"Siapa kau?" tanya yeoja yang telah berani menghalangi jalan Lisa.


Lisa menatap dalam yeoja didepannya ini, sudah dia duga. Setiap perusahaan, pasti ada orang-orang yang dominan. Jika bukan atasannya, sudah pasti para tangan kanannya. Yang selalu menyenjatakan kedudukannya, untuk membuat orang-orang dibawahnya tunduk.


Sebenarnya Lisa juga sama saja, tetapi bedanya ia akan menunggu anak buahnya melakukan kesalahan baru ia akan semena-mena. Semakin anak buahnya mencari perhatian terhadapnya, maka semakin kejam pula Lisa akan mengakhirinya nanti.


Di hadapan karyawan lainnya, Lisa dipandang rendah oleh yeoja itu. Lisa hanya diam, mengamati situasi sekitarnya.


"Heh! beraninya kau mendiamkanku. Siapa kau? Dan mau apa kau kesini? Kau harus melaporkannya ke resepsionis dengan jelas nona. Kau tak bisa seenaknya masuk kedalam kantor, layaknya ini perusahaan milikmu nona" ucapnya dengan tegas.


"Saya ada perlu dengan CEO anda" ucap Lisa dingin.


"Apakah sudah ada janji sebelumnya? Maaf kau tidak bisa menemuinya dengan mudah, bila tidak ada janji" jelasnya yang lagi-lagi memandang rendah Lisa.


Tak tahan, Lisa melangkah lebih dekat kepada yeoja didepannya. Sedikit membungkukkan badan, lalu mendekatkan wajahnya menyamping hingga jarak 3 cm. Jarak yang begitu dekat, tak lupa Lisa membisikkan sesuatu ditelinganya.


"Jagalah mata anda, saya bisa melihat anda sedang merendahkan saya secara tidak langsung" tegas Lisa sambil merapihkan blazernya.


Yeoja itu mundur beberapa langkah menjauhi Lisa yang sedang tersenyum licik kearahnya. Suara tegas yang Lisa berikan, tampaknya mampu membuat keangkuhannya ciut dalam waktu sesaat.


"K-kau mencari CEO Jisoo bukan? D-dia tidak ada. Carilah lain kali saja" ucapnya sedikit gemetar.


Tanpa basa basi Lisa tetap melanjutkan langkahnya menuju lift. Namun tangan yeoja tadi menarik Lisa kembali. Bahkan karna takutnya, ia sampai memanggil security untuk mengusir keberadaan Lisa.


"Ada keributan apa ini?" tanya yeoja lain yang baru saja keluar dari lift khusus.


Perusahaan ini memang difasilitasi 2 lift, dimana lift itu digunakan oleh orang yang berbeda. Seperti halnya yang satu khusus untuk para karyawan, maka yang satu lagi dipergunakan untuk para atasan. Khusunya CEO dan Sekretarisnya.


Lisa terfokus terhadap seseorang yang baru saja datang. Parasnya begitu cantik dan manis, lebih cantik dibandingkan foto yang diterimanya tadi. Ya itu adalah Jisoo, Kim Jisoo yang akan menyelamatkannya dari perjodohan tak masuk akan itu.


"Ada apa ini?" tanyanya lagi sambil berjalan mendekati sekretarisnya dan sosok asing didepannya.


"Eonnie, lihatlah. Dia berusaha menerobos masuk kedalam, tanpa izin. Bagaimana jika dia seorang penjahat, yang berusaha mencuri aset-aset petusahaan" adunya kepada Jisoo.


Drama_ batin Lisa.


"Siapa anda?" tanya Jisoo dengan sopan.


"Sa... "


"Maaf semuanya, kalian bisa bubar" pinta Rose yang membubarkan keramaian.

__ADS_1


Rose datang, senyum kemenangan tampak terukir indah diwajahnya. Jisoo yang masih bingung dengan apa yang terjadi memilih untuk diam.


"Jennie, kenapa kau sampai membawa security?" heran Rose.


"D-dia... lihatlah dia, begitu menakutkan. B-bagaimana jika dia seorang penjahat?" gugupnya ketika melihat tatapan tajam dari Lisa.


"Rose" Rose menoleh, serta semua orang yang ada.


"Besok pagi, surat resign nya harus sudah terkirim di e-mail ku. Dan hubungi Jungkook, aku maunoulang sekarang" ketus Lisa yang langsung meninggalkan resepsionis, menuju halaman kantor.


"Heh! Mem... " dengan cepat Rose membungkam mulut Jennie. Agar umpatan-umpatannya tak terdengar oleh Lisa.


"Clam down, Jennie-ya. Dia President Of Manoban" Jisoo maupun Jennie membulatkan mata mereka.


"Jinjja?!" ucap Jisoo dan Jennie bersamaan.


Drettt... Drettt... Drettt...


Ponsel Rose berdering, terlihat jika Lisa yang menelfonnya. Tanpa berlama-lama, Rose langsung menjawabnya dengan cepat. Bahkan ia sampai menaruh jari telunjuknya dimulut, agar Jisoo dan Jennie tidak menimbulkan suara.


"Hallo none"


"Lama!!! Aku bisa pulang sendiri" bentak Lisa sampai membuat Rose menjauhkan ponselnya dari telinga untuk sesaat.


Ya, Lisa pun mengakhiri panggilannya secara sepihak. Yang membuaat Rose menghela nafas sedikit berat.


"Sorry, harusnya aku memberitahu kalian dari awal. Aku tak menduga akan berakhir seperti ini, pasti akan sangat sulit untuk membujuknya" ucap Rose dengan kepala tertunduk.


"Rose-ya! dimana Lisa-ya?" tanya seorang namja yang baru saja datang.


Rose menengok kearah suara yang memanggilnya, dengan senyum penuh harapan. Bak cahaya dikegelapan, ya itu Sehun. Orang yang sangat dihormati Lisa, datang kehadapannya bagaikan pahlawan yang mampu menolongnya.


"Tuan muda!" sebut Rose dengan girangnya.


"Nee, dimana Lisa-ya?" tanyanya yang masih bingung melihat raut-raut wajat yang tegang.


"Oppa! bantulah aku" rengek Jennie.


"Wae?"


"Mrs. Lisa memecatku... bantulah aku untuk membujuknya" Sehun mengerutkan dahinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Jisoo memegang pundak Jennie. Seakan memintanya untuk diam, agar ia saja yang menjelaskan.

__ADS_1


Jisoo menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi, Sehun hanya menggelengkan kepalanya. Hanya karna hal sepele, lagi-lagi Lisa memecat karyawannya dengan mudah.


"Honey bersiaplah, kau dan Jennie akan aku jemput malam ini. Kita coba bicarakan semua secara pribadi, siapa tahu bisa meluluhkan prasaannya" ucap Sehun sembari menggenggam tangan Jisoo lembut.


Jisoo menghempas genggaman Sehun sepihak, bahkan ia memperlihatkan senyuman miris terhadapnya.


"Bukankah dia tunanganmu? Dengan membawaku kepadanya, apa kau tahu? Seakan kau memperkenalkan selingkuhanmu pada kekasihmu" ucap Jisoo dengan bibir yang tampak melengkung kebawah.


"Apa yang kau katakan? Kau tahu bukan, bagaimana hubunganku berjalan dengannya. Apa kau masih merasa cemburu dengan kedekatan kita. Kau tahu bahwa rasa yang kita miliki tak kebih dari sekedar adik dan kakak" jelas Sehun yang berusaha meyakinkan Jisoo.


"Tapi... "


"Ssttt..." Sehun menempelkan jari telunjuknya kebibir manis Jisoo.


"Kita perjuangkan, okeh? Jangan ragu, bahkan sebenarnya juga. Lisa tak memiliki perasaan lebih terhadapku" Jisoo tersenyum.


Cup


Kecupan mendarat tepat dipipi mulus Jisoo, sesaat mukanya memerah karnanya.


...~Malamnya~...


Lisa tampak asik berkutat dengan laptopnya, Sehun diam-diam berusaha untuk mengejutkan Lisa. Dengan hati-hati, Sehun berjalan mendekat kearah Lisa. Menarik nafas dalam, untuk siap-siap berteriak kencang.


Namun, sialnya Lisa dapat dengan mudah mengetahuinya. Menoleh datar kearah Sehun, lalu kembali fokus kelaptopnya.


"Hy bocah, mari ku ajak memasak" ucap Sehun sembari duduk disebelah Lisa.


Lisa melirik sesaat, tak seperti biasanya Sehun mengajaknya memasak. Bukannya dia juga tahu kalau Lisa tak pandai memasak. Sedikit aneh bagi Lisa, namun ia tak mencurigai niat Sehun sedikit pun.


"Kajja" Sehun menarik Lisa kedapur dengan semangatnya.


Sesaat langkah Lisa terhenti, bagaimana tidak. Ada tamu tak diundang ternyata, wajah yang semula tampak biasa. Kini berubah begitu dingin setelah melihat keberadaan Jisoo dan juga Jennie dihadapannya.


Tak bicara panjang Lisa berusaha untuk pergi dari tempat itu. Namun Sehun menahan tangannya, membatasi pergerakan Lisa.


"Aku benci jika ada orang lain masuk tanpa izinku" ketus Lisa yang melirik sekilas kearah Jennie.


Jennie yang merasa terancam, dengan segera berdiri dibelakang Jisoo. Mencari perlindungan, bila saja Lisa menerkamnya sewaktu-waktu.


"Jadi oppa juga gak boleh kesini, kalau oppa gak dapat izin darimu?" goda Sehun.


"Lain oppa" ketus Lisa sembari membuang muka.

__ADS_1


"Sudahlah, apa kau tidak tertarik untuk mengenal eonniemu lebih jauh?"


__ADS_2