
Ting Tong... Ting Tong... Ting Tong...
Tiba-tiba bel rumah berbunyi, tak biasanya bel itu berbunyi. Sebab biasanya jika ada tamu tak dikenal datang, seringnya satpam depan gerbang akan menelfon Lisa terlebih dulu sebelum mengizinkan tamu itu masuk. Bahkan jika tamu dikenal, seringnya juga tak menekan bel masuk dulu. Dia akan langsung masuk dan menanyai kepada Art mengenai keberadaan Lisa. Layaknya yang sering dilakukan Rose dan juga Jungkook setiap harinya.
"Argghhh... Apa dibawah sana tidak ada orang?" gerutu Lisa.
"Tak apa none, biar saya yang membukanya" ucap Hana.
"Tidak" ucap Lisa, ia lalu menahan Hana agar tak beranjak dari tempatnya. "Biarkan saja" Hana menggeleng.
"Aniya none, siapa tahu penting" Lisa mengerucutkan bibirnya.
Hana lalu keluar, Lisa dengan wajah yang masam berusaha menenangkan pikirannya. Ia merebahkan tubuhnya, melihat langit-langit membayangkan kebahagiaan yang selalu ditunggunya.
Aku harus tetap bertahan, demi harapan yang belum tercapai_ batin Lisa sambil menghembuskan nafas panjang.
Di depan, Hana bertemu seseorang yang terlihat seperti tak asing baginya. Senyum manis dengan kecantikan natural, benar-benar mengingatkannya akan seseorang yang cukup familiar.
"Annyeonghi jumuseyo" sapanya dengan senyum tipis diwajahnya.
Sontak membuyarkan lamunan Hana yang tampak masih mengingat-ingat seseorang didalam pikirannya.
"Aah nee, silahkan masuk" ucap Hana menuntun yeoja didepannya masuk dan duduk diruang tamu.
Tak lupa ia juga memanggil Art lain untuk diminta membawakan minum.
"Ahjumma, apa ada Lisa?" tanyanya dengan lembut.
"Kalau boleh tahu, siapanya none Lisa ya? Saya baru lihat" ucap Hana sembari menyuguhkan minuman kearah lawan bicaranya.
"Saya Jisoo, saya asisten Lisa dikantor" ucap Jisoo tampak bingung menjelaskan posisinya. Sebab memang posisinya cukup membingungkan. Ia ingin sekali mengatakan bila ia CEO Manoban Group, namun kedudukannya saja belum disahkan oleh Lisa. Rasanya seperti tidak pantas bila dia mengaku-ngaku, sebelum Lisa yang memastikan tentuannya.
"Sebentar saya panggil dulu" pamit Hana yang langsung pergi menuju kamar Lisa. Jisoo pun hanya mengangguk, sembari menyesap minuman yang telah disajikan.
Tokkk... Tokkk... Tokkk...
__ADS_1
Di depan kamar Lisa, Hana merasa heran, sudah beberapa kali ia mengetuk pintu kamar Lisa. Namun sudah hampir beberapa menit, tak kunjung ada respon dari sang pemilik kamar. Hana pun mulai cemas, berfikir jika bisa saja terjadi apa-apa terhadap Lisa. Tanpa basa-basi Hana langsung saja mengecek keadaan Lisa didalam sana.
Ceklekkk...
Setelah membuka pintu, Hana langsung mendekati Lisa yang tampak berbaring diatas kasur bigsizenya. Matanya terpejam, dengan cepat Hana menaruh punggung tangannya kedahi Lisa. Memastikan jika Lisa tak mengalami demam saat ini. Dirasa suhunya normal, Hana pun terkejut sambil membungkam mulut menggunakan kedua tangannya. Ketika Lisa tiba-tiba menggeliat dan memiringkan posisi tidurnya.
Dirasa sudah tertidur kembali, Hana pun bernafas cukup lega. Jika saja apa yang dilakukannya itu membuat Lisa terbangun. Betapa bersalahnya yang akan Hana rasakan nanti, sebab baru kali ini ia tidur lebih cepat dari sebelumnya.
"Saya fikir none kenapa-napa, syukurlah jika none sudah tertidur" gumam Hana sambil menarik selimut untuk menutupi badan Lisa agar tidak kedinginan.
Hana lekas turun, tak ingin jika sampai ia menjadi penyebab tidur Lisa terganggu. Selama menyusuri jalan turun, Hana sedikit merasa aneh. Ya, bagaimana tidak. Insomnia yang Lisa alami, membuatnya sulit tidur. Seharusnya ia masih mengalami sulit tidur, namun nyatanya ia sudah tertidur pulas. Padahal jam menunjukkan pukul 19.05 mp, benar-benar tidak biasanya.
Sampai diruang tamu, Hana masih saja memikirkan keadaan Lisa yang tidur lebih awal.
"Bagaimana ahjumma? apa Lisa ada?" tanya Jisoo yang sedikit bingung melihat raut wajah Hana yang terlihat aneh.
Hana membuyarkan lamunannya, lalu menghampiri Jisoo dengan senyum tipisnya.
"Lisa sudah tertidur, sepertinya dia kelelahan. Jika sangat penting kau boleh kembali lagi besok" Jisoo ber O ria.
"Tidak apa ahjumma, saya hanya akan memberikan dokumen ini saja. Tolong sampaikan ke Lisa, kalau begitu saya permisi" ucap Jisoo sambil menyodorkan dokumen bawaannya dan mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Bagaimana? Pasti Lisa marah denganmu. Bahkan kau keluar saja yang mengantarkan aunty Hana" ucapnya sesaat setelah Jisoo masuk kedalam mobil.
"Tidak, ayo jalan" ucap Jisoo dengan senyum manisnya.
Mobil mereka melaju perlahan, melewati gerbang rumah Lisa dengan kecepatan sedang. Beberapa penjaga gerbang membungkuk, memberi hormat kepada pengemudi yang sangat mereka kenal. Sang pengemudi pun hanya menundukkan kepalanya.
Jisoo mengikuti apa yang dilakukan kekasihnya, ya itu Sehun kekasihnya. Sehun sengaja tidak ikut turun karna Jisoo yang melarang. Jisoo tahu bila Lisa sangat menghormati Sehun, bisa saja nanti Lisa tahu akan kedatangan Sehun. Dia akan diam, karna tak ingin membuat Sehun kesal dengan sikapnya nanti.
"Honey, apa saja yang kau bicarakan dengan Lisa?" tanya Sehun dengan pandangan yang fokus melihat jalan.
"Tidak ada" seketika Sehun menatap Jisoo sesaat yang kemudian pandangannya kembali beralih kejalan.
"Tidak ada? Serius? Ah... dia pasti cuek dan bicara formal, layaknya dikantor. Sungguh membosankan yeoja itu, pantas saja dia tak juga dapat kekasih" ucap Sehun yang mendapat kekehan Jisoo.
__ADS_1
"Jangan begitu, setidaknya diakan punya tunangan" sindir Jisoo yang mendapat lirikan tajam dari Sehun.
"Mulai, aku sudah katakan berapa kali sih honey? Kau sepertinya masih saja merasa kurang, apa perlu aku mendatangi eommamu sekarang untuk melamarmu?" ucap Sehun yang tampak serius menanggapi perkataan Jisoo.
Sontak perkataan Sehun membuat Jisoo terkekeh, pasalnya sering kali Sehun mengatakan itu. Namun karna statusnya yang masih bertunangan dengan Lisa. Membuatnya bimbang untuk langsung melamar kekasihnya.
Takut saja, bila calon mertuanya tidak menerima dengan status Sehun sekarang. Dan takutnya juga, bila mertuanya akan mengira. Jika ia hanya membuat Jisoo sebagai pelarian, karna tidak dapat menerima Lisa selaku tunangannya.
"Aku bercanda, oppa. Lisa sudah tidur tadi, makannya tidak ada pembicaraan antara aku dengannya" jelas Jisoo yang membuat Sehun menganga.
"Tidur?" kejut Sehun, ia pun melihat arloji dilengannya.
"Ini masih belum terlalu malam, benarkah dia sudah tertidur?" Jisoo mengangguk.
Dengan cepat Sehun langsung saja meraih ponselnya, mencari nomor Hana didalam ponselnya. Lalu menelfonnya dengan wajah sedikit cemas.
"Memangnya ada apa, oppa? Kenapa kau begitu panik?" ucap Jisoo yang ikut merasa cemas.
Sehun tak menjawabnya, sampai telfonnya diterima oleh orang yang ia tuju disebrang sana.
"Nee, Young master"
"Aunty, apakah Lisa baik-baik saja? Perlukah aku panggilkan psikiater?" tanya Sehun dengan panik yang membuat kekasih disebelahnya ikut semakin panik.
"Aniya, Young master"
"Apa aunty yakin? Aku takut bila Lisa kembali... "
"Aniya, none Lisa baik-baik saja. Mungkin none Lisa benar-benar merasa lelah, makannya dia tidur lebih awal" ucap Hana yang memutus kekhawatiran Sehun.
"Jaga Lisa dengan baik, aunty. Besok aku akan kesana untuk melihat keadaannya" ucap Sehun yang mulai tenang.
"Nee, Young master"
Setelah itu, Sehun menutup telfonnya. Bernafas dengan lega sembari membenarkan tempat duduknya.
__ADS_1
Jisoo memandang Sehun lega, ia pun menyandarkan badannya kebelakang. Melihat kearah jendela mobil dengan tatapan kosong. Ya, jujur saja. Perlakuan kecil dari Sehun untuk Lisa, sebenarnya membuat hatinya cukup merasa cemburu. Untuk sesaat keberadaannya seakan tidak diperdulikan oleh Sehun.
Sebegitu parahkah jika Lisa sampai tidur awal? Apa dia memiliki sesuatu? Jisoo hanya mengerucutkan bibirnya, memendam dalam rasa cemburu.