
"Saya tidak suka ada yang menguping!!!" bentaknya yang menekan kata terakhirnya.
"T-tidak... "
"Tidak perlu beralasan sialan, jangan mentang-mentang kamu adik kandung Sehun oppa. Jadi kamu bisa seenaknya seperti ini, bahkan jika saya mau. Saya bisa saja mendapatkan perusahaan Sehun oppa dalam sekejap. Dasar penguping" ucap Lisa angkuh yang tak menerima alasan atau penjelasan sedikit pun dari Jennie.
Jisoo mengepalkan tangannya kesal, sebegitu kasarnya Lisa berkata kepada Jennie. Sesalah-salahnya Jennie, seharusnya Lisa tetap mendengarkan apa yang dikatakan Jennie. Siapa tahu juga, ia memiliki maksud tertentu dibalik perbuatannya.
"Bisakah kau redakan emosimu? Ini kantor... "
"Ya kantor ini milikku, kau tak memiliki hak sedikitpun untuk bersuara dan juga masuk keruangan ini tanpa seizinku" tegas Lisa yang lagi-lagi memotong ucapan Jisoo dengan posisi masih membelakanginya.
Deg...
Jantung Jisoo mendadak terasa nyeri, kata-kata Lisa seakan telah menusuk dalam. Sangat tidak dapat dipercaya, Lisa mengatakan terus terang yang begitu menyakitkan pada Jisoo bahkan didepan asisten pribadinya dan juga sekertarisnya. Terlihat seperti Jisoo tak tahu diri pada permasalahan kali ini.
Memang kantor ini bukan miliknya, bukan haknya juga untuk membuat aturan disini. Seakan jerih payahnya menjalankan perusahaan ini tanpa adanya Lisa, tak pernah dianggap.
Tak terasa bulir bening mengalir begitu saja dipipi Jisoo. Entah mengapa perkataan Lisa benar-benar menyakitinya. Hatinya yang lembut dan hangat tidak kuat akan perkataan Lisa yang begitu kasar menghinanya.
Tentu Jennie melihat Jisoo yang mulai menangis, melepaskan genggamannya. Lalu berlari memeluk hangat tubuh Jisoo yang ringkuh.
"Jangan dengarkan dia, eonnie" pinta Jennie yang terus menguatkan Jisoo didalam dekapannya.
Sontak Lisa menoleh, melihat Jisoo yang tengah menangis dalam diam. Membuat Lisa diam membeku menatap wajah sedihnya. Entah apa yang membuatnya diam, hanya saja kali ini ia merasakan rasa bersalah dilubuk hatinya yang terdalam.
Bak terlempar tinggi, terbanting keras, dan hancur berkeping-keping, seperti itulah keadaan hati Lisa saat ini. Tatkala ia melihat air mata Jisoo terus mengalir dengan deras karna dirinya.
Ceklekkk...
__ADS_1
"Lisa aku bawakan... " Sehun yang baru masuk membawa sesuatu ditangannya merasa terkejut, melihat wajah-wajah tegang Rose dan Jennie. Ditambah ia juga melihat sang kekasih telah menangis tersedu-sedu didalam pelukan adik kandungnya.
Sehun langsung saja menaruh bawaannya di sembarang tempat. Menarik Jisoo dalam dekapannya dan berusaha menenangkannya.
"Kamu kenapa hum? Katakan padaku, apa yang terjadi?" tanya Sehun yang masih mendekap erat tubuh Jisoo sambil mengusap pelan punggungnya.
Rose menunduk setelah mendapat tatapan penuh tanya dari Sehun. Sungguh ia tak memiliki keberanian, untuk mengatakan apapun. Ia tak ingin ada pertengkaran hebat antara Lisa dan juga Sehun.
"Jennie, katakan apa yang terjadi?!" tanya Sehun dengan tatapan sininya.
Membuat Jennie terkejut, sekaligus bingung. Apa dan bagaimana ia akan menjelaskan ini semua.
"Aku tak apa" lirih Jisoo yang masih terdengar jelas ditelinga Lisa. Membuat Lisa semakin tersayat akan pengakuan bohong Jisoo.
"Tidak, kau bohong. Katakan sejujurnya apa yang terjadi?" tanya Sehun merasa tak percaya akan pengakuan Jisoo.
Sehun melepas pelukannya, menatap dalam mata kekasihnya. Mencari-cari sesuatu yang berusaha Jisoo sembunyikan. Benar saja, Jisoo tertunduk seketika.
Keadaan menegang, Jennie baru kali ini melihat sosok namja yang sedari kecil menjadi teman kecilnya. Kini meluapkan emosi sebegitu dalamnya, bahkan urat lehernya sampai terlihat jelas. Ketika ia menyebut nama Lisa dengan keras.
Rose mendekati Lisa, memberi genggaman kuat untuk atasannya. Ia tahu betul jika ini semua bukan sepenuhnya salah Lisa. Namun karna kebisuan Lisa dan tak ada yang berani mengatakan yang sebenarnya. Membuat Sehun melayangkan tatapan tajam kearah Lisa.
Jika Jennie saja semasa kecil hingga saat ini baru melihat amarah Sehun sebegitunya. Apalagi Lisa yang baru mengenalnya beberapa tahun belakangan ini. Sudah pasti bentakan Sehun membuat Lisa tercekat. Jantungnya berdegup kenjang, pasokan oksigen serasa begitu tipis bagi Lisa. Tangannya bergetar kuat, membuat Rose panik akan cengkraman yang diberikan Lisa. Jelas Rose dapat merasakan getaran yang timbul dari diri Lisa.
"KATAKAN PADAKU APA YANG TERJADI?!" teriak Sehun.
Dengan tatapan yang sama, Sehun masih setia menunggu sampai Lisa membuka suara. Hingga beberapa menit berlalu, keringat tampak sudah bercucuran didahi Lisa. Ketakutan tampak membelunggu Lisa saat ini. Namun Sehun masih saja menatapnya jatam, bahkan usapan lembut Jisoo yang berusaha menengkannya pun tak lagi ia ditanggapi.
Tangan Lisa terasa begitu dingin, getarannya tak berhenti, lidahnya kelu, dan ditambah kepalanya kini terasa tertekan kencang. Keadaan ini membuat Lisa tak bisa mengontrol dirinya lagi. Ia pun memilih meninggalkan ruangannya begitu saja. Tak memperdulikan tatapan yang terus tertuju kearahnya.
__ADS_1
Sehun menghela nafas berat, merasa kesal mengingat tingkah Lisa yang tak henti-hentinya membuat keributan. Bukannya menyusul, kali ini Sehun membiarkan Lisa pergi, memberi waktu untuk Lisa merenungi kesalahannya.
"Y-young master, s-sebenarnya... "
"Sudahlah Rose, tak perlu. Lisa yang harusnya sadar disini, jangan karna kedudukannya lebih tinggi. Jadi dia bisa semena-mena dengan karyawan bawahannya" ucap Sehun yang membuat Rose diam.
Ditempat lain, Jungkook sedang mengantar Lisa pulang. Wajahnya terlihat pucat, matanya berkaca-kaca, tangannya tak henti bergetar. Entah apa yang terjadi padanya. Jungkook merasa cemas sembari sesekali melihat Lisa dari spion dalam mobil.
...~*****~...
Sudah dari tadi pagi Lisa tidak kunjung keluar dari kamar. Hana tak hentinya merasa cemas dengan keadaan Lisa yang tiba-tiba mengurung diri. Tak membiarkan siapapun masuk dan mendekatinya.
"Jungkook, ada apa dengannya?" cemas Hana.
"Tenanglah eomma, aku akan coba menghubungi Young master" Hana menggeleng.
"Jangan, none Lisa sedang tak ingin menemui siapa pun" ucap Hana menahan putranya yang akan menghubungi Sehun.
"Kita biarkan saja dulu eomma, mungkin none Lisa butuh waktu sendiri" ucap Jungkook mengusap pelan pundak Hana.
Pintu luar terbuka lebar, tirai-tirai pun berterbangan terkena udara luar. Cahaya rembulan tampak bersinar cerah, memperindah balkon kala bulan purnama tiba.
Dengan suasana hati yang masih kacau, tatkala luka lamanya kembali terbuka. Lisa memilih tetap duduk diranjang bigsizenya, sembari menatap tembok yang menjadi tempat favoritnya.
"Mommy?... " Lisa selalu memanggilnya setiap malam.
Tak pernah tahu akan sosoknya, namanya, atau cerita mengenainya. Tetapi kala frustasi melanda, sebutan akan memanggil mommynya tak pernah lepas dari pikiran Lisa. Entah karna apa, ia masih saja percaya akan eommanya yang akan datang menemuinya.
"Sshhh... " ringis Lisa, kala nyeri dikepalanya kembali kambuh. Saat bayangan akan masalalu muncul bersahut-sahutan didalam ingatannya. Otot badannya juga terasa menegang, jantung berdegup begitu kencang. Serasa menyambar seluruh badan, membuat kedua tangannya bergetar hebat.
__ADS_1
Badannya serasa tak kuat menopang, Lisa terjatuh dilantai tanpa ada siapa yang tahu. Hingga ia kehilangan kesadarannya...