
"Sebenarnya siapa gadis itu, kenapa foto paman bisa ada di dalam dompet nya?"
Pikiran Farhan Mulai menerka-nerka status gadis tersebut.
Selang beberapa saat, sebuah mobil yang terbilang cukup mewah. Berhenti disebuah Rumah Sakit di daerah XXXX. Syirajuddin turun dengan tergesa-gesa menuju resepsionis.
Saat Farhan keluar dari toilet. Ia berjalan keluar dari Rumah Sakit. Dipertengahan jalan Farhan melihat kedatangan pamannya dan sedang menuju ke resepsionis. Ia pun bergegas menjumpai pamannya.
"Maaf sus apakah ada pasien gadis remaja yang dirawat disini karena sebuah kecelakaan." Tanya Syirajuddin pada seorang suster yang berada di resepsionis.
"Paman...." Sapa Farhan pada Syirajuddin.
Sebelum suster itu menjawab, Syirajuddin merasa ada yang memanggilnya. Iapun menoleh memastikan siapa yang memanggilnya dengan sebutan paman.
"Farhan, kenapa kamu bisa ada disini?" Ucap Syirajuddin semakin cemas mendapati Farhan di Rumah Sakit.
"Apa ada yang keluarga yang sakit han?" Lanjutnya.
"Tidak paman, sebenarnya tadi ada sebuah kecelakaan. Sa..sa..ya hanya mengantar korban kecelakaan." Jawab Farhan sedikit gugup.
"Astaghfirullah hal adzim, paman juga mau ngecek sebab tadi yang menelpon paman katanya putri paman kecelakaan." Keluh Syirajuddin. Raut wajahnya terlihat sangat cemas dan khawatir.
"Ya udah mari saya antar paman, saya tau dimana ruangan nya." Ajak Farhan.
"Oh iya, ayo nak." Sirajuddin menyetujui ajakan Farhan.
Mereka pun berjalan menuju ruang IGD. Dimana gadis remaja itu di tangani.
"Oh iya paman ini tadi tas nya gadis itu," ucap Farhan.
"Untungnya tadi saya saya menemukan foto paman di dalam dompetnya. Makanya saya segera meminta tolong pada suster untuk menghubungi paman." Lanjutnya.
"Coba saya lihat nak." Pinta Syirajuddin sambil berjalan.
"Ini paman," Farhan memberikan tas beserta dompet yang ia temukan didalam tas gadis itu tadi.
Syirajuddin mengambil tas beserta dompet tersebut dari tangan Farhan.
Ia lihat dengan teliti, dan mencoba mencari hal lain semacam kartu identitas yang mungkin akan menjadi petunjuk siapa gadis tersebut.
"Astagfirullah hal adzim, ini kan ira." Pekik Syirajuddin.
Dalam sekejap seluruh tubuh Syirajuddin terasa bergetar hebat, rasa takut, khawatir, cemas dan entah apa itu semuanya jadi satu bagai batu besar yang menghantam dadanya. Sesak itulah yang ia rasakan.
"Paman,,,,,!!! paman kenapa?" Farhan khawatir melihat keadaan pamannya yang tiba-tiba berubah menjadi pucat.
"Tolong antarkan paman secepatnya ke ruangan ira. Dia pasti sangat membutuhkan paman saat ini...!!!" Ucap Syirajuddin yang mulai melemah. Sambil memegang dadanya yang terasa sangat sakit dan sesak.
"Tunggu disini sebentar paman."
Farhan pergi tak lama kemudia ia kembali membawa kursi roda. Ia menggunakan kursi roda untuk membawa pamannya menemui gadis tersebut.
"Mari paman, saya mohon paman tenang ya. Petugas medis sedang menanganinya saat ini."
Farhan merangkul pamannya lalu mendudukanya ke kursi roda. Ia mencoba menenangkan hati pamannya sambil berjalan mendorong kursi roda sampai di depan ruang IGD.
__ADS_1
"Permisi sus, kemana gadis yang tadi sedang kritis di ruangan ini?" Tanya Farhan.
"Maaf mas pasien sudah dibawa keluar dari ruangan ini, karena kondisi pasien...."
Bruuukk
Belum selesai suster itu menjawab, tiba-tiba Syirajuddin sudah jatuh pingsan disamping kursi roda dengan wajah yang sangat pucat.
"Astagfirullah paman,,,,,!!!" Pekik Farhan.
"Sus, tolong bantu saya sus!!!"
Suster itu segera membantu Farhan membawa Syirajuddin ke brankar Rumah Sakit yang ada di UGD.
Setelah dokter selesai memeriksa keadaan Syirajuddin. Dokter itupun keluar dan memanggil Farhan.
"Apakah adhe' ini adalah keluarga pasien?" Tanya dokter itu.
"Ah iya dok, saya adalah keponakan beliau." Jawab Farhan.
"Bagaimana kondisi paman saya dok?" Lanjutnya.
"Jadi begini, paman adhe' terkena serangan jantung ringan. Tolong jangan sampai memikirkan hal yang berat-berat dulu. Dan istirahat nya harus total ya dhe'. Terang dokter.
"Baik dokter, terimakasih banyak." Farhan menjabat tangan dokter itu.
Setelah sesi pemeriksaan selesai Syirajuddin dibawa ke ruang rawat inap. Tak lama kemudian dia siuman.
"Han...." Ucap Syirajuddin melihat Farhan yang sedang tertidur saat menungguinya.
"Alhamdulillah akhirnya paman sudah sadar." Farhan sangat senang melihat pamannya sudah siuman.
"Dimana ira, Allah tidak mungkin mengambilnya dariku kan???" Pekik Syirajuddin. Ia sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.
"Astagfirullah, paman bicara apa." Tanya Farhan tidak mengerti dengan ucapan pamannya.
"ira, gadis yang kamu tolong kata suster itu tadi...."
"Oh gadis itu," belum selesai pamannya berucap dipotong oleh Farhan.
"Alhamdulillah, dia sekarang sudah dipindahkan di ruang rawat inap juga tepat disebelah kita, karena keadaanya sudah mulai membaik." Terangnya kemudian.
"Benarkah???" Tanya Syirajuddin sedikit tidak percaya.
"Iya paman nanti kalau paman sudah merasa baikan paman bisa langsung menjenguknya.
Insyaallah pasti Farhan antar kan."
"Kalau begitu tolong antarkan saya sekarang juga keruangan ira nak." Pinta Syirajuddin kekeh.
"Tapi paman...."tolak Farhan yang hanya dijawab dengan mata yang menandakan suatu permohonan.
"Baiklah, Farhan ambil kursi roda dulu." Final Farhan.
Farhan mengantarkan pamannya ke ruang rawat inap disebelah ruangan milik pamannya dirawat.
__ADS_1
Kreeeeekkk
Pintu dibuka dengan perlahan. Farhan dan Syirajuddin menghampiri gadis remaja yang tengah berbaring lemah dan masih tak sadarkan diri. Hingga handphone Farhan berdering beberapa kali dan Farhan mengangkat nya. Farhan agak menjauh dari pamannya.
"Sebentar ya paman, Farhan angkat telepon dari Abi dulu." Izin Farhan sopan.
Syirajuddin hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab ucapan Farhan. Pandangan nya pun beralih pada pasien yang wajahnya sedang dibalut oleh perban.
"Ira, bangunlah nak. Ayah sudah datang, dasar gadis nakal kenapa tidak menelpon ayah dulu, kalau mau pulang." Keluhnya.
"Jika kamu kasi tau ayah, mungkin ini semua tidak akan terjadi sayang...."
Dirasa ada yang berbicara, Manda membuka matanya sedikit demi sedikit.
Dilihatnya sosok yang selama ini sangat ia rindukan. Matanya pun berkaca-kaca.
"Ayah...." Panggil Nadira lirih.
"Ya nduk, ini ayah. Alhamdulillah akhirnya kamu sudah sadar." Ucap Syirajuddin penuh haru dan senang.
Ia pun memeluk anak gadisnya itu dengan penuh kehangatan.
"Paman, maaf kalau boleh tau gadis ini siapanya paman?" Farhan masih bingung kenapa paman nya sangat dekat dengan gadis itu.
"Oh ia paman sampai lupa jika ada kamu. Kenalkan ini putri paman, kembarannya Syaheer namanya Nadira." Syirajuddin memperkenalkan putrinya.
"Loh kenapa saya tidak tau ya kalau dia adalah putri paman." Tanya Farhan masih bingung.
"Karena selama ini dia memilih tinggal bersama kakek dan neneknya dari istriku di daerah Gresik, apalagi selama ini ira sangat jarang pulang ke Malang. Jadi tidak heran jika banyak yang tidak tau kalau dia adalah putri paman." Terang Syirajuddin pada Farhan.
"Oh, pantas saja didompetnya ada foto paman." Farhan sedikit terkejut. Dipandanginya wajah Nadira dengan teliti.
Kenapa gak ada mirip-mirip nya dengan syaheer ya? Tapi....jika diperhatikan secara dekat dia sangat "CANTIK". Batin farhan tiba-tiba berdesir ada kelebat rasa aneh memasuki ruang hati nya.
"Astagfirullah hal adzim, apa yang aku pikirkan. Ingat dosa han bukan muhrim." Ucap Farhan pada dirinya sendiri sambil mengusap keras wajahnya.
"Eeem paman, bibik sudah saya hubungi. Sebentar lagi Abi sama ummi juga akan kesini. Mari paman farhan antar ke ruangan paman. Paman juga masih harus istirahat. Masalah Ira, untuk sementara biar Farhan yang menjaganya sampai bibik datang. Lagipula Ira juga sudah tidur kembali setelah minum obat." Ajak Farhan pada pamannya.
Syirajuddin pun menyetujui ajakan Farhan dengan anggukan dan senyuman.
"Terimakasih ya nak, sudah menolong putri paman." Ucap Syirajuddin tersenyum pada Farhan.
Kemudian Farhan mengantar pamannya keruangan sebelah. Setelah pamannya beristirahat. Farhan pergi kemushollah Rumah Sakit karena hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia hendak melaksanakan isya' yang tertunda karena ada kejadian pamannya pingsan tadi.
Farhan keluar dari Mushollah, dan beralih menuju kekantin Rumah Sakit. Cacing-cacing diperutnya mulai berontak minta asupan gizi. Karena sejak pagi ia belum mengisi perutnya dengan di makanan.
Setelah selesai makan, Farhan kembali ke ruangan paman nya. Dilihatnya pamannya sedang tertidur pulas, lalu farhan bergegas ke kamar sebelah. Farhan ingin memastikan keadaan Ira.
Sesampainya di ruangan Nadira, dilihatnya wajah Ira dengan lekat, mata yang merekah, hidung mancung, alis tebal, terlihat alami kecantikan yang dimiliki oleh Nadira di mata Farhan.
Hanya ada satu kata dalam pikirannya setelah memandangi Nadira, "CANTIK".
Sejak saat itu lah Farhan mengenal Nadira dan selalu membawa Nadira dalam doa nya disepertiga malam.
###
__ADS_1
Bersambung.......