
Kehidupan, cinta atau persahabatan tentunya bisa menjadi sumber yang baik untuk memotivasi diri sendiri. Dalam kehidupan, banyak insan yang sedang berada dibawah titik takdir, terpuruk dan tak punya harapan lagi hingga tidak tau harus bagaimana untuk melanjutkan hari-harinya.
"Menyerah" itulah kata terakhir yang sering kita dapatkan di titik tersebut. Padahal masih ada kata yang lebih baik dari itu. "Pasrah" adalah kata lain dari "Ikhlas", dalam kata itu kita terjebak di ujung usaha dan doa. Dimana hati dan pikiran kita menyatukan keyakinan penuh bahwa sang pemilik alam semesta lebih berkuasa dan lebih berhak dari segala nya.
So, semangaaaaat!!!
Hidup itu adalah pilihan, benih seperti apa yang kita tanam kelak itulah yang akan kita tuai. Ingat, hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha.
#####
Pagi ini terlihat sangat cerah, kicauan burung-burung menggema dengan merdu dibeberapa pohon mangga di depan ndalem Kyai Abdul fata.
Nadzom imriti dan alfiyah dilantunkan dengan Indah oleh para santriwan santriwati. Sungguh suasana yang meneduhkan hati. Hari ini Rachel segera menyelesaikan pekerjaan nya bersih-bersih rumah. Karena hari ini Rachel akan pergi melihat sekolah barunya bersama Zahrah.
"Rachel, ummi boleh minta tolong sayang?"
Tiba-tiba nyai Khadijah menghampiri Rachel.
"Iya ummi boleh, ummi minta tolong apa?" Tanya Rachel antusias.
"Ummi minta tolong, tuliskan surat untuk Bu Nyai Nuhun. Nanti ummi akan mendekte apa yang harus Rachel tulis soalnya. Maaf ya sayang ummi membuat mu repot, sebab tangan kanan ummi sedang ngilu."
"Iya ummi, Rachel tidak merasa direpotkan. Sebaliknya Rachel sangat senang. Mari ummi."
Rachel menuntun nyai Khadijah keruang tengah. Ditangannya sudah siap memegang beberapa lembar kertas dan sebuah pena.
Nyai Khadijah mulai mendekte isi surat yang akan ditulis oleh Rachel dengan telaten.
Rachel dengan percaya diri menulisnya dengan gaya tulisan yang sangat indah dalam abjad bahasa Indonesia. Karena dulu saat sekolah di Malang, tulisan Rachel selalu mendapat predikat tertinggi dengan nilai sepuluh dalam pelajaran bahasa Indonesia.
Setelah dirasa sudah cukup, nyai Khadijah menyudahi dektenya.
"Alhamdulillah, bagaiman sayang. Suratnya sudah siap?" Tanya Nyai Khadijah.
"Alhamdulillah ummi, sudah selesai. Coba ummi cek kembali. Takut ada yang salah atau tidak sesuai." Jawab Rachel dengan menyunggingkan senyum.
"Iya, sini ummi koreksi dulu."
Nyai Khadijah mengambil sepucuk surat yang sudah ditulis dengan sangat rapi dan indah oleh keponakan nya.
__ADS_1
Setelah melihat tulisan yang ada dalam surat, Nyai Khadijah terdiam. Terlihat sebuah kerutan tebal di dahinya. Sambil menggeleng-gelengkan kepala Nyai Khadijah mencoba melempar senyum pada Rachel.
Pasalnya surat yang ditulis oleh Rachel tidak sesuai dengan harapan nya. Tapi Nyai Khadijah juga tidak bisa menyalahkan Rachel, karena mungkin saja Rachel memang tidak mengetahui tradisi keluarga ndalem.
"Sayang, tulisan tangan mu Sangat indah." Puji Nyai Khadijah.
"Kalo itu ummi tidak usah heran. Rachel memang selalu juara dalam menulis hehehe." Ucap Rachel bangga.
"Tapi maaf ya sayang, sudah menjadi tradisi disini menggunakan tulisan Pegon dalam hal apapun. Baik itu dalam belajar, menulis surat dan lain sebagainya." Tukas Nyai khadijah dengan lembut. Ia tidak ingin menyinggung perasaan keponakan nya.
"Pegon?" Tanya Rachel bingung.
"Iya tulisan Pegon." Jawab Nya Khadijah.
"Pegon itu apa ummi?" Tanya Rachel semakin bingung. Dia memang benar-benar tidak tau apa yang di bicarakan Nyai Khadijah.
"Pegon itu tulisan yang menggunakan abjad Arab dalam segala bahasa." Jelas Nyai Khadijah.
"Apa Rachel bisa menulis dengan tulisan pegon.?" Tanya nya kemudian.
"Eeem, kalau itu. Maaf ummi Rachel tidak bisa. Namanya saja baru kali ini Rachel mendengarnya." Jawab Rachel jujur, ia merasa bodoh dihadapan Nyai Khadijah.
"Tidak lama kok sayang, hanya sampai tahun ajaran baru. Hitung-hitung untuk menambah ilmu dan pengalaman mu sayang." Lanjutnya
Nyai Khadijah merasa keponakan nya sangat minim akan pendidikan agama.
"Em, beri Rachel waktu untuk berfikir ummi."
Jawab Rachel yang di jawab dengan senyuman oleh nyai Khadijah.
kemudian ia meninggalkan Nyai Khadijah menuju kamarnya dengan perasaan bimbang dan sedih. Sedih karena jika ia menyetujui saran dari Nyai Khadijah ia pasti akan tertinggal tahun. Lagi-lagi Rachel diliputi oleh rasa bimbang. Rachel mulai memikirkan tawaran Nyai Khadijah.
#####
Pada malam harinya, semua anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga, tepatnya diruang tengah. Nyai Khadijah sudah memberitahukan apa yang ia bicarakan dengan Rachel pagi tadi pada suaminya.
Disana sudah ada KYAI Abdul Fata, Farhan, Zahra dan Nyai Khadijah duduk dengan santai sambil menikmati beberapa camilan kecil yang disuguhkan oleh para abdi ndalem.
"Abi, bagaimana jika Rachel tidak menyetujuinya?" Tanya Nyai Khadijah pada sang suami.
__ADS_1
"Insyaallah dia pasti akan mengambil keputusan dengan bijak, ummi tenang saja." Jawab Kyai fata lalu meraih tangan istrinya isyarat agar istrinya bersikap tenang.
Kreeeek.
Suara pintu terbuka, tak lama kemudian Rachel datang dengan menggunakan gamis berwarna maroon dengan kerudung senada yang ia padukan dengan gamis nya. Malam ini Rachel terlihat cukup sederhana tapi anggun. Walaupun wajahnya terlihat sendu.
Semua mata ternuju ke arah pintu yang terbuka. Melihat dengan tatapan kagum pada Rachel. Tak terkecuali Farhan. Farhan melihat penampilan Rachel dengan tak berkedip. Ia melihat ada sosok Nadira yang bersemayam ditubuh Rachel.
"Yaa Allah, dia sangat mirip dengan Nadira. Sama persis. Huuufs jadi rindu." Batin farhan.
"Assalamualaikum, Abi, ummi, Abang dan adhe' Zahraku yang imut." Rachel mengucapkan salam sambil mengapsen satu persatu orang yang ada di hadapannya.
Rachel berusaha menutupi perasaan gelisah yang menyelimuti hatinya. Tapi kali ini dia harus memberikan jawaban dari tawaran Nyai Khadijah. Sebisa mungkin ia bersikap tenang. Rachel duduk disamping Zahra.
"Waalaikumussalam warahmatullah." Jawab mereka serentak.
Setelah itu hening, tidak ada pembicaraan lain. Kyai Abdul Fata dan Nyai Khadijah sengaja l memberikan ruang pada Rachel agar memulai pembicaraan.
Rachel diam sejenak. Kegelisahan terlihat dari gurat wajahnya yang sedikit mengkerut. Meskipun begitu tidak menghilangkan aura kecantikan nya yang memang dimiliki Rachel sejak lahir. Setelah memastikan hatinya sedikit tenang, akhir nya ia angkat bicara.
"Ummi, setelah Rachel pikirkan tentang saran ummi tadi pagi. Bismillah, Insyaallah Rachel setuju dengan apa yang disarankan oleh ummi. Semoga Allah memberikan kemudahan pada Rachel dalam menuntut ilmu." Ucap Rachel dengan hati-hati.
"Alhamdulillah, barakallahu fik. Ummi dan abi sangat senang mendengar keputusan yang kamu ambil sayang." Jawab Nyai Khadijah sumringah.
"Mulai besok, kamu langsung masuk sekolah. Dan untuk sementara kamu abi tempatkan dikelas empat." Timpal Kyai fata ikut antusias dengan keputusan Rachel.
"Jika ada yang adhe' butuhkan jangan sungkan-sungkan untuk bertanya pada Abang." Farhan yang hanya menyimak dari tadi kini juga ikut bersemangat untuk membantu Rachel.
"Zahra juga pasti bantu kakak jika diperlukan, Zahra kan sayang kakak. Sayang banget malah hehehe" ucap Zahra yang tidak mau kalah dengan tatapan imut.
"Mulailah belajar sayang, dikelas itu ada Alfin yang juga akan membantu mu jika ada pelajaran yang tidak kamu mengerti. Jangan pernah menyerah teruslah bersemangat. Kami semua akan selalu menyayangimu." Ucap Nyai Khadijah membangunkan semangat Rachel.
Apa aku sudah benar dalam mengambil keputusan?
Tapi bagaimana mungkin aku masuk Madrasah Ibtidaiyah, bukankah aku sudah lulusan SD.
Bismillah, jalani aja dulu. Toh pengetahuanku memang sangat minim dalam bidang agama.
Rachel hanya menatap keluarga pamannya dengan senyuman yang tidak bisa ia deskripsikan apakah ia harus senang atau sedih.
__ADS_1
Bersambung.....