
Keesokan harinya. Rachel sudah bersiap-siap untuk pulang dari Rumah Sakit. Dengan di bantu oleh Zahra dan bibiknya berkemas pakaian. Pamannya pergi ke tempat administrasi untuk menyelesaikan pembiayaan Rachel. Sedangkan Farhan mempersiapkan mobil yang akan mereka kendarai.
Setelah semua selesai, mereka semua pulang ke kediaman paman nya di pondok pesantren. Dengan menaiki mobil keluarga milik pamannya yang memang khusus dipakai untuk keluarga ndalem jika ada keperluan mendesak.
Farhan mengambil alih kendali mobil, dia tidak memakai sopir keluarga. Dengan alasan "selagi masih bisa melakukannya sendiri kenapa harus merepotkan orang lain".
Inilah Farhan meski dia seorang putra kiyai dan memiliki Pondok Pesantren yang cukup besar didaerahnya, tapi dia tidak mau selalu bergantung pada orang lain. Apalagi dia tidak suka jika ada yang menyanjungnya dengan alasan masih keturunan darah biru.
Ia lebih senang dikenal sebagai orang biasa tanpa embel-embel darah biru.
Sebegitu rendah hati nya seorang Farhan, bahkan dipondok pesantren tempat dia menimba ilmu, tidak ada yang tau kalau dia adalah anaknya seorang kyai. Padahal dia sudah mondok hampir dua belas tahun. Karena memang dia mulai menikmati kehidupan pondok pesantren sejak usia tujuh tahun. Subhanallah.
Mobil pun telah sampai di kediaman paman Rachel. Mereka semua turun. Rachel turun
dari mobil dengan dibantu oleh bibiknya. Sedangkan Zahra membawa barang-barang Rachel. Farhan memarkirkan mobilnya ke garasi.
Setelah sampai dikamar, Rachel disuruh untuk segera istirahat karena tenaga nya masih belum pulih betul.
Zahra pergi ke dapur meminta abdi ndalem untuk membuatkan teh hangat untuk Rachel.
Karena waktu masih menunjukkan jam sembilan pagi, paman dan bibiknya bergegas ke pondok pesantren untuk ngawuruk (mengajar) kitab kuning pada santrinya, dan menecek kesiapan anak-anak yang akan ikut lomba Batsul Masa'il antar pondok pesantren.
*******
"Kita hanya ibarat debu, bagaimanapun besar keinginan untuk bisa terbang, tetap akan kembali ke bawah. Karena memang posisi kita dibawah sebagai seorang hamba. Bukan sebagai penguasa dan juga bukan sebagai yang tertinggi. Maka setinggi apapun dirimu entah itu karena harta, pangkat dan jabatan, tempat terakhir adalah TANAH. Maka hal apa yang patut disombongkan? Bukankah semua yang kita punya hanyalah titipan? Termasuk tubuh yang kita miliki."
Rachel merenungi ucapan kakeknya. Banyak sekali kata kata hikmah yang kakeknya ajarkan semasa hidup. Hanya saja waktu itu Rachel tak menghiraukannya seolah-olah masuk telinga kanan kemudian keluar dari telinga kiri.
Dan semua itu baru terasa sangat dibutuhkan setelah Rachel mengalami problematika hidup. Semua kata kata kakeknya sangat membantunya untuk membangun semangat hidupnya. Kembali ia merasa sedih dan sangat terpukul setelah kematian kakeknya. Air mata pun kembali menghiasi wajahnya yang nampak masih pucat.
"Kek, apa kakek tau, hidup Rachel sekarang sama persis dengan apa yang kakek titahkan. Andai kakek masih hidup mungkin Rachel tidak akan sesedih ini." Batin Rachel terisak.
"Kek, perusahaan ayah sekarang sudah kolaps dan beralih tangan ke dia. Kakek Taukan siapa dia. Rachel sendiri tidak menyangka jika dia sebegitu bencinya pada keluarga ku kek. Apa salah keluarga ku padanya?" Keluhnya pada sang kakek masih terisak dalam lamunannya.
"Rachel sangat menyesal tidak pernah mendengarkan kata kata kakek." Lanjutnya masih setia dengan lamunannya.
Flashback
Setelah acara tahlil kakek Rachel yang ke tujuh hari Rachel pergi ke makam kakeknya untuk berpamitan pada kakeknya. Dan meminta izin untuk ikut keluarga pamannya ke Madura.
__ADS_1
Setelah membaca surat Yasin, tahlil serta doa. Rachel mengutarakan niatnya diatas pusaran kakeknya.
"Assalamualaikum kek, semoga Allah senantiasa memberikan kelapangan didalam sana ya kek." Ucap Rachel penuh harap. Kedua tangannya memeluk nisan sang kakek.
"Rachel pamit, mungkin Rachel akan sangat lama untuk mengunjungi kakek lagi."
"Tapi kakek jangan sedih Rachel akan sangat rajin mengirimkandoa buat kakek. Doakan Rachel juga ya kek, Rachel sayang kakek."
"Rachel pamit ya kek, assalamualaikum."
Lanjutnya lalu berpamitan dengan mengucapkan salam.
Sepulang dari makam kakeknya, Rachel menuju supermarket untuk membeli beberapa barang yang mungkin akan sangat di butuhkan nya nanti saat dirumah paman nya.
Ditengah perjalanan, Rachel melihat seseorang sedang memasuki sebuah kafe yang bisa dibilang sangat mewah. Dirasa tingkah orang itu sangat mencurigakan. Rachel yang sedikit penasaran lalu mengikuti nya dari belakang.
Rachel juga memasuki kafe itu dan mencari keberadaan orang itu. Setelah ia susuri kafe itu pandangannya tertuju pada meja yang bernomer tujuh. Rachel segera duduk dimeja nomer enam yang tidak jauh dengan meja itu.
Agar tidak kelihatan oleh orang itu, Rachel memikirkan bagaimana caranya agar keberadaanya tidak di ketahui olehnya.
Beberapa saat ia berpikir, tak sengaja ia melihat ada sebuah majalah modis di meja sebelah nya.
Sayup-sayup Rachel mulai mendengarkan percakapan mereka.
"Bagaimana nona, apakah anda puas dengan pekerjaan kami?" Ucap salah satu lawan bicara nya yang terlihat sangar. Bagga.
"Untuk sementara cukup Lumayan," " tapi jangan bangga, ini baru awal. Nanti aku akan mengkonfirmasi tugas selanjutnya. Ini bayaran kalian. Ingat tutup mulut atau aku akan membunuh semua anggota keluarga kalian." Ucapnya tegas. Sorot matanya yang penuh penekanan.
"Terimakasih. Nona tenang saja, semua ok. Kami pasti akan tutup mulut, kalau beguti kami permisi." Ucap lawan bicara orang itu dan berlalu keluar dari kafe.
Rachel masih setia berdiam ditempat persembunyiannya tanpan sepengetahuan orang yang dicurigai nya.
"Nikmati saja kehancuran kalian kali ini, aku pasti akan memberikan kan tips untuk kehancuran kalian berikutnya. Dan merebut semua yang kamu miliki. Oh.... pamanku yang malang..... Kini perusahaan mu menjadi milikku hahahaha. KALIAN HARUS HANCUR DI TANGAN KU." Kilatan kebencian terlihat dari sorot matanya.
Tidak lama kemudian Dia keluar dari cafe dengan meninggalkan beberapa lembar uang kertas diatas meja.
"Astagfirullah hal adzim, kak... Kenapa kamu Setega dan sekejam ini? Aku tidak menyangka kakak yang aku anggap saudaraku sendiri menusuk keluarga ku dari belakang." Pekik Rachel terkejut.
Rachel mencoba menahan amarahnya nya agar tidak terjadi keributan. Ia tidak ingin permasalahan keluarga nya di ketahui oleh orang lain.
__ADS_1
"Yaa Allah apa salah keluarga ku sebenarnya, mengapa dia Setega itu. Ayah dan ibuku selalu memberikan kasih sayang yang sangat tulus pada nya. Bahkan beliau tidak pernah membeda-bedakan kami." Batin Rachel sedih dengan kenyataan hidup yang ia jalani.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan, setelah mengetahui semua ini apa aku rela meninggalkan keluarga ku. Bagaimana jika Dia melakukan hal yang tidak di inginkan dan membahayakan keluarga ku lagi?" gumamnya dengan lirih.
"Untuk sementara aku harus menyelidikinya dulu, jika memang mengharuskan. Maka aku bertindak." tukas Rachel lalu meraih handphone disakunya dan menelpon seseorang.
******
"Kak....." Panggil Zahra mendekat.
"Kak.... Apasih yang kakak lamunin?" Ucap zahra kemudian karena tidak mendapat respon dari Rachel.
"Kak..... halllloo Kak Rachel...." Zahra mencoba menyadarkan Rachel dari lamunannya dengan menggoyangkan kedua telapak tangan nya di depan wajah Rachel.
Seketika itu juga Rachel tersadar, dan menghapus air mata nya serta mencoba untuk tersenyum pada Zahra.
"Iya dhe' ada apa?" Tanya Rachel bingung mau bicara apa.
"Dari tadi Zahra panggil panggil kakak tapi gak ada respon." Ucap Zahra gemas melihat kakak nya.
"Loh iya Tah, maaf ya dhe' kakak gak denger." Jawab Rachel merasa bersalah.
"Mau denger gimana cobak, lah kakak dari tadi sedang asik ngelamun hehehe" terang zahra.
"Emang ngelamunin apaan sih kak bikin Zahra penasaran aja cerita dong kak." Pinta Zahra sambil mengedip ngedipkan kelopak matanya dengan manja.
"Bukan apa-apa kok dhe', mungkin efek samping badan kakak yang gak fit." Jawab Rachel mengelak.
"Oh gitu. O iya ini zahra bawain teh hangat buat kakak di minum ya kak mumpung lagi hangat." Ucap zahra kemudian.
"Ia terima kasih banyak ya dhe' teh nya, maaf kakak bisanya hanya ngerepotin adhe'." Jawab Rachel sedih.
"Gak ada yang direpotin, Zahra malah senang banget bisa berguna buat kakak." Ucap Zahra ramah.
Rachel berkali-kali mengucap hamdalah. Ia sangat bersyukur bertemu dengan orang orang yang sangat baik dan subhanallah.
"yaa Allah aku harus kuat, Bismillahirrahmanirrahim." ucap Rachel membangun semangat dalam diri nya.
bersambung......
__ADS_1