
Dikala semua insan yang kamu harapkan tak dapat bersanding dengan mu, maka bersabarlah, ingatlah hanya Allah SWT yang tak kan pernah meninggalkan mu.
Malam itu, adalah malam pertama bagi Rachel bergabung dengan keluarga pamannya. Setelah melalui perjalanan yang terasa sangat melelahkan Rachel beranjak dari tempat tidur nya.
" Yaa Allah, ku titipkan hidup dan mati ku hanya pada Mu. Dan tolong sampaikan salam sayangku pada keluarga ku terutama bunda dan ayah." Gumam Rachel dengan lirih tak terasa airmata nya mengalir.
"Kenapa aku jadi cengeng begini sih, go Rachel....go kamu tidak boleh cengeng, kamu tidak boleh lemah. Ini baru awal kamu pasti bisa man Jadda wa Jadda." Lirih Rachel dalam hati berusaha untuk memberikan semangat dirinya sendiri.
"Kak, ayo aku antar ke kamar mandi, jangan lupa gamisnya di ganti sarung ya. Karena sudah tradisi bagi yang nyantri disini harus menggunakan pakaian adat sini." Ucap Zahra yang tiba-tiba muncul mengagetkan Rachel.
" What's !!!!, Apa tadi sarung?" Tanya Rachel setengah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zahra.
"Iya sarung." Ucap Zahra meyakinkan.
"Lihatlah adhe'aja pakai sarung, disini gamis atau baju kurung hanya di perbolehkan jika ada acara yang mengharuskan untuk keluar dari daerah pondok pesantren." Lanjutnya
"Tapi dhe', mana bisa kakak menggunakan sarung? Yang ada nanti sarung nya terlepas gimana???" Jawab Rachel dengan wajah sendunya. Dia mengakui bahwasanya dia
Memang tidak pandai dalam memakai sarung. Baginya terasa sangat tabu. Dia sudah membayangkan saat menggunakan sarung tiba-tiba terlepas saat dia tengah berjalan. Oh No.......ππππ
"Maka dari itu kakak harus mulai belajar untuk menggunakan sarung mulai malam ini ok?" Ucap Zahra tanpa mau ada penolakan. Karena dia sudah diberi amanah oleh umminya untuk mengajarkan Rachel menggunakan sarung.
"Adhe' ku sayang......Emang gak boleh minta dispensasi ya...???" Bujuk Rachel dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin berharap adiknya memberikan keringanan.
" Afwan ya kak, tapi ini amanah dari ummi dan ini merupakan hukum wajib bagi para santri disini." Zahra mencoba untuk menjelaskan.
"Ini adalah langkah pertama untuk kakak belajar yang namanya tawadhu'. Mungkin untuk pertama kalinya kakak akan merasa sangat kesulitan tapi lama kelamaan kakak pasti akan merasa lebih nyaman dan terbiasa menggunakan nya." Lanjutnya.
"Emh... Ok deh, tapi diajarin ya?" Pasrah Rachel mau tidak mau dia harus bisa mentaati peraturan pondok pesantren pamannya itu.
"Pastinya dong kak,,,," jawab Zahra dengan penuh semangat karena tidak butuh waktu lama untuk bisa membujuk kakak sepupu nya itu.
Pada saat itu juga Zahra mengantarkan Rachel kekamar mandi, setelah itu iya langsung bergegas mengambil kain sarung berwarna hitam dengan corak setengah batik berwarna coklat. Setelah Rachel selesai membersihkan diri dia menuju ke ruang ganti yang letaknya tidak jauh dari kamar mandi. Zahra mulai mengajari Rachel
Menggunakan kain sarung dengan sangat cekatan.
__ADS_1
"Dhe', kamu yakin sarung ini gak bakalan terlepas?" Tanya Rachelyang merasa was-was karena tidak pernah menggunakan pakaian yang terasa aneh itu.
"Insyaallah tidak, jika terlepas itu namanya COBAAN." Jawab Zahra sambil terkekeh karena merasa gemas pada kakak sepupu nya itu.
Setelah itu Zahra pergi ke musholla untuk menunaikan ibadah shalat Maghrib.
Zahra pergi lebih dulu karena ada keperluan mendadak. Zahra pergi setelah memberitahukan posisi tempat Mushollah kepada Rachel.
Rachel dengan ragu melangkah menuju Mushollah. Pasalnya ini adalah untuk yang pertama kali nya Rachel menggunakan kain sarung. Setelah keluar dari rumah pamannya dia melangkah menuju Mushollah sesuai dengan arahan zahra.
Ditengah perjalanan ke Mushollah tiba tiba sarung Rachel terlepas.
"Astagfirullah hal adzim!!!!" Pekik Rachel dengan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.
"Huuuuuuufffs, untungnya gak ada orang yang melihat. Aduh gimana ini lebih baik aku balik kerumah aja. Sepertinya orang orang sudah mulai shalat berjamaah dimusollah." Dengan wajah yang dipenuhi rasa malu yang tidak ter elakkan.
Rachel pun segera beranjak dari tempatnya dan sesegera mungkin melangkah pulang. Rachel melaksanakan shalat Maghrib di kamar nya. Setelah selesai melaksanakan shalat Rachel mengambil mushaf Al-Qur'an dan mulai membacanya dengan khusuk. Perlahan tapi pasti, perasaan Rachel mulai terasa tenang.
##########
Di Mushollah, setelah selesai melaksanakan shalat Maghrib berjamaah kepala Zahra celingukan mencari keberadaan Rachel. Zahra menyapu setiap sudut dari Mushollah dengan pandangan nya. Namun tidak sedikit pun Zahra menemukan batang hidung Rachel.
Akhirnya Zahra keluar dari Mushollah dan pulang ke rumahnya.
"Siapa tau kakak sholat dikamar." Gumam Zahra. Tak mau berlama-lama Zahra pulang dengan setengah berlari.
" Huh high huuh Assalamualaikum." Ucap Zahra dengan nafas yang tersenggal senggal akibat dia berlari.
Kreeeek.,
Pintu ruang tamu di buka oleh Zahra. Senyap senyap Zahra mendengar lantunan ayat suci Al-Quran yang berasal dari kamarnya. Dengan rasa penasaran Zahra melangkah menuju kamar nya.
Pintu kamarnya tidak ditutup rapat oleh Rachel. Sehingga Zahra bisa dengan mudah mengintip Rachel yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan Tartil.
"Suara kakak ternyata sangat merdu, aaaah aku ingin jadi seperti dia." Seru zahra dalam hati. Bibirnya pun terangkat membetuk sebuah senyuman manis. Diam diam zahra sangat mengagumi suara sang kakak.
__ADS_1
Melihat Zahra yang mematung di depan kamarnya ummi Zahra penasaran dengan apa yang di lihat putrinya sehingga tidak menjawab salam yang di ucapkan oleh ummi Zahra.
"Ehemz, dede' lihat apa sayang sampai sampai salam ummi di abaikan." Ucap ummi Zahra yang mengagetkan Zahra.
Zahra menaruh jari telunjuknya ke mulutnya dan ditujukan ke umminya. Setelah itu Zahra menunjukkan apa yang di lihat nya dari tadi.
"Ummi, zahra sangat kagum sama kak Rachel. Suaranya merdu banget." Ucap Rachel dengan mata berbinar-binar menunjukkan bahwa dia sangat kagum pada kakaknya.
"Barakallahu fik, belajarlah pada kakak mu. Insyaallah kamu juga pasti bisa sayang." Jawab ummi Zahra dengan penuh kasih sayang sambil mengelus hijab yang digunakan Zahra.
#####
Setelah selesai mengaji, Rachel mengambil tasbih dan melakukan dzikir sambil menunggu waktu untuk melaksanakan shalat isya'. Di sela sela dzikirnya Zahra datang menghampiri Rachel.
"Assalamualaikum." Salam Zahra lalu berjalan menuju Rachel yang tengah membaca dzikir.
"Waalaikumussalam" jawab Rachel sambil tersenyum pada adik sepupunya.
"Kak tadi kakak gak ke Mushollah ya?" Tanya Zahra antusias.
"Iya, maaf ya dhe'." Jawab Rachel merasa bersalah pada Zahra.
"Pantas saja tadi Zahra cari gak kelihatan." Ucap zahra.
"Sebenarnya tadi kakak sudah mberangkat menuju Mushollah, tapi di tengah jalan...." Ucap Rachel menggantung. Entah harus dilanjutkan atau tidak tapi yang jelas Rachel sangat malu untuk menceritakan nya.
"Di tengah jalan emang kenapa kak??? Ada yang jahatin kakak ya??? Siapa yang berani jahatin kakak ??? Biar aku yang urus..," Tanya zahra bertubi-tubi tarik membiarkan Rachel menjawab pertanyaan nya.
" Stop dhe', jika adek bertanya terus kapan kakak jawabnya?" Sela Rachel yang mulai pusing dengan pertanyaan Zahra yang bertubi-tubi.
"Sebelum kakak sampai ke Mushollah, di tengah jalan tiba-tiba sarung kakak terlepas. Otomatis kakak kaget dan malu berat. Untung gak ada orang yang melihat. Aduuuuh pokoknya kakak gak bisa ngebayangin betapa malunya tadi." Rachel melanjutkan ceritanya. Dengan hati yang sangat malu. Wajahnya pun mulai berubah seperti tomat masak.
Setelah mendengarkan cerita Rachel, Zahra merasa sangat bersalah. Pasalnya dia lupa bahwasanya kakak sepupu nya itu baru pertama kali memakai sarung. Dia lupa memberikan sesuatu agar sarungnya tidak mudah terlepas.
" Innallah, maaf ya kak. Zahra lupa tidak memberikan korset untuk mengeratkan sarung agar tidak mudah terjatuh." Ucap zahra dengan nada yang sangat sedih.
__ADS_1
"Udah tidak usah merasa bersalah, itu juga salah kakak karena kakak tidak berhati-hati tadi." Rachel merangkul Zahra dengan penuh kasih sayang. Ia tau Zahra tidak pernah berniat untuk mengerjainya. Bagaimana mungkin Zahra melakukan itu karena selama ini hanya Zahra yang selalu berada disampingnya. Zahra juga yang dengan sabar mengajarkan Rachel ini dan itu. Rachel bersyukur memiliki adik yang begitu peduli padanya. Sungguh ini adalah pengalaman yang sangat menarik bagi Rachel.
"Aaaaahhh SARUNG, kau buat jantung ku dag dig dug..." Pekik Rachel dalam hati.