
Embun pagi mulai meninggalkan jejak nya, mentari pun kian menanjak dari ufuk timur.
Perbedaan suhu antara Madura dan Malang sangat terasa bagi Rachel. Entah karena belum terbiasa atau memang kadar kekebalan tubuh nya yang rendah kini Rachel terbaring lemah dirumah sakit.
Rachel dirawat dirumah sakit swasta di kota Sampang, letaknya agak jauh dari rumah pamannya yang ia tempati sekarang.
Rachel pingsan saat semua orang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Yah karena hari ini adalah hari pertama bagi Rachel, ummi tidak memperbolehkan Rachel beraktifitas sebelum berkas-berkas syarat pendaftaran sekolah Rachel selesai.
Zahra tengah bersekolah, "ummi" bibiknya Rachel sibuk mengajar kitab kuning pada para santri di pondok. Sebenarnya Rachel sangat ingin berkenalan dengan Mbak mbak santriwati yang tidak ada kegiatan pondok. Tapi Rachel masih belum bisa berinteraksi dengan mereka karena perasaan nya masih belum bisa membaur sepenuhnya dengan kenyataan. Apalagi dia masih belum bisa berbahasa Madura, meskipun dia sedikit faham dengan bahasa itu.
Sambil menunggu pamannya mengurus pendaftaran sekolahnya Rachel yang bosan duduk diam sendirian mencoba membersihkan taman dan menata ulang.
Pada saat itu matahari terlihat sangat terik karena waktu menunjukkan pukul 11.30. saat tengah asyik dengan tanaman tiba-tiba kepala Rachel terasa sangat pusing tak lama kemudian pandangan nya yang mulanya berkunang kunang kini menggelap.
Nasip baik pada saat itu ada seorang santri yang tidak sengaja melihat keberadaan Rachel.
"Innalilah, kaissah kan penakannah pak kyai seh deri malang. Anunapah gi mik asaren e taman? Cobak gik eyecekkah takok bedeh panapah." (Innalilah, itu kan keponakannya pak kyai yang dari Malang. Ngapain kok tiduran di taman ya?. Coba saya cek dulu takutnya dia kenapa napa.") Ucap santri yang tidak sengaja melihat Rachel tergeletak di taman.
Setelah dicek ternyata bukan tidur tapi pingsan, maka santri itu bergegas menuju Ndalem lalu memberitahukan pada abdi Ndalem yang perempuan agar segera memberikan pertolongan pertama pada Rachel. Dan dia pun menuju kantor pondok untuk memberi tahukan keadaan Rachel pada pak kyai.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh huuh huuh huuh, nyo'on saporah Pak Kyai. Kauleh ningalen Ning Rachel semaput e tamannah panjenengan. Tor semangken pon e bhektah dek delemah panjenengan." Ucap santri itu pada paman Rachel dengan nafas tersengal-sengal karena habis berlari. (Mohon maaf pak kyai. Saya melihat Ning Rachel pingsan di tamannya pak kyai. Dan sekarang dibawa ke rumah pak kyai.)
"Astagfirullah hal adzim, innalilah...." Pekik pak kyai seketika perasaan cemas menyelinap di hatinya.
"Mator sekalangkong gi nak pengaberrah." (Terimakasih ya nak berita nya.) Lanjut nya lalu bergegas pulang.
"Enggi pak kyai." ( Iya pak kyai) Ucap santri itu lalu pamit undur diri pada staf-staf kantor.
π«π«π«π«π«
Di Rumah Sakit, keluarga pamannya menunggu Rachel didepan ruang ICU dengan perasaan harap-harap cemas. Karena Rachel pingsan dari siang hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam tapi Rachel masih belum sadar.
"Zahra, kamu pulang kerumah ya nak ajak ummi. Sepertinya ummi sangat kelelahan." Ucap Abi Zahrah yang terlihat sangat khawatir dengan kesehatan istrinya.
"Abi saja yang pulang dengan ummi, Zahra disini saja nungguin kak Rachel sampai sadar." Tolak Zahra
"Nanti kalau kak Rachel sadar zahra kabari Abi. Bang Farhan juga sebentar lagi sampai kesini." Lanjutnya.
Sebelum sampai di Rumah Sakit zahra memberi kabar pada Abangnya bahwa Rachel pingsan dan sekarang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit dan meminta abangnya agar segera menyusul ke Rumah Sakit.
Di tengah perbincangan Rachel dengan abinya tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari ruang ICU. Lalu seorang dokter perempuan keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Dok, bagaimana keadaan keponakan saya dok?" Tanya Abi Zahra sangat khawatir.
"Bapak di mohon untuk tenang. Alhamdulillah keponakan bapak sudah sadar dan sekarang boleh dipindahkan ke ruang rawat inap." Ucap dokter itu.
"Untuk lebih jelasnya mari bapak ikut keruangan saya." Lanjutnya.
Paman dan bibik Rachel mengikuti dokter itu sampai keruangan nya. Mereka pun dipersilahkan untuk duduk.
"Sebelumnya saya minta maaf mungkin ini akan menyinggung kehidupan pribadi keponakan bapak dan ibu." Ucap dokter yang ber tag name Fransiska.
"Iya dok tidak apa-apa. Tolong jelaskan apa adanya." Jawab bibik Rachel yang sedari tadi hanya menyimak.
"Apakah sebelumnya keponakan bapak memiliki masalah? Entah itu pribadi atau yang lainnya." Tanya dokter Siska.
"Sebab saya lihat anak ini sedang histeris, karena terlalu banyak beban pikiran yang dialaminya. Sehingga akan sangat berpengaruh pada kesehatan nya. Kalau bisa jangan biarkan sendiri dan sering melamun dan coba untuk mengajaknya berinteraksi dengan yang lain agar memiliki kesibukan dan mengurangi beban pikiran nya." Lanjutnya.
"Ini saya tuliskan resep obat. Nanti anda tebus di apotik tolong diminumkan secara teratur. Dan untuk sementara keponakan bapak harus di opname insyaallah besok sudah bisa dibawa pulang."
Dokter Siska memberikan resep obat pada paman Rachel.
"Baiklah dok terimakasih banyak atas bantuannya." Ucap Paman Rachel lalu mengambil resep obat dan memberikan resep itu pada istrinya.
"Tidak usah berterimakasih pak ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai dokter." Jawab dokter Siska.
Karena sebelumnya mereka mendapat pesan dari zahra bahwa Rachel sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Di ruang rawat inap Rachel, zahra dengan setia menemani Rachel. Mulai dari menyuapi bubur dan memberikan nya minum.
Farhan juga sudah tiba di Rumah Sakit. Dia langsung menuju ke ruang rawat inap Rachel. Dengan tergesa-gesa Farhan menghampiri Rachel yang terbaring lemah diatas brankar Rumah Sakit. Dia memandangi wajah Rachel yang kian memucat. Ada sesuatu yang menusuk hatinya sehingga terasa sangat sakit ketika melihat keadaan Rachel yang sudah dia anggap sahabat sekaligus adiknya.
"Hei putri tidur, nyaman banget kayak nya tidurnya.... Kamu gak kangen sama Abang?" Ucap Farhan lirih.
"Aku tau alur hidup mu, aku tau masalah mu, jangan kau pendam sendiri dhe'. Jika kau tidak percaya padaku, setidaknya kau menyadari bahwa Allah selalu ada untuk mu." Gumamnya kemudian.
"Bukankah itu yang kau ucapkan dulu saat Abang sedang terpuruk? Tapi kenapa disaat seperti ini kamu malah melupakan ucapanmu sendiri?" Lanjutnya sedih.
Tanpa sadar Rachel terbangun karena mendengar ada suara orang berbicara.
"Abang....." Ucap Rachel sayup-sayup Rachel membuka matanya dan memanggil Farhan dengan suaranya yang lemah.
"Sejak kapan Abang datang, kenapa gak bangunin Rachel sih." Lanjutnya lirih.
__ADS_1
Lalu berusaha untuk duduk. Dilihatnya Zahra sudah tertidur disofa disampingnya.
"Kasian dhe' Zahra pasti dia kelelahan karena menjagaku." Batin Rachel kemudian.
"Udah jangan banyak bergerak dulu dhe', kamu istirahat aja biar cepat pulih dan bisa cepat pulang." Ucap Farhan kemudian beranjak ke kamar kecil.
Rachel hanya terdiam sambil termenung. Entah apa yang dia pikirkan sampai tidak menyadari kedatangan paman dan bibiknya.
"Rachel, nak, Rachel.,." Ucap paman dan bibiknya memanggil nama Rachel yang sedari tadi asyik dengan lamunannya.
"Astagfirullah hal adzim, paman, bibik, maaf Rachel tidak tau kedatangan kalian." Jawab Rachel setelah sadar dari lamunannya.
" Rachel keponakan ku sayang apa yang kamu pikirkan sampai tidak menyadari kedatangan kami. Coba kasi tau ummi dan abi sayang." Ucap bibiknya dengan penuh kasih sayang.
"U....ummi, a...bi?" Tanya Rachel heran kenapa bibiknya menyebut dirinya dengan sebutan ummi dan pamannya dengan sebutan Abi.
"Iya nak, mulai sekarang kamu harus panggil paman dengan sebutan Abi dan bibik dengan sebutan ummi. Dan mulai sekarang jangan pernah merasa sendiri ya sayang karena kami adalah keluarga mu." Ucap bibik Rachel menjelaskan kemudian bibiknya memeluk erat tubuh Rachel yang lemah.
"Itulah yang coba Farhan katakan pada Rachel ummi." Ucap Farhan yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi menuju ummi dan abinya.
Farhan menyalami ummi dan abinya. Lalu memeluk mesra umminya.
"Hei hei jangan peluk peluk ummi. Ummi milik Abi seutuhnya." Ucap paman Rachel lalu merangkul istrinya menggantikan posisi Farhan.
"Yah Abi, Abi kan sudah sepuh Masi aja sewot sama anak sendiri." Goda Farhan pada abinya.
"Kalau kamu mau peluk peluk, cari istri sendiri sana jangan ambil punya abi." Ucap paman Rachel balik menggoda anaknya.
"Masih terlalu dini Abi, nanti kalau sudah saatnya Farhan juga akan cari istri yang tak kalah cantiknya dengan ummi. Tapi awas jangan iri ya bi hehehehe." Jawab Farhan kemudian sambil terkekeh.
Bibik Rachel pun segera melerai perdebatan ayah dan anak itu. Meski sebenarnya dia merasa bahagia yang diperebutkan adalah dirinya.
Rachel sangat terharu pada keluarga pamannya yang terlihat begitu harmonis. Tidak ada perbedaan, semua di perlakukan sama antara dia dengan Zahra dan farhan. Rachel sangat bersyukur pada keluarga pamannya.
"Sudah makan sayang?" Tanya bibik Rachel sambil mengelus kepala Rachel yang dibaluti dengan hijab.
"Alhamdulillah sudah tadi u ummi, disuapi dhe' zahra." Jawab Rachel canggung karena baru kali ini Rachel memanggil bibiknya dengan sebutan ummi.
"Alhamdulillah sayang, sekarang kamu istirahat ya. Insyaallah besok sudah bisa pulang." Ucap bibik Rachel kemudian menyelimuti Rachel.
"Iya ummi, Alhamdulillah." Ucap Rachel kemudian memejamkan kedua matanya meski sedikit terpaksa karena dia tidak sedang mengantuk.
__ADS_1
Bersambung...........