Antara Cita-Cita Dan Cinta

Antara Cita-Cita Dan Cinta
Bu Guru Kecil


__ADS_3

*Disini aku mulai belajar ikhlas


Ikhlas untuk melepas segala yang aku miliki


Disini aku mulai belajar sabar


Sabar dalam menjalani takdir yang tertulis atas namaku di Lauhul Mahfudz


Disini pula aku mulai belajar Ridha


Ridha atas apa yang Allah berikan padaku.


Bismillahi tawakkaltu 'alallah.


Man Jadda wa Jadda*.


Hari ini adalah pengalaman di pertama bagi Rachel memasuki madrasah. Ia diantar oleh Nyai Khadijah kekelasnya. Pasalnya ia merasa sangat malu tidak memakai atribut lengkap yakni sepatu.


Tapi fakta berkata lain saat Rachel mulai memasuki kelas nya. Rachel sangat tertegun dengan penampilan murid-murid dikelasnya.


Bukan hanya itu. Murid murid di kelas itu terlihat lebih tua dari umur Rachel.


"Haaaah mimpi kali ya?, baru kali ini saya melihat anak sekolah memakai sarung plus sandal jepit. Hehehe cukup unik. Ok mari kita dinikmati hari ini." Batin Rachel cukup tertegun sambil mengerjap-ngerjapkan matanya berharap itu hanya mimpi.


"Kelihatannya mereka umur 20 tahunan, gak cucok banget mereka ada dikelas empat madrasah." Lanjutnya dalam hati masih dalam mode terkejut.


Kelas yang rame dengan bacaan nadzom imriti seketika sepi untuk sesaat ketika Rachel mulai memasuki kelas. Para siswa-siswi berdecak kagum dengan ke elokan wajah Rachel. Banyak yang mulai bisik-bisik tetangga, adapula yang bersiul hanya sekedar mencari perhatian agar Rachel menoleh. Namun bukan Rachel namanya jika terpengaruh.


Rachel berjalan kedepan kelas dengan menundukkan kepala. Bukannya takut atau malu, tapi lebih ke sikap tawadhu'. Mulai hari ini Rachel ingin mempraktekkan sikap tawadhu'. Tak mau ambil pusing dengan bisik-bisik tetangga, Rachel mulai memperkenalkan diri didepan kelas dengan tegas.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh nama saya Rachel Amanda. Asal dari kota Malang. Saya hanya lulusan SD. Disini saya ingin belajar ilmu agama karena saya sangat minim dengan ilmu agama. Teman-teman mohon kerjasamanya ya."


Setelah sesi perkenalan selesai, Rachel duduk disamping Alfin. Sedangkan Vivi yang awalnya duduk disamping Alfin pindah ke belakang.


"Maaf ya dhe', gara-gara aku kamu jadi pindah." Ucap Rachel merasa bersalah pada Vivi.


"Alhamdulillah tidak mbak, saya bahkan Sangat senang mbak masuk kekelas ini." Jawab Vivi sambil tersenyum.


"Iya mbak Alfin juga senang banget. Akhirnya bisa ketemu dan sekelas lagi dengan mbak. Oh iya kata buya kita masih dua pupu loh." Ucap Alfin yang sangat antusias dengan keberadaan Rachel dikelasnya.


"Buya???" Tanya Rachel tidak mengerti.


"Iya Buya, ayahnya Zahra itu adalah paman aku juga. Dan aku memanggilnya Abuya." Jawab Alfin.


"Oh"


Rachel hanya membeo seolah ia mengerti yang di ucapkan Alfin.


"Yaudah ayo semangat belajar nya. Pak ustadz sudah datang." Ujar Vivi mengarahkan pandangannya ke pintu dimana seorang ustadz datang.


Setelah kedatangan Ustadz, pelajaran didalam kelas pun berjalan dengan lancar seperti biasanya. Tidak lama setelah itu, bel istirahat berbunyi. Sebagian dari mereka ada yang berhambur kekantin sekolah untuk mengisi perut kosongnya. Sedangkan Rachel Alfin dan Vivi dan beberapa murid lainnya masih setia didalam kelas.


"Tak langkong nyih, manabih panjenengan butoh ketab panikah. Ketab nikah peparengenah Kyai fata." ( Maaf nyai, mungkin kamu butuh kitab ini. Ini di kasih kyai fata.) Ucab salah satu santriwan sambil menundukkan kepala tidak berani melihat kearah Rachel.


"Dhe', dia bilang apa barusan?" Tanya Rachel pada Alfin setengah berbisik.


"Oh dia bilang, mungkin mbak akan butuh kitab itu. Kitab itu pemberian Buya." Alfin mencoba untuk menjelaskan.

__ADS_1


"Oh iya terima kasih cak" ucap Rachel kemudian Rachel mengambil kitab tarjamahan Fathul qorib.


Namun sebelum santriwan itu beranjak dari tempatnya Rachel mengatakan sesuatu.


"Oh iya cak, tolong jangan di panggil nyai. Sebutan itu sangat tidak pantas untukku. Kita disini sama-sama belajar." Ujar Rachel kemudian.


"Oh enggi Ning." (Oh iya Ning). Jawab santriwan lalu mengucapkan salam.


"Yaa Allah, udah cantik, ramah, rendah hati lagi. Sungguh wanita shalihah. Semoga Allah selalu merahmatimu Ning." Gumam santriwan dalam hati tak terasa bibirnya mengulas sebuah senyuman.


Kemudian santriwan itu berlalu dari hadapan Rachel dengan dada bergetar hebat. Kekagumannya semakin menjadi melihat Rachel yang ramah dan rendah hati. Tangannya dipenuhi keringat dingin. Pasalnya baru kali ini ia berhadapan dengan putri dari keluarga ndalem langsung.


"Mbak, sampeyan tau Ndak. Itu tadi kan cak Fadhil. Santriwan idaman nya para santriwati. Dia terkenal dengan ketawadhu'an nya dan kecerdasan nya. Ganteng lagi." Vivi menceritakan tentang Fadil dengan sangat bangga.


"Iya mbak, itu cak Fadhil . Aku aja ngefans banget sama dia. Emang mbak gak tertarik gitu sama dia?" Alfin ikut menimpali dengan mata berbinar-binar.


"Ah masak, buat kalian aja. Aku mau fokus belajar. Lagian bukan muhrim. Kasian jodoh kalian ntar kalah saingan di usia dini Hehehe." Ujar Rachel sambil menggoda Alfin dan Vivi.


Alfin dan Vivi hanya menatap heran pada Rachel yang tidak terpengaruh sama sekali dengan kelebihan ciptaan Allah yang bernama Fadhil.


Bermasuk pada jam kedua pun berbunyi. Kali ini adalah pelajaran bahasa Inggris. Rachel sangat senang dengan mata pelajaran ini.


Seorang guru masuk dengan pakaian sangat rapi layaknya seorang guru. Hanya guru ini yang tampil beda dari guru lainnya. Guru itupun mulai mengapsen setiap murid. Hingga akhirnya apsen selesai.


"Apa ada nama yang belum saya apsen?" Tanya guru itu kemudian.


"Ada pak!!" Jawab para murid serentak.


"Siapa?"


"Murid baru ya?" Tanya pak guru pada Rachel.


"Iya pak, saya Rachel Amanda. Dari Malang." Jawab Rachel memperkenalkan diri.


"Oh dari Malang, Malang adalah kota pendidikan nomer dua setelah jokja." Terang pak guru tersebut.


"Ok. Untuk kali ini saya ingin mempersilahkan kamu untuk menjelaskan tentang Hoby. Tolong kamu kedepan. Saya harap kamu bisa." Ucap pak guru tersebut ingin tau kemampuan Rachel.


Rachel pun maju kedepan dan mulai mempresentasikan tentang hobi.


"Hello everyone, how are you today?" Rachel mulai menyapa teman-temanya dengan bahasa Inggris.


Tak ada jawaban. Para santri itu hanya menyimak. Mereka tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Rachel.


Pada kesempatan kali ini saya akan membahas materi Hobby atau dalam bahasa indonesianya adalah kegemaran. Setiap orang di dunia ini pasti punya hobby, ada yang suka membaca, menulis, berenang, bahkan menonton film. Karena pasti ada hal yang manusia sukai di dunia ini dan ingin terus untuk mengerjakan. Saya ingin bertanya, apakah ada di antara kalian yang mempunyai hobi belajar bahasa inggris? hmm pasti kalian sudah jagoan dong bahasa inggrisnya hehehe. mari kita langsung saja simak vocabulary hobby berikut ini.


"Bahasa Inggris? Maaf Ning, dari pada belajar bahasa Inggris lebih baik belajar bahasa Arab. Itu pasti akan sangat menyenangkan." Batin para murid tanpa bisa mengatakan nya.


"Ok guys, ini adalah contoh vocabulary yang mengarah pada Hoby." Rachel menuliskan beberapa vocab di papan tulis.


reading \= membaca


writing \= membaca


swimming \= berenang


singing \= bernyanyi

__ADS_1


dancing \= menari


playing football \= bermain bola


cycling \= main sepeda


skateboarding \= bermain skateboard


gardening \= berkebun


sewing \= menjahit


Dan ini adalah contoh kalimat menggunakan Hobby:


What is your hobby? (apa hobimu?)


My hobby is reading. (Hobiku adalah membaca)


What is your brother's hobby? (apa hobi saudara lelakimu?)


My brother's hobby is playing football (hobi saudara lelakiku adalah bermain bola)


What is your sister's hobby? (apa hobi saudara perempuanmu?)


My sister's hobby is dancing (hobi saudara perempuanku adalah menari)


What is your mother's hobby? (apa hobi ibumu?)


My mother's hobby is gardening (hobi ibuku adalah mengajar)


What is your father's hobby? (apa hobi ayahmu?)


My father's hobby is fishing (hobi ayahku adalah memancing)


Rachel menjelaskan tentang Hoby dengan sangat singkat, padat, dan mudah dipahami.


Murid murid yang tadinya malas mengikuti pelajan bahasa Inggris. Kini mereka mulai sedikit tertarik karena penjelasan Rachel mudah untuk dicerna.


"Nah sampai disini apa ada yang tidak kalian fahami?" Tanya Rachel pada teman-teman nya.


"Jika Bu guru kecil yang menjelaskan kami pasti paham Bu." Cerca salah satu murid yang di iya kan oleh teman-temannya.


Para murid sangat takjub dengan presentasi Rachel. Mereka tidak menyangka jika Rachel sangat pintar dalam berbahasa Inggris.


Rachel sedikit salah tingkah diberi gelar Bu guru kecil. Pasalnya Rachel memang tidak tinggi. Hehehe


Prok prok prok


Suara tepuk tangan berasal dari pak guru. Dia mengulas sebuah senyuman dan puas akan kinerja Rachel.


"Bagus, kamu bisa mempresentasikannya dengan sangat bagus. Pak guru tidak habis pikir. Kamu sangat cerdas. Tapi kenapa kamu memilih sekolah disini. Bahkan disini sangat minim dengan ilmu umum." Tanya pak guru itu cukup heran dengan keputusan Rachel.


"Karena itulah saya belajar disini pak. Saya juga sangat minim dengan ilmu agama." Jawab Rachel terdengar serak degan wajah yang terlihat sendu.


Rachel merasa sangat sedih mengingat dirinya sangat banyak kekurangan dalam bidang agama.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2