
Keesokan harinya, Arin terbangun dari tidur nya dan dia melihat Eden yang masih tertidur pulas di sofa.
"Dia sangat baik," ucap Arin kepada dirinya sendiri.
Arin kemudian mendekati jendela dan membukanya, saat Arin membuka jendela tersebut Eden terbangun dari tidurnya.
"Hoaaam, uh! Selamat pagi, " ucap Eden tersenyum melihat Arin.
"Eh, kakak terbangun? Maaf membangunkan kak Eden, " ucap Arin.
"Ah, tidak apa-apa. Lagi pula aku akan pergi sekolah, kau istirahat saja dulu disini, " ujar Eden.
"Anu kak, aku juga mau ke sekolah. Lagi pula aku sudah baik-baik saja, " ucap Arin tersenyum.
"Oh, kalo begitu kau duluan saja mandi, " ujar Eden.
Arin hanya mengangguk kemudian menuju ke kamar mandi.
Tiga puluh menit kemudian...
Eden menunggu di luar dengan wajah yang seperti vampir.
"Lama sekali, "
"Ah, selesai. Segarnya, " ujar Arin sambil keluar dari kamar mandi itu.
Melihat Arin keluar dari kamar mandi mengenakan handuk, Eden langsung berdiri lalu berlari ke arah kamar mandi.
"Eh? " Arin melihat Eden berlari masuk ke kamar mandi dengan kebingungan.
"Apa aku tadi terlalu lama di kamar mandi? " tanya Arin kepada dirinya sendiri.
Arin kemudian bersiap-siap dan memakai seragamnya sambil menunggu Eden di ruang tamu. Eden yang selesai mandi langsung memakai seragamnya.
__ADS_1
Arin kemudian melihat sebuah roti lalu dia panggang untuk dia makan bersama Eden.
Eden yang selesai bersiap-siap kemudian menuju ke bawah ruang tamu dan melihat Arin yang sedang menyiapkan roti untuknya.
"Kak Eden, ayo kita makan roti saja dulu agar dalam pembelajaran kita tidak kelaparan, " ujar Arin tersenyum.
"hm, " mengangguk sambil tersenyum.
Arin merasa kebingungan karena Eden yang selama ini pendiam dan cuek sangat baik padanya bahkan tersenyum.
"Cepatlah atau kita akan terlambat, " pinta Arin.
"Iya iya, " ucap Eden.
Setelah selesai sarapan, Eden dan Arin berangkat ke sekolah bersama-sama. Dalam perjalanan mereka berdua bertemu dengan Akira.
"Hei Eden! Arin! " panggil Akira sambil berlari menghampiri Eden dan Arin.
"Eh, kau sendiri? Dimana kak Aryan? " tanya Arin.
"Ah itu, kak Akira tidak perlu tau. Lagi pula aku akan fokus ke pelajaran ku saat ini dulu, " ujar Arin.
"Jadi, kau sudah tidak demam lagi? " tanya Akira.
"Iya, dan kali ini aku tidak ingin jadi gadis bodoh lagi. Aku tidak ingin mengejar cinta lagi meski apapun yang terjadi, " ujar Arin percaya diri.
"Wah, itu baru Arin. "
Akira menyemangati Arin dengan menepuk bahu Arin sementara Eden hanya tersenyum melihat Arin yang tertawa bersama Akira. Akira kemudian menoleh dan melihat Eden yang tersenyum menatap Arin.
"Ekhem! oh yah Arin, hari ini habiskan waktu seharian denganku yah, " ujar Akira sambil melirik Eden.
"Eh? mana bisa begitu? " tanya Eden yang sepertinya agak protes.
__ADS_1
"Tentu saja bisa. Iya kan Arin? " ujar Akira sengaja membuat Eden cemburu.
"Karena lama tidak bertemu Arin aku ingin menghabiskan waktu bersamanya, " ujar Akira.
"Uh? "
"Tidak boleh, " kata Eden.
"Boleh! "
"tidak!
" boleh! "
"tidak! "
"boleh! "
"Tidak! "
"Boleeeeh!"
"tidak! "
"boleh boleh boleh! "
"pokoknya tidak! " ujar Eden.
"pinjam Arin doang sebentar saja, " kata Akira.
Arin melihat kedua seniornya itu memperebutkan dirinya hanya bisa diam saja dan terkekeh.
"Pokoknya Arin akan menghabiskan waktu seharian ini bersamaku, " kata Akira.
__ADS_1
"Tidak! " menarik Arin ke belakangan dan tanpa sadar mereka sudah sampai di depan sekolah. Arin saat itu berada di belakang Eden karena Eden menarik Arin dan masih memegang lengan Arin.
Akira hanya bisa menahan tawanya melihat temannya yang sangat cuek ternyata sangat imut terlihat cemburu sementara semua gadis melihat ke arah Arin begitu juga Hasa dan Aryan melihat ketiga temanya itu sudah datang.