
Arin sedang berada di jelasnya, Arin melihat di sekelilingnya yang di jauhi oleh teman-teman kelasnya. Semua teman kelas Arin di jauhi.
"Lihat dia, anak kampung itu berusaha mendekati kak Hasa, " bisik siswi yang satu kelas dengan Arin.
"Hahaha, iya. Dia pikir dia cocok sama kak Hasa? yang cocok sama kak Hasa cuma Irlie yang cantik dan imut, " ujar siswi lainnya.
"Kau benar, dia yang cocok sama kak Hasa dan bukannya si culun itu, hahahah. "
Ejekan dari teman sekelasnya mulai terdengar di telinga Arin. Arin merasa sedih dan diam saja di bangkunya, Arin mengingat masa kecilnya yang nasibnya sama dengan Eden yang di kucilkan dan hidup sendirian.
"Kenapa nasibku selalu seperti ini? Selama ini aku selalu hidup sendirian dan di jauhi oleh orang-orang bahkan sampai sekarang, " ujar Arin dalam hatinya.
"Kapan aku punya teman, " gerutu Arin yang menundukkan kepalanya di meja.
"Hei! " panggil seseorang dari pintu kelasnya sembari menyilangkan tangannya.
"Kak Eden? Lihat kak Eden, dia terlihat sangat keren dengan rambut birunya itu, " ujar siswi-siswi di kelas itu dengan girang.
"Tapi, dia itu sangat cuek, " bisik siswi lainnya.
"Hei, yang disana duduk. Apa aku bisa bicara denganmu? " ujar Eden yang di tujukan kepada Arin.
"Eh...? " semuanya menatap ke arah Arin.
__ADS_1
"Cepatlah, aku tidak tahan berdiri terus disini, " ujar Eden datar.
"Kenapa dia kemari mencariku? " tanya Arin dalam hatinya.
Arin kemudian berjalan ke arah Eden sambil menatap ke arah teman-teman sekelasnya.
"Ikut aku sebentar, " ujar Eden yang langsung memegang lengan Arin dan membawanya pergi dari kelas tersebut.
"Eh, ada apa hubungan di antara mereka? " teman sekelas Arin mulai bertanya-tanya tentnag hubungan Arin dan Eden.
"Kenapa kak Eden bisa mengenal Arin? Padahal dia itu kan lebih rendah daripada kita, harusnya kak Eden kenalnya dengan kita dan bukannya si culun itu, " ujar para gadis.
"Dasar kalian ini, merendahkan orang tapi tidak bisa menilai dirinya sendiri. Memangnya mengenal itu harus memandang fisik? " ujar seorang perempuan yang tidak lain adalah Akira.
"Lain kali jika aku mendengar kata-kata kalian itu lagi, aku akan membuat kalian menyesalinya, " ujar Akira lalu pergi.
Sementara itu, Eden dan Arin menuju ke taman dan menemui Aryan tidak lama kemudian Akira juga datang.
"Eh? Ada apa ini? " tanya Arin kebingungan.
"Apa kau memiliki kemampuan menghentikan waktu? " tanya Aryan tiba-tiba.
"Eh? A.. apa yang kau katakan? " ujar Arin berpura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Jangan berbohong. Aku bisa membaca pikiranmu, " ujar Akira yang berada di belakang Arin dan Eden.
"Jadi, Kak Eden mengajakku kemari hanya untuk bertanya soal ini? " tanya Arin datar.
"Asal kau tau saja, aku juga sama denganmu, " ujar Eden.
"Apa maksudnya? " tanya Arin yang tidak mengerti.
"Maksudnya, kami bertiga juga memiliki kemampuan, " ujar Aryan.
"hah? "
"Eden memiliki kemampuan sama seperti dirimu yaitu menghentikan waktu, sementara Akira memiliki kemampuan membaca pikiran dan dapat mengetahui setiap orang yang dia lihat memiliki kemampuan. Karena itulah kami tahu kau memiliki kemampuan seperti kami. Sementara, kemampuanku kau tidak perlu tahu, " ujar Aryan.
"Eh? kenapa? "
"Karena hanya aku yang dapat mengetahuinya bersama Eden dan Akira, " ujar Aryan.
Mendengar itu, Arin hanya memasang wajah datar saja.
"Tapi, apa kalian bisa merahasiakan ini? " tanya Arin.
"Tentu saja. Sebagai gantinya kau harus jadi bagian kami, " ujar Aryan.
__ADS_1
"Baik, " jawabnya dengan datar.