
Setelah membicarakan itu semua, Arin hanya bisa pasrah dan akan menuruti mereka serta bergabung di kelompok mereka.
"Kupikir hanya aku yang memiliki kemampuan, " ujar Arin pada dirinya sendiri dengan suara yang pelan.
"Hei, sebaiknya kau ke kelasmu. Sebentar lagi kelas akan masuk, " ujar Eden yang kemudian pergi.
"Kami berdua juga pergi dulu ke kelas. Sampai jumpa Arin, " ucap Akira tersenyum kepada Arin.
Arin melihat senyuman Akira merasa senang karena baru kali ini ada seseorang yang suka padanya.
Arin kemudian kembali ie kelasnya, saat sampai gadis yang satu kelas dengan Arin menatap Arin dengan tatapan yang tidak suka karena bisa dekat dengan Eden.
"Hei, apa hubunganmu dengan kak Eden? " tanya teman sekelasnya.
"Huh, kau bicara padaku? " tanya balik Arin dengan tatapan yang datar.
__ADS_1
"Cih, dasar cewek matre, " ejek teman sekelasnya itu.
"Sejak kapan kalian melihatku sebagai cewek matre? Aku bahkan tidak tertarik pada kalian, kecantikan kalian, dan uang kalian. Kalian iri karena kak Eden hanya memanggilku? Cih, dasar tidak tau malu. Padahal hanya di panggil dan segitu aja kalian sudah iri, " ujar Arin kemudian duduk di bangkunya.
Saat duduk Arin melihat mejanya yang di kotori oleh teman sekelasnya, teman sekelasnya hanya tersenyum jahat melihat Arin. Arin hanya terdiam saja, kemudian dia menggunakan kemampuannya dan menghentikan waktu sejenak.
Arin menghentikan waktu lalu berdiri dan mengikat tali sepatu teman sekelasnya itu yang sudah mengejeknya. Setelah selesai mengikatnya, Arin kembali duduk lalu mengembalikannya seperti semula.
Arin hanya tersenyum miring sementara yang mengejek Arin hanya kebingungan karena Arin. Teman sekelas Arin kemudian berjalan, saat mengangkat kakinya dengan selangkag mereka bertiga jatuh.
"Ouch," mereka bertiga kembali duduk dan melihat sepatunya di ikat.
"Tali sepatuku? Pasti ini ulahmu Arin, " kata teman sekelasnya itu.
"Violet, sejak tadi aku duduk disini dan sejak tadi kau terus menceramahiku, bahkan mengejekku dan kau menuduhku?" ujar Arin santai.
__ADS_1
"Violet, Tina, Diani! Kalian bertiga cepat duduk di bangku kalian! " pinta bu Guru.
"Tapi bu, Arin... " terpotong.
"Arin kenapa? kenapa dengan Arin? Yang jelas kalian menuduhnya dengan sembarangan, Arin adalah murid kesayanganku jadi aku tahu kalau kalian bertiga lah yang mengganggunya, " ujar Bu guru tersebut.
Teman sekelas Arin yang terus menggangu nya itu ternyata bernama Violet, Tina, dan Diani. Mereka bertiga memang suka mengganggu akan tetapi mereka suka kepada Irlie dari kelas multimedia yang wajahnya cantik dan di idolai para pria di sekolah tersebut kecuali Eden.
Irlie adalah gadis multimedia kelas sepuluh yang populer dan di gilai oleh para pria sementara Hasa adalah pria populer kelas sebelas dan di gilai para gadis karena sifatnya yang ramah dan murah tersenyum. Mereka berdua kadang di cocokkan, Irlie memang suka kepada Hasa tapi dia lebih tertarik pada Eden karena sifatnya yang dingin dan gaya rambut serta warna rambutnya yang berwarna biru. Eden memang populer juga dengan sifat dinginnya sehingga di incar juga oleh para gadis.
"Sekolah ini ternyata di penuhi oleh murid yang aneh, " ujar Eden pada dirinya sendiri dengan datar.
"Haha, sepertinya kau benar, " ucap Hasa.
"Hmm...? Sejak kapan kau berada di sampingku? " tanya Eden datar.
__ADS_1
"Sejak tadi, " jawab Hasa.