Apakah Aku Pantas?

Apakah Aku Pantas?
Kekhawatiran Shenna & kecewanya Karan


__ADS_3

Shenna telah sampai di kontrakannya, rasa lelah tidak membuatnya lesu, justru yang membuatnya lesu adalah kejadian dengan Pak Karan pada saat diruangannya tadi. Shenna meletakkan tasnya ke atas tempat tidur dengan tidak semangat, ia duduk di pinggiran kasurnya, memegang kepalanya yang sakit.


"Huft, Ya Tuhan. Apa ini masalah baru ku lagi?".


"Baru kali ini aku mengecewakan atasanku sendiri".


"Aaaa bagaimana ini". Shenna menggigit kukunya, matanya berkaca-kaca.


"Aku harus meminta maaf pada Pak Karan besok". Shenna mengusap air matanya, Shenna takut dipecat hanya gara-gara membubuhi rasa kecewa pada atasannya, entah apa nanti yang akan dilihat orang-orang terhadapnya.


.


10 menit meratapi masalahnya,


Shenna bergegas untuk membersihkan tubuhnya, merapikan kontrakannya dan makan malam, tentunya ia melakukan aktivitasnya dengan tidak bersemangat.


.


.


.


*Di rumah Karan.


Karan belum mengganti kameja kerjanya, ia masih duduk di sofa kamarnya dengan menghisap rokok kesukaannya, sudah tiga batang rokok yang dihisapnya. Tatapan Karan kosong, ia memang tidak peduli dengan pekerjaannya, entah berapa pun gajinya dia sangat tidak peduli. Tapi entah mengapa ia tidak suka jika diremehkan, ia ingin membenci gadis Merchandiser yang bernama Shenna itu namun ia tidak bisa membencinya, bagaimanapun juga ia hanyalah Manager baru yang tidak tahu apa-apa, tapi tetap saja Karan merasa sangat kecewa.


"Kenapa aku tidak bekerja di perusahaan milik mama saja?". Ia jadi terpikirkan oleh hal itu.


"Kenapa papa malah membuangku ke toko supermarket kecil itu?". Sifat sombongnya memuncak, Karan terus menghisap rokok di tangannya.


.


.


*Tok Tok Tok...


*Karan menoleh ke arah pintu kamarnya.


"Karan? Ayo makan, ini saatnya makan malam". Terdengar suara Mama Norah yang memanggilnya untuk makan malam.


Karan mematikan api pada rokoknya yang tersisa setengah, tanpa menyahuti panggilan mamanya, Karan berjalan menuju pintu dan membukanya. Terlihat Mama Norah masih berada di depan pintu dan hendak mengetuknya lagi, namun Karan sudah membukanya.


"Karan?, kamu pulang sudah lama?". Tanya Mama Norah ramah.


"Iya, ma?".


"Yasudah, ayo turun. Mama masak makanan kesukaan kamu".


"Iya, ma. Aku juga sudah lapar". Karan menuju lantai bawah untuk makan malam, disana Papa Lukman sudah ada di meja makan mereka. Papa Lukman melihatnya.


Karan duduk di kursi makannya, ia mengambil nasi dan lauk ikan goreng air tawar yang menjadi makanan kesukaannya, ia juga menambahkan lauk pauk yang lain. Ya, ikan air tawar adalah makanan kesukaan Karan, dimasak bagaimanapun ia menyukainya. Karan makan dengan lahap namun tetap dengan wajah datarnya. Papa Lukman melihat putranya yang makan dengan lahap dan membuka percakapan.


"Bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini, Karan? apa ada kendala? ". Papa Lukman.


"Baik-baik saja". Karan masih asyik memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Kalau kau ada masalah dalam pekerjaanmu beritahu saja papa. Papa akan membantumu, di sana kan juga ada Pak Hadi yang akan membantumu, sering-seringlah datang ke ruangannya untuk dipandu dengan beliau". Papa Lukman memasukkan makanan lagi ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Iya, pa". Jawab Karan singkat.


Mereka melanjutkan makan malam, hanya suara dentingan sendok yang terdengar. Hening.


"Pa?". Karan.


"Hm?". Papa Lukman masih fokus pada makanan di piringnya.


"Bagaimana menurut papa kalau kita di remehkan orang lain?, maksudnya bagaimana kalau kita tidak dipercayai oleh orang lain atas sebuah tugas yang menjadi kewajiban kita?".


Tanya Karan dengan nada serius, namun wajahnya tetap terlihat santai dan masih fokus pada makanan di piringnya.


Pandangan Papa Lukman tertuju pada putranya, dan berusaha mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan Karan.


"Hmm, menurut Papa itu tergantung setiap orang. Mungkin orang lain tidak mempercayai kita karena kita mempunyai kepribadian yang tidak disukai oleh orang tersebut, mungkin kita terlihat santai atas segala hal. Mungkin begitu". Jawab Papa Lukman. Ia balik bertanya pada putranya.


"Kenapa memangnya?". Tanya papa Lukman.


"Oh, begitu. Tidak ada, aku hanya bertanya". Karan kembali memasukkan nasi ke dalam mulutnya.


"Sepertinya Karan ada masalah dengan pekerjaannya, aku yakin ini tentang pekerjaannya". Gumam Mama Norah yang sedari tadi hanya menyimak, ia ikut menjawab pertanyaan Karan.


"Mungkin kita terlihat masa bodo pada urusan orang lain, padahal sebenarnya kita tidak begitu. Itu pasti menjadi alasan kenapa orang kadang tidak mempercayai kita". Jawab mama Norah, ia mengerti maksud dari pertanyaan putranya.


Tatapan Karan tertuju kepada mamanya, ia berfikir sejenak.


"Hmm, iya ma. Terimakasih sudah menjawab".


Karan menaruh sendoknya, ia sudah selesai makan.


Papa Lukman dan Mama Norah saling pandang melihat putra mereka.


"Kok tumben dia pamit mah?". Tanya papa Lukman pada istrinya.


Mama Norah mencubit lengan suaminya.


"Aahww, sakit mah. Kenapa sih?". Keluh Papa Lukman


"Kalo anak ada perubahan itu bersyukur, ga usah pake acara kok dia ini, kok dia itu. Huft papa Ini".


"Yaudah sih, jangan cubit juga". Sebal Papa Lukman menggosok lengannya yang perih.


"Pah, mama liat Karan ada perubahan, termasuk dia tadi pamit. Kita doakan saja dia bertahan seperti itu". Tatapan mata mama Norah penuh harap.


Papa Lukman mengangguk-nganggukkan kepalanya.


"Iya, semoga dia bertahan".


.


.


*Di kamar Karan.


Karan pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Ketika Karan melangkah ke kamar mandi, ponselnya berdering, Karan kembali dan melihat nama kontak yang memanggil.


Alex

__ADS_1


"Halo?". Karan mengangkat telepon.


"Halo, bro".


"Sorry Lex, gua gak bisa join nanti". Karan yang sudah mengerti bahwa temannya ini akan mengajaknya ke bar.


"Hmm, yayayah. Gua udah tahu kalo lu nolak, jadi gimana? emang lu nyaman di atur sama bokap lu sampe kerja kek gitu?".


"Mau gimana lagi, gua gak bisa nolak perintah bokap gua".


"Yaudah, tapi sekali-kali ntar maen kerumah gua ya, kesepian banget nih gua ga ada temen, Daniel juga lagi sibuk ngurus pernikahannya dia".


"Iya, ntar gua maen kerumah lu kalo ada waktu. Yaudah gua tutup dulu".


Karan memutuskan sambungan telpon.


"Hufftt".


Karan melanjutkan kegiatannya yang tertunda, ia pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Di kamar mandi, Karan berendam di bathup sambil menghisap satu batang rokok dan memikirkan beberapa hal yang mengusik pikirannya.


Karan memijat pelipisnya.


"Tapi kenapa aku tidak bisa marah pada gadis itu?".


Karan menghisap rokoknya lagi.


"Bukankah dia penyebab aku seperti ini sekarang?".


Karan berpikir lagi.


"Hmmm, Shenna". Karan mengangguk-nganggukkan kepalanya mengingat wajah Shenna.


Shenna cantik dan menggemaskan bagi Karan, sama seperti Hino melihatnya.


"Argh, Sialan gadis itu". Karan mencoba membuang pikirannya tentang gadis itu. Ia ingin menyudahi acara bersih-bersihnya, sudah hampir satu jam ia berendam.


.


.


.


*Di kontrakan Shenna.


Shenna selesai membersihkan kamar tidurnya, membersihkan kamar sebelum tidur adalah rutinitasnya, bagi Shenna, ia tidak bisa tidur jika kamarnya terlihat kotor dan berantakan.


Shenna duduk di pinggiran kasurnya, ia mengambil ponselnya, namun ia malah teringat pada atasannya yang bernama Karan, ia mengingat kejadian di toko tadi.


"Aaaaa". Shenna kembali di buat galau.


"Apa aku besok masuk kerja?, tapi aku sangat takut bertemu pak Karan, ya Tuhan apa yang harus aku lakukan". Shenna khawatir tentang nasibnya esok pagi.


"Tapi aku tidak boleh lari dari masalah, aku harus menghadapinya, aku harus meminta maaf pada Pak Karan". Ucap Shenna yakin.


"Oke, baiklah Shenna. Pejamkan matamu sekarang dan bermimpilah agar besok tidak terjadi apa-apa lagi". Shenna menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, ia mengambil selimutnya dan membaringkan tubuhnya. Shenna menutup matanya berpura-pura tidur, gerakan matanya halus, namun tetap saja isi kepalanya berantakan.


"Aaaaa, bagaimana ini". Shenna kembali galau dan menutup wajahnya, memikirkan bagaimana nasibnya besok.

__ADS_1


__ADS_2