
Pagi hari yang indah, hari ini mataharinya hangat, sehangat hati ikhlas para pejuang rupiah untuk melanjutkan hidup mereka. Termasuk Shenna.
Shenna sedang menjalani tugasnya, ia baru saja membersihkan lantai yang sedikit berdebu menurutnya, entahlah, di toko itu ada OB sebenarnya, tapi Shenna hanya sekedar inisiatif saja, bukan caper.
Di sisi lain Karan sedang berada di dalam rungannnya. Ia masih terpikirkan oleh sikap ayahnya yang terlihat mengabaikannya.
"Pasti ada yang terjadi semalam". Gumamnya.
"Semoga saja ini bukan masalah besar, aku sangat malas untuk membahas ini".
Pandangan Karan tidak sengaja melihat notebook miliknya, ia seketika mengingat kejadian kemarin yang dimana Shenna hampir saja di rampok, dan notebook itu juga mengingatkan ia atas karyawan pria yang bernama Dion yang ternyata selama ini sering memerintahi Shenna menjadikannya babu.
Padahal posisinya juga sama seperti Shenna.
Karan berjalan keluar, ia melihat pandangan para karyawan lain melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Karan acuh saja terhadap hal itu, Karan turun ke bawah lagi berniat mencari sesuatu, ia juga tidak tahu apa tujuannya untuk turun, namun terlihat ia ingin bertemu seseorang. Karan pergi ke gudang untuk melihat-lihat.
"Setidaknya dengan berjalan-jalan seperti ini orang-orang bisa tahu kalau aku sedang bekerja".
Hati Karan tergerak untuk pergi ke gudang untuj melihat-lihat stok barang. Di saat karan melihat-lihat barang yang di gudang, Karan mendengar sesuatu. Ya, itu adalah suara wanita yang sedang berbicara.
"Iya yah, ayah doain aja Shenna sehat-sehat terus di sini. Bulan depan sesuai janji Shenna, Shenna bakal ngirim uang ya". Ucap Shenna, wajahnya berseri-seri jika hal itu berkaitan dengan ayahnya.
Karan melihat Shenna di dalam ruang gudang sebelah. Shenna masih berbincang dengan ayahnya di seberang sana.
"Gadis itu".
Melihat Shenna mulai keluar dari ruang gudang tersebut. Karan secepatnya memperbaiki postur tubuhnya, ia kembali melihat-lihat gudang. Shenna keluar dan melihat Karan disana.
"Pak Karan".
"Pak Karan, Selamat pagi". Sapa Shenna yang terkejut atas kehadiran atasannya itu.
"Hm, selamat pagi". Melirik sekilas pada Shenna.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?". Shenna.
"Kau menelpon ayahmu?". Tanya Karan mengabaikan pertanyaan Shenna.
"Emm, iya Pak, ayah saya ada di kampung".
"Kau sendirian di Jakarta?".
"Betul, pak".
"Ikut saya". Sembari melangkah dengan langkah pelan dan melihat-lihat isi gudang, Shenna mengikuti langkah Karan di belakang".
__ADS_1
Selama ini, Karan tidak mempunyai teman untuk mencurhatkan segala isi hati dan pikirannya kepada siapapun, jangankan orang tuanya, temannya, Alex dan Daniel pun tidak. Karan merasa walaupun ia dekat pada teman dekatnya tetap aja ia tidak percaya pada orang-orang itu. "Nanti mereka juga cuek dan bodoamat", begitu kira-kira pikiran Karan.
"Kapan kau bekerja di Jakarta?". Tanya Karan masih berjalan dengan langkah kecil sambil melihat-lihat isi toko.
"Sekitar satu bulan yang lalu, pak". Shenna masih mengikuti langkah kakinya.
Langkah Karan terhenti, dibelakangnya Shenna tidak fokus dengan sesuatu yang dihadapannya, Karan berhenti melangkah.
Brukk..
"Aduh". Shenna terkejut, ia menabrak tubuh Karan, Ia sadar bahwa ia menabrak punggung atasannya itu.
"Astaga, maaf pak maaf, saya tidak fokus berjalan tadi". Panik Shenna.
"Apa punggungnya sakit?". Tanya Shenna khawatir.
"Tidak, tidak masalah". Karan.
"Lucu juga gadis ini kalau sedang panik". Gumam Karan.
Hening sejenak.
"Emm, pak? Apa ada yang bisa saya bantu?. Kalau misal tidak ada, saya izin untuk mengurus hal lain terlebih dahulu". Ucap Shenna meminta izin, ia agak takut sebenarnya.
"Mohon maaf, pak. Tapi ini urusan Pribadi saya, apakah boleh?".
Karan diam sambil berfikir sejenak.
"Ya, pergilah". Jawab Karan singkat.
"Terimakasih, pak. Saya permisi dulu". Jawab Shenna berlalu sambil mengulum senyum di bibir manisnya, Karan melihatnya.
"Gadis itu menggemaskan". Gumamnya.
.
.
Di sisi lain, Shenna sedang mengotak-atik ponselnya, ia mencari kontak dengan nama Hino disana. Namun ia tidak menemukannya.
"Ah, mana sih". Sebal Shenna emosi sendiri.
Tiba-tiba Shenna teringat sesuatu.
"Oh iya ya bukannya Kak Hino menulis nama kontaknya "Kakak rekan kerja tampan?".
__ADS_1
"Huhf, iya benar". Shenna menepuk jidatnya. Tanpa berpikir lebih lama lagi ia langsung menekan kontak itu dan dengan ragu menekan tombol panggil.
"Huft, gapapa kan kalau nelpon atasan, toh dia juga yang nawarin supaya nomer ponselnya ku simpan". Shenna meyakinkan dirinya, akhirnya ia memencet tombol panggil dengan perasaan takut.
*Memanggil...
*Telepon tersambung.
"Halo, selamat siang?". Hino.
"Emm, H-halo pak. Ini saya Shenna".
"Shenna?". Di seberang telpon nampaknya Sedang berpikir Keras, siapa Shenna?.
"Oh, Shenna ya?. Karyawan yang resmi berteman denganku beberapa minggu yang lalu?". Hino meyakinkan.
"Resmi berteman? Maksudnya apa ya?". Gumam Shenna
"Emm, i-iya pak". Shenna.
"Hahaha aku tahu, aku ingat. Hmm, ada apa Shenna? ada kesulitan di sela-sela kerjamu?".
"Emm, jadi begini pak. Bolehkah saya meminta waktu bapak sedikit di siang ini?, ada hal yang ingin saya laporkan". Ucap Shenna dengan perasaan ragu dan takut, ia takut Hino keberatan. Mendengar itu Hino mengerti, bahwa ada hal serius yang akan di bicarakan oleh gadis ini.
"Hmmm, Boleh. Bagaimana kalau kita ketemu di kantin di depan Toko? sekalian makan siang, ini sudah memasuki jam makan siang". Ajak Hino yang sebenarnya juga lapar.
Shenna terkejut dengan saran itu, hening sejenak.
"Hallo, Shenna?". Hino curiga telepon di putus.
"Eee, ya. Hallo pak?. Emm boleh pak kalau memang anda tidak keberatan. Kapan kita ketemu?". Shenna.
"Sekarang, kau tunggu saja aku di bawah".
"Baik, pak. Sekali lagi saya sangat memohon maaf kalau mengganggu waktu anda, pak". Shenna masih merasa tidak enak ditambah lagi mereka akan ke kantin.
"Hahaha, tenanglah Shenna. Bukan jadi masalah, membantumu juga adalah sebagian dari pekerjaanku". Hino.
Shenna tersenyum.
"Terimakasih pak, kalau begitu saya akan menunggu di bawah sini".
"Oke".
Telepon terputus.
__ADS_1