Apakah Aku Pantas?

Apakah Aku Pantas?
Pulang kerja berakhir ke bar


__ADS_3

Sore hari yang melelahkan bagi orang-orang yang bekerja untuk menghidupi keluarga. Sore itu matahari cukup hangat, terbenamnya matahari menandakan semua orang akan pulang dan mengistirahatkan tubuhnya dan bercanda tawa bersama keluarga.


*Di ruang kerja milik Karan.


"Huft, padahal aku hanya mondar-mandir di toko ini, tapi kenapa rasanya lelah sekali?. Keluh kesah Karan.


"Apa karena aku baru kali ini merasakan dunia kerja?". Karan masih membaringkan tubuhnya di sofa sambil menatap langit-langit ruangannya.


Ponselnya berdering. Karan melihat nama yang tertera, Alex. Ia adalah teman dekat karan yang biasanya selalu bersama karan untuk menghibur diri mereka di bar.


"Hallo, ada apa?". Karan memulai obrolan.


"Hei, bro. Gimana ntar malam? jadi gak?, nanti jemput gua dulu, soalnya motor di sita sama bokap gua". Alex.


"Kenapa bisa di sita?". Tanya karan.


"Ketahuan sama bokap kalo gue bawa cewek ke hotel". Alex.


Karan memutar bola mata malas.


"Iya, nanti gua kabarin lagi, gua belum bisa janji, nanti gua kabarin tergantung gimana situasi dirumah sama bokap, udah, gua tutup dulu".


Karan memutuskan telepon.


*tut.. tut.. tut..


"Huft..". Keluh Karan sambil memijat pelipisnya, ia merasa menjadi orang paling lelah di dunia, padahal kerjanya hanya sekedar membantu Shenna tadi pagi.


Karan hendak keluar toko, jadwal kerjanya sudah selesai, ia turun ke lantai bawah toko dan sampailah pada halaman toko. Karan melihat salah satu karyawan wanita yang sedang berdiri sambil memegang ponselnya di sana, dia adalah Shenna yang sedang menunggu ojek online yang ia pesan.


"Gadis itu, siapa namanya tadi? Shenna?". Karan.


Karan hanya sekedar melihatnya, berjalan merogoh sakunya untuk mengambil kunci mobil dan pergi menuju mobil miliknya yang sudah di bawa oleh supir di rumahnya siang tadi. Karan memasuki mobilnya dan memasang sabuk pengaman. Sebelum menyalakan mesin, alangkah terkejutnya Karan melihat Shenna yang ternyata hendak di rampok oleh seorang pria yang menggunakan masker. Tanpa berpikir panjang Karan membuka sabuk pengamannya dan keluar mobil langsung berlari ke arah Shenna yang ingin di rampok pria itu.


*Bruk


satu pukulan mendarat di pelipis pria jahat itu. Hanya dengan 1 pukulan pria perampok melarikan diri karena ia mengira tidak ada orang yang berlalu lalang di depan toko, untungnya barang-barang yang ada di tangan Shenna tidak berhasil dirampok. Tapi henna masih sangat ketakutan.


Karan menatap gadis itu dengan iba namun ia tetap pada sikapnya yang dingin.


"Lain kali jangan berdiri di sini, perampok bisa dengan mudah mengambil barang milikmu, apa ada yang berhasil di rampok orang itu?". Tanya karan.


"Tit-tidak ada pak, syukurlah aku bisa mempertahankan barang milikku". Shenna yang masih bergetar karena ketakutan.


Karan terdiam sejenak.


"Sudahlah, ayo ikut denganku. Aku akan mengantarkanmu pulang". Tawar Karan.


Shenna terkejut dan merasa tidak enak pada Pria di depannya yang menjadi atasannya ini.


"sebelumnya maaf, pak. Tapi..".


"Apa kau mau di rampok lagi?, toko sudah sepi, dan akan dibuka lagi nanti malam. Untuk saat ini tidak akan ada orang yang berlalu-lalang di depan toko". Karan.


Shenna berpikir sejenak, ada benarnya juga.

__ADS_1


"Emm, aku sangat meminta maaf jika merepotkanmu, pak". Ucap Shenna tidak enak pada Karan.


"Ayo!". Ajak karan tanpa basa-basi.


Shenna mengangguk dan mengikuti langkah kaki Karan menuju mobilnya.


Shenna memasuki mobil dan duduk di bagian belakang. Di perjalanan Shenna nampak masih takut dengan kejadian tadi, ia melihat Karan karan yang serius mengemudi. Shenna membuka suara memecah keheningan.


"Emm, pak?". Shenna membuka suara dengan perasaan ragu. Karan hanya melirik Shenna di belakang dari cermin mobil, Shenna melihatnya.


"Maaf, aku sudah terlalu banyak merepotkan bapak. K-kalau boleh tau, nama bapak siapa?. Maksudnya, agar aku tidak lupa pada jasa bapak". Akhirnya lolos juga apa yang ingin ditanyakan Shenna.


Hening sejenak setelah Shenna menanyakan hal itu. Karan masih fokus menyetir.


"Karan". jawab Karan.


"Ooh, pak Karan". Gumam Shenna.


"Emm, Pak karan. Baiklah". Shenna.


Karan hanya melirik dari cermin mobil lagi.


Satu hal yang diketahui Shenna saat ini, bahwa pria yang sedang bersamanya ini adalah pria dingin, ia hemat bicara namun peduli. Shenna percaya bahwa atasannya ini adalah orang baik.


"Di bagian mana rumahmu?". Tanya Karan.


"Emm, ya?". Ah sedikit lagi, pak. Nanti ada perempatan, bapak bisa belok kiri". Jawab Shenna yang sebelumnya tengah melamun.


"Perempatan itu?". Karan.


"Gadis ini tinggal di kontrakan?". Gumam Karan.


"Sudah sampai,pak Karan. Saya sangat berterimakasih atas bantuan bapak, kalau bukan karena bapak, mungkin saya berhasil di rampok tadi". Shenna yang tidak tahu lagi harus mengucapkan terimakasih dengan gaya apa lagi.


"Sama-sama". jawab Karan singkat.


Shenna tersenyum dahulu sebelum keluar mobil, ia berdiri di depan halaman kontrakannya sebelum mobil milik Karan keluar dari pekarangan.


.


.


di perjalanan pulang, Pikiran Karan sedikit tersita oleh gadis yang ia antar pulang tadi.


"Sepertinya gadis itu tinggal sendirian, tapi dia terlihat masih sangat muda". Gumam karan.


"Ah lupkanlah, Karan. Lebih baik kau memikirkan bagaimana cerita hidupmu di esok hari". Karan menyadarkan dirinya sendiri.


Niat karan ingin pulang kerumah ia urungkan, ia masih malas jika di serbu beribu pertanyaan aneh dari papanya pada pekerjaannya hari ini. Ia singgah di bar, tempat dimana ia biasa menenangkan diri. Di bar, ia mengingat kejadian dua tahun yang lalu.


.


.


*Flasback on

__ADS_1


dua tahun yang lalu, dimana Karan mendapati kekasihnya, Viona. Berselingkuh dengan pria lain di depan matanya sendiri. Karan mendobrak pintu apartemen kekasihnya atas seseorang yang memberitahunya jika kekasihnya itu bukanlah perempuan yang baik. Saat itu hatinya benar-benar hancur. Amarah, sedih, kecewa bercampur menjadi satu, Karan hanya menatap nanar kekasihnya dan selingkungannya yang sedang berpelukan dengan wajah memerah. Viona yang terlonjak kaget melepaskan kegiatan saling peluk itu, Karan masih berdiri di tempatnya. Viona langsung menghampirinya dan memegang erat kedua tangan Karan.


"Lepaskan tanganku dari tangan kotormu itu!". Bentak Karan.


"Sayang, ded-dengarkan aku. Aku bisa menjelaskannya, tolong jangan begini". Viona memohon dengan raut wajah sedih dan menyesal.


"Cih, aku baru sadar bahwa kecurigaan orang-orang terhadap dirimu memang benar, kau perempuan ular". Karan.


"Hubungan kita hanya sampai di sini". Ucap karan dengan nada rendah, namun raut wajahnya tidak bisa dipungkiri bahwa ia benar-benar marah saat ini".


Berakhirlah sudah Karan yang ramah ke semua orang. Sebelumnya, Karan adalah tipikal pria yang suka tertawa dan ramah. Namun setelah kejadian itu, semuanya berubah. Kisah cinta yang ia jalin bersama viona selama 2 tahun berakhir karena perselingkuhan.


Sampai saat ini, Karan masih tetap cuek dan dingin terhadap orang-orang di sekitarnya. Namun bukan berarti dia belum bisa melupakan mantan kekasihnya itu, Karan sudah benar-benar sembuh dari luka lama yang di lukis oleh Viona, Karena Karan selalu menghabiskan waktunya di bar ini. Untuk apa aku tidak bisa melupakan gadis ular itu? Sedangkan tipe manusia sepertinya lah yang paling aku hindari di kehidupanku, begitulahkira-kira pikir Karan.


.


*Flashback Off.


Karan menarik sudut bibirnya mengingat hal itu. Setidaknya ia sudah melupakan mantan kekasihnya.


"Kenapa bisa aku menjalin hubungan dengan wanita ular itu?". Pikir Karan sambil menghisap rokok yang ada di tangannya dan menghembuskan asapnya.


Karan menuangkan bir ke dalam gelas dan meneguknya, bagaimanapun juga ia kesulitan meninggalkan kebiasaannya yang suka mabuk-mabukkan seperti ini. Hal itu sudah seperti rumah baginya.


.


.


*Di rumah pak Lukman.


Terlihat papa Lukman sedang menelepon putranya berkali-kali namun tidak dijawab. Di lain tempat, Karan sudah tertidur di atas meja tempatnya minum dan mabuk, akhirnya ia terlelap disana.


"Mama curiga dia ke bar lagi, pa". Mama Norah.


Papa Lukman melirik istrinya, nampaknya itu benar. Papa Lukman kembali menelepon putranya itu, telepon tersambung.


"Halo? Karan? Dimana kamu?!, kamu ke bar lagi, hah?!". Papa Lukman yang sudah naik darah atas kelakuan putranya itu.


"Halo, om?, maaf om ini saya Daniel, temannya Karan. Karan ketiduran dan mabuk berat dan suka berbicara sendiri di bar". Ucap pria di seberang sana, ia adalah Daniel yang juga suka ke bar, namun tidak untuk mabuk-mabukkan.


"Apa?!, Anak itu benar-benar". Papa Lukman memijat pelipisnya sambil melihat ke arah istrinya sejenak.


"Iya, om. Ini Karan bersama saya hendak mengantranya pulang, mobilnya sudah saya amankan disana".


"Huft.. Yasudah. Terimakasih Daniel, saya akan menunggu di rumah bersama mamanya Karan". Papa Lukman.


"Baik, om. Saya tutup dulu". Daniel


"Iya, hati-hati".


telepon terputus.


Papa Lukman menghembus nafas kasar, mama Norah mengelus suaminya untuk menenangkannya.


"Papa jangan terlalu stres, nanti papa sakit". Mama Norah.

__ADS_1


Papa Lukman hanya mengangguk dan mereka duduk di sofa menunggu kedatangan Karan yang diantar pulang oleh Daniel.


__ADS_2