
Shenna sudah selesai membersihkan tubuhnya. Tubuh dan pikirannya sudah normal walaupun masih trauma atas kejadian tadi.
"Setidaknya pikiranku sudah sedikit tenang". Shenna menenangkan dirinya.
"Kak Hino". Tiba-tiba Shenna terpikirkan oleh atasannya itu. Shenna berniat memberitahu Hino tentang bagaimana ia bekerja selama ini, ia dijadikan babu oleh senior rekan kerjanya. Sebetulnya Shenna sudah tidak tahan, namun ia tahu mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah, jika resign maka ia harus pontang panting lagi mencari pekerjaan di ibukota yang luas ini.
"Tapi aku tidak bisa diam saja, aku harus mengadukan hal ini pada kak Hino". Ucap Shenna dengan yakin.
Shenna tahu bahwa dirinya adalah perempuan lemah, tubuhnya kecil, tinggal sendirian pula di ibu kota. Tapi bukan berarti ia takut untuk menyembunyikan hal yang salah, terlebih lagi ia adalah korbannya.
"Ya, aku hanya percaya pada kak Hino untuk mengatasi hal ini". Ucap Shenna yakin.
Shenna melirik fotonya bersama sang ayah yang terletak di meja kamarnya. Ia terdiam dan mengambil foto itu, air matanya menetes. Shenna terisak sambil memeluk foto itu.
"Hiks.., Ayah". Tangis Shenna pecah di kamar kontrakannya.
"Shenna kangen sama ayah, Shenna pengen pulang. Rasanya Shenna pengen nyerah, yah. Hiks.. hiks.. ". Shenna terus terisak. Ia merebahkan tubuhnya tanpa melepas foto itu. Shenna pun terlelap dengan air mata yang membasahi pipinya.
.
.
Di sisi lain di kediaman Papa Lukman.
Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah, benar. Itu adalah Daniel yang mengantar Karan pulang.
Papa Lukman langsung menuju pintu utama. Terlihat Daniel memapah Karan yang setengah sadar ke dalam rumah. Papa Lukman melihat putranya dengan amarah yang memuncak, sang istri melihat wajah suaminya yang terlihat menahan emosi. Se sampainya di ruang tamu,
"Dasar anak sialan!". Papa Lukman mendaratkan satu pukulan di perut Karan dan menarik kerah kameja putranya itu, yang membuat karan jatuh dari bantuan tangan Daniel.
Mama Norah yang melihat hal itu terkejut dan berusaha mengendalikan suaminya.
"Pah, papah sadar pah. Jangan seperti ini". Mama Norah yang panik berusaha mengendalikan suaminya yang telah di kuasai emosi.
"Om tenanglah Biarkan Karan sadar terlebih dahulu, ia sedang tidak sadar". Daniel berusaha menenangkan Papa Lukman juga dan kembali memapah karan dan mendudukkannya di sofa.
"Papa sudah tidak tahu lagi bagaimana anak ini kedepannya, mah. Papa merasa gagal menjadi seorang ayah". Ucap Papa Lukman di iringi isak tangis. Ia sangat menyayangi putranya itu, sudah dua tahun putranya itu terbiasa dengan kebiasaan buruknya, ia sebagai seorang Dokter sudah jelas tahu bagaimana bahaya alkohol jika dikonsumsi secara terus menerus. Papa Lukman frustasi akan hal ini.
Sedangkan Karan yang setengah sadar sedari tadi hanya menggerak-gerakkan tubuh saja tanpa membuka matanya, ia tidak merasakan pukulan yang diberikan oleh papanya tadi.
__ADS_1
"Daniel, tolong bawa Karan ke Kamarnya. Kamarnya ada di atas di pintu ke tiga". Mama Norah.
"Baik, tante.". Daniel.
Daniel pun membawa karan ke kamarnya dan merebahkannya di kasur dengan kameja putihnya. Daniel membuka sepatu Karan agar ia sedikit nyaman.
"Huft, dasar bedebah ini. Merepotkan saja. Besok pagi kau pasti di beri pelajaran lagi". Ucap Daniel yang menatap Karan yang tertidur pulas , ia juga kelelahan mengurus Karan. Daniel pun pergi meninggalkan kamar Karan dan turun kebawah menghampiri orang tua Karan. Ia melihat Papa Lukman yang duduk di sofa menyandarkan tubuhnya, tatapannya kosong. Di sampingnya terdapat sang istri yang sedang menenangkannya sambil mengelus-ngelus lengan suaminya.
"Om, tante". Daniel.
"Sudah, Daniel?. Terimakasih ya sudah membawa Karan pulang, ia sudah merepotkan kamu". Mama Norah.
"Tidak masalah, tante. Saya dan Karan sudah berteman lama juga". Ucap Daniel basa-basi.
"Yasudah om, tante. Saya permisi dulu".
"Iya, hati-hati di jalan, nak." Mama Norah.
Daniel pun pergi.
.
.
Papa Lukman yang sedari tadi duduk di sofa ruang tamu masih melamun. Mama Norah yang melihat hal itu hanya menghembus nafas.
"Iya, sedikit lagi Papa akan ke kamar". Papa Lukman masih menetap di sofa.
"Baiklah kalau begitu, mama tidur duluan. Besok mama ada meeting dengan klien". Mama Norah.
"Iya". Papa Lukman.
.
.
*Ke esokan harinya.
Pukul 07:30Karan terbangun, ia merasakan perutnya berbunyi karena belum ada makanan yang masuk daru semalaman. Karan duduk di tepi kasurnya dan memegang perutnya. Namun ia mengingat satu hal, bahwa semalam ia tidak langsung pulang kerumah namun singgah ke bar.
__ADS_1
"Bukannya semalam aku ada di bar?". Karan bertanya-tanya sendiri. Sambil melihat-lihat ruangan yang ia tempati. Benar, ini adalah kamarnya.
"Tapi kenapa aku bisa ada di rumah?". Karan mengingat-ngingat kejadian semalam, yang terakhir di ingatnya hanya disaat ia meneguk bir dengan porsi yang banyak, setelah itu ia sudah tidak mengingat apapun.
Pikiran Karan teralihkan pada perutnya yang sudah keroncongan.
"Ah lapar sekali". Karan berjalan keluar kamar dan hendak menuju ruang makan.
Sebelum masuk ke ruang makan, ia melihat Papa dan mamanya yang sedang sarapan bersama. Rasa kecil hati karan muncul, ia tidak dibangunkan untuk sarapan bersama, namun ia juga tidak peduli sebenarnya.
Karan tiba di depan meja makan dan manarik satu kursi, ia duduk dan mengambil nasi goreng dengan porsi yang banyak. Melihat hal itu, papa dan mamanya saling pandang dan melanjutkan sarapan mereka. Terlihat Papa Lukman yang diam saja tanpa menoleh ke arahnya membuat Karan terheran-heran.
"Apakah kamu lapar sekali, Karan?". Mama Norah memecah keheningan.
"Iya, mah". Jawab Karan sambil memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Makanlah yang banyak". Mama Norah.
Papa Lukman sudah menghabiskan sarapannya dan langsung berpamitan dengan istrinya.
"Papa pergi dulu, mah". Papa Lukman.
"Iya, pah. Hati-hati di jalan. Mama sudah menyediakan bekal di dalam mobil, jangan lupa di makan". Mama Norah.
Papa Lukman langsung pergi tanpa melirik ke arah Karan. Papa Lukman masih ingin menjernihkan pemikirannya pagi ini, ia sedang tidak nafsu untuk berdebat dengan putranya yang pembangkang itu. Di sisi lain, Karan melihat papanya yang tidak meliriknya sama sekali, mama Norah melihat hal itu, namun ia hanya diam saja, mama Norah tahu bahwa suaminya sedang memberikan pelajaran untuk putra sulungnya.
Setelah sarapan, mama Norah perpamitan dengan Karan, ia akan ada jadwal meeting pagi ini. Mama Norah pun pergi di antarkan supir pribadinya.
.
.
Di kamar Karan, ia bersiap-siap untuk pergi bekerja.
"Huft, apakah aku harus pergi bekerja seperti kemarin?". Gumam Karan merasa malas.
"Baiklah, Karan. Kau pasti bisa melewati ini. Jika kau suka mabuk setidaknya kau bekerja dan mandiri seperti yang dikatakan oleh papa kesayanganmu itu".
Karan menyemangati dirinya di depan cermin sambil memasang kamejanya dan mengingat wajah ayahnya ketika berdebat dengannya, Karan menarik sudut bibirnya.
__ADS_1